Tadinya Hadi hanya ingin Ranum dirumah saja, tapi karena Ria terus mendesak dengan dalih bahwa dia sudah lelah bekerja dan siap jika harus resign dari pekerjaan yang telah digeluti olehnya hampir delapan tahun itu.
"Mas mau kemana?" Ria menahan tangan Hadi yang akan berlalu dari hadapannya lepas mereka membicarakan keputusan Ranum yang ingin kembali bekerja.
"Mas mau ngomong sama Ranum dulu" Ucap Hadi yang berusaha melepaskan cekalan tangan Ria saat ini.
"Inget ya Mas! Ranum harus kamu bolehin kerja! Aku bisa kok ngurus rumah sama Radit!" Ungkap Ria sekali lagi mencoba menyakinkan Hadi yang masih merasa kurang percaya pada kata-kata Ria.
"Huft... Kamu yakin Ri?, Kamu tuh gak pernah pegang kerjaan. Apa lagi harus ngurusin Radit yang kadang masih butuh dicebokin loh" Tanya Hadi, mencoba meyakinkan keputusan Ria sekali lagi.
Memang benar, Ria ini anak yang sangat dibanggakan kedua orangtuanya. Bahkan, Hadi sempat di tentang untuk menuju ke jenjang yang lebih serius waktu mereka masih berpacaran dulu.
Hadi yang hanya sebagai salah satu karyawan bagian pemasaran, langsung mendapatkan penolakan dengan tegas. Tapi, Hadi bisa meyakinkan orang tua Ria dengan berkata bahwa dia adalah anak satu-satunya. Dan dia juga berjanji akan segera naik jabatan secepatnya, agar orang tua Ria merestui hubungan mereka.
Sayang sekali, setahun setelah dia naik jabatan Ria tiba-tiba melarikan diri dari rumah karena hendak di jodohkan oleh orang tuanya. Cerita ini Hadi dengar sendiri dari Ria, karena Hadi tidak sempat berbicara dengan orang tua Ria sewaktu dia menanyakan keberadaannya.
Sebenarnya, Hadi saat itu sudah menyiapkan beberapa hadiah seserahan yang sengaja dia tutupin dari Ria.
Ibunya yang mengetahui bahwa Ria kabur dari rumah, lantas tanpa persetujuan Hadi mulai menjodohkannya dengan Ranum. Gadis lugu dari desa.
Andai Ranum tidak lebih cantik dari Ria, mungkin Hadi dengan tegas menolak perjodohan itu. Lambat laun, Hadi mulai menerima Ranum sebagai istrinya. Dia tentu saja sangat mencintai Ranum pada saat itu.
Dan setelah hampir empat tahun tidak ada kabar. Ria, gadis yang sangat dia impikan menjadi istrinya itu muncul. Bekerja di perusahaan yang sama dengannya, Ria saat itu sebagai staff keuangan. Maka, tidak heran hampir sering mereka bertemu.
*******
"Num, Mas mau ngomong" Ucap Hadi dibelakang Ranum yang saat ini sedang mencuci gelas dan piring kotor.
Hadi melihat seisi rumah, tidak biasanya pekerja yang selalu dipanggil oleh Ranum pulang awal. Apa lagi, Ranum sampai harus turun tangan mencuci gelas dan piring kotor bekas makan mereka. Padahal, seingat Hadi hari ini jadwal biasa Mbok Nah datang.
"Kok kamu yang cuci piring? Mbok Nah kemana?" Tanya Hadi
Gerakan tangan Ranum sempat terhenti, tapi dia tetap memilih melanjutkan mencuci gelas kotor.
"Mbok Nah mulai hari ini gak datang lagi kerumah Mas, anak nya Mbok Nah sakit yang di kampung"
"Kok Mbok gak izin sama Mas ya?" Ucap Hadi bingung, biasanya Mbok Nah itu bicara dengan dia dulu baru bicara dengan Ranum jika memang dia tidak bisa menghandle perihal gaji dan keuangan yang dia kasih untuk kebutuhan rumah mereka.
Awalnya, Ranum yang memegang kendali atas semua gaji dan kebutuhan rumah. Tapi, itu sebelum kedekatan dia dengan Ria.
Hampir dua tahun lalu, karena kedekatan mereka sangat intens membuat Hadi lebih memilih mengelola sendiri keuangan serta gaji yang dia terima dari Bosnya. Gaji Mbok Nah akan Hadi langsung berikan kepadanya jika dia sedang tidak sibuk, perihal kebutuhan rumah seperti tagihan listrik, air dan kebutuhan pokok belanja bulanan akan Hadi hitung dengan rinci dan memberikan rincian itu kepada Ranum untuk dia berikan kepada Mbok Nah dan membelinya.
Keputusan yang Hadi buat saat itu karena Hadi sering menggunakan uang untuk bertemu dengan Ria, karena dia tidak ingin ketahuan jika Ranum yang mengelola semua nya.
"Gak apa-apa, aku juga lagi senggang. Mas mau ngomong apa, disini aja ya. Nanggung banget Mas"
Suara kursi yang berdecit mengisi ruang dapur berukuran sedang itu, Ranum mungkin membelakanginya tetapi dia paham betul bahwa saat ini Mas Hadi sedang kalut. Entah apa yang membuat dia seperti ini.
Ah, Ranum lupa. Sudah lama prioritasnya bukan hanya Ranum dan Radit lagi. Tetapi bertambah dua orang yang akan hadir di kehidupan mereka.
"Mas mau ngomongin apa?" Ucap Ranum dan membalikkan badan, menatap mata Mas Hadi secara langsung.
Sementara yang ditatap kebingungan, Ranum dengan santai mengikuti Mas Hadi duduk di kursi yang bersebrangan. Menghela napas, Ranum menatap wajah lelaki yang amat dia cintai. Lelaki pertama yang membuat hidupnya berwarna, lelaki yang saat ini murung memikirkan wanita lain selain istrinya sendiri.
"Num, Kamu pernah kan waktu itu minta izin sama Mas buat kembali bekerja lagi? Apa kamu masih ada keinginan itu?"
Ranum tatap kedua mata Mas Hadi yang memancarkan perasaan bersalah, sambil mengeratkan kedua tangannya sendiri. Oh, mungkin saat ini Mas Hadi memintanya untuk bekerja mencari uang tambahan untuk mereka hidup. Atau mungkin, untung dia dan Mbak Ria?
"Maksud Mas gimana, aku agak nggak paham Mas" Mencoba menebak-nebak, semoga dugaanku salah. Semoga saja Mas Hadi masih punya sedikit belas kasih untukku dan Anaknya.
"Kalau kamu masih ingin bekerja seperti dulu, Mas akan ijinkan kamu Num. Biar Radit Ria aja yang urus dirumah nanti" Kalimat tanpa jeda dan tanpa hati itu menghujam tepat keulu hati Ranum. Sungguh, Ranum bingung mengapa sampai saat ini dia masih tetap saja bertahan dengan lelaki yang bahkan tidak tau maunya apa?!
"Sebenarnya, aku sudah cukup merasa nyaman untuk hanya tinggal dirumah Mas. Tapi, kalau memang Mas menginginkan aku bekerja kembali dan Mbak Ria bisa istirahat dirumah. Aku akan kembali bekerja, tetapi soal Radit. Mohon maaf, aku yang akan tetap mengurusnya Mas" Kalimatku ternyata membuat dia tersentak kaget dan tidak mampu mengucapkan apapun lagi.
Bersambung..