Hari berikutnya, Aldric tidak masuk kantor.
Pertama kalinya dalam empat tahun, kata Mbak Indri yang sekretaris keuangan—bukan Indri sekretaris Aldric yang sebelumnya, dua orang yang berbeda dengan nama mirip yang Sasha selalu bingung—yang sudah kerja di Vegasta sejak Vegasta cuma sepuluh orang di ruko Tebet.
"Mbak Sasha. Aldric tidak pernah absen. Bahkan flu tahun lalu, demam tiga puluh delapan, dia tetap masuk dan kerja dari ruangan dengan masker. Bahkan saat ada cucinya kecelakaan dua tahun lalu, dia tetap masuk setengah hari sebelum ke rumah sakit. Apa yang terjadi?"
"Saya... tidak tahu, Mbak."
Sasha tidak bisa cerita. Privacy. Aldric jelas tidak mau orang tahu.
Pukul sebelas pagi, telepon meja Sasha bunyi.
"Vegasta, Sasha."
"Mbak Sasha. Saya Naya. Saya... saya bisa minta tolong?"
"Iya, Mbak Naya."
"Mbak Sasha. Aldric tidak angkat telepon saya. Tiga kali pagi ini. Dia... dia tidak pernah angkat telepon saya, sebenarnya. Sudah sembilan tahun. Kami komunikasi lewat email cuma, sekali sebulan. Tapi sekarang Mama bertanya tentang dia. Mbak bisa kasih tahu dia, kalau dia bisa, datang ke rumah sakit Pondok Indah hari ini? Mama mau lihat dia... terakhir kali."
Sasha menelan ludah. Sembilan tahun tidak angkat telepon adiknya.
"Mbak Naya. Saya akan coba sampaikan."
"Mbak. Tolong. Saya tidak meminta dia mendamaikan dengan Mama. Cuma datang. Sebentar saja. Lima menit. Mama tidak akan banyak bicara—dia sudah sangat lemah sejak kemarin malam."
"Iya, Mbak."
Sasha menutup telepon.
Dia menelepon HP Aldric. Tidak diangkat. Tiga kali. Tidak diangkat. Sasha kirim WhatsApp—dua centang, tapi tidak biru. WhatsApp diabaikan.
Sasha mengambil tasnya dari laci. Berdiri.
"Mbak Indri, saya keluar sebentar untuk urusan Mas Aldric. Mungkin dua jam."
"OK, Mbak Sasha."
Sasha turun ke lobi. Naik taksi Bluebird—dia biasanya naik MRT atau Gojek, tapi hari ini dia tidak punya waktu untuk transit.
"Mas. Apartment Senopati Suite tower B."
Sasha tidak tahu di mana persis Aldric tinggal. Profil internal-nya kosong di alamat. Dia cek HRD pagi tadi—HRD bilang Aldric tinggal di Apartment Senopati Suite, tower B, tapi nomor kamarnya rahasia (Aldric meminta pribadi).
Sasha sampai dua puluh menit kemudian. Naik ke lobi tower B. Bilang ke security dia tamu Aldric Wijaya.
"Mbak ada janji?"
"Pak. Saya sekretaris Pak Aldric. Ada urusan keluarga mendesak."
Security menelepon ke kamar Aldric. Tidak diangkat. Telepon kedua. Tidak diangkat. Telepon ketiga, akhirnya:
"Iya?" — suara Aldric, jauh lebih lelah dari yang Sasha pernah dengar.
"Pak Aldric. Ada Mbak Sasha di lobi."
Hening.
"Suruh dia naik."
Security memberi Sasha kunci akses lift. Lantai 15. Kamar 1502.
Sasha naik. Pintu kamar Aldric. Bel.
Aldric membuka. Tidak mandi. Memakai kaos abu-abu yang Sasha kenal dari kantor (yang biasanya di bawah jaket) dan celana training. Mata merah. Rambut yang biasanya rapi sekarang berdiri-diri.
"Mbak Sasha. Anda... apa yang Anda lakukan di sini?"
"Mas. Mbak Naya menelepon saya tadi. Mama Anda... ingin lihat Anda hari ini. Terakhir kali."
Aldric menatap Sasha lama. Mata coklat tua yang biasanya tegas, sekarang basah.
"Sasha."
"Iya, Mas."
"Anda tidak perlu—"
"Mas Aldric. Anda harus pergi."
"Sasha—"
"Mas. Saya tidak peduli alasan Anda tidak mau melihat ibu Anda. Saya tahu pasti ada alasan—mungkin alasan yang sangat sah. Tapi sekarang... sekarang dia mau bertemu Anda. Anda tidak akan punya kesempatan ini lagi besok. Mungkin tidak punya kesempatan ini lagi malam ini."
Aldric menutup mata. Tidak bicara.
"Mas. Saya sekretaris Anda. Saya tidak boleh ikut campur urusan pribadi Anda. Saya tahu. Tapi saya... saya datang sendiri ke sini. Anda tidak panggil saya. Anda tidak suruh saya. Anda boleh suruh saya pulang sekarang dan saya pulang. Tapi saya minta—sebelum Anda suruh saya pulang—dengarkan saya."
Aldric membuka mata. Membuka pintunya lebih lebar.
"Masuk dulu, Sasha. Tidak sopan saya bicara di pintu."
Sasha masuk. Apartemen Aldric—Sasha kaget, walaupun dia berusaha tidak menunjukkan—bersih, minimalis, hampir kosong. Sofa abu-abu yang sederhana. Meja kayu dengan dua buku tertumpuk. Satu lukisan di dinding, abstrak hitam-putih, yang Sasha tidak kenali. Tidak ada foto. Tidak ada barang yang menunjukkan kepribadian.
Apartemen yang ditempati orang yang tidak mau membangun rumah.
"Mas. Anda... siap pergi sekarang?"
"Sasha. Duduk."
Sasha duduk di sofa. Aldric duduk di kursi tunggal di seberang. Tangan dia menempel di paha, mengepal, lepas, mengepal.
"Sasha. Sebelum saya pergi—kalau saya pergi—saya harus cerita sesuatu. Tidak akan adil ke Anda kalau saya bawa Anda ke rumah sakit tanpa Anda tahu apa yang Anda akan saksikan."
Sasha menatap pria yang dua bulan lalu mewawancarainya dengan ekspresi datar. Yang sekarang—duduk di apartemen sendiri, tidak mandi, mata merah—lebih manusia daripada yang pernah dia tunjukkan.
"Iya, Mas. Saya dengarkan."
Aldric mengambil napas. Dia tidak bicara dulu. Dia mengumpulkan kalimatnya, Sasha lihat, dengan cara orang yang sudah lama tidak bicara tentang sesuatu yang penting dan harus mencari kata-katanya dari awal.
"Sasha. Sepuluh tahun lalu—saya delapan belas, Naya tujuh belas—bapak saya meninggal. Kecelakaan mobil di Cipularang."
"Mas. Saya turut—"
"Sasha. Tunggu. Anda dengarkan dulu. Sebelum Anda turut berduka."
Sasha mengangguk. Menutup mulut.
Aldric menarik napas lagi. Lebih dalam. Dan mulai cerita yang sembilan tahun dia sembunyikan dari adiknya, dan yang Sasha—dalam sepuluh menit ke depan—akan jadi orang ketiga di dunia yang tahu.