Mama Aldric meninggal pukul tiga pagi. Naya menelepon Sasha—bukan Aldric—pukul tiga lima belas.
Sasha bangun dengan telepon yang berdering di bantal sebelah. Dia tidur dengan HP di sebelah kepala sejak hari kemarin, takut ada yang butuh dia. Dia angkat sebelum dering kedua.
"Mbak Naya."
"Mbak Sasha. Mama... Mama sudah pergi. Lima belas menit lalu. Saya pegang tangannya."
"Mbak Naya. Saya turut berduka."
"Mbak Sasha. Saya... saya tidak tahu harus telepon siapa lagi. Suami saya sudah meninggal dua tahun lalu—kanker, sama seperti Mama. Pak Hadi juga sudah meninggal lima tahun lalu, serangan jantung. Saya cuma... saya tidak siap sendiri di rumah sakit ini. Aldric tidak akan saya telepon sekarang—saya tahu dia perlu tidur—"
"Mbak Naya. Anda di rumah sakit?"
"Iya. Saya sendirian di kamar Mama. Bidan sudah datang, dokter sudah konfirmasi. Tinggal urus dokumen."
"Saya datang."
"Mbak Sasha—"
"Tunggu di sana. Saya datang."
Sasha berpakaian. Pesan Gojek. Sampai rumah sakit Pondok Indah pukul empat pagi. Lobi rumah sakit malam yang sepi—satu satpam tertidur di kursi, satu perawat di meja resepsionis dengan mata bengkak.
Naya menunggu di lobi—dia turun dari kamar untuk menunggu Sasha. Wajah merah, mata bengkak, jaket abu-abu yang Sasha kenal dari kemarin masih dia pakai. Sasha memeluknya—dua perempuan yang baru bertemu kemarin, tapi yang sekarang mendekap di lobi rumah sakit pukul empat pagi.
"Mbak Naya. Mama Anda... pergi dengan tenang?"
"Iya. Tidur. Tidak bangun lagi. Saya pegang tangannya. Beliau sebelumnya bilang—setengah sadar—'Aldric sudah datang, Mama sudah lega.' Lalu tidur. Tidak bangun."
"Mbak. Itu... itu cara yang baik untuk pergi. Beliau sudah lega."
Naya mengangguk. Air mata yang tidak berhenti.
"Mbak Sasha. Aldric tahu?"
"Belum. Saya... saya akan kasih tahu dia pagi nanti, kalau dia sudah lebih tenang. Saya tidak mau bangunin dia jam empat pagi."
"Iya. OK."
Mereka duduk di lobi sampai pagi. Sasha membantu Naya mengurus dokumen—surat kematian, perjanjian dengan rumah sakit, kontak rumah duka. Naya tidak punya orang lain. Suami—Sasha baru tahu dari Naya—pria baik yang Naya menikahinya empat tahun lalu, meninggal akibat kanker pankreas yang ditemukan terlambat. Tidak ada anak. Naya tinggal sendiri di rumah Mama setelah Pak Hadi meninggal, jadi Mama tidak sendirian di tahun-tahun terakhir.
Pukul delapan pagi, Sasha mengajak Naya pulang ke rumah Mama—di Bintaro, rumah lama yang Naya bilang dia akan jual setelah berkabung selesai.
Sasha menelepon Aldric dari taksi.
"Mas Aldric."
"Sasha." Suaranya pelan. Mungkin baru bangun.
"Mas. Mama Anda... pergi pukul tiga pagi tadi."
Diam panjang. Sasha mendengar napas Aldric. Tidak air mata yang dia dengar—mungkin Aldric sudah habiskan tadi malam.
"Mas?"
"Iya, Sasha."
"Mas. Saya bersama Mbak Naya sekarang. Kami pulang ke rumah Mama di Bintaro. Pemakaman akan dua hari lagi—Naya minta jeda dulu untuk rapikan."
"Sasha—"
"Mas. Anda tidak harus datang. Saya cuma kasih tahu."
"Sasha. Saya... saya datang."
Sasha terkejut. "Mas Aldric—"
"Saya datang. Sasha, alamat di mana?"
Sasha memberi alamat—Naya bisik nomor rumah dan jalan dari kursi sebelahnya. Aldric menutup telepon tanpa kata penutup.
Aldric sampai di rumah Mama satu jam kemudian. Mengenakan kemeja hitam dan celana hitam yang Sasha tidak tahu Aldric punya—dia pasti langsung pergi ke departemen store sebelum kemari, atau mungkin pinjam dari satpam apartemen. Wajahnya tegang tapi bukan rusak. Tidak menangis.
Dia memeluk Naya di pintu rumah. Lama. Naya menangis di bahu kakaknya—menangis yang dia tahan sembilan jam terakhir, akhirnya pecah.
Lalu Aldric menatap Sasha yang berdiri di samping pintu, memberi ruang untuk kakak-adik.
"Sasha. Anda tidak tidur."
"Tidak apa-apa, Mas."
"Anda... tetap di sini hari ini?"
"Iya, Mas. Saya cuti hari ini."
Aldric mengangguk. Lalu—di depan Naya, di depan Mbak Tetangga yang datang untuk takziah, di depan pengurus rumah duka yang sedang bicara dengan Naya—Aldric memegang tangan Sasha. Sebentar. Lima detik. Lalu lepas.
Naya melihat. Mbak Tetangga melihat. Pengurus rumah duka tidak melihat karena dia sibuk dengan dokumen.
Naya tersenyum kecil—pertama kalinya senyum hari itu—lalu kembali bicara dengan pengurus.
Pemakaman dilaksanakan dua hari kemudian, di TPU Karet Bivak. Aldric datang. Mengenakan setelan hitam yang lebih rapi sekarang. Naya datang. Sasha datang—sebagai "teman keluarga", Naya yang mengundang, dengan dress hitam panjang yang Sasha pinjam dari Lila sahabatnya.
Pemakaman sederhana. Sekitar empat puluh orang, kebanyakan tetangga lama dan kerabat jauh. Pak Hadi—stepfather Aldric—sudah lama meninggal, jadi tidak ada keluarga dari pihak suami kedua Mama. Aldric berdiri di samping kuburan, di sebelah Naya, tanpa ekspresi yang Sasha bisa baca. Tidak menangis. Tidak juga tegas. Cuma... ada.
Setelah pemakaman, di rumah Naya untuk acara pelayat—kopi dan kue di meja, pelayat yang berbicara pelan, anak-anak tetangga yang berlari di halaman—Aldric mendekati Sasha di sudut ruang tamu. Dia melihat sekitar—tidak ada yang fokus ke mereka, semua sibuk dengan kerabat lain.
"Sasha."
"Iya, Mas."
"Saya tahu... saya tahu ini tidak professional. Tempatnya, waktunya, semuanya."
"Mas?"
"Saya... saya merasa sesuatu untuk Anda. Sasha. Saya tidak akan bohong, dan saya tidak akan tunggu lebih lama. Saya tahu hari ini bukan tempatnya, tapi saya tidak bisa pulang dari pemakaman ibu saya tanpa Anda tahu."
Sasha menatap Aldric. Hatinya berdebar lebih cepat dari yang dia mampu menyembunyikan dari wajahnya. Untung tidak ada yang melihat mereka di sudut ini.
"Mas Aldric—"
"Saya tahu Anda sekretaris saya. Saya tahu ini salah, secara profesional. Saya tahu kalau ini diketahui di Vegasta, satu dari kita harus keluar—biasanya yang junior, walaupun saya akan pastikan bukan Anda. Saya tidak akan menekan Anda, Sasha. Anda tidak harus menjawab. Tapi saya mau Anda tahu."
Sasha menelan ludah.
"Mas Aldric. Saya..."
"Anda tidak perlu menjawab sekarang."
"Mas. Saya juga merasa sesuatu. Sebulan ini, lebih jelas seminggu terakhir. Tapi—"
"Saya tahu."
"Mas Aldric. Tapi kita tidak bisa. Kalau orang tahu, saya akan dipecat. Atau Anda. Atau masalah lain yang akan mengganggu Vegasta."
"Iya, saya tahu."
"Mas Aldric. Saya... saya butuh kerja saya. Saya tidak bisa kehilangan—"
"Saya tahu, Sasha. Saya tidak akan minta Anda kehilangan apa pun."
Mereka berdiri di sudut rumah. Tamu pelayat di sekitar mereka, tidak memperhatikan dua orang yang berbicara serius di dekat lemari foto.
"Mas Aldric. Bisa kita... bicarakan ini lagi nanti? Bukan sekarang. Anda baru saja kehilangan ibu Anda. Saya baru saja tidak tidur dua malam. Kita berdua tidak dalam keadaan yang baik untuk bicara hal seperti ini."
"Iya. Iya, Sasha. Itu lebih baik."
"Setelah pemakaman selesai. Setelah kita kembali kerja. Kita bicara di tempat yang netral."
Aldric mengangguk. "Saya tunggu."
Sasha menatap pria di hadapannya. Pria yang sedang berkabung, yang baru saja menguburkan ibu yang dia tidak bicara sembilan tahun, yang sekarang bilang dia merasa sesuatu untuk sekretarisnya di hari pemakaman.
Hatinya berdebar. Tapi otaknya tahu—mereka harus bicara saat tidak ada air mata di latar belakang.
"OK, Mas."
Aldric mengangguk sekali lagi. Kembali ke Naya.
Sasha menarik napas dalam. Mengambil cangkir kopi dari meja kerabat. Mencoba kembali jadi "teman keluarga" yang netral.