Sore itu Mira sedang duduk di teras depan rumahnya, saat mendengar seru mobil yang dia kenali memasuki gerbang. Mira yang sedang bersantai terkejut sekaligus senang. Sudah lama mereka tidak berkunjung kerumah, apalagi dia sangat merindukan cucunya yang tampan itu.
Buru-buru berdiri untuk menyambut kedatangan mereka, berharap dapat pelukan. Tapi yang dia dapati justru keberadaan wanita ular itu bersama anaknya.
Hadi yang melihat ibunya menampilkan wajah datar dan penuh amarah permusuhan, membuat dia gugup dan segan. Niat hati ingin menyenangkan Ria agar tidak mengambil tindakan impulsif yang berniat menggugurkan anaknya jika tidak segera dia nikahi, malah membuat dia dengan keluarganya bertengkar.
"Ngapain kamu bawa dia kesini Hadi?" Kalimat datar yang pertama kali menyapa telinganya, bukan lagi sebuah pelukan dan senyuman.
"Bu, apa gak sebaiknya bicara didalam saja?" Ucapan Hadi penuh dengan hati-hati kali ini.
Tidak ingin Ibunya marah dan kecewa lebih jauh lagi.
Tentu Hadi paham, Ibunya sangat tidak menyukai Ria sedari dulu. Ria wanita angkuh, penuh ambisi dan egois menurut Ibunya. Tapi, kali ini Hadi ingin Ibunya mengerti kalau dia tidak bisa menelantarkan Ria disaat yang lain sedang mengandung darah dagingnya.
"Bicara disini saja Hadi, Rumah ini gak menerima tamu yang bahkan gak punya sopan santun sama sekali!"
Ria yang merasa tersindir ingin meraih tangan Mira, tapi buru-buru tubuhnya mundur seolah menolak bersentuhan dengan Ria.
Melihat sikap Mira masih sama seperti dulu, semakin membuat Ria ingin menghancurkan rumah tangga Hadi. Geram dan rasa sakit hatilah yang membuat dia ingin menjadi yang kedua, sempat terlintas bahwa Mira tidak menyukainya hanya karena dia anak dari panti asuhan.
"Dasar ibu-ibu, udah tua bukannya perbanyak ibadah malah memisahkan anak dari cintanya" Ria bergumam lirih, berpikir bahwa Mira tidak mendengar ucapannya. Tepat saat melihat-lihat rumah besar didepannya, tatapan Ria dan Mira bertemu. Membuat Ria menundukkan kepalanya karena malu.
"Bu, aku kesini mau ada yang diomongin. Ayok masuk dulu" Hadi menggandeng Mira memasuki rumah agar bisa berbicara didalam.
Ria yang melihat isyarat dari tangan Hadi segera mengekori keduanya menuju ruang tengah, disana sudah ada Bapak yang sedang duduk menikmati kopi sambil menonton televisi.
Setelah mengucapkan salam, Mereka berdua segera mencium tangan Bapak yang menatap kebingungan dengan sikap Ibu.
"Bu, ada tamu kok gak dibuatkan minum?"
Mira yang mendengar Rahmat suaminya menyuruh dia membuatkan minuman hanya mampu menghela napas sambil mencebikkan bibir. Setelah itu buru-buru kedapur dan membawa segelas air putih dingin. Yang membuat Bapak tidak lagi mampu berkata-kata kali ini.
"Ada apa Hadi? Kenapa istri dan anakmu gak kamu ajak kesini juga? Bapak kangen loh, sama Radit.. Sudah lama gak ketemu, mau tak ajak main bola niatnya"
Hadi diam seolah menahan malu, pasalnya berita yang dia bawa kali ini mungkin akan mengejutkan keduanya. Hadi sudah menebak, tanggapan keduanya akan langsung menolak jika dia mengambil madu. Apalagi Ibu yang amat sangat tidak menyukai Ria.
"Bu, Pak. Aku dan Ria sudah menikah secara siri'... "
Respon pertama yang Hadi terima adalah wajah terkejut Ibunya, sementara Bapak hanya menampilkan wajah tenang di permukaan. Ibunya sudah menangis tersedu-sedu sambil mengucapkan nama Ranum berkali-kali. Bahwa Ranum sungguh sial mendapatkan suami sepertinya, Dia tida bisa mendidik anaknya dengan baik. Dan mengatakan mungkin Ranumlah anak kandungnya bukan Hadi.
Melihat Ibunya begitu terpukul, Hadi perlahan melirik Ria yang menatap Ibunya dengan alis menukik tidak suka. Nasi sudah menjadi bubur, menalak Ria pun sudah tidak mungkin bisa karena dia sedang mengandung anaknya saat ini.
"YaAllah, Kenapa kamu menikah lagi Hadi?! Apa masih belum cukup punya istri satu?! Apa yang kamu cari! Kamu sudah punya anak, punya istri yang shalihah!"
Mira menangis tersedu-sedu, mengabaikan bahwa Ria masih juga menantunya yang baru menikah dengan anaknya satu minggu lalu.
"Maaf Bu, Ini salah aku. Aku sudah mendapatkan bilang pada Ranum kemarin malam dan dia ikhlas menerima untuk dimadu" Hadi menyesal, penyesalan itu tergambar di wajahnya. Suaranya serak menandakan dia pun sedih karena tidak bisa mengontrol diri dan hatinya. Tidak dipungkiri bahwa dia mulai mencintai Ria kembali.
"Ya memang apalagi yang bisa dia perbuat Hadi! ..... Ranum gak bisa buat apa-apa kalau kenyataannya kamu sudah menikah tanpa seinzin dia! Kamu sudah menyakiti menantu Ibu! ... Ibu gak pernah mengajarkan kamu untuk jadi laki-laki yang seperti ini!" Sentak Mira yang membuat Hadi semakin merasa berslah.
Hadi bersimpuh di depan Ibunya, melirik Ria yang masih tetap duduk di sofa dengan nyaman. Hadi memberikan isyarat lewat tatapan tajam, yang dibalas oleh Ria hanya lirikan malas. Tapi tak urung, dia pun melakukan hal yang Hadi lakukan.
"Bu, aku gak mungkin melepaskan tanggung jawab. Ria sedang hamil anakku saat ini Bu. Dan aku mulai mencintainya" Ungkap Hadi dengan gamblang.
Setelah mendengar ucapan anaknya bahwa dia mulai mencintai wanita lain, memperparah suasana didalam ruangan itu. Hingga suara lain jatuh, mengejutkan ketiganya. Yang satu mengangguk setuju tapi juga enggan, sementara dua lainnya terkejut seolah tidak menyangka kalimat itu akan diucapkan oleh sosok yang bersikap tenang, dan penuh wibawa.
"Kalau begitu, ceraikan Ranum Hadi!" Ucap Bapak dengan tegas. Bapak tidak pernah ikut campur perihal rumah tangga Hadi sebelumya, Bapak hanya pernah beberapa kali menasehati Hadi serta memberikan saran. Selain itu, Bapak tidak pernah ingin ikut campur lebih jauh perihal keputusan yang akan dia ambil.
Hadi yang sempat terkejut kembali tersadar, pikirannya kalut. Kalimat yang bukan diucapkan oleh Ranum, tapi seandainya Ranum yang meminta. Jelas Hadi akan dengan tegas menolak. Dan hari ini, Hadi seperti melihat sosok lain, bukan Bapak yang berada di depannya.
Apakah suatu hari, Ranum juga akan mengucapkan kata-kata yang paling Allah benci itu? Hatinya mulai goyah, dirinya gundah jika sampai istrinya yang selalu pendiam akan meninggalkannya nanti.
"Bapak apa-apaan sih! Ranum gak akan pernah aku ceraikan Pak! Aku sangat mencintainya!"
"Kamu gak akan bisa bersikap adil Di, poligami itu bukan cuma berbagi harta. Karena gak akan ada yang bisa bersikap adil seadil-adilnya. Jangan menbantah bapak. Pikirkan apa yang kamu inginkan, bertahan dengan Ranum atau ceraikan dia. Biar Ranum tinggal disini bersama Bapak dan Ibu. Kami yang akan mengurus Ranum" Ucap Bapak dengan tegas, sementara Hadi hanya mampu mengehela napas dengan bimbang.
Disatu sisi dia mulai mencintai Ria kembali, meskipun saat itu Ria sudah tidak v*rgin lagi.
Tapi disisi lain, Ranum adalah salah satu wanita yang paling mengerti dirinya. Dia istri juga Ibu yang baik, betapa bodohnya dia telah mengambil keputusan gegabah saat itu. Sekarang, dia baru menyadari kalau Ranum sangat berarti dalam hidupnya. Meskipun kadang Ranum membuat dia bosan karena setiap kali dirumah Ranum akan memakai pakaian tertutup. Berbeda dengan Ria yang selalu menampilkan lekuk tubuhnya didepan Hadi.
Ria yang mendengar bahwa Ayah mertuanya ingin Hadi dan Ranum berpisah sangat senang, terlalu senang sampai dia tidak memperhatikan tatapan Ibu mertuanya yang sinis.
Karena tidak ada solusi disini, Hadi terpaksa berpamitan dengan Bapak dan Ibu untuk kembali kerumah mereka karena hari sudah malam. Meskipun ini malam minggu tapi jalanan tetap padat dengan kaum muda mudi yang sedang menikmati weekend. Hadi khawatir mungkin mereka akan sampai tengah malam jika tidak buru-buru pulang.
Sepeninggalan Hadi dan Ria, Mira juga Rahmat mendiskusikan jalan keluar untuk kebaikan keduanya. Mira yang merasa bersalah sebab tidak bisa menjaga hati dan perasaan Ranum lagi-lagi bersedih. Berpikir bahwa mungkin keputusan mereka saat itu dengan menjodohkan keduanya adalah sebuah kesalahan.
Mira terus merasa bersalah, Ranum gadis yang baik, bertutur kata lembut, selalu bisa menempatkan diri dalam bersikap. Perasaan bersalah terus menggelayutinya sampai sang Suami yang berbicara kepadanya tak dia hiraukan.
Merasakan tepukan di bahu kanan miliknya, Mira yang sedang tertegun mulai sadar kembali saat bayang-bayang beberapa tahun lalu ketika mereka membicarakan keduanya bersama Ayah dan Bunda Ranum. Bunda Ranum sahabat dekat Mira, Namanya Cahaya. Aya sangat baik, meskipun status mereka tidak sama tapi itu tidak pernah menjadi beban keduanya. Aya tidak pernah bersikap sungkan seperti yang lain karena
Ibunya Aya menjadi pembantu di rumah Ibunya Mira.
Seiring berjalannya waktu mereka tumbuh bersama, berbagi hal bersama. Suka duga dan tawa. Berat rasanya jika Ranum sampai berpisah dengan Hadi nanti. Dia akan kehilangan Ranum.
"Menurut Bapak, apa Hadi akan memilih Ranum?" Ucap Mira dengan menatap sendu suaminya.
"Entahlah Bu, Bapak hanya berharap Hadi segera mengambil keputusan yang tidak akan menyakiti mereka bertiga. Kita bantu doakan saja Bu" Ujar Rahmat melihat kembali foto yang terpasang sempurna di dinding. Foto keluarga mereka berlima saat Radit baru berusia dua tahun.
Bersambung..