Hari pertama kontrak, Aldric memesan reservasi makan malam di restoran kecil di Kemang—Bistro Madeleine, restoran Prancis dengan delapan meja, lampu remang yang Aldric bilang dia tidak pernah datang dengan siapa pun walaupun dia tahu tempat ini sejak lima tahun lalu.
Sasha datang dengan dress hitam yang dia beli kemarin di Zara dengan diskon akhir musim—tujuh puluh persen, harga akhir tiga ratus ribu yang Sasha pikir dua kali sebelum bayar. Dress simpel, panjang lutut, tidak terlalu mencolok untuk hari Senin. Aldric mengenakan kaos hitam dan blazer abu-abu—terlihat lebih muda dari yang biasanya di kantor, hampir seperti pemuda dua puluh delapan tahun yang sebenarnya, bukan CEO yang Sasha biasa lihat di layar Zoom rapat investor.
"Aldric. Anda... beda di luar kerja."
Aldric menarik kursi untuk Sasha—gestur yang Sasha tidak duga, tapi yang membuatnya tertawa kecil.
"Beda baik atau buruk?"
"Baik. Lebih... muda. Anda umur dua puluh delapan, Aldric, bukan empat puluh seperti yang Anda pakai di kantor."
Aldric tersenyum. Senyum yang sekarang Sasha sudah hapal—sudut bibir naik, mata sedikit berkilau, seolah dia sendiri masih kaget dia bisa senyum.
"Sasha. Anda... cantik."
"Aldric—"
"Saya tidak banyak basa-basi, Anda tahu. Tapi Anda cantik."
Sasha tersipu. Untuk pertama kali sejak putus dengan pacar tiga tahun lalu, dia tersipu untuk laki-laki.
Mereka pesan pasta carbonara dan ravioli truffle. Aldric pesan anggur—red wine yang dia bilang dia jarang minum tapi yang cocok untuk pasta. Sasha pesan jus jeruk. Aldric mengangkat alis.
"Anda tidak minum?"
"Saya... saya hari ini puasa anggur. Saya tidak terbiasa minum. Saya cuma minum bir di kuliahan, dan itu pun karena teman saya yang traktir. Setelah lulus, saya tidak punya budget untuk anggur."
Aldric tertawa. Lebih keras dari biasa. Suara yang membuat dua tamu di meja sebelah menoleh sebentar.
"Sasha. Anda terlalu jujur."
"Aldric. Anda yang nawarin saya kontrak setahun. Sekarang Anda harus terima saya yang jujur."
"Itu termasuk dalam kontrak. Saya setuju."
Mereka makan. Bicara tentang hal kecil—buku yang Sasha sedang baca (sebuah memoir penulis Filipina), film yang Aldric terakhir tonton (dokumenter tentang AI yang dia tonton sambil makan microwave dinner sendiri di apartemen), Mama Sasha di Magelang dan obrolan telepon mereka kemarin.
Aldric tidak bicara tentang ibunya. Sasha tidak tanya. Itu masih terlalu baru, mungkin selamanya akan terlalu privat.
Setelah makan, mereka berjalan ke parkiran—Bistro Madeleine punya parkir sendiri, jalan kecil di belakang restoran. Aldric—yang biasanya tidak pernah mengucapkan "saya antar pulang" karena dia tidak pernah jalan dengan siapa pun—bilang:
"Saya antar."
"Aldric. Saya bisa Grab. Sekarang sudah ada Grab Premium, tidak harus motor."
"Saya antar."
Aldric punya mobil—Lexus hitam yang dia tidak pernah pakai ke kantor karena dia bilang tidak suka memarkir mobil mahal di parkir Treasury Tower yang tidak aman. Mobil itu dia simpan di basement apartemen, dipakai sekitar dua kali sebulan. Sasha duduk di kursi penumpang. Interior kulit cokelat tua yang masih harum baru.
Aldric menyetir keluar dari Kemang menuju Tebet lewat Casablanca. Di tol, dia meraih tangan Sasha dengan tangan kanannya—tangan kiri di setir. Memegang. Tidak menggenggam erat seperti di rumah sakit kemarin. Pelan, seperti orang yang baru belajar.
"Sasha. Saya... saya tidak tahu cara melakukan ini. Saya belum pernah."
"Belum pernah pacaran?"
"Belum pernah... berarti. Saya pernah kencan, saya tidak akan bohong. Tujuh tahun lalu, sebentar. Tiga bulan. Tapi itu bukan pacaran. Itu... saya punya mood untuk distraksi, dan dia tersedia. Tidak adil untuk dia. Dia akhirnya putus dengan saya karena saya terlalu sibuk."
Sasha menatap pria yang menyetir di sebelahnya. "Aldric. Anda dua puluh delapan tahun. Belum pernah pacaran serius? Sungguh?"
"Sasha. Sembilan tahun saya marah dengan ibu saya. Saya tidak punya bandwidth untuk apa pun lagi—untuk teman pun saya tidak punya, kecuali Bayu yang juga workaholic seperti saya. Saya terlalu lelah secara emosional untuk pacaran."
"Aldric."
"Saya tahu. Pathetik."
"Bukan pathetik. Cuma... berat. Anda hidup berat. Dan sekarang Anda menerima ini—mencoba ini—dengan saya yang gajinya tujuh juta lima dan kontrakan di Tebet. Itu bukan pathetik. Itu berani."
Aldric menggenggam tangan Sasha lebih erat. Dia tidak bicara sampai sampai di kontrakan.
Aldric berhenti di depan gerbang kontrakan Sasha. Mati mesin. Lampu masih menyala.
"Sasha. Boleh saya... cium kamu sekarang?"
Sasha menatap pria di kursi sopirnya. Tertawa kecil. Hatinya—yang dia takut akan berdebar lebih cepat dari yang dia bisa kontrol—berdebar tapi tidak panik.
"Aldric. Anda mau ciuman pertama saat saya udah mau pulang? Klise sekali."
"Iya. Saya tidak tahu cara lain. Saya tidak punya banyak pengalaman, ingat?"
Sasha tertawa lagi. "OK."
Aldric mencondongkan tubuh. Mencium Sasha. Pelan. Hati-hati. Bukan ciuman dramatis, bukan ciuman urgent. Cuma—sentuhan bibir yang lembut, lima detik. Yang Sasha kemudian akan kenang sebagai ciuman paling sopan dalam hidupnya.
Sasha mencium balik. Tidak hati-hati. Sepuluh detik. Dia tarik kepalanya dulu sebelum lebih.
Mereka saling tatap setelahnya. Aldric kelihatan seperti baru menang lotre tapi mencoba tidak menunjukkan.
"Aldric."
"Iya."
"Pulanglah. Saya tidak boleh besok terlambat ke kantor."
Aldric tertawa. Tertawa keras. "Bos saya galak."
"Bos saya juga."
"Saya akan ngomong ke bos Anda supaya tidak galak."
"Bos saya tidak akan dengar Anda."
"Adil."
Sasha turun dari mobil. Aldric menunggu sampai Sasha masuk gerbang kontrakan. Sasha menutup pintu kamar dengan punggung menempel di pintu—tertawa pelan, sendirian, seperti remaja yang baru pulang prom.
Hari pertama kontrak. Sukses. Yang akan jadi cerita yang dia tidak akan cerita ke siapa pun—kecuali Lila, mungkin, suatu hari, saat dia siap.