Sebulan setelah malam nasi goreng, sesuatu mulai berubah pelan-pelan.
Aldric masih dingin di permukaan. Masih tidak banyak bicara. Masih datang jam enam pagi. Tapi sekarang, sekali-sekali dalam seminggu, dia keluar dari ruangannya untuk minum kopi di pantry kantor—bukan minum di mejanya seperti dulu. Sasha tahu itu untuk dia. Aldric biasanya berdiri di pantry sampai Sasha muncul untuk ambil kopi-nya sendiri, lalu ngobrol sebentar.
"Bagaimana harimu?"
"Baik, Mas."
"Indra dari finance bilang Anda menyelesaikan rekap pengeluaran lebih cepat dari Indri. Dia juga bilang format Anda lebih rapi—dia tidak harus tanya ulang."
"Iya, Mas. Templatenya kacau, saya rapikan minggu lalu. Saya kirim template baru ke Mas Indra juga."
Aldric mengangguk. Pulang ke ruangannya tanpa basa-basi penutup.
Itu adalah seluruh percakapannya. Tapi itu sudah lebih dari yang Sasha dapatkan di dua minggu pertama. Lima atau enam menit kumulatif percakapan di pantry per minggu, plus malam-malam ketika Aldric pulang lebih lambat dan Sasha—setelah malam nasi goreng yang pertama—mulai memesan makan untuk berdua tanpa diminta.
Mereka makan di ruang Aldric, dengan pintu setengah terbuka untuk professionalisme. Dua kali seminggu, kadang tiga. Aldric tidak pernah menolak setelah malam pertama. Sasha juga tidak pernah komplain—dia merasa lebih dekat dengan Aldric di malam-malam itu daripada di hari kerja.
Suatu sore di hari Rabu, sekitar pukul empat, Sasha angkat telepon meja.
"Vegasta, Sasha. Ada yang bisa saya bantu?"
Suara perempuan di seberang. Muda. Mungkin awal dua puluhan. Suara yang—Sasha langsung dengar—gemetar pelan.
"Saya... saya cari Mas Aldric. Saya Naya. Adik Aldric."
Sasha membeku. Pena yang dia pegang berhenti di tengah kata di notes-nya.
Aldric punya adik?
Aldric tidak pernah cerita tentang keluarga. Dalam empat puluh dua hari Sasha kerja di sini, tidak satu pun Aldric menyebut keluarga. Profil internal-nya kosong di bagian "kontak darurat"—Sasha sudah cek dua kali, mengira itu error system.
"Iya, Mbak Naya. Tunggu sebentar, saya hubungi Mas Aldric."
Sasha menelepon ke ruang Aldric lewat extension internal. Aldric angkat di dering kedua.
"Mas Aldric. Ada telepon dari Mbak Naya. Beliau bilang adik Mas."
Hening lima detik. Sasha bisa mendengar napas Aldric di telepon.
"Mas?"
"Bilang saya tidak ada."
"Mas?"
"Bilang saya tidak ada, Mbak Sasha. Tolong."
Suara Aldric berbeda. Lebih berat. Sesuatu yang Sasha tidak pernah dengar sebelumnya, tidak di dua minggu pertama, tidak di malam-malam nasi goreng, tidak kapan pun.
"Iya, Mas."
Sasha kembali ke telepon utama yang masih nyala.
"Mbak Naya. Maaf, Mas Aldric sedang rapat di luar."
Hening dari Naya. Suara napas, juga gemetar.
Lalu:
"Mbak. Tolong sampaikan ke Aldric — Mama masuk rumah sakit lagi. Stadium tiga. Doktor bilang... mungkin tidak akan lama. Kalau dia bisa, sebelum Mama tidak sadar lagi—"
Naya berhenti. Suara dia retak.
Sasha menggenggam telepon lebih kuat. Pena di tangannya jatuh ke meja. Dia tidak ambil.
"Iya, Mbak. Saya sampaikan. Saya pastikan beliau tahu hari ini juga."
"Terima kasih, Mbak."
Naya menutup telepon.
Sasha duduk diam beberapa saat. Mendengar dial tone yang dia lupa matikan. Akhirnya dia letakkan handset.
Lalu berdiri. Berjalan ke ruang Aldric. Mengetuk pintu—dia tahu Aldric tidak akan menjawab kalau dia tidak ketuk.
"Masuk."
Sasha buka pintu. Aldric duduk di mejanya. Wajahnya—yang biasanya netral—kelihatan tegang. Tangan kanannya menggenggam pulpen sampai buku jarinya putih.
"Mbak Sasha—"
"Mas. Mbak Naya bilang... Mama Anda di rumah sakit. Stadium tiga. Mungkin tidak lama. Beliau bilang kalau Mas bisa, datang sebelum Mama tidak sadar lagi."
Aldric berhenti bergerak. Pulpennya dia letakkan di meja, perlahan, seperti orang yang tidak ingin membuat suara.
Sasha berdiri di pintu. Tidak masuk lebih dalam.
"Mas. Maaf saya menyampaikan langsung. Tapi saya pikir Mas perlu tahu."
Aldric menutup matanya. Lebih lama dari yang biasa dia lakukan.
"Tidak apa-apa, Sasha. Terima kasih."
"Mas. Anda — Anda perlu pulang? Saya bisa atur jadwal Anda. Rapat dengan tim produk jam empat saya bisa pindah ke besok pagi. Yang dengan Bayu jam lima saya bisa minta dia handle sendiri."
"Tidak. Saya tetap kerja."
"Mas Aldric—"
"Sasha. Tolong. Saya tetap kerja."
Suaranya bukan kasar. Cuma tegas dengan cara yang membuat Sasha tahu—dia akan rusak kalau Sasha mendorong lebih jauh sekarang.
Sasha mengangguk pelan. Keluar dari ruangan. Menutup pintu pelan.
Sasha duduk di mejanya. Tidak bisa fokus. Membuka tab Slack, membuka email, membuka kalender—tidak ada yang bisa dia kerjakan dengan otak yang masih memutar suara Aldric yang berkata "bilang saya tidak ada."
Pukul tujuh malam, Aldric keluar dari ruangannya. Tidak melihat Sasha. Tidak bilang apa-apa. Pergi ke lift dengan jaket abu-abu yang dia ambil dari sandaran kursinya.
Sasha tidak tahu apakah dia pulang ke apartemen atau ke rumah sakit.
Sasha tetap di kantor sampai jam sembilan. Berharap Aldric kembali untuk ambil sesuatu, untuk bilang sesuatu, untuk apa pun. Tidak.
Pulang ke kontrakan Tebet. Tidak tidur sampai jam dua pagi. Memikirkan bos-nya yang tidak mau pulang ke ibunya yang sekarat.
Memikirkan apa yang membuat seseorang seperti itu.