06.35 , Selda sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, ia takut terlambat karena hari senin upacara.
"Bun, Selda berangkat sekolah dulu ya, assalamualaikum"
"walaikumsallam"
Sesampainya di sekolah, Selda langsung pergi ke kelas lalu ke lapangan untuk besiap-siap berbaris. Sekolah sudah mulai ramai, mungkin karena efek hari senin?.
Saat upacara sudah selesai dilakukan, Selda pun kembali ke kelas, oh ya jangan lupakan ia kembali ke kelas bersama sahabatnya, Vita, masih ingat kan? Kalau lupa bisa baca ulang di chapter 1.
"Sel, kemaren gue habis beli novel lagi loh" ujar Vita sambil mengeluarkan novel yang baru dibelinya.
"wah, kayaknya seru nih, pinjem dong Vit" cengir Selda.
"oke lo bawa aja dulu, ntar kalau udah selesai baru gue baca"
"oke deh, makasih Vita ku"
Vita terkekeh "b aja kali Sel"
"Selda! Dicari Alan tuh" ucap teman sekelas Selda yang bernama Riko.
"hah?" Selda langsung menatap pintu kelasnya dan mendapati Alan yang sudah berdiri disana.
"cie dicariin tuh sama calon pacar" goda Vita sambil menekan kata calon pacar.
"apaan sih, gue keluar bentar" Selda pergi melalui Vita dan menemui Alan.
"kenapa?"
Alan mendekatkan dirinya kearah Selda, dan membisikkan sesuatu kepada Selda.
"HAH?" Alan langsung membekap mulut Selda.
"eh eh santai dong" ucap Alan sambil melepaskan tangannya.
Sedangkan para siswa siswi menatap mereka berdua kebingungan, banyak juga yang menatap Selda dengan tatapan tidak suka.
"gue gak bisa"
"why?"
"ya gak bisa, masa pulang sekolah langsung kerumah lo? Bisa dicariin gue sama bunda gue"
"duh, kalau lo gak ikut gue, yang ada mama gue marahnya ke gue Sel"
Selda tampak berfikir sejenak, kasian juga kalau dia dimarahin.
"tapi kerumah gue bentar, gue ganti baju sekalian ijin bunda gue"
Mata Alan berbinar-binar "serius?"
Selda mengangguk "iya, tapi jangan salahin gue kalau bunda gue gak setuju"
Seketika senyum yang sedari tadi terbit di bibir Alan pun hilang "tapi mana mungkin bunda lo gak setuju, gue kan ganteng" jawabnya sambil memainkan rambutnya.
Selda memutar bola matanya malas "serah" Selda pun berlalu meninggalkan Alan dan kembali kedalam kelas.
"jangan cemberut, ntar gue makin suka"
Selda membalikkan tubuhnya dan kembali menatap Alan
"ALANNNNNN!!!!" Alan pun langsung berlari meninggalkan Selda yang masih kesal kepadanya.
"berisik lo Sel, teriak-teriak gitu napa dah?" tanya Dian, teman sekelas Selda yang terbangun dari tidurnya akibat mendengar teriakan Selda.
"tau tu"
"gak usah manyun gitu bibir lo"
"gak usah bikin gue tambah kesel deh Yan"
"ya suka-suka gue dong, ini kan--"
"ini kan kelas gue" ejek Selda sambil menirukan gaya bicara Dian.
"tuh tau! Gue sebagai ketua kelas disini, sangat-sangat tidak suka jika ada yang berisik mengganggu tidur gue"
"bacot lo"
"woy woy, tadi gue liat Pak Kumis pergi" ucap salah seorang siswa yang datang, Renal.
"SERIUS LU ANJIR? DEMI APAPUN KITA LOLOS PELAJARAN FISIKA HARI INI? SETELAH SEKIAN LAMA KITA GAK FREE PELAJARAN FISIKA" Dian yang tadinya duduk pun langsung beridiri diatas meja.
"tadi gue denger pak kumis pergi?" ucap Riko yang masih membenamkan wajahnya.
"iya" jawab Renal.
Brakk...
Riko menggebrak mejanya membuat para murid dikelas menatapnya kebingungan "kenapa guru kesayangan tidak masuk hari ini" ucapnya sok dramatis.
"alay" sahut Vita.
"padahal kan gue sudah menyukai pelajaran fisika" ucapnya lagi.
"lo kesambet apa sih Rik?" tanya Selda.
"gak tau, intinya.... GUE SENENG BANGET TU GURU KAGAK MA--"
"ADA APA INI RIBUT-RIBUT?" tiba-tiba Pak Kumis masuk dengan wajah garangnya.
Murid-murid pun langsung kembali ke tempat duduknya masing-masing.
"shuttt shuttt" panggil Riko ke arah Renal.
Renal yang tersadar itu panggilan dari Riko pun langsung menoleh "lo bilang tu guru pergi" geram Riko.
"ya maksud gue otw pergi ke kelas" cengir Renal.
Dian yang mendengarnya pun langsung menatap Renal tal percaya "liat aja lo ntar pulangan anjir".
• • •
"hy Sel" oh god! Rupanya Alan sudah menunggu Selda didepan kelas, padahal rencananya Selda ingin melarikan diri.
"jangan coba-coba kabur" bisik Alan tepat ditelinga Selda.
"hay Sel, gue duluan, jangan lupa PJ" lagi-lagi Vita menggodanya.
"wah wah lu jadian Lan sama si cakepnya XII IPA 2?" tanya Dian yang baru keluar dari kelas bersama Riko dan Renal.
Alan terkekeh "i--"
"gak! Mana mau gue sama ni cowok"
"awas kemakan omongan sendiri lo" ejek Riko.
"nah bener tu kata Riko" sahut Alan.
"gak peduli gue, gue mau balik" Selda berlalu meninggalkan keempat lelaki itu.
"yaelah ngambek, gue duluan Yan, Rik, Ren" setelah itu Alan pun menyusul Selda.
Alan berlari kecil mengejar Selda yang pergi meninggalkannya.
"mau kabur kemana princess?" Alan tiba-tiba berdiri dihadapan Selda membuat Selda menabrak d**a bidang Alan.
"duh" ucapnya sambil mengelus kepalanya yang tertabrak d**a Alan.
Alan mengusap kepala Selda "sakit ya"
"udah ah malu diliatin, jadi gak ni?"
Alan mengedipkan sebelah matanya "mau kemana sih sayang buru-buru amat, oh mau dihalalin ya? Gak sabar ya? Oke kita ke penghulu sekarang"
"ih Alan!!! Seriusss!!!"
"iya makanya ini mau diseriusin kok"
"yaudah gak jadi ni, gue pulang aja" baru selangkah Selda melangkahkan kakinya, Alan sudah menahan tangannya "canda, yaudah ayok"
Seperti biasa, hanya ada keheningan antara mereka berdua saat didalam mobil, Selda yang menatap jalan raya, dan Alan yang fokus menyetir.
"id line lo apaan Sel?"
"hp gue rusak"
"hah? Id line lo hp gue rusak?"
"ih bukan" Selda memukul pelan lengan Alan "maksud gue, hp gue rusak, gue gak ada Line".
"yaudah kalau gitu kita mampir dulu ke toko hp" jawab Alan.
"gak! Gak usah! Apa kata murid IAS ntar kalau tau gue dibeliin hp sama seorang ALAN LYNDON SEABERT?" tegas Selda berusaha menolak ucapan Alan.
"ya gak papa kali, kan lo pacar gue, eh ralat, calon pacar lebih tepatnya" jawab Alan dengan entengnya.
"gak! Tetap aja gak! Lo kayak gak tau cabe IAS, yang ada gue digosipin tujuh hari tujuh malem, dan--"
Lagi-lagi Alan membekap mulut Selda "udah deh, nyonya Seabert yang cantik yang imut yang manis diam aja, tuan Seabert lagi fokus nyetir, kita mampir ke toko hp dulu, gak terima penolakan"
Selda pun bungkam dibuatnya.
"nyonya Seabert?" sebuah senyuman tipis terbit dari bibir Selda.
Mobil Sport itu berhenti tepat didepan rumah Selda, banyak tetangga Selda yang menatapnya dengan tatapan kagum saat melihat Selda lah yang turun dari mobil itu.
Tetapi mereka dibuat kebingungan saat melihat Selda tak sendiri, melainkan bersama seorang lelaki.
"eh itu Selda anaknya bu Ersa bukan sih?"
"iya lah, kalau bukan ngapain berhenti tepat didepan rumah Bu Ersa"
"wah, dia pacaran sama anak orang kaya yah"
"itukan cowok yang sering masuk TV itu, keturunan keluarga Seabert kalau gak salah"
"wah iya, keluarga Seabert yang sangat kaya raya itu kan"
"iya, hartanya pun gak akan habis tujuh turunan, bahkan lebih dari tujuh turunan"
"lo tunggu disini, gue masuk dulu"
"jahat banget sih, gak disuruh ma--"
"eh udah pulang nak" Selda yang sadar bahwa Bundanya keluar dari rumah pun mencium punggung tangan bundanya.
"assalamulaikum tante" ucap Alan lalu mencium punggung tangan Ersa juga.
"kenapa gak disuruh masuk Sel temannya?"
Selda menatap kearah Alan yang sudah tersenyum devil "yaudah iya, yuk masuk"
Oh ya, mereka belum mampir ke toko hp, rencananya mereka akan pergi ke toko hp setelah dari rumah Selda.
Sekitar 20 menit Selda pun menyelesaikan kegiatan mandi dan berdandan nya. Sebenarnya sih tidak dandan berlebihan, hanya sedikit memoles bedak dan liptint pink saja. Soal pakaian pun Selda tak berlebihan, ia hanya memakai jeans panjang dan sweter berwarna navy polos. Dan jangan lupakan, rambutnya kini tidak digerai, melainkan diikat.
"Lan, yok" ucapan Selda membuat Alan yang sedari tadi ngobrol bersama Ersa pun menengok kearahnya.
"tante, saya pinjam Selda nya bentar ya, gak sampai larut malam kok tan, ntar saya yang antar pulang"
Ersa mengangguk sambil tersenyum manis kearah Alan "ia, asal jangan diapa-apain anak tante, ingat!".
Alan terkekeh lalu mengangguk "iya tan"
"assalamulaikum" ucap Alan dan Selda kemudia mencium punggung tangan kanan Ersa.
"walaikumsallam, hati-hati"
Sesuai perkataan Alan tadi, kini mereka berada di salah satu Mall, untuk menghemat waktu mereka pun langsung pergi ke toko handphone.
"selamat datang di toko kami, mau cari hp model apa mas mba?" ucap salah satu pegawai yang sudah berdiri didepan pintu toko tersebut.
"biarkan dia yang milih" pegawai itu mengangguk tanda mengerti "silahkan mba dipilih mau model yang mana?"
Selda bingung harus memilih yang mana, jujur saja, semua model handphone dihadapannya ini sangatlah bagus semua.
"Lan, lo aja deh pilihin" rengek Selda kearah Alan membuat Alan gemas dan mengusap rambut Selda.
"mba, saya ambil hp keluaran terbaru yang paling bagus, saya gak peduli berapa mahal harganya"
Pegawai itu mengangguk sekilas "baik mas, saya cek dulu barangnya, mas sama mba nya bisa langsung ke kasir untuk membayar administrasi"
Selda menatap kertas ditangan Alan yang berisi harga handphone yang dibelikan Alan untuknya. Selda benar-benar tak habis pikir, apa sebenarnya yang ada dipikiran Alan saat ini? Bayangkan saja, handphone seharga hampir 20 juta itu diberikan kepasa Selda secara cuma-cuma. Padahal, Selda sama sekali bukan siapa-siapanya.
"Lan, sumpah ini tuh berlebihan tau gak" dumel Selda saat memasuki mobil.
"sssttt, pernah belajar gak? Hargai pemberian orang lain"
Lagi-lagi Selda memutar bola matanya "iya gue hargai pemberian lo, tapi handphone semahal ini gak pantas buat gue, ntar kalau ditanya sama murid² IAS gimana?"
Salah satu tangan Alan berada di setiran dan salah satu tangannya lagi menggenggam tangan Selda "harus berapa kali gue bilang kalau lo itu calon pacar gue baby, atau perlu gue tembak lo sekarang juga biar lo percaya?"
"gak perlu, iya udah gak usah dibahas lagi, fokus nyetir sana, gue gak mau mati muda"
Alan terkekeh dibuatnya "iya gue juga gak mau kali mati muda, apalagi kita belum punya anak" godanya.
Selda melirik Alan dengan lirikan tajam "gak usah macem-macem"
Tawa Alan pun pecah.