Tiga minggu setelah pemakaman, hidup di Vegasta mulai normal lagi. Atau setidaknya, normal versi baru.
Aldric kembali ke jadwal—datang jam enam pagi, pulang jam delapan malam. Tapi sesuatu sudah berubah di dasar.
Dia tersenyum lebih sering. Bukan senyum besar yang akan jadi viral kalau ada yang foto. Tapi sudut bibir yang naik. Tiga, empat kali sehari, kadang lebih. Staf yang sudah lama kerja di Vegasta mulai berbisik—"Aldric kelihatan beda ya minggu ini." Sasha pura-pura tidak dengar.
Dia memanggil Sasha "Sasha", bukan "Mbak Sasha" lagi—di kantor pun begitu, walaupun staf lain dia tetap panggil dengan "Mbak/Mas". Sasha memanggil dia "Aldric", bukan "Mas Aldric"—di luar telinga staf, di pantry yang sepi, di ruang yang pintu tertutup.
Mereka pergi makan siang sekali atau dua kali seminggu—di luar gedung, restoran kecil yang Aldric pilih dengan kriteria yang Sasha pahami: jauh dari Sudirman, tidak ada karyawan Vegasta yang akan kebetulan datang, parkir mudah. Sasha awalnya keberatan, tapi Aldric meyakinkan bahwa makan siang dengan sekretaris bukan hal aneh, terutama kalau bisnisnya ada (dia selalu bawa folder kerja, membahas satu agenda riil di awal makan, baru ngobrol pribadi setelah). Mereka tetap profesional di kantor—pintu Aldric tertutup di hari kerja, percakapan formal di Slack, tidak ada eye contact yang berlebihan.
Tidak ada yang lain. Belum.
Sampai suatu sore, di restoran Italia kecil di Senopati—Trattoria Alessandro, bukan Anomali atau yang lain karena Aldric mau privacy, dengan sembilan meja dan musik akustik dari speaker tersembunyi—Aldric menatap Sasha dengan ekspresi yang tegang.
"Sasha. Saya mau menawarkan sesuatu."
"Iya, Aldric." Sasha meletakkan garpu pasta-nya.
"Kontrak."
Sasha mengangkat alis. Tertawa pendek. "Kontrak apa? Saya sudah teken kontrak kerja saya, Aldric."
"Bukan kontrak kerja. Kontrak... lain."
Sasha menatap Aldric. Wajah Aldric serius.
"Aldric—"
"Saya tahu kita... saling suka. Saya tahu Anda tidak bisa kehilangan kerja Anda—Anda butuh gaji, Anda kirim ke ibu Anda di Magelang, Anda baru saja stabil setelah PHK. Saya tahu saya tidak bisa kehilangan Anda—sebagai sekretaris, sebagai... apa pun yang kita ini. Saya juga tidak ingin Anda merasa terjebak antara dua hal."
"Aldric—"
"Saya menawarkan: kontrak satu tahun. Anda tetap sekretaris saya secara resmi. Tapi di luar kantor, kita... mencoba ini. Diam-diam, awal. Kalau setelah satu tahun kita masih saling cocok, kita resmikan—Anda boleh pilih: saya bantu Anda pindah ke posisi non-sekretaris di Vegasta supaya tidak ada konflik kepentingan, atau kita umumkan publik dan saya hadapi konsekuensi reputasi sendiri. Kalau dalam satu tahun kita ternyata tidak cocok, kita berpisah secara profesional. Tidak ada drama, tidak ada balas dendam. Saya tidak akan memecat Anda. Anda bebas pindah ke perusahaan lain dengan rekomendasi terbaik dari saya, dan saya pastikan Anda dapat posisi yang lebih baik dari sekretaris."
Sasha menatap Aldric. Lima detik. Sepuluh.
"Aldric. Anda... bercanda?"
"Tidak. Saya pikir-pikir tiga minggu untuk struktur ini."
"Anda menawarkan saya kontrak pacaran?"
Aldric tertawa kecil. Senyum yang sekarang lebih sering—dan yang Sasha tidak akan pernah bosan lihat.
"Saya tahu itu kedengaran aneh. Saya tahu novel romance tidak ada yang ngajak pacar dengan tawaran seperti CEO mendekati merger. Tapi saya... saya tidak punya cara lain untuk pikir tentang ini. Vegasta adalah hidup saya. Saya tidak bisa mendekati ini dengan cara orang biasa yang hidup biasa. Anda adalah orang pertama dalam sembilan tahun yang membuat saya merasakan apa pun yang bukan kerja atau marah. Saya tidak mau salah satu dari kita mengorbankan untuk yang lain. Saya tidak mau Anda kehilangan kerja karena saya."
Sasha menatap pria di seberang mejanya. Pria yang tiga bulan lalu adalah CEO yang dingin dengan wajah yang Sasha pikir tidak tahu cara senyum. Yang sekarang menatapnya dengan tulus, dengan struktur kontrak yang dia tulis di tisu seperti orang menulis term sheet investasi.
"Aldric. Saya... saya butuh waktu memikirkan."
"Iya, Sasha. Tentu saja. Saya tidak butuh jawaban sekarang. Saya bahkan tidak butuh jawaban minggu ini."
"Berapa hari Anda kasih saya?"
"Satu minggu. Tidak ada deadline pengaruh apa pun. Saya cuma kasih timeline supaya Anda tidak merasa harus tunda terus."
"OK."
Mereka selesai makan dengan obrolan ringan tentang menu pasta. Aldric tidak menyentuh topik lagi. Sasha apresiasi.
Sasha pulang malam itu tidak bisa tidur. Pukul tiga pagi dia masih di kasur, menatap langit-langit kontrakan dengan bercak air yang sudah dia kenal.
Dia menelepon Mama-nya di Magelang pagi berikutnya. Tidak cerita lengkap—hanya bilang ada situasi rumit dengan kerja, ada bos yang dia mungkin sukai, dia tidak yakin harus apa.
Mama-nya diam tiga detik di telepon.
"Sasha. Kerja itu penting. Tapi cinta juga. Jangan tukar yang satu untuk yang lain. Tukar untuk kombinasi yang membuat kau bahagia, kalau bisa. Kalau tidak bisa—pilih yang mana yang Mama bisa tidur tenang kalau kau pilih."
"Ma. Saya tidak tahu yang mana."
"Sasha. Kalau dia bos yang baik—kau bisa cari kerja lain. Kalau dia orang yang baik—orang seperti itu tidak setiap tahun datang ke hidup kita. Itu yang Mama pelajari dari Bapakmu. Bapakmu cuma satu untuk Mama, sampai Mama tua."
Sasha menutup telepon. Menangis sebentar.
Sasha juga bertanya pada Lila—sahabatnya dari kuliah, yang sekarang HR di perusahaan finance. Dia ceritakan situasi dengan detail (tanpa nama, tanpa Vegasta). Lila mendengar.
"Sasha. Lo gila ya. Tapi lo tau gak, kontrak yang dia tawarin itu sebenarnya bukti dia serius. Dia gak menawarkan one-night stand. Dia gak menawarkan 'pacaran sambil lo tetep sekretaris saya tanpa exit plan'. Dia menawarkan setahun untuk lihat apakah lo cocok, dengan exit yang jelas dan safe untuk lo. Itu... itu tindakan orang yang takut kehilangan lo, bukan orang yang mau pakai lo. Dari sudut pandang HR, itu kontrak yang aneh tapi sangat hati-hati."
"Lo bilang saya iya?"
"Saya bilang lo dengerin diri sendiri dulu. Tapi kalo perasaan lo iya—dan dari cara lo cerita, perasaan lo iya banget—gua bilang iya."
Sasha memikirkan ini lima hari. Hari kelima, dia kembali ke kantor seperti biasa. Aldric—yang tidak pernah menanyakan keputusannya selama lima hari, bahkan di pantry pun tidak—menatapnya saat dia masuk.
Sasha berjalan ke ruang Aldric. Menutup pintu di belakangnya. Menarik tirai kaca.
"Aldric."
"Iya, Sasha."
Aldric berdiri dari kursinya.
Sasha menatap pria itu. Pria yang sembilan tahun lalu kehilangan ayah karena ibu yang selingkuh. Yang sebulan lalu kehilangan ibu yang dia tidak bicara sembilan tahun. Yang seumur hidupnya tidak punya siapa pun selain Naya dan kerja.
"Iya."
"Iya?"
"Iya, Aldric. Kontrak setahun. Kita coba."
Aldric menatap Sasha lama. Lalu—pertama kalinya di kantor, tirai kaca masih tertarik tapi pintu masih bisa terlihat dari luar—dia tersenyum lebar. Senyum yang sampai ke mata. Senyum yang bukan sudut bibir yang naik, tapi senyum penuh.
"Sasha."
"Iya."
"Saya akan tunjukkan kau bahwa saya pantas untuk setahun ini."
Sasha tersenyum balik. "Aldric. Saya tahu."
Aldric mendekati Sasha. Berdiri di hadapannya. Tidak menyentuh—pintu tidak terkunci, kantor masih jam kerja.
"Sasha. Boleh saya cium kamu?"
"Aldric, di kantor?"
"Maaf. Iya. Benar. Tidak masuk akal."
Sasha tertawa. "Nanti. Di luar kantor. Malam ini. Anda ajak saya makan di restoran yang Anda pilih. Itu kencan pertama kita yang resmi."
"Iya."
Sasha keluar dari ruang Aldric. Membuka tirai kaca. Kembali ke mejanya. Tersenyum—tidak terlalu lebar, supaya tidak ada yang curiga. Tapi tersenyum.
Hari pertama kontrak setahun mereka. Hari yang akan mengubah segalanya.
*[Bab 11+ adalah Premium]*