Song list: Red Red Wine (UB40), Gugur Tahun (Leo Kristi)
Aku akan selalu mengenang masa mudaku,
bersamaan dengan berlalunya waktu.
Karena ia takkan pernah kembali padaku lagi.
Masa muda begitu cerah dan ceria,
tawanya mampu menghangatkan hati yang paling dingin
dan menciptakan lagu yang akan selalu kita nyanyikan.
Itu sebabnya aku akan selalu mengenang masa mudaku.
Karena ia takkan pernah kembali padaku lagi.
(dari ‘Masa Muda’ oleh R.Yura)
Sekarang setelah Barli terhapus dari kehidupan kami, maka aku punya dua mulut untuk diberi makan. Mulutku dan mulut Aryo, putraku. Ketika Aryo lahir tiga tahun yang lalu, aku meninggalkan praktikku di rumah sakit besar dan hanya buka praktik di rumah. Sekarang aku meninggalkan rumah tersebut.
Mama dan Papa sudah memintaku untuk tinggal di Sentul menemani mereka. Rumah Sentul, meskipun tidak sebesar rumah Satrio, masih sangat besar untuk aku, Aryo, dan orang tuaku. Bahkan lebih besar dari rumahku dan Barli.
Ah, kenapa aku jadi menyebut-nyebut nama Satrio. Kapan aku terakhir bertemu dengannya? Sepuluh, lima belas tahun yang lalu?
Sejak SMA aku semakin jarang bertemu Satrio. Apalagi kemudian aku diterima di Fakultas Kedokteran dan kos di daerah Salemba. Waktu aku di semester dua Mama cerita bahwa Tante Ratri dan seluruh keluarganya hijrah ke Eropa, mengikuti anak-anaknya yang kuliah di sana.
Aku ingat Satrio punya keluarga besar yang hangat. Tante Ratri, perempuan asli Jawa, memiliki dua orang anak ketika menikah dengan Om Abimanyu, papanya Satrio. Mas Tristan dan Mbak Mutia. Dua duanya lebih tua dari Satrio dan Peppi saudara kembarnya.
Om Abi, ayah Peppi dan Tio, blasteran Prancis dan Jawa. Makanya Satrio punya rambut dan mata yang cokelat, tidak seperti mata anak Indonesia pada umumnya. Bahkan Peppi kembarannya seingatku bermata biru.
Selain mereka sekeluarga, ada juga Om Sean, adik kandung Om Abi yang kebetulan adalah seorang dokter. Dokter spesialis bedah jantung anak-anak tepatnya. Beliau tinggal sendirian di sebuah paviliun yang dibangun dekat kolam renang mereka, di halaman belakang. Om Sean inilah salah satu orang yang menginspirasiku untuk menjadi seorang dokter anak kelak.
Satrio hanya nama panggilan yang kuberikan untuknya. Sebetulnya keluarga besarnya memanggilnya Tio, dari Mattiu. Mattiu Satrio Abimanyu lengkapnya. Sedangkan nama lengkap Peppi adalah Jeffrey Satrio Abimanyu. Berhubung di kelasku dulu ada anak badung jahil jelek item dan menjengkelkan bernama Tio, maka kemudian aku memutuskan untuk memanggil Tio tetanggaku dengan nama aslinya. Satrio. Nama yang gagah kan ya? Satrio bergitar hahaha…. Biasanya ada pensil nyasar ke kepala setiap kali aku memanggilnya ‘Satrio bergitar’.
Meskipun tidak setiap hari bertemu, kami selalu berkomunikasi walau dengan cara yang aneh, lewat SMS.
+ Sat, lagi apa?
- ?
+ Aku mau cerita nih…. Belum ngantuk, ‘kan? Tadi ada latihan basket di sekolah. Minggu depan akan ada class meeting Sat.
- ??
+ Itu looh…, pertandingan antarkelas. Biasanya kalau habis UAS, sebelum terima rapor, sekolah mengadakan class meeting. Tujuannya menjalin persahabatan, melatih sportivitas, sementara guru-guru sibuk isi rapor kami.
- ?
+ Ujian akhir semester Saaat…. Persiapan ambil rapor kenaikan kelas, aku mau naik kelas enam loooh….
- J
+ Lah serius, bentar lagi aku kelas enam….
….
….
.....
+ Sat…? Sat? Masih bangun, ‘kan? Saaaaaaaaaaaat!?
….
+ Baiklah. Nite nite Sat. Ngobrol besok saja.
....
....
- Sweet dream (mimpi indah).
Dan aku biasanya membaca SMS terakhirnya yang berisi ‘sweet dream’ keesokan paginya. Meskipun malamnya aku kesal karena lagi asyik cerita ditinggal tidur, membaca ‘sweet dream’-nya membuatku tersenyum lebar di pagi hari. Membuatku tidak kapok untuk mengajaknya mengobrol lagi malam berikutnya meskipun cara mengobrol kami tetap aneh seperti itu.
Bicara langsung dengan orangnya pun merupakan obrolan yang unik. Kebanyakan adalah aku yang bercerita dan dia mendengarkan. Bahkan sering aku merasa dia tidak sedang mendengarkan. Selalu ada saja yang dia kerjakan ketika aku sedang bercerita.
Suatu pagi, sehari setelah dia pulang ke rumah setelah tiga hari di rumah sakit, aku menyapanya di kebun saat dia sedang menyiangi tanaman. Tante Ratri tidak kelihatan.
“Hei Sat, dah sehat ya?”
….
”Kok sepi, Sat? Tante Ratri ke mana?”
….
Sepi. Tangannya sibuk mencabuti daun-daun kering dari tangkai pohon kamboja jepang.
“Talk to you later?” ujarku bete, asli dicuekin. Lebih baik segera berangkat sekolah deh daripada dikacangin.
Siangnya, sepulang sekolah, setelah makan siang, aku tidur-tiduran di kamar sambil bikin PR. Waktu itu aku mendengar suara piano dari jendela kamar. Segera kubuka tirai kamar lebar-lebar. Di sana, di bingkai jendela kamar Satrio, di seberang, aku melihatnya duduk di depan piano.
+Sat, piano baru ya?
Dia menoleh sekilas ke arahku, tapi tetap memainkan jemarinya di tuts. Twinkle Twinkle Little Star. Aku segera berlari turun, keluar melintasi jalan menuju rumahnya. Tak kupedulikan teriakan Mama menyuruhku ganti baju.
Tante Ratri yang membukakan pintu --siapa lagi?-- dan menunjukkan tangga yang menuju ke kamar Satrio. Kelas lima, semester 2, pertama kali aku masuk ke kamar Satrio. Selain tangga kulihat ada juga landasan landai untuk dilewati kursi roda.
Kamar sejuk dan luas dengan langit-langit yang tinggi. Single bed yang mirip ranjang rumah sakit, lengkap dengan tabung oksigen, di mana masker oksigen disampirkan di atasnya, berdiri di sudut ranjang. Bahkan agak tersembunyi di pojok ranjang ada tiang infus seperti yang ada di rumah sakit. Tiang yang ini dicat warna-warni dan dihiasai kertas emas warna-warni seperti yang biasa menghiasi ruang pesta. Tapi tiang infus, mau selucu apa pun warnanya, tetap saja tiang infus.
Ada sebuah kursi yang diletakkan di samping tempat tidur canggih yang bisa dinaikkan dan diturunkan secara otomatis dengan memutar tuas yang terletak di bawah tempat tidur. Di bawah jendela, ada piano yang ukurannya jauh lebih kecil dari monster piano di ruang keluarga mereka.
Di sanalah Satrio duduk dengan jari-jari kurus yang tak berhenti menari. Red-Red Wine yang dipopulerkan oleh UB 40, disusul dengan sebuah lagu asing yang menurut Satrio berjudul Gugur Tahun, lagu dari seorang maestro asli Indonesia, Leo Kristi, seniman favorit bundanya.
Aku celingukan di depan pintu kamar dan akhirnya memutuskan duduk di ranjang setelah mencoba memutar tuas tempat tidur. Membuat sandaran kepala naik, ranjangnya naik, bagian kakinya melengkung tinggi.
Asyik juga nih. Baru sadar bahwa jika berbaring seperti ini, aku bisa nonton TV karena TV dipasang di atas, di dinding kamarnya, persis seperti di rumah sakit. Aku menemukan Mr. Flinstone.
Selain dinding yang dipasangi TV, tiga dinding kamar Satrio yang semua berwarna biru tua dipasangi beberapa foto dan lukisan. Aku mengenali goresan tangan Satrio di lukisan-lukisan itu. Semua lukisan dibuat dengan cat air, di atas kanvas, dan ada nama TIO di sudut kanan bawah semua lukisan.
Lukisan yang dipajang di dinding sebelah kanan adalah rumpun bunga yang ada di halaman depan rumah. Pada dinding di atas kepala ada lukisan buah-buahan. Apel, stroberi, anggur di dalam keranjang.
Dinding kanan, yang ada jendela dengan piano di depannya, tepat di atas meja belajar, ada foto Satrio dan ketiga saudaranya. Mereka berpose dengan mata menyipit, menatap kamera, dari bangku panjang terbuat dari besi tempa yang diukir sangat rumit tempat mereka duduk, memakai baju santai dan topi-topi lebar, tertawa cerah, sambil berpelukan. Satrio tidak pernah menjawab pertanyaan tentang di mana foto itu diambil atau kapan.
Aku tidak sadar suara piano sudah berhenti karena asyik menonton televisi. Baru sadar ketika sebuah bantal melayang ke mukaku.
“That’s my bed!” katanya ketus sambil mengarahkan kursi roda ke tempatku berbaring dengan kaki terjuntai ke lantai. Aku segera mengembalikan ranjang ke posisi semula sambil cekikikan. Kemudian dia bangun dari kursinya dan ikut berbaring di sampingku. Masih cemberut, menekan-nekan remote TV dan berhenti di film kartun Popeye the Sailorman.
Aku bisa mencium bau jeruk dari badannya. Rambutnya juga bau jeruk. Mengingatkan pada bau jeruk sunkist atau florida orange.
“Mandi!” ujarnya sambil mengernyitkan hidung, matanya melotot ke arah seragam sekolah yang masih kupakai, meskipun aku sudah pulang sejak tadi.
Hihihi, sambil memberikan senyuman terlebar aku melompat dari ranjang, berpamitan pulang.
“See you later, Alligator!” seruku sambil melambaikan tangan. Mata cokelatnya masih terbelalak memandangku pergi. Mata bagus itu. Wajah bagus itu. Tak pantas menunjukkan kekesalan.
Di rumah, Mama sudah siap dengan segudang omelan untuk gadis kecil yang bau matahari tapi sudah berani nenangga. Mama pasti akan lebih marah lagi kalau tahu aku diusir pulang oleh si jutek berbau jeruk karena bau hahahaha!