Desa yang aman dan tentram itu tiba-tiba kedatangan beberapa warga yang naik mobil. Nampaknya, mereka adalah satu keluarga. Keluarga itu terdiri dari dua orang pria dan seorang perempuan. Mereka berhenti pada sebuah rumah bercat warna putih.
Seorang pria yang masih muda dengan wajah tampan dan perawakan gagah kemudian keluar dari mobil itu diikuti oleh dua orang paruh baya. Pria tampan itu kemudian meraih kopor miliknya dan dua kopor lainnya dari dalam bagasi mobilnya.Ia kemudian mengekor di belakang perempuan paruh baya sambil membawa kopor mereka. Mereka kemudian memasuki area sebuah rumah yang cukup besar di desa itu.
"Pak Dede, Bu Desi, sudah lama kita tak berjumpa!" sapa seorang warga pada pria cukup berumur yang tengah menggandeng tangan perempuan di sampingnya. Pria tua itu sepertinya sudah berumur kisaran 70 tahunan ke atas karena terlihat dengan jelas keriput di wajahnya.
Pria yang dipanggil Pak Dede itu kemudian menyalami tangan warga yang tengah membawa cangkul itu. Diikuti oleh istrinya, Desi, yang juga turut menyalaminya. "Iya, Pak, soalnya saya sudah pensiun dan mau ngurus sawah saja," ucapnya dengan ramah.
Desi yang turut menyalami pria tua itu kemudian berkata padanya, "Kabar Pak Udin sendiri gimana?"
"Syukur baik sekali, Bu Desi!"
"Luar biasa ya, Pak. Meski umurnya sudah tua, tetapi semangat tak pernah ikut menua," ucap Desi.
Pria bernama Udin itu dibuat tersipu malu. "Ah, Ibu Desi ini bisa aja."
Pria muda yang tengah menggeret kopor di tangannya itu kemudian meletakkan kopornya dan ikut menyalami Udin yang sudah sangat berumur itu. "Pak Udin, apakah Bapak masih ingat dengan saya?" tanyanya pada Udin sambil menebarkan senyum ramah kepada Udin.
"Pasti inget dong, masa saya gak inget sama Jefri. Kamu dulu 'kan waktu kecil sering saya gendong," ucap Udin dengan ramah. "Omong-omong kamu kok bisa tahu sama saya? Dulu 'kan kamu masih kecil banget, mungkin masih berumur 3 tahun."
Pria yang diketahui bernama Jefri itu menunjuk ke arah Dede. "Tuh, Bapak saya yang kasih tahu," ucap Jefri pada Udin.
Udin pun mengangguk tanda mengerti. "Oh, saya paham!" ucapnya pada Jefri. "Saya beneran gak nyangka banget kamu udah gede dan ganteng gini, Jef, mana badan kamu bagus gini, pasti banyak perempuan yang suka, nih," ucap Udin. "Kalau dihitung-hitung kamu berarti sekarang sudah berumur 23 tahun ya, Jef?"
Jefri mengangguk. "Iya, Pak Udin."
"Udah punya cewek gak nih?" tanya Udin sambil menggoda Jefri.
Jefri langsung menggeleng. "Kalau cewek belum sih, Pak," ucap Jefri malu-malu. Lalu ia berbisik pelan di telinga Udin. "Kalau ada bolehlah dikenalin pada saya."
Udin mengangguk sambil menebar senyum di wajah tuanya. "Siap!" ucapnya. "Omong-omong kamu sekarang kerja di mana, Jef?"
Jefri menepuk bahu Udin. "Saya kerjanya lewat rumah, Pak," ucap Jefri pada Udin.
"Maksudnya?" tanya Udin kepada Jefri. "Setahu saya, kalau kerja itu ya lewat kantor, bukan lewat rumah."
Jefri dibuat cekikikan mendengar perkataan polos Udin. "Ya, lewat laptop gitu, Pak," ucap Jefri berusaha memberikan penjelasan semudah mungkin pada Udin. "Jadi, kita gak perlu ke kantor karena sudah kerja pakai laptop."
"Oh, begitu," ujar Udin sambil menganggukkan kepala tanda mengerti.
Sekelompok ibu-ibu dengan caping di kepala mereka tiba-tiba melewati depan rumah Dede. Lalu salah satu dari mereka menoel lengan yang lainnya.
"Eh, itu bukannya Pak Dede ya?"
"Iya," ucap yang lainnya. "Yuk ke sana."
Mereka pun berbondong-bondong segera menuju ke arah Dede dan keluarganya yang tengah mengobrol dengan Udin.
"Bu Desi, katanya dateng nanti malam, kok udah dateng sekarang?" tanya salah satu ibu-ibu itu. Lalu ia melirik ke arah Jefri di samping Udin yang begitu tampan dan gagahnya, mirip seperti Dede ketika masih muda dulu.
"Iya, Bu, soalnya saya sudah kangen sama rumah dan desa saya," ucap Desi kepada ibu-ibu itu. "Maklum, namanya udah hampir dua puluhan lebih gak pulang jadi sekalinya pulang mau menetap saja di sini."
Salah satu ibu-ibu menoel lengan Jefri sambil menatap kedua matanya. Ia dibuat kagum dengan wajah rupawan yang tanpa cela itu. "Omong-omong, ini Jefri gak sih, Bu?" tanyanya pada Desi.
"Iya," ucap Jefri dengan suara yang sangat berat dan renyah. Cocok dengan perawakannya yang tinggi dan gagah. "Saya Jefri anaknya Pak Dede dan Bu Desi, Bu."
"Ya ampun, ganteng banget sekarang kamu, ya, Jef, padahal dulu kamu itu masih bocil banget. Tahu-tahu sekarang udah gede aja, mana ganteng lagi!"
"Yaiyalah, namanya juga bibit terbaik," timpal teman ibu-ibu itu. "Bapaknya ganteng dan seorang manager perusahaan, ibunya cantik dan kerjanya sebagai pramugari, ya pantes lah kalau dibilang bibit unggul."
Jefri pun dibuat tersipu malu karena pujian ibu-ibu itu. "Ibu ini bisa aja," ucapnya kepada mereka.
"Eh, udah! Jangan ganggu Pak Dede dan keluarganya dulu, biar mereka langsung istirahat," ucap Udin kepada ibu-ibu itu dan langsung membubarkan mereka.
"Ih, mesti deh Pak Udin ini suka ganggu kalau kami lagi lihat orang ganteng," ucap ibu-ibu yang lain.
"Bukannya gimana, Bu, cuma Pak Dede dan keluarganya ini 'kan habis perjalanan jauh, pasti capeklah mereka," jawab Udin. "Biar mereka istirahat dulu."
"Gak apa-apa, kok Pak," ucap Dede. "Gak masalah buat kita."
"Jangan Pak," ujar Udin. "Mereka lebih baik disuruh pergi ke sawah aja biar lebih manfaat," ucapnya cekikikan.
"Ya udah lah, kami pamit ke sawah dulu, ya, Pak Dede, Bu Desi, dan Jefri yang ganteng," ucap salah satu dari ibu-ibu itu sambil menoel lengan Jefri.
Dede dan keluarganya sepakat mengangguk bersamaan. "Iya," ucap mereka kompak secara bersamaan.
Para rombongan ibu-ibu itu kemudian berlalu meninggalkan mereka sambil melambaikan tangan ke arah Dede dan keluarganya.
"Ya sudah, Pak, saya pamit ke sawah, ya," ucap Udin kepada Dede yang juga hendak ke sawah. "Segera istirahat ya."
"Iya, Pak Udin," ucap Dede kepada Udin.
Udin pun berlalu dari hadapan Dede. Kemudian, Dede dan istrinya beserta Jefri memasuki area rumah mereka yang sudah tertata rapi. Rumah bercat putih dengan gerbang berwarna coklat itu mulai mereka masuki.
"Udah lama bapak gak ke sini, Bu," ucap Dede. "Mungkin sudah sekitar dua puluh tahunan."
Desi menggenggam tangan Dede dengan erat. Lalu ia tersenyum dengan lebar ke arah Dede tanpa berkata sepatah kata pun. Ia nampak seperti menyembunyikan sesuatu dan tak ingin Dede sampai mengatakannya.
"Pak, ayo kita masuk aja ke rumah," ujar Desi. "Tolong dong Pak, bawain kopor ibu, masa dari tadi Jefri yang bawa."
"Iya, Bu."
Pintu rumah bercat putih dengan dikelilingi tanaman gantung menambah kesan sejuk di rumah itu. Di sekitarnya terdapat tanaman kuping gajah dan kaktus yang menambah estetika.
"Nampaknya Bu Ela pintar sekali dalam merawat rumah ini, ya, Pak," ucap Desi dengan senyum yang mendadak berubah dingin. "Padahal sudah lebih dua puluh tahun rumah ini tak pernah kita huni."
"Iya, Bu." Angguk Dede pada Desi.
Desi kemudian menekan tombol bel di samping pintu. Lalu tak lama setelah itu terbukalah dengan lebar pintu bercat putih itu. Seorang perempuan seumuran dengannya yang tengah memakai daster berdiri di depannya. Perempuan itu langsung menunduk dan tak mau berani menatap kedua mata Desi. "Nyonya, Tuan, bukannya kalian pulang nanti malam?" tanyanya dengan rasa gugup yang menderanya.
"Itu bukan urusan Anda, Bu Ela," ucap Desi kepada Ela dengan sangat tegas. "Omong-omong Anda tak mendengar suara mobil kami ya, Bu Ela?" tanya Desi dengan wajah yang sangat garang. "Bisa-bisanya kami membawa kopor kami sendiri."
Perempuan bernama Ela itu hanya bisa memainkan jari-jari tangannya. "Maaf, Nyonya, tadi saya masih di dapur lagi masak," ucapnya.
Desi tiba-tiba mendorong tubuh Ela ke belakang hingga dirinya hampir terjatuh. Untung saja, Dede berhasil menangkapnya. "Bu, apa-apaan kamu ini? Kenapa Ibu dorong Bu Ela?" ucap Dede yang terlihat marah dengan sikap Desi. "Kalau Bu Ela jatuh gimana?"
Wajah Desi mendadak memerah. Dadanya menjadi kembang kempis karena dimarahi oleh suaminya tepat di hadapan Ela. "Bela terus janda pelakor ini, Pak!" teriak Desi kepada Dede. Terlihat amarah yang tak mampu ia bendung atas apa yang dilakukan oleh suaminya dan Bu Ela di masa lalu.
"Bu, apa-apaan sih kamu! Kenapa kamu selalu mengungkit masa lalu kami terus?" tanya Dede pada Desi, sebab setiap ada Ela, pasti akan berakhir pada pertengkaran. "Kan bapak udah bilang kalau bapak dan Bu Ela itu gak ada hubungan apa-apa!"
Jefri yang sedari tadi terdiam langsung angkat bicara mengenai masalah yang dihadapi kedua orang tuanya. Ia menarik tangan Dede dan menjauh dari pandangan Desi dan Ela. "Kalau emang Bapak gak ada hubungan sama Bu Ela, lalu cerita ibu tentang Bapak dan Bu Ela dalam satu kamar itu apa?" tanyanya pada Dede dengan penuh tatapan tajam.
Dede langsung memegangi kepalanya. Mencoba menceritakan kebenaran yang sesungguhnya. "Astaga! Dongeng apa yang telah ibumu ceritakan padamu, Jef? Bapak dan Bu Ela itu emang pernah satu kamar dan satu ranjang, tapi kami gak pernah ngapain-ngapain."
"Kalau emang Bapak gak ngapai-ngapain, kenapa Bapak bisa satu ranjang dengannya?" tanya Jefri yang sudah geram dengan tingkah bapaknya itu. "Apakah itu hanya suatu kebetulan semata, Pak?"
"Kami itu dijebak oleh mantan suami Bu Ela biar dia bisa morotin bapak," ucap Dede. "Apalagi bapak ini 'kan anak kepala desa dan punya warisan banyak dari ibunya bapak, mangkanya dia manfaatin Bu Ela untuk melancarkan aksinya! Kalau gak percaya tanya aja ke kuburannya! Lagian semua orang juga tahu kok kalau itu semua hanya rekayasa si Supri! Cuma ibumu aja yang belum percaya sama Bapak dan masih keukeuh kalau bapak ini bersalah."
Jefri langsung menatap dengan tajam kedua mata Dede. Tatapannya begitu menakutkan sampai-sampai Dede dibuat ketakutan. "Gimana ibu percaya sama Bapak kalau Bapak sendiri tukang selingkuh dan suka nikung istri orang?" tanyanya dengan nada kecewa. "Mungkin saat perselingkuhan itu terjadi, aku masih kecil dan belum tahu apa-apa, tapi bukan berarti aku menutup mata, Pak. Aku bukan hanya mendengar dari ibu saja, tapi aku mendengar langsung dari kedua mertua Bapak sendiri. Sampai kapan Bapak mau selingkuh terus? Tobat, Pak! Inget sama umur, Pak!"
Dede hanya menatap Jefri. Ia tak mampu berkata-kata lagi.
"Bukan itu hanya itu saja, aku juga pernah memergoki Bapak dengan rekan kerja Bapak yang sudah bersuami bahkan sudah punya tiga orang anak tengah masuk ke kamar hotel dan melakukan hubungan badan di sana," tambah Jefri. "Bahkan ibu saja tak pernah tahu sama sekali dengan perselingkuhan ini demi aku menjaga harkat dan martabat Bapak sekaligus aku tak ingin sampai Bapak dan ibu bercerai!" Jefri kemudian menarik bahu Dede dan meremasnya dengan keras. "Sadarlah dan tobatlah! Perselingkuhan itu tak selamanya indah, Pak."
"Jangan sok ngajari bapak, Jef," ucap Dede yang langsung melepaskan tangan Jef dari bahunya. Lalu ia pun menyeringai ke arah Jefri. "Kamu belum tahu saja bagaimana sensasi bermain dengan pasangan orang, apalagi jika sudah memiliki suami, bapak yakin jika kamu sekali melakukannya, kamu akan ketagihan."
Jefri mencebik ke arah Dede. "Aku tak akan pernah melakukannya, Pak!" ujar Jefri dengan mantap. "Sebab aku dan Bapak itu berbeda." Jefri kemudian kembali menatap kedua mata Dede. "Bapak b*jingan, sedangkan aku tidak."
Dede pun tertawa dengan nada mengejek ke arah Jefri. "Mungkin belum waktunya kau menjadi pria b*jingan, Jef, tapi cepat atau lambat kau akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan bapak," balas Dede. "Sama seperti apa yang dikatakan kakekmu dulu saat bapak masih terlalu naif."
"Aku tak akan pernah melakukannya, Pak!" ucap Jefri dengan mantap. "Sebab, sekali lagi, aku dan Bapak ini berbeda jauh. Dan perbedaan kita ibarat langit dan bumi. Saaangat jauh."
"Lihat saja nanti, Jef."
***