Empat bulan setelah kontrak, sebuah kejadian terjadi yang Sasha tidak pernah pertimbangkan.
Sasha sedang di mejanya saat seorang perempuan—tinggi, cantik dengan cara yang tidak bisa dibantah, mengenakan dress merah dari brand yang Sasha tahu harganya gaji dia dua bulan—masuk ke lobi Vegasta. Mbak Mira di resepsionis menatap perempuan itu dengan tatapan "ini siapa lagi".
Perempuan itu menatap papan nama. Berjalan langsung ke meja Sasha tanpa transit ke resepsionis—tahu langsung Sasha sekretaris Aldric dari kelihatan posisi mejanya.
"Mbak. Saya cari Aldric Wijaya."
"Mas Aldric? Anda sudah bikin janji?"
"Tidak. Tapi dia akan menerima saya. Saya Tara."
Sasha menelan ludah.
Tara. Nama yang tidak pernah Aldric sebut, walaupun dia sebut nama mantan tujuh tahun lalu yang dia kencani tiga bulan. Sesuatu di nada perempuan itu—possessive—membuat Sasha curiga itu Tara yang sama.
"Mbak Tara. Saya tanya Mas Aldric dulu."
Sasha menelepon. Aldric angkat di dering pertama.
"Aldric. Ada Mbak Tara di lobi. Mau bertemu Anda. Tanpa janji."
Hening tiga detik. Sasha bisa mendengar Aldric menarik napas.
"Tara."
"Iya, Aldric."
"Sasha. Tolong bilang dia saya tidak ada."
"Aldric, dia berdiri di depan saya. Dia kelihatan tidak akan pergi kalau saya bilang Anda tidak ada. Dia mengaktivasi mode 'saya akan duduk di sini sampai Anda muncul'."
Aldric mengeluh di telepon.
"Suruh dia masuk. Lima menit. Saya akan suruh dia keluar."
Sasha mengantar Tara ke ruang Aldric. Pintu ditutup. Sasha kembali ke meja. Berusaha tidak fokus ke ruangan—tirai kaca tertutup, tapi Sasha bisa lihat bayangan dua orang dari celah.
Tiga puluh menit kemudian—lebih lama dari "lima menit" yang Aldric janjikan—pintu Aldric terbuka. Tara keluar. Tersenyum kepada Sasha—senyum yang dingin, senyum yang menilai, senyum yang mengatakan "saya tahu siapa Anda".
"Mbak. Terima kasih."
Sasha mengangguk. Tidak senyum balik.
Tara pergi. Wangi parfumnya tertinggal di koridor selama lima menit.
Sasha berdiri. Masuk ke ruang Aldric. Tutup pintu di belakangnya.
"Aldric. Siapa Tara?"
Aldric duduk di kursinya. Menutup matanya. Tangan di pelipis.
"Sasha. Maaf. Saya... saya seharusnya cerita lebih dulu. Saya tidak menyangka dia datang."
"Cerita apa?"
"Tara—ex saya. Yang saya sebut tujuh tahun lalu, tiga bulan, distraksi."
Sasha duduk di kursi tamu. Rasa yang dia tidak duga muncul di dada—rasa cemburu yang dia pikir dia sudah lewat fase remajanya.
"Aldric. Anda bilang Anda belum pernah pacaran serius."
"Belum pernah serius. Tara—saya tahu itu kedengaran sama, tapi—dia perempuan yang saya kencan, sebentar. Tiga bulan. Sebelum saya terlalu sibuk dengan Vegasta dan dia putus dengan saya karena saya tidak punya waktu. Itu bukan pacaran. Itu... hubungan transaksi yang dia menerima karena saya kelihatan menjanjikan, dan saya menerima karena saya butuh distraksi."
"Anda kencan tapi bilang ke saya 'belum pernah berarti'."
"Sasha. Tara tidak berarti untuk saya. Itu bukan saya merendahkan dia—itu fakta. Saya tidak pernah merasakan apa pun untuk dia yang seperti yang saya rasakan ke kamu sekarang. Saya tidak bisa berbohong tentang itu."
"Tapi dia datang ke kantor Anda hari ini, dengan tampilan seperti itu, dengan kepercayaan diri yang dia akan diterima. Itu bukan ekspektasi orang yang Anda kencani sebentar tujuh tahun lalu."
"Sasha—"
"Aldric. Apa yang dia mau?"
Aldric menatap Sasha. Wajahnya tegang. Tangan dia mengepal di paha.
"Sasha. Tara mendengar—dari mana saya tidak tahu, mungkin teman bisnis—Vegasta sedang dalam tahap awal akuisisi oleh perusahaan AS. Dia mau saya... investasi di startup-nya. Lima belas miliar."
"Dan?"
"Dan dia menawarkan untuk... kembali. Sebagai pacar atau lebih, kalau saya investasi. Lima belas miliar, Sasha."
Sasha menutup matanya. Menarik napas yang dia tidak sadar dia tahan.
"Aldric."
"Saya bilang tidak, Sasha. Saya bilang tidak ke uangnya, saya bilang tidak ke dia kembali. Saya bilang dengan jelas dia tidak boleh datang ke kantor saya lagi."
"Saya tahu Anda bilang tidak."
"Lalu?"
Sasha berdiri. Berjalan ke jendela ruang Aldric. Menatap Jakarta yang siang itu agak kabur dari polusi.
"Aldric. Saya... saya cemburu. Saya benci ini, tapi saya cemburu. Saya tahu saya tidak ada hak untuk cemburu—dia mantan tujuh tahun lalu, Anda menolak dia. Tapi saya cemburu."
Aldric berdiri. Berjalan ke jendela. Berdiri di belakang Sasha—tidak menyentuh.
"Sasha."
"Saya tidak akan punya gaun seperti dia. Saya tidak akan punya kepercayaan diri seperti dia—dia datang ke kantor Anda tanpa janji dan tidak takut. Saya cuma sekretaris dengan kontrakan di Tebet, yang gaji-nya tujuh juta lima."
"Sasha—"
"Aldric. Saya tahu saya tidak boleh bicara begini. Tapi saya..."
Aldric memegang bahu Sasha. Memutar Sasha menghadap dia. Tangan di kedua bahu.
"Sasha. Tara menawarkan dia kembali ke saya saat dia tahu saya akan kaya banget dari akuisisi. Dia sebelum ini tidak pernah menelepon saya tujuh tahun. Dia datang sekarang karena kalkulasi finansial. Anda—Anda menerima saya saat saya menjual diri saya seperti deskripsi produk yang tidak laku, di ruang wawancara, saat saya bahkan tidak menjanjikan apa-apa kecuali kerja yang sulit. Anda satu-satunya orang yang menerima saya saat saya tidak punya nilai jual."
Sasha menangis kecil. Air mata yang dia hanya keluar di malam hari di kontrakan, sekarang keluar di ruang kantor.
"Aldric."
"Sasha. Saya tidak peduli kontrakan Tebet. Saya tidak peduli Anda tidak punya gaun seperti Tara. Saya peduli Anda. Cuma Anda."
Sasha memeluk Aldric. Lama. Di ruang kantor—yang tidak boleh, yang melanggar setiap aturan profesional yang Sasha pegang—tapi mereka sudah tidak peduli sore itu.
"Aldric."
"Iya."
"Saya juga peduli Anda."
"Saya tahu, Sasha. Saya tahu."