Kamar 7-A. Pintu setengah terbuka. Aroma bunga kemboja segar yang Naya pasang di vas di nakas, ditimpa aroma rumah sakit yang tak bisa hilang.
Naya masuk dulu. Aldric ragu di pintu. Tangannya yang menggantung di sisi kakinya mengepal, lepas, mengepal.
Sasha—yang berdiri di belakang Aldric—meraih tangannya. Pelan. Cuma sentuhan, bukan genggaman.
"Mas. Saya di sini. Saya tunggu di luar."
Aldric menatap Sasha. Wajahnya pucat, lebih pucat dari saat di apartemen.
"Sasha. Anda tidak perlu masuk. Saya bisa—"
"Saya tunggu di luar kalau Anda mau. Tapi saya tidak pulang dulu sampai Anda keluar dari kamar."
Aldric mengangguk. Tarik napas dalam—Sasha lihat dadanya naik dan turun. Lalu dia masuk ke kamar.
Sasha berdiri di koridor. Kursi panjang dari plastik di seberang pintu kamar—dia duduk di sana. Mendengar dari pintu yang setengah terbuka. Dia tidak akan pindah lebih dekat untuk menguping, tapi suara di kamar 7-A cukup pelan untuk sampai ke koridor yang sepi.
Suara perempuan tua—lemah, tapi jelas—di dalam.
"Aldric..."
Diam.
"Aldric. Datang... dekat... Mama."
Suara langkah pelan. Aldric mendekati ranjang.
"Aldric. Sembilan tahun..."
"Saya tahu, Mama."
Sasha bisa mendengar suara Aldric. Suara yang sangat berbeda dari yang dia kenal di kantor. Lebih muda. Lebih rusak. Suara remaja yang baru kehilangan ayahnya, yang Sasha bayangkan dia kemudian kunci selama sembilan tahun.
"Aldric. Maaf. Saya... saya tahu kau tidak mau dengar. Tapi saya harus bilang sebelum saya pergi."
"Mama, jangan—"
"Aldric. Saya jahat sekali. Saya membunuh papamu. Saya tahu itu. Saya membunuh diri saya sendiri pelan-pelan dengan rasa bersalah selama sembilan tahun terakhir—kau pikir saya hidup baik-baik dengan Pak Hadi, tapi saya tidak. Saya menikahinya karena saya pikir kalau saya tidak menikah dengannya, kematian Bapakmu akan benar-benar sia-sia. Saya bodoh."
Sasha mendengar Aldric menarik napas tajam.
"Mama—"
"Aldric. Saya tidak pantas dimaafkan. Saya tahu. Saya tidak meminta itu. Saya cuma... saya cuma minta—kalau kau bisa, suatu hari—datang sekali ke makam saya. Untuk dirimu sendiri. Bukan untuk saya. Cuma untuk... menutup ini, supaya kau bisa hidup tanpa membawa saya di pundak terus."
Diam panjang. Tiga puluh detik, mungkin satu menit.
Sasha bisa mendengar Aldric menangis. Bukan sesenggukan keras—menangis pelan, yang ditahan, yang menghancurkan suara.
"Mama."
"Iya, Aldric."
"Mama. Saya... saya sayang Mama."
Sasha menutup matanya. Air mata kecil di pipinya sendiri, yang dia usap dengan punggung tangan. Dia tidak boleh menangis di sini—ini bukan momen dia.
Dari kamar, Sasha bisa mendengar suara Mama Aldric—pelan, sangat pelan—berkata "Aldric, anak Mama..." dan kemudian suara batuk.
Naya keluar dari kamar setelah lima menit. Wajahnya basah air mata, hidungnya merah. Melihat Sasha duduk di kursi koridor.
"Mbak Sasha. Anda... boleh masuk juga, kalau mau."
Sasha menggeleng. "Tidak, Mbak Naya. Ini momen Mas Aldric dan Mama. Saya cuma menemani Mas pulang nanti. Ini bukan tempat saya."
Naya menatap Sasha lama. Duduk di sebelah Sasha di kursi koridor, dengan jarak yang cukup dekat untuk bisik tapi tidak intim.
"Mbak Sasha. Aldric—sembilan tahun saya kenal kakak saya sebagai orang yang berubah jadi dingin setelah Bapak meninggal—tidak pernah ada perempuan yang menjadi bagian dari hidupnya. Tidak ada teman dekat. Tidak ada pacar. Tidak ada apa-apa. Cuma kerja. Saya pikir dia akan tetap begitu sampai mati."
"Mbak Naya, saya cuma sekretaris—"
"Mbak Sasha. Anda yang membawa dia ke sini hari ini. Bukan saya. Bukan keluarga jauh. Bukan pengacara keluarga. Anda."
Sasha tidak menjawab. Tidak tahu cara menjawab.
Naya menggandeng tangan Sasha sebentar—lima detik, hangat, seperti adik perempuan yang Sasha tidak punya.
"Mbak. Terima kasih. Apa pun yang Anda lakukan—atau tidak lakukan—dengan Aldric setelah ini, saya cuma minta: jangan menyakiti dia. Beliau sudah cukup tersakiti."
"Mbak Naya. Saya tidak akan menyakiti dia."
"Saya percaya Anda."
Naya kembali masuk ke kamar. Pintu kembali setengah terbuka. Sasha kembali duduk sendiri di koridor.
Sasha berdiri di koridor—duduk lebih tepatnya, kursi plastik yang membuat punggungnya sakit—dua puluh menit. Tiga puluh. Dia mendengar suara di dalam kamar—Aldric dan Mama-nya bicara pelan, kadang Aldric diam, kadang Mama-nya batuk. Sekali Sasha mendengar Mama Aldric tertawa—tawa yang lemah tapi nyata, mungkin tawa kenangan.
Akhirnya, setelah hampir lima puluh menit, Aldric keluar. Naya di belakangnya, menyandarkan kepala di bahu Aldric.
Wajah Aldric—Sasha tidak akan pernah lupa—adalah wajah orang yang baru saja menerima sesuatu yang tidak akan pulih. Tidak hancur. Tapi berubah. Seperti orang yang baru saja menarik benda berat dari dadanya yang sudah ada di sana sembilan tahun, dan sekarang dadanya kosong dengan cara yang menyakitkan tapi juga mengizinkan napas yang lebih dalam.
"Sasha."
"Mas."
"Saya... saya boleh pulang dulu? Saya butuh sendiri. Bukan, butuh tidak sendiri—butuh tidak di rumah sakit. Saya butuh diam yang bukan diam ini."
"Iya, Mas. Saya antar Anda."
Naya—di belakang Aldric—bisik ke Sasha, sambil melepaskan diri dari kakaknya:
"Saya jaga Mama. Bawa kakak saya pulang. Beliau mungkin... butuh waktu. Mungkin makanan. Saya rasa Aldric tidak makan dari kemarin malam."
"Iya, Mbak Naya."
Mereka turun ke lobi. Sasha pesan taksi. Aldric tidak bicara di lift, tidak bicara di lobi, tidak bicara saat masuk taksi. Cuma duduk di sebelah Sasha di kursi belakang, dan di Pondok Indah Boulevard, dia memegang tangan Sasha lagi. Erat, kali ini. Seperti orang yang takut akan kehilangan pegangan kalau dia lepas.
Sampai apartemen Aldric, Sasha membuka pintu kamar dengan kunci yang Aldric berikan ke dia di taksi tanpa berkata apa-apa. Aldric masuk. Sasha mau pamit di pintu.
"Sasha."
"Iya, Mas."
"Tinggal sebentar. Tolong."
Sasha menatap pria yang sebulan lalu masih tampak seperti CEO yang dingin di ruang wawancara.
"Iya, Mas."