Aldric duduk di kursinya. Menatap karpet. Pola karpet abu-abu yang Sasha baru sadar lebih detail dari yang dia lihat saat masuk.
"Sasha. Bapak saya... tidak biasa mabuk. Cuma malam itu. Karena Mama. Mama dan Bapak saya bertengkar besar malam itu di rumah—saya dan Naya dengar dari kamar kami di lantai dua. Mama bilang dia... dia selingkuh. Dengan Pak Hadi. Teman bapak saya dari kuliah, kamerad seangkatan di Trisakti. Sudah dua tahun selingkuh, dengan inisiatif Mama, di belakang Bapak."
Sasha mendengarkan. Dia tahu sekarang dia tidak boleh menginterupsi. Tangan dia di pangkuan, telapak menghadap ke atas, mengepal pelan tanpa sengaja.
"Bapak saya marah. Mama saya marah balik—dia tidak menyesal, sama sekali, dia bilang Bapak yang salah karena terlalu sibuk dengan kerja. Bapak saya ambil kunci mobil. Saya turun ke lantai satu dan coba menahan dia, bilang 'Bapak, jangan nyetir sekarang'—saya delapan belas waktu itu, baru lulus SMA. Bapak menampar saya. Pertama kalinya seumur hidup saya. Lalu pergi."
Aldric berhenti. Sasha bisa lihat dia menelan ludah, dua kali.
"Bapak saya pergi ke bar di Karawaci. Mabuk berat. Pulang ke arah Jakarta lewat tol Cipularang pukul dua pagi. Hujan deras. Bapak menabrak mobil keluarga lain dari arah berlawanan—sebenarnya bapak yang masuk ke jalur lain karena setir tidak terkendali. Dua orang di mobil itu meninggal. Suami dan istri. Anak mereka di kursi belakang selamat, tapi cedera berat. Bapak saya yang ketiga meninggal—saat petugas mendapatkan dia, sudah tidak bisa diselamatkan."
Sasha menutup mulutnya dengan tangan. Tidak suara. Cuma reflek.
"Mas Aldric."
"Saya tahu Mama yang menyebabkan kematian Bapak, Sasha. Saya tahu sejak malam itu—saya yang dengar pertengkarannya, saya yang mencoba menahan. Mama tahu juga. Tapi dia... dia tidak pernah minta maaf. Dia menangis di pemakaman, dia berlama-lama berduka di rumah, dia memakai baju hitam tiga bulan. Lalu enam bulan kemudian dia menikah dengan Pak Hadi—pria yang sama yang dia selingkuhi dengan Bapak. Pernikahan kecil di KUA, tidak undang siapa pun. Saya tahu dari Naya yang waktu itu juga tidak diundang."
"Mas Aldric—"
"Naya—adik saya—masih sayang Mama. Naya tujuh belas waktu Bapak meninggal. Dia... dia tidak tahu cerita lengkapnya. Tidak tahu Mama selingkuh. Tidak tahu pertengkaran malam itu. Tidak tahu kenapa Bapak nyetir dalam keadaan mabuk. Mama meminta saya menyembunyikan dari Naya. Saya menyembunyikan. Selama sembilan tahun saya menyembunyikan."
"Mas. Sembilan tahun?"
"Iya. Saya tidak bicara dengan Mama sembilan tahun. Tidak telepon, tidak email, tidak hadir di hari raya. Saya bicara dengan Naya, sekali sebulan, telepon. Tapi tidak Mama. Mama mencoba telepon saya tahun pertama, beberapa kali. Saya tidak pernah angkat. Setelah enam bulan, dia berhenti mencoba."
Sasha menelan ludah. Air liur yang terasa tidak ada dari saat Aldric mulai cerita.
"Mas. Sekarang Mama Anda... sekarat."
"Iya."
"Mas. Anda... mau lihat dia?"
Aldric menatap Sasha. Mata coklat tua yang basah. Air mata yang Sasha lihat sekarang, untuk pertama kalinya, jatuh dari pipi kanan—satu titik kecil yang menggelinding ke rahang.
"Sasha. Saya tidak tahu. Saya benar-benar tidak tahu."
"Mas Aldric. Apakah Anda akan menyesal kalau tidak pergi?"
Aldric tidak menjawab. Mata-nya menutup. Air mata kedua, ketiga.
Sasha berdiri. Berjalan ke kursi Aldric. Duduk di lengan kursi—dia tidak yakin apakah ini sopan, tapi dia tidak tahu cara lain berdiri lebih dekat tanpa terasa terlalu jauh.
"Mas. Anda tidak perlu memaafkan dia. Tidak perlu mendamaikan. Tidak perlu bilang 'aku sayang Mama' kalau Anda tidak rasakan. Cuma... pergi. Lihat dia. Sebagai akhir. Sebagai full stop, bukan sebagai bab baru."
Aldric menutup wajahnya dengan tangan. Bahunya goyang sedikit—Sasha tidak yakin itu napas atau tangis, mungkin keduanya.
"Sasha."
"Iya, Mas."
"Saya... saya takut. Saya takut saya akan marah saat lihat dia. Saya takut saya akan membentak dia di hari terakhir hidupnya. Saya takut saya akan mengatakan hal yang saya tahan sembilan tahun—dan dia akan mati dengan kata-kata saya yang terakhir, dan itu akan jadi beban saya sampai saya juga mati."
Sasha—yang tidak pernah menyentuh bos-nya kecuali jabat tangan profesional di hari pertama—meletakkan tangan di bahu Aldric. Pelan. Tidak menarik. Tidak mendorong. Cuma ada.
"Mas. Saya temani."
"Sasha. Anda tidak perlu—"
"Saya temani. Anda ke Pondok Indah, saya temani. Saya tidak masuk ke kamar—itu antara Mas dan Mama. Tapi saya tunggu di koridor. Kalau Anda mau marah, saya yang akan dengar setelahnya. Bukan Mama Anda."
Aldric menarik napas berat. Mengusap wajahnya dengan kedua tangan, kasar, seperti orang yang baru bangun dari tidur yang buruk.
"OK. OK, Sasha."
Aldric mandi cepat—Sasha menunggu di sofa selama dua belas menit. Aldric keluar dengan rambut basah, kemeja hitam yang dia ambil dari lemari, celana abu-abu. Lebih rapi dari yang Sasha pernah lihat dia di hari biasa, walaupun matanya masih merah.
Mereka turun ke lobi. Sasha pesan taksi Bluebird. Aldric tidak komentar—biasanya dia akan suruh ambil mobilnya sendiri, tapi dia jelas tidak mood nyetir hari ini.
Di mobil, Aldric memegang tangan Sasha. Sasha kaget—lebih kaget dari saat Aldric bilang "Bapak saya meninggal." Tapi tidak menarik. Cuma menggenggam balik, ringan.
"Sasha. Maaf."
"Untuk apa?"
"Ini bukan tanggung jawab Anda. Saya bos Anda. Anda sekretaris saya. Anda seharusnya pulang sekarang dan kerja besok seperti biasa. Bukan duduk di taksi pegang tangan saya menuju ranjang ibu saya."
"Mas. Saya datang sendiri ke sini. Anda tidak meminta. Anda tidak panggil. Tanggung jawab atau tidak, ini saya pilih."
Aldric menatap Sasha. Mata yang sekarang lebih kering, tapi masih lelah.
"Iya. Itu yang aneh."
Sasha tertawa kecil. "Aneh? Saya orang yang aneh, Mas."
"Bukan begitu maksudnya."
"Saya tahu, Mas."
Mereka diam. Taksi melewati Semanggi, masuk ke Pondok Indah. Aldric tidak melepaskan tangan Sasha sepanjang perjalanan.
Mereka sampai rumah sakit Pondok Indah pukul satu siang. Sopir taksi tidak komentar pas Aldric masih pegang tangan Sasha saat bayar.
Naya menunggu di lobi. Perempuan muda—dua puluh tujuh sekarang—wajah mirip Aldric tapi lebih lembut, mata bulat yang sekarang sembab dari menangis berjam-jam. Dia mengenakan jaket abu-abu yang terlalu besar, mungkin milik suaminya yang Sasha tidak tahu apakah masih ada.
"Aldric."
Naya berlari. Memeluk Aldric dengan cara yang Sasha tahu sembilan tahun dia simpan. Aldric berdiri kaku—dua detik, tiga—lalu pelan-pelan memeluk balik. Tangan kanannya yang masih pegang tangan Sasha, dia lepas. Memeluk adiknya dengan dua tangan.
"Naya."
"Aldric. Mama menunggu. Beliau sudah tidak banyak bicara sejak tadi pagi."
Naya menatap Sasha. Mata yang basah tapi sekarang juga bingung.
"Anda... siapa, Mbak?"
"Saya Sasha. Sekretaris Mas Aldric."
Naya menatap Sasha. Lalu Aldric. Lalu Sasha lagi. Tersenyum kecil—senyum yang Sasha tidak yakin artinya apa, tapi yang membuat Sasha merasa Naya lebih cepat dewasa daripada mereka berdua.
"Terima kasih sudah membawa dia, Mbak Sasha."
Mereka naik ke kamar ibu Aldric. Lift di rumah sakit Pondok Indah berbau antiseptik dan parfum bunga buatan. Sasha berdiri di belakang Aldric dan Naya. Aldric—yang masih kaku—menggenggam tangan Sasha lagi sebentar di lift, sebelum lepas saat pintu terbuka di lantai tujuh.