Kini Selda, Alan, Orang tua Alan, Adik Alan, serta Oma Alan sedang menikmati makan bersama dikediaman Seabert Family.
"ayo nak dimakan yang banyak" ucap Oma Alan sangat ramah kepada Selda.
Jika dilihat, mulai dari orang tua, adik, sampai oma Alan mereka sangat menyukai Selda, tapi mengapa? Bahkan Selda bukan anak dari keluarga yang kaya raya seperti mereka.
"kak Selda kok lama banget nyampenya, Caca kan nungguin" kesal Caca dengan wajahnya yang ditekuk.
"iya Sel, kok lama banget? Kamu dibawa kemana dulu sama Alan?"
Selda dan Alan saling bertatapan "gak kok om, gak kemana-mana, tadi cuman mampir kerumah bentar" jawab Selda diiringi senyum manisnya.
"oh ya Sel, kamu tinggal dimana?" tanya Mama Alan.
"saya tinggal di gang yang disamping perumahan ini Tan"
Mama Alan mengerutkan keningnya "Gang Anggrek?"
Selda mengangguk sambil tersenyum kikuk.
"disana ada teman Tante loh, namanya Ersa"
Selda membulatkan matanya sempurna "Ersa? It-itu, bunda s-saya Tan" ucapnya gugup.
"jadi Ersa bunda kamu?" bukan Mama Alan yang balik bertanya, tapi Papa Alan.
Selda mengangguk lagi.
"dulu Om juga sahabatan sama Almarhum Ayah kamu, bahkan Om sama Almarhum Ayah kamu itu sahabatan dari kecil sampai besar, ya mungkin kalau Ayah kamu belum dipanggil secepat ini mungkin Om dan Ayah kamu masih sama seperti dulu"
Tanpa Selda sadari, satu butir air mata meluncur begitu saja dipipi mulusnya saat mendengarkan pembicaraan Papa Alan.
Alan memberi kode kepada Papanya agar berhenti membahas tentang Ayah Selda. Alan mengusap air mata Selda perlahan "udah gak usah sedih, masih ada Bunda lo, adik lo, sahabat lo, gue, dan masih banyak lagi orang yang sayang sama lo" Selda tersenyum mendengar perkataan Alan.
Setelah acara makan bersama mereka selesai, Selda tak mungkin langsung pulang begitu saja. Disinilah Selda sekarang, Selda sedang membantu Bi Inah (pembantu dirumah Alan) untuk mencuci piring.
"duh non, biar bibi aja yang cuci, ntar kalau den Alan tau, saya bisa kena marah non"
Selda tersenyum hangat kepada Bi Inah dan tetap melanjutkan kegiatan cuci piringnya "gak papa bi, Selda udah biasa kok kalau cuman begini doang"
Tiba-tiba Alan menghampiri Selda yang sedang mencuci piring "lo dicari Caca tuh" ucapnya setengah berbisik.
"Bi Selda tinggal ya, ini udah selesai kok tinggal disusun aja piringnya" setelah mendapat anggukan dari Bi Inah, Selda pun beranjak dari dapur untuk menemui Caca.
"kenapa Ca?" ucapnya sambil ikut duduk disamping Caca yang sedang memainkan boneka unicorn miliknya.
"Caca bosen"
Selda tersenyum hangat "kak Selda temanin main ya"
Mata Caca berbinar mendengar ucapan Selda "bener kak?"
"iya"
"kak"
Selda mengangkat salah satu alisnya "kenapa?"
"kenapa kak Selda gak tinggal disini aja?"
Selda membulatkan matanya, bagaimana bisa ia tinggal dirumah ini? Bahkan hubungan keluarga pun tak ada.
"gak bisa dong sayang, ini kan bukan rumah kakak" jawabnya sambil memberi pengertian.
Caca mengerucutkan bibirnya "Caca gak punya teman main"
"emang Caca gak punya teman? Tetangga mungkin"
"kata Mama, Caca gak boleh main diluar, soalnya takut diculik"
Selda terkekeh mendengar kalimat yang terlontar dari Caca "kan Caca masih bisa main dirumah, main sama Bang Alan? Atau sepupu Caca?"
Lagi-lagi Caca mengerucutkan bibirnya "Bang Alan jarang dirumah, sepupu? Sepupu itu apa?"
"ha? Se-sepupu itu--" Selda berfikir sejenak "sepupu itu kayak saudara tapi berbeda orang tua" jelasnya.
Caca hanya ngangguk saja "oh, Caca punya sepupu?" tanyanya lagi.
"ya pasti punya dong"
"yang mana sepupu Caca?"
"Caca gak tau sepupu Caca yang mana?"
Caca menggelengkan kepalanya.
Selda menepuk jidatnya pelan "nanti coba Caca tanya sama Mama Caca, pasti dikasih tau" jawabnya.
"oke kak, emm kak?"
"ya, mau tanya apa lagi?"
Caca menggelengkan kepalanya "bukan mau tanya"
"terus?"
"Caca mau peluk kakak boleh?"
Selda tersenyum dan dengan senang hati ia memeluk badan mungil Caca.
"eh peluk-pelukkan" ucap Rina (Mama Alan dan Caca) yang tiba-tiba datang.
"Ma, kapan sih kak Vina pulang, lama banget" ucap Caca sambil mengerucutkan bibirnya.
"Vina? Alan punya berapa saudara sih?" tanya Selda dalam hati.
"Kak Vina bilang sama Mama, katanya gak lama lagi dia bakal pulang"
"yeyyyy asikkkkk" ucap Caca bersorak gembira.
Selda semakin bingung, siapa Vina?.
04.30
Selda bangkit dari tidurnya dan segera berwudhu untuk melaksanakan sholat subuh. 15 menit kemudian setelah ia sholat dan berdoa, ia pun bergegas ke kamar mandi.
Setelah selesai memakai seragam lengkap, merapikan rambut, memakai bedak tipis serta memoles liptint tipis Selda pun segera pergi ke dapur untuk membantu bundanya membuat sarapan pagi ini.
Baru saja Selda menginjakkan kakinya didapur, makanan sudah tersedia diatas meja makan, ia menatap sekeliling ruangan namum tak ada tanda-tanda bundanya.
"note?" bacanya dalam hati.
Selda langsung mengambil secarik kertas yang tertindis piring tersebut.
Ini sarapannya sudah bunda siapin, maaf bunda gak pamit sama kalian soalnya bunda buru-buru mau ke pasar, kalian berangkat sekolah barengan ya.
Bunda
"aneh? Kok pagi banget ya?" namun Selda segera menepis fikiran buruknya, dan ia langsung menuju kamar Alex untuk membangunkan adiknya itu.
Dilihatnya adiknya itu masih terlelap dalam tidurnya.
"Dek, bangun, sekolah gak?" Selda menggoyangkan tubuh Alex agar terbangun.
Alex membuka matanya perlahan dan mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu "bunda mana kak Sel?"
"ke pasar, udah sana mandi kakak tunggu dimeja makan" setelah mengucapkan kalimat itu Selda langsung beranjak keluar dari kamar Alex.
Sambil menunggu Alex, Selda memainkan handphone yang baru dibelikan Alan kemarin.
"Alan baik banget sih"
Line...
Seldal langsung membuka aplikasi Line tersebut dan mengecek siapa yang nge-chat dia sepagi ini.
AlanLyS
Pagii, udah bangun?
Pagi juga, udah dari tadi
Kirain belum bangun, idaman bgt sih
Apaan sih Lan
Apanya? Gpp
Hmm
Gw jmput mw g?
Gk ush, ngerepotin
Gak kok, gw jmput y
Hmm ya serah lo
Yaudah see you
See you too
*Read
Tanpa disadari Selda menyunggingkan senyumnya saat melihat chat terakhir yang Alan berikan.
Setelah mengantar Alex, Alan dan Selda pun berangkat ke sekolah mereka. Baru saja Selda turun dari mobil Alan, sudah banyak murid IAS yang menatap kearah Selda.
"udah gak usah diheranin"
"gw duluan Lan, makasih" Selda pun berlari kecil menuju kelasnya.
Vita yang melihat sahabatnya ngos-ngosan saat sampai dikelas pun kebingungan "lari ya?" tanyanya.
Selda hanya menganggukkan kepalanya.
"kenapa?"
Sela pun hanya menggelengkan kepalanya.
"apaan sih Sel, kok cuman ngangguk sama geleng-geleng doang" ucapnya sambil tertawa kecil.
"capek" jawabnya singkat.
"lo nya juga sih lari-lari kenapa dah?" Vita menatap Selda yang masih menstabilkan nafasnya.
"eh Sel? Itu hp siapa?" tanya Vita saat melihat sebuah handphone yang berada di kantong Selda.
Selda gelagapan dan segera mengalihkan pembicaraan "eh emm, g-gue haus ni kantin yuk Vit"
Vita menahan tangan Selda "gak usah ngalihin pembicaraan Sel"
Selda pasrah jika Vita sudah begini "hp gue"
Ucapan Selda berhasil membuat Vita membelalakkan matanya "seriusan lo" Vita mengambil begitu saja hp itu dari kantong Selda "gila bagus banget anjir" kagumnya.
Selda berusaha berfikir bagaimana dia menjawab saat Vita menanyakan bagaimana bisa ia membeli hp sebagus itu.
"kalah nih hp gue, tapi kok gue bingung" "dari mana lo dapat uang beli hp sebagus ini?"
"duh itu gak penting Vit" elak Selda.
Vita menatap sinis mata Selda "gue mencium bau-bau kebohongan"
Vita mengelilingi tubuh Selda, lalu kembali menatap Selda "lo dikasi pacar lo ya?" tebaknya.
Selda menautkan alisnya "pacar?" ia terkekeh pelan "gue mana punya pacar Vit" sambungnya.
"eh Ralat! Maksud gue calon pacar"
Lagi-lagi Selda bingung, apa coba maksud sahabatnya ini "siapa?".
"lo pikun apa gimana dah Sel?"
"demi jungkook nginep dirumah gue, gue gak ngerti sumpah"
Pletakk...
Vita menjitak pelan jidat Selda "itu mah mau lo kutil!"
Selda hanya tersenyum memperlihatkan giginya.
"maksud gue, dikasih Alan ya?"
Ucapan Vita berhasil membuat Selda bungkam.
"kok dia tau? Setelah sekian lama gue sahabatan sama Vita, gue baru sadar ternyata ni anak cenayang?"