Ranum yang lelah akhirnya tertidur di sofa panjang ruang tamu saat menunggu suami beserta madunya pulang.
Sebenarnya, ada yang ingin Ranum sampaikan kepada suaminya itu. Tapi, saat dia terbangun dan mendapati jam sudah pukul 01.00 dini hari. Membuat dia lagi-lagi kecewa atas sikap suaminya.
Dia berbicara akan berlaku adil untuk keduanya, Tapi yang dia lihat saat ini. Sikap suaminya itu lebih condong ke satu arah. Hanya kepada istri mudanya.
Ranum memasuki kamar anaknya, memeluk serta menciumi pelipisnya. Bergumam lirih berjanji bahwa anaknya hanya akan melihat kebahagiaan kedepannya.
Ranum yang tadinya tidak sama sekali berniat untuk berpisah dari suaminya, kini hatinya lebih mantap. Biarlah anaknya hidup tanpa ayah, karena memang selama ini suaminya hanya mencukupi nafkah, hingga tanpa sadar melalaikan tugasnya sebagai seorang ayah.
Mas Hadi memang suami yang selalu memberikan nafkah lahir dan batin untuknya, dia hampir tidak pernah kekurangan dalam hal apapun.
Tapi, perlahan setelah dua tahun suaminya itu menjabat sebagai manager di perusahaan membuat sikap nya sedikit berubah.
Rumah yaang tadinya bernuansa ceria dan hangat, perlahan membeku. Tidak ada sapaan sayang ataupun ucapan manja penuh cinta. Memang Ranum dan Hadi tidak pernah bertengkar besar apalagi didepan anak. Karena Ranum selalu mengerti posisi suaminya itu.
Entah karena sikapnya yang terlalu memaklumi atau suaminya yang memang tidak peka. Membuat jarak yang membentang diantara mereka kian jauh.
Tidak ada lagi shalat berjamaah, bahkan makan malam bersama yang hampir tidak pernah mereka lewatkan entah sudah berapa lama. Ranum baru menyadarinya, bahwa dia sudah lama kehilangan suaminya. Suami yang telah dia jaga di dalam rumah maupun diluar rumah melalu doa-doa yang selalu dia panjatkan.
******
Pagi hari menyambut, menggantikan gelapnya malam dengan taburan bintang semalam. Burung berkicau bersahutan, angin mendayu-dayu saat Ranum berkebun pagi itu.
Suami serta madunya masih belum kembali ke rumah, entah apa yang mereka lakukan diluar Ranum tidak ingin ambil pusing.
"Mama?" Sebuah suara datang dari arah belakang dirinya. Dia tentu mengenali suara itu.
"Ada apa nak? , sudah selesai sarapannya?" Tanya Ranum dengan wajah penuh senyum saat mendapati anaknya telah berdiri dibelakang sambil menenteng ember berisi air.
"Sudah, Papa belum pulang juga? Kok nginap di hotel gak ajak Radit sama Mama?" Celetuk Radit saat mendapati Papanya tak kunjung dia temukan disegala sisi rumah itu.
"Papa lagi ada urusan diluar jadi gak bisa ajak Radit, Nanti kalau sudah selesai pasti Papa pulang" Ranum mengelus puncak kepala anaknya dengan sayang, suaminya itu memang belum juga sampai rumah. Baru kali ini Mas Hadi tidak menghubungi Ranum, atau karena posisinya sudah digantikan oleh Mbak Ria?
Tok tok tok
"Assalamualaikum Num" Ranum menoleh saat mendengar suara ketokan pintu dan juga dia familiar dengan ucapan salam dari orang itu. Buru-buru Ranum mencuci tangan lalu membukakan pintu.
Ranum terkejut, melihat kedua mertuanya sudah ada di depan rumah sambil menatapnya dengan iba. Kenapa Ranum merasa bahwa Ibu mertuanya sudah mengetahui kelakuan anak semata wayangnya?, Apalagi Ranum tidak pernah tidak diberi kabar saat Mertuanya itu akan datang ke rumahnya.
Hatinya berdenyut, ketika tanpa sadar melihat tatapan Mertuanya yang sudah menganggap dia bak anak sendiri.
"Ayo Masuk Bu, Pak" Ranum langsung mempersilahkan kedua Mertuanya masuk kedalam sambil dia menyiapkan minuman dan camilan.
Ranum meletakan nampan di meja ruang tamu, akibat keretakan rumah tangganya, saat ini Ranum hanya mampu menghidangkan teh manis dengan kue bolu yang baru saja dia buat. Bahan-bahan di rumah sudah habis.
Sedangkan Mas Hadi belum juga pulang, Ranum dengan terpaksa harus menunda kegiatan rutin yang selalu mereka lakukan itu.
"Nak, Ibu kok gak liat Hadi ya? Apa anak itu belum bangun juga?" Tanya Mira sambil matanya melirik kamar mereka berdua.
"Mas Hadi kebetulan lagi ada kerjaan Bu" Ranum merasa malu, karena ini pertama kali dia berbohong untuk menutupi kebusukan sifat suaminya. Dia hanya mampu menunduk, berharap kedua Mertuanya tidak dapat membaca apapun melalu mata Ranum. Karena, mata salah satu indera yang tidak bisa berbohong.
Mira dan Rahmat saling melirik saat melihat Ranum masih mencoba menutupi kelakukan Hadi. Mira mendesah sedih atas sikap anaknya yang semena-mena kepada wanita sebaik Ranum.
Sungguh, tidak ada yang kurang satupun dari Ranum. Ranum cantik, baik, shaliha, selalu mampu menjaga perilaku baik di rumah maupun luar rumah.
Mira semakin dibuat jengkel karena lagi-lagi anaknya itu lebih memilih wanita ular. Wanita yang jelas-jelas sudah membohonginya sedemikian rupa.
Ria memang wanita cantik, berkelas, berpendidikan tinggi. Tentu, tidak ada apa-apanya Ranum dibanding Ria. Tapi, kebaikan Ranum saja menurut Mira sudah menutupi semua kelebihan Ria. Entah setan mana yang membuat Hadi bertekuk lutut lagi kepada wanita iblis itu, padahal Hadi sempat dibuat kecewa berkali-kali olehnya.
"Ranum gak mau jujur aja sama Ibu, Nak?" Air mata Mira sudah berada di penghujung matanya. Ranum yang melihat sikap Ibu mertuanya tidak lagi mampu menahan diri.
Dipeluknya ibu yang mengajarkan dia agar suami selalu menundukkan pandangannya, Ibu kedua setelah almarhumah ibunya yang telah tiada, Ibu yang tidak pernah membedakan seorang anak dengan menantunya.
Hatinya perih, tersayat begitu dalam. Bahkan, pecahan kaca yang menyayat nadinya mungkin tidak akan sesakit ini. Ranum sekarat, dimana oase di padang pasir yang selalu dia dapatkan selama ini tidak lagi dia lihat. Pelukan hangat yang selalu dia rindukan, bahkan kecupan singkat setelah tidur tidak lagi diberikan kepadanya.
Nyatanya dia hanyalah pengganti. Pengganti mantan dari suaminya yang memilih melarikan diri saat mereka akan melangsungkan pertunangan.
Ranum kecewa, menangis tergugu dan bertanya pada Mira "Bu, apa Ranum dari awal memang tidak bisa mendapatkan hati Mas Hadi?"
"Bu, Apa Ranum harus buka Hijab di luar rumah agar Mas Hadi tidak lagi melirik pada wanita lain?"
"Bu... Sakit sekali Bu... Suamiku, Imamku, Ayah dari anak-anakku telah melakukan pernikahan siri tanpa sepengetahuan ku Bu.." Dengan suara lirih lagi-lagi Ranum bertanya yang hanya di tanggapi gelengan semata oleh Ibu mertuanya.
Mira tergugu, dia ikut merasakan sakitnya di khianati. Mira tidak mungkin lagi membela Hadi, disaat sikapnya sudah tidak bisa ditolerir. Mira merasa gagal mendidik anak tunggal nya itu. Anaknya yang dia asuh dan dia berikan cinta sudah berubah. Dia sama sekali tidak mengenali anaknya sendiri.
"Maafkan anak Ibu ya Nak, maafkan Hadi yang sudah menyakitimu Num" Ucap Mira dengan lirih. Pelukan yang dia berikan kepada Ranum semakin kencang, sesekali tangannya mengusap bahu. Berharap pelukan dapat menenangkan hati Ranum, tapi yang di dapat malah suara isakan yang berganti menjadi tangisan pilu.
"Assalamualaikum.."
Hadi terkejut saat melihat Mira dan Rahmat yang berada di kediamannya. Apalagi, Hadi melihat istrinya, Ranum. Yang masih terisak dan sesekali mengusap air mata dengan hijab nya yang panjang hampir menyentuh betis.
Pemandangan yang tidak pernah dia lihat. Ranum yang begitu rapuh, matanya yang merah serta tatapan kekecewaan juga kebencian menjadi satu. Hadi menyesal. Dia telah kehilangan Ranum. Istrinya, belahan jiwanya yang lain setelah Ria.
Rupanya, kali ini dia sudah melampaui batas. Ranum sudah terlalu sakit, hingga senyum pun tidak dia dapatkan dari wajah cantik milik istrinya itu.
Ketakutan mulai menyergap dalam hatinya. Akankah Ranum tetap bertahan dengannya? Meski dia sudah menyakiti Ranum.
"Mas.." Hadi tersentak saat mendapatkan tepukan di bahunya. Melirik ke sebelah kiri, Ria. Istri mudanya, wanita yang dengan perlahan membuat dia melupakan Ranum. Mantan pacar yang tidak pernah bisa dia lupakan.
"Hadi.. Ibu sama Bapak mau bicara" Desak kedua Orangtua Hadi setelah melihat anaknya tak kunjung mendekat.
"Ibu sama Bapak sudah lama sampai?" Tanya Hadi sambil tangannya mencium dengan takzim tangan Mira dan Rahmat.
"Sudah, Ibu kesini mau minta kamu ceraikan Ranum. Di, kamu gak bisa adil terhadap istri-istrimu. Jadi, lebih baik ceraikan Ranum. Ranum akan tinggal bareng Bapak dan Ibu. Sementara kalian berdua bisa tinggal disini" Mira tidak ingin berlama-lama, dia memang berniat meminta agar mereka bercerai. Itu semua agar Ranum tidak sakit lebih jauh lagi.
Bersambung....