Ela meletakkan nasi pada piring-piring para majikannya. Ia juga mengambilkan lauk pauk untuk mereka.
Sampai saat ini, Ela masih belum berani menatap kedua mata Desi sejak tadi pagi. Ia masih malu dengan apa yang ia lakukan bersama suami Desi di masa lalu. Masa kelam yang membuat nama baiknya tercoreng karena ulah mendiang suaminya, si Supri. Seorang preman, pemabuk, penjudi, tukang main perempuan, maling, tukang sabung ayam, dan penipu. Supri memang selalu memaksanya untuk mendekati Dede yang terkenal mudah sekali didekati oleh perempuan. Ia ingat betul bagaimana Supri yang menggunakan dua orang anaknya untuk mengancam dirinya. Supri bahkan mengancam Ela kalau ia tak mematuhi perintahnya, kedua anaknya akan dibunuh dan mayatnya dibuang ke sungai. Ela pun tak punya pilihan lain waktu lain. Ia terpaksa melayani nafsu Dede hingga kejadian buruk itu menimpanya. Warga memergokinya saat tengah berduaan dengan Dede di ranjang yang sama. Mereka juga berbondong-bondong menggunting rambutnya hingga gundul dan tak tersisa. Sementara Dede sendiri tak pernah tersentuh dengan hukuman warga karena waktu itu ia berstatus sebagai anak kepala desa. Sehingga ia mendapatkan pemakluman dari warga desa. Sekuat apapun Ela mengatakan kebenaran yang terjadi, warga desa akan terus mencapnya sebagai perebut laki orang atau pelakor. Bahkan kedua puterinya sampai membencinya karena anggapan buruk yang tersemat untuknya itu.
"Bu Ela, tolong panggilkan anak saya," ucap Desi tiba-tiba sambil membusungkan dadanya ke depan. "Ini sudah waktunya kita makan malam."
"Tapi saya belum selesai melayani Nyonya dan Tuan," kata Ela.
Desi langsung menoleh ke arah Ela dan berkata, "Lakukan sekarang juga atau saya sendiri yang melakukannya!" ucapnya dengan sangat tegas.
"B-baik, Nyonya," ucap Ela yang langsung buru-buru memutar tubuhnya.
"Bu Ela!" panggil Desi sebelum Ela pergi jauh.
Ela pun menghentikan langkahnya. Lalu ia membalikkan tubuhnya dalam posisi kedua tangan di depan. "Iya, Nyonya?" tanyanya. "Ada apa?"
Desi langsung membuang muka dari Ela. Ia sepertinya najis jika harus menatap kedua mata perempuan yang pernah seranjang dengan suaminya itu. "Jangan sampai Anda menggoda putera saya juga," ucapnya dengan nada tinggi dan sedikit angkuh. "Cukup suami saya saja yang Anda goda."
Dede yang sedari tadi terdiam langsung menenangkan Desi dengan cara menggenggam tangan istrinya. "Bu, jangan ngomong kayak gitu sama Bu Ela."
Desi buru-buru melepaskan tangannya dari suaminya. "Gak usah pegang-pegang tangan ibu, Pak! Ingat, kita tidak sedang di luar rumah!"
Dede pun terdiam. Lalu ia berkata pada Ela, "Ya udah Bu Ela, cepat panggilkan Jefri."
"Iya, Tuan." Ela pun segera beranjak pergi dari hadapan mereka dan menuju ke arah kamar Jefri.
Pintu kamar Jefri terkunci dari dalam dan tertutup rapat saat Ela hendak membukanya. "Tuan Jefri, ini saya Bu Ela, apa Tuan Jefri ada di dalam?" Ketuknya berkali-kali pada pintu kamar Jefri.
Pintu kamar Jefri kemudian terbuka dengan lebar. Berdirilah ia di depan Ela dengan kaos warna putih yang menempel pada tubuhnya. "Ada apa?"
"Sekarang waktunya makan malam, Tuan," ucap Ela yang terus menunduk ke bawah..
"Baiklah, saya akan menyusul," ucap Jefri yang langsung menutup pintu kamarnya. Namun, buru-buru Ela mencegahnya. "Apa lagi?"
"Anu, Tuan ...," ucap Ela dengan rasa gugup. "Saya cuma mau bilang kalau saya mau minta maaf atas masa lalu saya dan bapaknya Tuan Jefri."
"Lalu?" tanya Jefri.
"Hanya itu saja," ucap Ela. "Saya tak berniat melalukannya, Tuan, saya terpaksa."
Dahi Jefri langsung mengernyit mendengar ucapan Ela. "Terpaksa?" tanya Jefri kepada Ela. "Terpaksa tapi kok sampai tak memakai baju sehelai pun, bahkan kalian juga sampai melakukannya di kamar ibu dan bapak. Bukan cuma itu saja, kata orang-orang, kalian bahkan melakukannya di depan ranjang bayi yang masih ada saya di sana."
Kedua mata Ela pun nanar dibuatnya. Bibirnya bergetar hebat. Ia terpaksa harus menerima perlakukan buruk selama lebih dari dua puluh tahun karena masa lalunya. Ia bukan hanya dibenci kedua anaknya dan warga desa, ia pun juga harus dibenci oleh anak majikannya yang pernah ia rawat sejak masih bayi di saat ibu dan bapaknya tengah sibuk bekerja. "Tuan Jefri memang pantas berkata seperti itu pada saya ...," ucapnya. Suaranya pun terdengar sangat berantakan.
"Memang!" ucap Jefri. Meski hanya satu kata, tetapi membuat hati Ela terkoyak-koyak. Lalu Jefri menatap kedua mata Ela dengan tajam dan berkata dengan kalimat yang begitu menyakitkan. "Bu Ela dan bapak itu sama-sama sampah!" Lalu detik itu juga Jefri berlalu dari hadapan Ela dan segera menuju ke ruang makan. Ia nampak puas usai mengata-ngatai Ela dan bapaknya dengan sebutan 'sampah'.
***
Jefri pun berjalan ke arah meja makan diikuti oleh Ela yang mengekor di belakangnya.
"Kok lama banget manggil anak saya, Bu?" tanya Desi kepada Ela dengan nada sinis. "Anda tidak sedang menggoda anak saya, 'kan?"
Jefri langsung dibuat tertawa dengan tuduhan tak mendasar dari ibunya itu. Lalu ia langsung duduk di samping kanan ibunya. "Mana mungkin aku tergoda dengan Bu Ela, Bu," ucap Jefri sambil melirik ke arah Dede. "Aku 'kan bukan bapak."
Dede langsung berdehem. Ia nampaknya tak nyaman dengan ucapan Jefri yang selalu memojokkannya. "Ayo, mending kita makan aja. Keburu nasinya dingin."
Mata Jefri kemudian teralihkan pada Ela yang mengambilkan nasi untuknya. "Gak usah, Bu, saya bisa mengambilnya sendiri, lebih baik Ibu Ela makan malam bareng kami saja."
Ela langsung menggeleng dan menolak Jefri. "Tak usah, Tuan. Saya makan di dapur saja."
Jefri yang duduk di antara bapak dan ibunya langsung beranjak dari duduknya. Ia kemudian mendudukkan Ela di antara kedua orang tuanya. Meja makan berbentuk segi empat itu membuat Ela canggung, pasalnya ia duduk di antara dua majikannya yang masih berseteru.
"Sini, saya ambilkan makanan untuk Bu Ela," ucap Desi sambil menampakkan senyum kekecewaan. Ia kemudian menaruh makanan di atas piring untuk Ela.
"Gak usah, Nyonya," ucap Ela yang hendak beranjak dari duduknya. "Saya makan di dapur saja."
Jefri pun mencegah Ela untuk pergi. "Bu, di sini aja dulu," ucap Jefri. "Kapan lagi Ibu ini dilayani oleh majikan sendiri?" Ia kemudian beralih pada Dede yang sedari tadi terdiam. "Iya, 'kan Pak?"
Dede tak menjawab Jefri dan lebih memilih untuk diam saja daripada ia harus bertengkar dengan putera dan istrinya.
"Kok Bapak diem aja?" tanya Desi kepada Dede. "Bukannya dulu kata Bapak, Bapak itu suka sekali kalau dilayani Bu Ela?"
Dede pun hanya menghembuskan nafas panjang. Ia cukup menunggu sampai putera dan istrinya melayani Ela.
"Lihatlah, Bu Ela," ucap Jefri kepada Ela. "Bapak saja tak peduli dengan Ibu Ela, kok bisa-bisanya dulu Ibu tertarik sama pria beristri dan beranak satu macam dia?"
Ela hanya terdiam. Ia tak menjawab ucapan Jefri. Percuma saja ia mengatakan kebenarannya hingga mulutnya berbusa, Jefri maupun Desi tak akan pernah mempercayainya sampai kapan pun.
"Sudah hentikan!" ucap Dede langsung menengahi. "Tak usah kebanyakan drama, kalau mau makan ayo segera makan! Bapak sudah lapar!"
Jefri hanya melirik ke arah Desi. Lalu ia segera duduk berhadapan dengan Ela. Kedua matanya terus menatap ke arah Ela yang terus terdiam itu. "Kenapa tak dimakan, Bu?" tanya Jefri. "Makanannya gak enak ya? Padahal itu kan masakan Ibu Ela semua."
"Jef! Bisa gak sih jangan ngomong pas kita lagi makan?" tanya Dede pada Jefri.
"Bener apa kata bapakmu, Jef," ucap Desi pada Jefri. "Biarkan bapakmu saja yang berbicara dengan Bu Ela. Kita diam saja di sini." Ia kemudian kembali melahap makanannya sembari melirik ke arah Ela. "Ayo dong, Bu, dimakan!"
Ela tetap tak menyentuh makanan di hadapannya.
"Bu, Pak, berhenti!" ucap Jefri. "Hentikan dulu makan kalian."
Sontak, Desi dan Dede langsung menghentikan makan mereka karena Jefri.
"Ada apa Jef?" tanya Dede pada puteranya itu. "Kenapa kamu menghentikan kami?"
"Apa mungkin Bu Ela masukin racun di makanan kita, Pak?" tanya Jefri.
Ela tak terima dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Jefri. "Enggak, Tuan Jefri," ucap Ela membela diri. "Mana mungkin saya meracuni kalian?"
"Kalau memang Anda tak meracuni kami sesuai tuduhan putera saya, kenapa Anda tak memakan makanan di piring Anda?" tanya Desi pada Ela.
"Makanlah juga dan buktikan kalau Bu Ela benar-benar tak menaruh racun di makanan kami," ucap Jefri yang belum sama sekali menyentuh makanannya.
"Baiklah, saya akan memakannya." Ela pun mulai menyendok makanan di atas piring. Lalu ia memasukkannya ke dalam mulutnya dan mengunyahnya sampai habis.
"Ayo, Bu, kita lanjut makan," ucap Jefri pada Desi yang mulai melahap makanan di atas piringnya. Matanya terus menatap Ela yang terus memakan makanannya.
Hingga suapan kelima, Ela tiba-tiba terbatuk-batuk sambil menepuk dadanya. Suara batuknya terdengar seperti orang yang tengah mengalami penyakit tuberkulosis. "D*da saya sakit!" ucapnya sambil menatap kedua mata Jefri. Lalu dari mulutnya keluar darah segar yang langsung mengotori meja makan.
Sontak, Jefri beserta kedua orang tuanya kaget bukan kepalang.
"Bu Ela, Anda kenapa?" tanya Desi yang terlihat sangat panik melihat Ela yang terus batuk darah sambil memegangi d*da dan lehernya.
"Bu Ela!" teriak Dede yang tak kalah panik. Ia pun buru-buru mengambil air putih dan meminumkannya pada Ela.
"Pak! Jangan kasih minum dulu!" Cegah Jefri. "Lebih baik kita bawa ke puskesmas saja," ucapnya pada Dede.
Tubuh Ela bergetar hebat. Lalu ia tiba-tiba memuntahkan beling dan paku dari dalam mulutnya.
Jefri semakin panik dibuatnya. Ia dibuat tak percaya dengan kejadian yang aneh tapi terasa nyata itu. Bagaimana bisa Ela mengeluarkan beling dan paku secara bersamaan dari mulutnya sementara ia melihat dengan jelas jika yang dimasukkan Ela pada mulutnya adalah nasi dan lauk pauknya.
Kedua mata Ela melotot. Kedua tangannya terus memegangi lehernya. Bibirnya terlihat kesusahan saat hendak mengucapkan sesuatu.
"Duh, ini gimana, Pak?" tanya Desi yang semakin panik.
Jefri pun segera mengusapi mulut Ela yang penuh darah dengan tisu. "Bu, aku siapin mobil dulu, ya, kita bawa Bu Ela ke puskesmas," ucapnya pada Desi.
Dede langsung mencegah. "Tak perlu, Jef. Bu Ela sudah tiada."
Jefri langsung tertuju pada tubuh Ela yang tak ada pergerakan sama sekali. Ia kemudian mengecek nafasnya. Benar, tak ada nafasnya di sana. Bahkan denyut nadinya pun terhenti. "Bu Ela meninggal karena apa, Pak?" tanya Jefri. "Apakah dia terkena santet?"
Dede mengangguk sambil menutup kedua mata Ela yang melotot. "Iya, betul, Jef. Bu Ela terkena santet." Ia kemudian menatap Jefri dengan lekat. "Sekarang kamu percaya 'kan kalau santet itu benar-benar ada?"
***