Tiga bulan berlalu. Hubungan diam-diam tetap diam-diam.
Di kantor: Sasha sekretaris yang efisien, mungkin lebih efisien dari sebelumnya karena dia mau membuktikan ke diri sendiri bahwa kontrak ini tidak mempengaruhi profesionalitas. Aldric CEO yang dingin (sekarang dengan senyum lebih sering, yang staf mulai bercanda di pantry tentang "Aldric kayak dapet kekayaan kedua karena akhirnya senyum"). Tidak ada yang curiga ke arah Sasha—mungkin karena Sasha tetap memanggil "Mas Aldric" di kantor, mungkin karena mereka tidak pernah meninggalkan kantor bareng.
Di luar kantor: makan malam dua kali seminggu di restoran-restoran yang Aldric pilih dengan kriteria privacy yang sama, weekend kadang ke Bandung atau Bogor untuk getaway pendek (mereka pesan kamar terpisah di awal—Aldric bersikukuh, "kontrak setahun, kita tidak terburu-buru"), malam-malam di apartemen Aldric yang sekarang lebih hidup karena Sasha membawa beberapa tanaman pot kecil dan dua lukisan dari pasar seni di Tebet yang dia tahu Aldric akan suka.
Suatu Sabtu pagi, Sasha bangun di apartemen Aldric. Aldric masih tidur—untuk pertama kali setelah tiga bulan kontrak, mereka berdua tidur di kasur yang sama, tapi tidak ada apa-apa kecuali tidur. Mereka bicara sampai pukul tiga pagi tentang masa kecil—Aldric akhirnya mau cerita lebih banyak tentang Bapaknya, tentang kenangan baik—dan tertidur saling memeluk dalam pakaian lengkap.
Sasha bangun pukul tujuh. Ke dapur untuk membuat kopi dengan mesin espresso Aldric yang dia sudah pelajari cara pakainya.
Bel apartemen bunyi.
Sasha membeku. Tidak biasa ada tamu Aldric, terutama Sabtu pagi.
Aldric bangun karena bel. Suara-nya parau.
"Sasha—saya bukakan."
"Aldric, saya di sini, biar saya ngumpetin saja—"
Tapi sebelum Sasha bisa pindah ke kamar tidur, Aldric—yang masih setengah tidur, rambut acak-acakan, mengenakan kaos abu-abu yang sama dari kemarin malam—sudah membuka pintu.
Naya berdiri di pintu. Bawa kotak kue dari Mille Crepe terkenal di Senopati. Mengenakan kaos pink dan jeans, kelihatan lebih sehat dari minggu pemakaman.
Naya melihat Aldric. Lalu melihat melewati Aldric. Melihat Sasha—yang berdiri di dapur, mengenakan kaos kebesaran Aldric yang Sasha tidur di dalamnya semalam.
Naya tersenyum. Senyum lebar yang Sasha ingat dari rumah sakit.
"Mbak Sasha."
"Mbak Naya. Eh."
Sasha tidak punya kata.
"Aldric. Kau... menerima tamu pagi-pagi."
Aldric—pertama kalinya Sasha lihat—menjadi pucat dari setengah tidur menjadi sepenuhnya bangun. Wajahnya berubah seperti orang yang baru sadar dia salah ambil koper di bandara.
"Naya. Ini—"
"Saya tahu, Kak. Saya udah duga sejak pemakaman Mama. Cara Aldric pegang tangan Mbak Sasha di rumah saya hari itu, di depan saya dan tetangga? Bukan cara bos pegang tangan sekretaris."
Naya masuk tanpa diundang. Meletakkan kue di meja makan apartemen. Tersenyum ke Sasha.
"Mbak Sasha. Saya senang. Sungguh."
Sasha menelan ludah. "Mbak Naya. Maaf, ini—"
"Mbak. Tidak perlu minta maaf. Aldric sudah dewasa. Mbak juga. Saya cuma datang bawakan kue ulang tahun saya. Kemarin saya dua puluh delapan."
Aldric tersinggung—pertama kalinya Sasha lihat dia ekspresinya menyatakan menyalahkan diri sendiri.
"Naya. Ulang tahunmu. Saya—saya lupa. Lagi."
"Iya, Kak. Anda selalu lupa. Sembilan tahun terakhir. Saya udah biasa."
Aldric memeluk adiknya. Naya membalas, lebih lama dari yang Aldric expect.
"Aldric. Tidak apa-apa. Saya tahu Anda sibuk. Sekarang... lebih sibuk."
Naya melirik Sasha. Mengedip.
Sasha tertawa. Tidak bisa menahan.
"Mbak Naya. Selamat ulang tahun."
"Mbak Sasha. Terima kasih. Saya kasih kue ke kalian saja, saya cuma mampir. Saya ada brunch jam sepuluh dengan teman."
Tapi Naya tidak buru-buru pergi. Mereka makan kue bertiga di pagi Sabtu—Naya yang awalnya bilang cuma mampir, ternyata duduk satu jam di sofa apartemen Aldric, ngobrol dengan Sasha tentang film, tentang Mama yang dia sekarang ingat dengan cinta yang lebih murni karena kemarahan sudah hilang, tentang rencana Naya yang mungkin akan kembali ke universitas untuk gelar master.
Aldric duduk di samping Sasha di sofa. Tangan Sasha di pahanya. Naya melihat. Tidak komentar.
Saat Naya akhirnya pamit pulang, dia bisik ke Sasha di pintu—Aldric pergi ke dapur untuk ambil kotak kue Mille Crepe yang Naya akan bawa pulang sebagai bukti dia ke sini ke Mama mereka di kuburan.
"Mbak Sasha. Tolong jaga kakak saya. Beliau... beliau perlu seseorang seperti Mbak. Dia tidak akan bilang. Dia bahkan tidak akan tahu cara minta. Tapi dia perlu."
"Mbak Naya. Saya tidak tahu apakah saya cukup—"
"Mbak. Anda yang membuat dia datang ke ranjang ibu kami. Anda cukup. Saya tahu sekarang. Saya berdoa untuk Anda berdua sembilan tahun—saya berdoa kakak saya akan ketemu seseorang yang membuat dia tidak begitu rusak. Saya berdoa untuk hari ini."
Sasha tidak tahu mau menjawab apa. Naya memeluk Sasha—pelukan adik untuk kakak ipar yang belum resmi, tapi yang Naya sudah pasti.
Aldric kembali dengan kotak Mille Crepe.
Naya pergi.
Aldric menutup pintu. Menatap Sasha.
"Sasha. Adik saya menyukai kamu."
"Iya."
"Saya juga."
"Aldric, hentikan."
Aldric mendekati Sasha. Memeluk dia di tengah ruang tamu apartemennya.
"Sasha. Saya... saya pikir kontrak setahun ini akan jadi kontrak lima puluh tahun."
"Aldric."
"Iya."
"Bilang itu sekarang."
"Sasha. Saya cinta kamu."
Sasha menutup matanya. Memeluk balik.
"Saya juga, Aldric."
Hari ke-sembilan puluh dua kontrak. Mereka tidak akan menghitung lagi setelah ini.