Sepulang sekolah, Selda terkejut saat melihat beberapa buku paket yang berada diatas meja ruang tamu.
"bunda ini--"
"buku kamu, kamu butuh kan?" Ersa terlebih dahulu menjawab sebelum Selda bertanya lengkap.
"i-iya sih, tapi ini kan mahal Bun, dari mana coba bunda dapat uang?"
Ersa memegang kedua pundak gadisnya itu "kamu gak perlu tau sayang, itu urusan bunda, yang penting kamu belajar yang rajin".
Selda tersenyum tipis namun dihatinya ia masih ingin tau dimana bundanya mendapatkan uang "yaudah Selda ke kamar dulu ya bun" Selda mengambil buku-buju tersebut dan beranjak kedalam kamar.
"maafin bunda gak kasih tau kamu darimana bunda dapat duit buat beli buku-buku itu"
Lelah. Itulah yang dirasakan Selda saat pulang sekolah, mungkin bukan hanya Selda namun seluruh pelajar. Selda duduk di tepi ranjang lalu mengambil salah satu dari buku yang baru dibeli bundanya tadi, ia menatap buku itu sambil membolak-balik dan membuka tutup halaman buku itu.
"aneh. Apa buku ini ada hubungannya sama bunda pergi pagi-pagi tadi?"
Selda merebahkan badannya dikasurnya itu lalu menatap langit-langit kamar "tapi, apa hubungannya?"
"ah mungkin aja bunda emang lagi punya simpanan tabungan" ucapnya sambil menghilangkan pikiran buruknya.
"tau ah, mending gue mandi, terus ngerjain tugas"
Disisi lain, diwaktu yang sama, seorang lelaki bertubuh tinggi kekar dan mempunyai paras wajah yang amat elok itu sedang duduk di sofa ruang tamu sambil mendengarkan omelan dari Mamanya. Ya, siapa lagi kalau bukan Alan.
"pokoknya malam ini kamu gak boleh nongkrong!"
"tapi Ma, Alan udah janji sama temen-temen"
"kan bisa dibatalin" jawab Rina, Mamanya, tak mau kalah.
"ya gak bi--"
"gak bisa kenapa? Kamu itu ya nongkrong mulu! Kapan sih bosennya?"
"gak bakal bosen kali Ma, eh mungkin Alan bakal bosen kalau Alan udah nikah" jawabnya santai.
"nikah nikah! Nikah aja pikiran kamu! Sekolah kamu itu dipikirin! Kalau Papa kamu tau kamu suka nongkrong tiap malam, beh! Habis kamu!"
Alan memutar bola matanya malas "ya udah, jadi Mamaku yang cantik ini maunya apa?"
"gak usah nongkrong lagi, SELAMANYA!"
Seketika mata Alan membulat sempurna "Ma, duh masa selamanya sih? Seminggu 3 kali deh" tawarnya.
Rina berkacak pinggang mendengar ucapan putranya ini "GAK!"
"oke oke, seminggu 2 kali" tawarnya lagi.
"GAK!"
"yaudah oke seminggu sekali" tawarnya kesekian kalinya.
"Mama bilang gak ya gak Alan! Kamu ini gimana sih"
"yaudah kalau gitu seminggu setiap hari aja gimana?"
Seketika Rina menatap tajam kearah putranya itu, dan secepat kilat Alan kabur dari hadapan Mamanya karena takut diomelin habis-habisan lagi.
Alan bergegas masuk kedalam kamarnya lalu mengunci pintu kamarnya "gila emak gue galak juga ya" ucapnya sambil menatap dirinya sendiri di kaca yang cukup besar.
Alan mengambil handphone nya lalu mencari kontak milik Aldi.
Tak butuh waktu lama, suara sang pemilik handphone itu sudah terdengar.
"halo, napa?"
"woy k*****t bantu gue!"
"bantu what?"
"gak usah sok italia deh lo sama gue! Bantu gue kabur"
"gila! Lo mau kabur? Kabur kemana anjir? Lo mau tinggal di kolong jembatan? Oh atau di pinggiran toko? Atau di--"
"BUKAN ITU MAKSUD GUE ALDI BEKANTAN!"
"dosa lo ngatain gue bekantan"
"lo nya sih, maksud gue, gue itu gak dibolehin nongkrong sama emak gue terus--"
"terus terus terus, terus apa????"
"jangan di potong asw! Nah, jadi gimana caranya supaya gue bisa nongkrong malam ini?"
"hmmm, biarkan profesor Aldi berfikir terlebih dahulu"
"untung jauh, kalau deket gue tendang lo ke Korea!"
"mau dong, tendang aja gue, ikhlas dunia akhirat gue apalagi ditendang ke Korea, siapa tau gue nemu jodoh gue disana"
"lo kira Korea biro jodoh? Udah cepet bantu gue mikir!"
"hmmm, gue tau!"
"APA APA?"
"lo tanya deh sama Alvin, siapa tau dia tau"
Tutt..
Alan langsung mematikan hubungan telepon tersebut secara sepihak, bagaimana bisa ia memiliki sahabat yang sangat aneh seperti Aldi?.
Mengingat ucapan Aldi tadi, Alan langsung menelpon nomor Alvin dan meminta bantuan kepada Alvin.
"hallo, dengan Alvino Maitland Searle disini, ada yang bisa saya bantu?"
"kesambet apaan lo? Kayak mbak-mbak yang menawarkan kosmetik"
"tudep deh, mau apa lo?"
"gue gak dibolehin nongkrong sama emak gue, bantu gue kabur!"
"laporan diterima"
"udah cepat bantu gue!"
"gini, lo bilang aja ke emak lo mau ngapel kerumah si siapa itu? Sel, Sel, Sel telur? Eh, apaan sih ni mulut gue suka khilaf emang!"
"Selda maksud lo?"
"nah iya si Selda, dengan cara itu gue jamin ampuh! Secara kan ya, lo pernah cerita ke gue kata lo emak lo akrab sama si Selda"
"tumben bening tu otak!"
"jangan puji gue, ntar gue gak ikut nongkrong"
"kenapa?"
"besar kepala gue"
"wkwkwk ada-ada aja lo anjir! Thanks bro!"
"okelah, sesama satwa memang harus saling membantu"
"SESAMA MANUSIA GOBS!"
Tutt...
Alan pun mematikan telepon itu secara sepihak, sebuah senyuman terbit dari bibirnya. "gak sia-sia gue punya teman kayak Alvin" gumamnya lalu pergi kekamar mandi.
Malamnya, Alan sudah siap dengan sweater hitam bergambar tengkorak, jeans hitam, dan sepatu adidas nya. Sekarang saatnya memikirkan bagaimana caranya ngomong yang tepat kepada Mamanya nanti.
"gimana ya" pikirnya sambil mundar-mandir dikamarnya.
"Bun Alan mau pergi ke rumah Selda ya, yakali gitu? Aneh banget dah kayaknya"
"oh atau gini. Bun, Alan mau ke rumah Selda ya, biasa bun anak muda. Apaan sih Lan! Sesat ni otak gue!" cerocosnya.
Setelah 10 menit berfikir akhirnya Alan tau apa yang harus dikatakannya nanti.
Alan menuruni anak tangga perlahan, dan benar saja dugaannya, Mamanya berada di sofa ruang tamu sambil membaca majalah.
"oke ini saatnya, tarik nafas buang"
Rina yang sadar akan kehadiran putranya itu pun langsung menutup majalahnya dan meletakkannya diatas meja "mau kemana kamu?" tanyanya.
"oke introgasi dimulai!"
"hah? Emm, a-anu Ma--"
"anu apa hmm?"
"oh anu Ma, Alan pengen jalan-jalan kerumah Selda, biasalah Ma, Alan mau ngapel" Rina memincingkan matanya kearah mata putranya berusaha mencari tanda-tanda kebohongan "jangan bohong".
Alan menatap kearah lain berusaha tak menatap kearah Mamanya "hahaha apaan sih Ma, ngapain coba Alan bohong? Dosa tau Ma!"
"emang Mama ada bilang kalau bohong itu pahala?"
Alan menghembuskan nafasnya "iya iya Mama mah selalu benar" sahutnya.
"ya udah sana kamu pergi, tapi kalau sampai kamu bohong Mama coret nama kamu di kartu keluarga!"
Alan bergelidik ngeri "i-iya Ma, ampun, yaudah Alan pergi dulu Mama ku yang cantik, asslamualaikum" ucapnya lalu mencium punggung tangan Mamanya.
"kalau gue ketahuan bohong gimana ya nasib gue? Duh b**o amat sih lu Lan, pake acara bohong segala sih! Eh, eh tapi, kenapa gak gue kerumah Selda aja dulu? Terus gue ajak deh dia ke tongkrongan, nah kan gue gak bohong tu kan? Kan gue ketemu sama dia, aduh kenapa gak mikir dari tadi sih!"
Alan pun tersenyum sambil fokus menyetir, tujuan pertamanya adalah Rumah Calon Pacar, eh rumah Selda maksudnya.
Tok...tok.. Tok...
"assalamualaikum" ucapnya sambil mengetuk pintu rumah tersebut.
"walaikumsallam" terdengar jawaban dari balik pintu tersebut dan...
"eh nak Alan, masuk dulu, cari Selda ya?"
Alan mengangguk sambil tersenyum "iya tan"
"yaudah tante panggilin dulu Selda nya"
Tak butuh waktu lama, Selda pun sudah berada dihadapan Alan "kenapa lagi?"
"gitu amat sih lo, jalan yuk"
"gak ah, besok sekolah, gue males ntar kecapean"
"gak bakal lama"
"emang mau kemana?"
"ke suatu tempat, udah sana ganti baju, gak terima penolakan" Selda menghembuskan nafasnya lalu pergi melalui Alan.
10 menit kemudian, Selda sudah siap dengan celana jeans hitam, baju kaus putih bertulisan 'cute girl', tas mini, sepatu berwarna putih, dan rambutnya dibiarkan tergerai.
"cantik banget sih" bisik Alan tepat ditelinga Selda membuat bulu kuduk Selda berdiri "jadi gak jalannya?" sahut Selda mengalihkan pembicaraan.
"tante saya pinjam lagi ni Seldanya" Ersa tersenyum mendengar ucapan Alan "iya, tante percayain anak tante sama kamu, ingat jaga gadis tante!"
"siap tante"
"yaudah Bun, Selda pamit dulu ya, oh iya kalau Alex cari Selda bilang aja Selda kerja kelompok dirumah temen, ntar dia nangis lagi nyari Selda, Assalamualaikum" ucapnya lalu mencium punggung tangan Bundanya itu, dan disusul oleh Alan.
"assalamulaikum tante"
"walaikumsallam"
Hening. Selalu seperti itu jika mereka berada didalam mobil. Alan yang fokus menyetir, dan Selda yang menatap jalan raya.
"mau kemana sih?" Selda memecahkan keheningan.
"liat aja"
"ini udah diliat"
Alan gemas mendengar ucapan Selda barusan sehingga ia mencubit pelan pipi Selda "lucu banget sih"
"ih apaan sih" ucapnya dengan nada sewot sambil mengusap-usap pipinya yang tadi dicubit.
"tu kan makin lucu tau gak, jadi pengen gigit"
Selda menatap tajam kearah Alan "sakit lah!"
"kalau gigitnya dengan hati gak sakit kok"
"mana ada yang bisa gigit dengan hati, yang ada tuh gigit dengan gigi!" sewotnya.
Alan tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Selda "iya deh yang gak mau kalah mah beda"
"bukannya gak mau kalah, tapi lo yang mudah kalah" sewotnya lagi.
"untung cantik" gumamnya.
"memang" sahut Selda yang mendengar ucapan Alan.
Mobil terhenti
"udah sampe?" Alan menganggukkan kepalanya.
Alan pun keluar dari mobilnya dan disusul oleh Selda. Selda menatap sekelilingnya, banyak sekali lelaki, walaupun juga ada perempuan, tapi tak terlalu banyak.
"ini tempat apa?"
"tongkrongan gue, rilex" Alan menggenggam jari jemari Selda berusaha membuat Selda tenang.
"wey bro, datang juga lu akhirnya!"
"si Onyet datang bawa cewek!"
"siapa tu Lan, bening amat"
"calon pacar gue, jangan kalian coba-coba ganggu dia kalau masih mau hidup!"
"EH LAN ANJIR LU, GUE GAK NYURUH LO BAWA SI SEL TELUR KESINI k*****t!" Teriak Alvin yang keluar dari warung tersebut.
Selda yang tak terima namanya disebut sembarangan pun marah "enak aja lo ngatain gue sel telur! Nama gue itu Selda! GRISELDA VARELYN!" Sahutnya.
"eh iya ribet amat sih, gue kan kebanyakan belajar biologi nih jadinya gini"
"belagu amat lu anjir, lu mah semangat belajar biologi kalau bab sistem reproduksi doang!" semprot Aldi yang berada disamping Alvin "tau aja lu k*****t!".
"daripada gue dateng sendiri, ya mending sama calon pacar lah"
"CIEEEEEEE"
"Gila Gila! Demi bekantan melahirkan onta gue sungguh gak terima!" cerocos Alvin.
"napa dah?" tanya seorang lelaki yang berada disana juga.
"ya gak terima lah, masa bekantan melahirkan onta"
"bunuh sahabat sendiri dosa gak sih?"
"...."