Sasha duduk di sofa abu-abu di apartemen Aldric. Aldric pergi ke dapur—gerakan yang Sasha sadari tidak biasa, karena di kantor dia selalu suruh staf yang ambilkan kopi. Aldric menyeduh kopi sendiri, dengan mesin espresso yang Sasha tidak sangka dia punya. Datang ke sofa dengan dua cangkir, satu cappuccino dengan susu (untuk Sasha—dia ingat dari pantry) dan satu espresso pekat (untuk dirinya).
"Sasha."
"Iya, Mas."
"Mama saya akan mati malam ini, atau besok pagi paling lambat. Doktor bilang ke Naya sebelum kami masuk kamar tadi. Kami sudah hitung jam sekarang."
"Mas. Saya turut berduka."
"Saya... saya tidak tahu apa yang saya rasakan."
Aldric duduk di sebelah Sasha di sofa. Dekat tapi tidak menempel. Memberinya cangkir cappuccino. Sasha terima.
"Sembilan tahun saya marah, Sasha. Sembilan tahun saya menyembunyikan dari Naya. Sembilan tahun saya bekerja sampai tidak bisa berpikir apa pun lagi. Saya bangun sebelum jam lima, kerja sampai jam delapan malam, pulang ke apartemen, makan sendiri kalau ingat, tidur, ulang. Tujuh hari seminggu kecuali tahun baru—dan tahun baru pun saya kerja kalau sendirian di apartemen mulai membuat saya gila."
Sasha menatap kopi di tangannya. Foam-nya cantik—Aldric tahu cara membuat latte art, kelihatan di puncak cangkir dia bentuk daun.
"Lalu hari ini saya melihat dia... pucat, kecil, sekarat... dan saya... saya tidak marah lagi, Sasha. Saya cuma sedih. Itu yang saya rasakan. Sedih yang dalam, sedih yang sudah ada di sana selama sembilan tahun di bawah marah yang saya pakai sebagai topeng."
"Mas. Itu... itu mungkin OK. Untuk akhirnya tidak marah."
"Sasha. Saya marah selama satu dekade. Itu satu dekade hidup saya. Saya membangun seluruh perusahaan ini—Vegasta, lima ratus juta dolar valuasi, empat ratus karyawan—sebagian karena saya tidak mau ada apa pun selain kerja. Saya tidak membuat teman. Saya tidak ke acara reuni SMA. Saya tidak memikirkan tentang... apa pun yang lain. Cuma kerja. Karena kerja yang aman. Kerja tidak akan menyakiti saya seperti Mama dan Bapak menyakiti saya."
Sasha menatap kopi. Air matanya ingin turun—tapi dia tahan. Ini bukan momen Sasha menangis. Ini momen Sasha mendengar.
"Mas Aldric. Kerja keras Anda... memberi Anda Vegasta. Yang luar biasa. Ribuan murid di Indonesia belajar lebih baik karena platform Anda. Itu nyata."
"Iya. Tapi saya tidak punya... siapa pun. Naya iya—adik saya, satu-satunya keluarga yang sebentar lagi tinggal saya. Tapi tidak ada yang lain. Saya umur dua puluh delapan, Sasha. Dan saya tidak punya orang yang akan datang ke pemakaman saya kalau saya mati besok."
"Mas."
"Sasha. Anda... tahu kenapa saya menerima Anda di wawancara?"
"Karena saya butuh kerja, dan Anda butuh sekretaris yang tidak resign?"
Aldric tertawa kecil. Pertama kali Sasha mendengar tawa dia—bukan senyum, tawa. Suara yang jauh lebih muda dari suara Aldric yang biasa di kantor.
"Iya, sebagian. Tapi kebanyakan—karena Anda menertawakan saya. Anda bilang saya menjual diri sendiri seperti deskripsi produk yang tidak laku di Tokopedia. Anda... Anda tidak takut sama saya. Empat sekretaris sebelumnya takut. Mereka 'iya Pak, iya Pak' di setiap kalimat saya, dan saya tahu mereka bermukosa dalam mereka berdoa supaya saya tidak panggil mereka ke ruangan. Anda tidak takut."
Sasha tersenyum kecil. "Mas. Saya juga tidak takut atasan, secara umum. Saya pernah dapat atasan yang lebih buruk dari Anda. Anda profesional. Saya bisa kerja dengan profesional, walaupun dingin."
"Saya tahu sekarang."
Mereka diam sebentar. Minum kopi. Espresso Aldric pasti sudah dingin tapi dia tetap minum. Sasha menyelesaikan cappuccino-nya pelan.
Aldric akhirnya bilang:
"Sasha. Saya minta sesuatu. Mungkin tidak adil—tolak kalau Anda mau."
"Iya, Mas."
"Kalau Mama saya meninggal—dan dia akan, malam ini atau besok—saya tidak akan ke pemakaman. Itu Naya yang urus. Naya tahu saya tidak akan datang. Saya tidak siap untuk publik. Saya tidak siap untuk pertanyaan dari sepupu saya yang akan tanya kenapa saya menghilang sembilan tahun."
"OK, Mas."
"Tapi saya akan ke makam Mama suatu hari. Sendiri. Sesuai permintaan Mama—buat saya sendiri, bukan untuk dia. Saya butuh waktu. Mungkin sebulan, mungkin enam bulan. Tapi saya akan."
"Iya, Mas."
"Sementara, saya ingin... saya ingin Anda tetap di sini. Sebagai sekretaris saya, iya. Tapi juga... sebagai satu-satunya orang yang tahu cerita ini di luar Naya. Saya tidak akan beritahu staf di Vegasta. Saya tidak akan beritahu siapa pun. Saya butuh ada satu orang di hidup saya yang tahu cerita ini—yang tidak akan menatap saya berbeda karena tahu, tapi yang tahu."
Sasha mengangguk pelan.
"Iya, Mas. Saya tidak cerita ke siapa pun. Saya janji. Bahkan ke teman dekat saya."
Aldric menatap Sasha. Mata coklat tua yang masih basah, tapi sekarang sedikit lebih kering dari di rumah sakit.
"Sasha. Terima kasih."
"Mas."
"Anda mau pulang?"
Sasha menatap jam dinding di ruang tamu Aldric. Pukul empat sore. Dia bisa pulang sekarang—naik MRT, sampai Tebet, sore yang biasa. Tapi—
"Mas. Anda... mau saya tetap sebentar?"
Aldric menundukkan kepala. Tangan kanannya mengelus cangkir espresso kosong.
"Saya... iya. Tolong. Kalau Anda mau."
Sasha mengangguk. "Iya, Mas. Saya tetap."
Mereka tetap di apartemen Aldric. Aldric pesan makanan—pizza, karena Aldric bilang dia butuh sesuatu yang sederhana yang dia tidak harus pikirkan rasanya. Sasha menerima. Pizza datang lima puluh menit kemudian dari tempat yang Aldric pesan.
Mereka makan di sofa. Tidak banyak bicara. Aldric makan dua slice, Sasha makan tiga. Tapi diam yang nyaman, bukan diam yang tegang. Diam orang yang sudah berbagi sesuatu yang besar dan tidak perlu mengisi udara dengan kata-kata.
Sasha pulang jam delapan malam. Sebelum keluar pintu, dia berkata:
"Mas. Besok saya datang ke kantor seperti biasa. Tapi Anda tidak harus."
"Saya akan datang."
"Mas Aldric. Anda boleh tidak datang—"
"Saya akan datang. Kerja itu yang saya tahu cara melakukannya, Sasha. Kalau saya tidak datang, saya akan duduk di apartemen dan tidak baik untuk saya."
"OK, Mas. Sampai besok."
Aldric mengangguk. "Sasha."
"Iya."
"Terima kasih."
"Tidak perlu, Mas."
Sasha turun ke lobi. Pesan Gojek motor.
Di motor pulang ke Tebet, dia menyandarkan kepala ke punggung Mas driver—dia tahu itu tidak pantas—dan menutup mata. Hatinya, yang tidak berdebar untuk siapa pun selama dua tahun sejak putus dari pacar yang selingkuh dengan teman kuliahnya, sekarang berdebar.
Untuk bos-nya. Yang seharusnya tiga tahun lebih tua, tapi yang hari ini terasa seperti orang yang sebaya. Yang sebulan setengah lalu masih dingin. Yang hari ini menangis di pelukan ibunya yang sekarat.
Sasha menutup matanya lebih dalam. Menarik napas.
Dia tidak boleh jatuh cinta dengan bos-nya. Itu garis profesional yang sudah jelas, di buku panduan HRD mana pun.
Tapi dia mungkin sudah.