Mendengar itu Hadi membulatkan kedua matanya, Dia tidak bisa berpisah dari Ranum. Pun dia tidak ingin melepaskan Ria, katakanlah dia egois, tamak atau yang lainnya. Tapi, dia memang merasakan cinta kepada kedua istrinya ini.
"Bu, Ibu ngomong apa sih?" Hadi melirik Radit yang saat ini menatapnya dengan bingung.
"Ibu serius Di, lepaskan Ranum. Kami yang akan menjaga Ranum mulai sekarang" Ucap Mira dengan lugas. Hadi yang melihat Ibunya dengan tegar berkata seperti itu, bahkan air mata yang sempat dia lihat beberapa menit yang lalu seolah lenyap tak bersisa.
"Gak bisa, Aku gak akan lepasin Ranum. Aku cinta sama Ranum Bu" Tegas Hadi saat melihat Ranum yang sudah tidak mau meliriknya sama sekali.
Mencoba meraih tangan istrinya yang selalu menemani dia dalam suka maupun duka, tapi yang dia dapat sebuah tepisan diiringi delikan mata. Ini jelas bukan Ranum, istrinya tidak akan pernah melawan tatapan matanya.
Dada nya berdenyut perih, dia tidak akan rela jika Ranum harus pergi dari rumah ini. Dia tidak akan bisa melihat Ranum yang sedang memasak, atau dia yang suka bersenandung sambil menyiram kebun cabai nya dibelakang rumah.
"Pikirkan Hadi, siapa yang akan kamu pertahankan. Ria atau Ranum" Ucap Rahmat yang melihat anaknya terdiam ketika tangannya ditepis oleh menantunya.
"Maaf Pak, tapi aku gak berminat buat jadi salah satu pilihan Mas Hadi. Dari awal aku memang gak mau dipilih. Jadi Mas, Biarkan aku mundur" Ujar Ranum, suaranya bergetar tanda dia sudah tidak mampu menahan gejolak di d**a.
"Aku gak setuju Num, Kamu akan tetap jadi istriku!" Sentak Hadi. Dadanya bergejolak marah, dia tidak pernah melihat Ranum yang sekeras kepala ini, hingga Hadi tidak mampu lagi menahan amarah.
"Mas, sudahlah. Kalau Ranum memang ingin berpisah biarkan saja" Ria menimpali ucapan Ranum yang meminta ingin diceraikan oleh Hadi, binar bahagia sempat Ranum lihat beberapa detik yang terlihat dimatanya.
Mbak Ria memang berbicara dengan biasa, tapi binar bahagia juga suaranya yang antusias barusan menandakan memang itu yang Ria tunggu-tunggu selama ini. Ranum dan Mas Hadi bercerai.
"Apaan sih! Mas gak akan membiarkan Ranum pergi dari rumah ini!, ingat Ranum! Kalau kamu tetap ngotot ingin pindah ikut Ibuku, Radit akan tetap disini sama aku dan Ria!" Dengus Hadi, sesekali matanya akan melirik sinis kearah Ria yang menyetujui keinginan Ranum.
Anehnya, kalau Ranum akan langsung menunduk dan menahan diri agar tidak membuat Hadi semakin marah, Ria akan dengan terang-terangan menatap dia sampai Hadi yang pada akhirnya mengalah.
Menghela napas Ranum melirik Madunya itu "Aku gak bisa jamin Mba Ria mau ngurus Radit Mas!" Sentak Ranum geram atas sikap Mas Hadi yang egois.
Meskipun mereka baru berkenal beberapa hari, tapi Ranum sudah bisa melihat perangai dari istri muda suaminya itu. Jangankan mengurus Radit, memasak bahkan membereskan kamarnya saja, Mba Ria akan menyuruh pekerja yang akan datang bekerja dua kali dalam satu Minggu.
Jadi, bisa dibayangkan bukan bahwa Radit mungkin akan terlantar jika Mas Hadi tetap ngotot ingin memisahkan dia dengan anaknya.
"Ria pasti mau ngurus Radit, dia kan juga nanti akan jadi ibu" Ucap Mas Hadi dengan wajah yakin.
"Mas!" Kali ini Ria yang menunjukkan raut tidak setuju saat mendengar bahwa dia yang harus mengurus anak suaminya yang lain.
"Kamu gak mau anak diurus sama oranglain, jadi kamu gak usah ikut ibu tinggal disana!"
Ucapan Mas Hadi seketika membuat Ranum termenung, dia tidak sanggup jika harus satu rumah dengan madunya itu. Tapi, dia juga tidak bisa berpisah dari Radit.
"Baiklah kalau Mas ingin aku tetap tinggal disini, tapi Mas harus izinin aku bekerja!" Ranum yang pernah bekerja sebagai guru, berencana akan melamar kembali menjadi guru TK di tempat kerjanya dulu. Dia sempat bekerja hampir satu tahun lamanya, sebelum Mas Hadi meminta tetap dirumah setelah dia mengandung Radit.
"Apa?! Kalau kamu kerja Radit gimana?!" Bentak Hadi, habis sudah kesabarannya saat mendengar istrinya itu ingin kembali bekerja.
Pasalnya, dulu sebelum mereka menikah Ranum pernah dekat dengan anak pemilik yayasan tempat Ranum bekerja. Kini, saat mendengar istrinya ingin kembali bekerja seketika Hadi membayangkan bahwa mereka akan sering bersama.
Kebersamaan yang mungkin akan membuat istrinya berpaling dari dia, seperti hal nya antara Hadi dan Ria. Itu semua jelas karena intensitas mereka bertemu.
"Aku tetap ingin kerja! Mas gak bisa melarangku lagi! , Mas bahkan gak minta persetujuan aku untuk menikah lagi sama Mba Ria!" Sentak Ranum, suaranya bergetar namun ada nada ketegasan yang terdengar. Kali ini, jelas Hadi sudah tidak bisa melarang keinginan istrinya itu.
Radit yang masih kecil seketika menangis, Ria dan Hadi kembali bertengkar. Teriakan, bentakan dan tangisan bersatu.
Ranum yang masih waras memilih membawa anaknya masuk ke dalam kamar. Hatinya sakit, seperti ada ribuan jarum yang menusuk. Ketika tangisan Radit sudah mulai reda, Ranum segera meraih tangan mungil itu, tangan yang selalu memberikan dia kekuatan. Tangan yang membantu dia untuk menopang tubuhnya yang mulai lelah.
Menciumi jari-jari milik Radit, Ranum bergumam lirih meminta maaf sebab tidak bisa lagi mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Melihat Radit yang masih berwajah sembab, lekas dia rengkuh wajah itu, turut menciumi setiap sisi wajah yang pertama kali dia lihat setelah bangun tidur.
"Mama kenapa?" Tanya Radit saat melihat Ranum mulai menangis sesenggukan.
Ranum hanya mampu menggeleng tanda dia tidak apa-apa. Berdiam diri sambil memeluk tubuh anaknya yang masih kecil, betapa tubuh ringkih ini harus kokoh nanti. Membawa beban yang begitu berat, Ranum tidak akan bisa membayangkannya.
Mas Hadi memang jarang berada di rumah, hingga anaknya itu sudah terbiasa hampir tidak melihat Papanya di hari libur.
Mas Hadi juga jarang berpartisipasi dalam hal mengasuh anak, dia bahkan cenderung lebih sering memegang ponsel daripada melihat tumbuh kembang anaknya itu.
Yang lebih membuat dia sakit hati adalah perhatian yang perlahan Mas Hadi berikan kepada Radit akhir-akhir ini. Mungkin, perhatian kecil itu hanya sebuah ungkapan penyesalan yang telah dia lakukan. Tapi, dengan perlahan mampu membuat Radit mulai menyukai kehadiran Papanya.
Radit yang tadinya lebih suka membaca buku ataupun menggambar, kini lebih sering bermain di Playground di dalam rumah kami. Ranum yang melihat anaknya ingin diperhatikan oleh Papanya kembali merasakan sakit yang begitu dalam.
Usaha Radit membuat Papanya itu melihat kearahnya pada akhirnya sia-sia. Mas Hadi kembali beku.
Ranum berpikir, mungkin Mas Hadi kelelahan sehabis bekerja. Kemudian, yang dia dapati adalah Suaminya membawa serta wanita lain masuk kedalam rumahnya. Rumah tangganya. Ke kehidupan yang telah lama dia susun dengan rapi.
Ranum kembali menangis lirih, melihat anaknya yang kini sudah terlelap. Lekas dia mengambil wudhu, melakukan shalat dan berdoa agar dia tidak menjadi salah satu hamba yang paling dibenci karena meminta sebuah perceraian kepada suaminya.
Ada sebuah kutipan, semua akan dia maafkan kecuali satu. Sebuah perselingkuhan. Dia mungkin bisa menerima dengan lapang hari ini, tapi dia tidak tau kapan dia akan tetap menerima keputusan suaminya.
Sebab dia bukan salah satu istri Nabi yang akan menerima jika suaminya menduakan, karena dia hanya manusia biasa.
Bersambung...