Dua minggu pertama berlalu seperti hari pertama. Berulang.
Aldric datang jam enam pagi. Pulang jam delapan malam atau lebih. Tidak makan siang dengan tim—dia selalu keluar sendiri ke restoran yang berbeda-beda, atau—Sasha curiga setelah hari kelima—tidak makan sama sekali. Tidak basa-basi dengan staf. Tidak komentar tentang baju Sasha (yang Sasha baru beli dari Zara dengan pinjaman terakhirnya, kemeja putih kerja yang dia harap kelihatan profesional). Tidak komentar tentang weekend. Tidak apa-apa.
Sasha mengamati. Aldric tidak juga kasar. Dia profesional—sangat profesional. Yang dia bilang, dia maksud dengan harfiah. Yang dia minta, dia harapkan dilakukan dengan cara yang dia minta. Tidak boleh kreatif kecuali diminta. Tidak boleh inisiatif berlebihan kecuali area yang dia delegasikan.
Tapi dia juga tidak menjebak Sasha. Dia tidak menguji. Dia tidak memeriksa apakah Sasha datang lebih awal hari Selasa untuk lihat. Dia tidak meminta laporan harian yang berlebihan. Dia memperlakukan Sasha seperti orang dewasa yang bisa atur diri sendiri—yang Sasha apresiasi setelah bos di E-Logiq yang micromanage.
Sasha sudah hampir menyerah hari ke sepuluh, kalau bukan karena kejadian pukul delapan malam itu.
Sasha sedang merapikan meja sebelum pulang. Aldric masih di kantornya. Pintu terbuka sedikit—tidak biasa, biasanya tertutup. Sasha tidak sengaja melihat ke dalam.
Aldric duduk di kursinya. Tidak mengetik. Tidak membaca. Tidak menelepon.
Menatap layar laptopnya yang hitam—mode sleep—dengan ekspresi yang... rusak.
Sasha berhenti bergerak. Tasnya setengah di pundak.
Aldric—yang dingin, yang profesional, yang selalu kontrol—menatap laptop kosong dengan ekspresi yang Sasha bisa baca dengan jelas dari jarak lima meter.
Kesepian.
Bukan biasa-kesepian. Yang dalam. Yang bertahun-tahun.
Sasha berdiri di depan pintu. Tidak masuk. Tidak pergi. Tidak yakin dia harus ada di sini.
Aldric akhirnya melihat dia. Wajahnya berubah cepat—seperti orang yang ketahuan tertidur di kelas. Kembali ke profesional dalam dua detik.
"Mbak Sasha. Anda belum pulang?"
"Mas Aldric. Mas — Mas mau saya pesankan makan? Anda belum makan dari siang. Saya lihat Mas tidak keluar makan siang hari ini."
Aldric diam sebentar. Sasha pikir dia akan menolak seperti biasa, dengan kalimat "tidak perlu" yang sama persis seperti hari pertama.
Tapi:
"Saya — iya. Tolong pesan saja apa Anda mau."
Sasha terkejut. Aldric biasanya bilang "tidak perlu", tegas tapi sopan. Sekarang dia bilang iya.
"OK. Mas mau makan apa?"
"Apa pun. Anda pilihkan."
Sasha pesan dua porsi nasi goreng dari warung yang dia sering pesan untuk dirinya sendiri di kontrakan—warung kaki lima di Tebet yang Mas kasirnya hapal pesanan Sasha. Nasi goreng bumbu sederhana, satu telur ceplok di atas, kerupuk udang di samping. Dia pesan via Gojek, bayar dengan saldo OVO yang terisi gaji bulan pertama.
Tiga puluh menit kemudian, Mas kurir Gojek sampai di lobby. Sasha turun, terima makanan, bawa ke ruang Aldric.
"Mas. Makan dulu."
Aldric menatap nasi goreng dengan ekspresi yang Sasha tidak bisa baca. Bukan kecewa—mungkin—tapi juga bukan senang. Sesuatu di antara.
"Mbak Sasha."
"Iya, Mas."
"Anda... duduk di sini sebentar."
Sasha kaget. Ini permintaan pertama Aldric yang bukan tentang pekerjaan.
Sasha duduk di kursi tamu di seberang meja Aldric. Dua kotak nasi goreng dia letakkan di meja—dia ambil satu untuknya, satu untuk Aldric. Membuka tutup kotak, memberi sendok plastik yang dimasukkan kurir.
Aldric mengambil sendok. Mulai makan. Pelan. Hampir hati-hati—seperti orang yang sudah lama tidak makan makanan begini.
Mereka makan dalam diam. Sasha menatap rak buku di belakang Aldric, mencoba tidak terlalu memperhatikan cara Aldric makan.
Setelah makanan habis—dan Aldric ternyata menghabiskan piringnya, sampai bersih—Aldric menatap Sasha.
"Mbak Sasha. Terima kasih. Untuk nasi gorengnya."
"Mas. Tidak perlu—"
"Saya... saya makan sendiri sudah lama. Sudah lupa rasanya makan dengan orang."
Sasha tidak tahu harus jawab apa. Kalimat itu—sederhana tapi terbuka—tidak cocok dengan Aldric yang dia kenal dua minggu ini.
Aldric menutup matanya sebentar. Lalu membuka.
"Mbak Sasha. Saya minta maaf. Saya... tidak bermaksud menjadi atasan yang buruk. Saya cuma... terbiasa. Begini sudah lama. Sebelum Vegasta saya juga begini. Sejak saya delapan belas mungkin."
"Mas. Anda bukan atasan yang buruk."
"Saya tidak bicara ke Anda dengan ramah."
"Mas. Anda profesional. Itu OK. Saya pernah dapat atasan yang ramah tapi semuanya cuma di permukaan—dia akan ramah saat performa saya bagus, lalu sangat tidak ramah saat saya melakukan satu kesalahan kecil. Anda... konsisten. Itu lebih baik dari kelihatan ramah."
Aldric menatap Sasha. Lalu—tiba-tiba—dia tersenyum kecil. Pertama kalinya dalam dua minggu Sasha melihat senyum dari pria itu.
Bukan senyum besar. Cuma sudut bibir yang naik sedikit, mata yang sedikit berubah. Tapi Sasha mencatat, di kepalanya, dengan detail yang dia tahu akan dia ingat malam itu di kontrakan.
"Mbak Sasha. Anda... pulanglah. Sudah hampir jam sembilan. Saya yang buang sampah."
"Iya, Mas."
Sasha berdiri. Aldric juga berdiri—mengumpulkan kotak makan ke kantong plastik untuk dibuang.
Di pintu, Sasha berbalik. "Mas Aldric."
"Iya."
"Selamat malam."
"Selamat malam, Sasha."
Sasha keluar. Bukan "Mbak Sasha" lagi. Cuma Sasha.
Hatinya—entah dari mana—berdebar lebih cepat dari yang dia ingin akui. Dia naik MRT pulang ke Tebet dengan headphone yang tidak menyala, cuma menatap kaca jendela.