Eva mengakhiri presentasinya disambut tepuk tangan semua peserta rapat. Tak diragukan lagi, wanita multi talent itu mampu menyuguhkan pemaparan yang memukau denga ide- ide segar untuk kemajuan perusahaan.
"Bu Eva, anda tadi belum menyebutkan secara pasti siapa super model yang akan memperagakan desain baru kita pada event tersebut?" tanya salah seorang staf dari bagian fasion organizer.
"Sesuai tema kita pada fasion show tahun ini 'exotic Indonesia Timur' super model utama yang akan memperagaan desain terbaru dari kita adalah Kimmy Jayanti. Saya minta kita juga mengambil model- model yang lainya dari management Dia saja, gimana?" tanya Eva meminta saran atas usulnya,
"Perfect!" William adalah orang pertama yang langsung setuju dengan saran Eva, tanpa ragu Ia segera menandatangani proposal event tahunan itu agar segera bisa ditindak lanjuti.
"Ok, Saya yakin semua sudah sepakat. Mari kita kerjakan tugas kita masing- masing demi kesuksesan event Kita tahun ini!" lanjutnya setelah menyerahkan kembali proposal jadi itu kepada asistennya.
"Siap Bos!" jawab semua anggota rapat dan satu per satu mulai pergi meninggalkan ruang meeting setelah kegiatan rapat itu ditutup.
Eva dan Eli bersiap keluar ruangan saat William kembali memanggilnya,
"Eva, siang ini Kita makan siang bareng, Aku mau membahas lebih lanjut terkait event yang Kamu rancang tadi." ucap Will menghentikan langkahnya, Eva tau itu hanyalah akal- akalan William agar bisa menghabiskan waktu bersamanya.
" Sory Will, sepertinya Gue ga' bisa! Seperti yang kamu bilang tadi, waktu Kita sangat mepet, so gue gak mau menyianyiakan waktu Mr. William." tolak Eva,
William tak menyerah, CEO playboy itu terus mendesak Eva agar mau menerima ajakannya, sampai asistenya mengabarkan bahwa sang istri ternyata tengah menunggunya diruangan yang membuatnya mau tak mau gagal makan siang bersama wanita pujaannya itu.
"Tuan, NyonyaHellen sudah menunggu Anda di ruangan." ucap asisten pibadinya menginfokan,
"Damn!" umpatnya kesal,
"Bagaimana Will, masih berniat mengajakku makan siang?" goda Eva sambil menyunggingkan senyum mengejeknya.
William hanya meliriknya sekilas kemudian berlalu segera ke kantornya meninggalkan Eva dan Eli yang tengah menertawakannya itu.
Eva kini sudah berada di kantornya sendiri, mengecek lembaran- lembaran file yang tadi pagi dibawakan Eli ke mejanya.
Ini sudah lewat jam makan siang, Eli juga sudah kembali dari waktu istirahatnya. Melihat Eva masih sibuk dengan pekerjaan yang sama, Eli yakin Bosnya itu akan mengabaikan jam makan siangnya lagi.
"Bos, mau saya pesankan gofood?" tanyanya kemudian,
"Terserah Eli! Aku hanya butuh secangkir kopi saat ini." jawabnya tanpa memandang ke arah orang yang menawarinya itu, Eli mendengus pelan.
"Baik Nyonya, akan saya pesankan. Tapi tolong istirahatlah sebentar! kalau tidak, Saya nanti yang akan diomeli oleh Tuan Marshall lagi." keluhnya pada Eva,
" Tenang Eli, tinggal sedikit lagi. Habis ini selesai Gue pasti istirahat." jawab Eva membuat Eli kembali mendengus tanda menyerah pada wanita workaholic itu.
Tak lama setelah itu HP-nya berbunyi, tertera nama Marshall di layar panggilan masuk.
"Hallo sayang? ada apa?" tanya Eva setelah mengangkat panggilan itu,
"Kau sudah makan Sayang?" tanya Marshall dari seberang sana,
"Iya Sayang, tenanglah Eli sudah memesankan makanan untukku." jawab Eva membuat Marshall terdengar mendengus pelan dari tempatnya bicara.
"Ayolah sayang, hentikan pekerjaanmu dan makanlah segera. Kalau tidak Aku akan ke kantor dan menculikmu untuk makan siang di luar!" ancam Marshall kesal karena Eva sering mengabaikan jadwal makannya saat telah asyik bekerja.
"Baiklah, Aku berhenti sekarang. Jangan khawatir, Aku akan segera makan." Eva mencoba meyakinkan suaminya itu,
"Jangan bohong, kirim fotomu segara agar aku benar- benar yakin." pungkas Marshall sebelum mengakhiri panggilannya.
"Ok Sayang, Bye..!"
Klik! suara panggilan dimatikan.
Eva segara beralih ke sofa tamu di ruangannya tepat saat Eli kembali membawa satu box makan siangnya dan sebuah paper cup berisi kopi pesanannya.
"Silakan Nyonya, makan siangnya sudah siap." Ucap Eli sambil meletakkan bungkusan di kedua tanganya,
"Terimakasih Eli, sebaiknya Kau segera laporkan pada Marhall kalau Aku sudah makan sekarang." perintah Eva kemudian,
"Aku heran, sebenarnya siapa disini yang jadi Bosmu? Aku atau Dia? kenapa Kau malah jadi mata- mata untuknya alih- alih berpihak padaku!" sungut Eva sambil menyantap makan siangnya, sementara itu, Eli hanya bisa nyengir menyadari posisinya yang serba salah.
*****
Minggu yang benar- benar sibuk, Eva menghabiskan banyak waktunya untuk mengurusi segala keperluan terkait event besar tahunan D&D fasion yang tak terasa tinggal hitungan jam itu. Sebagai orang yang perfecsionis tentu Ia tak mau melewatkan setiap detail hal yang berkaitan dengan acaranya.
"Ras, undangan sudah dipastikan terkirim semua?" tanyanya memastikan di meeting terakhir sebelum event malam ini,
" Beres bu, sudah dipastikan semua undangan VIP dan umum sudah tersampaikan semua, dan 99% sudah konfirmasi kehadiran." terang Laras
"Pep, dekorasi panggung dan lain- lain gimana?"
"Beres bos, perfect 100%?"
"Ok, kita mulai GR jam berapa? semua talent sudah Ok?!" lagi Eva terus mengecek tiap pos event dan memastikan kesiapnnya.
"Beres Bos, semua siap!"
Benar- benar rangkuman hari yang melelahkan, Eva menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Setelah memastikan semua beres dan siap untuk event nanti malam, Ia ingin beristirahat sebentar sebelum meninjau GR yang dijadwalkan mulai jam dua siang ini.
Baru saja sesaat memejamkan mata, Ia teringat belum mengabari Marshall untuk fitting di butik langganan mereka. Eva segera meraih gawainya di nakas,
Tutt!! suara dering Hp menyambungkan panggilan,
"Hallo Sayang, ada apa?" tanya suara berat dari ujung sana,
"Beb, nanti kita ketemu di butik Sesa pukul lima ya. Aku tak pulang dulu, nungguin anak- anak GR langsung meluncur ke butik. Kita ketemu disana ya!" ucap Eva mengabarkan,
"Ok!" jawab Marshall
"Makasih Beb, Bye...LoveYou!"
"Love You too.."
Klik!! telepon ditutup, Eva melirik jam dipergelangan tangannya, masih setengah jam lagi, rasanya tak mungkin jika memaksakan diri untuk istirahat. Ia memilih untuk menuju lokasi fasion show yang akan di gelar di ballroom salah satu hotel mewah di ibu kota tersebut.
Sampai di lokasi acara, Eva langsung bergabung dengan teamnya memastikan semua berjalan sesuai rencana. Perfect, Eva merasa sangat puas. Tepat pukul setengah lima sore GR untuk para model selesai, Eva bergegas menuju Butik Sesa untuk fitting gaunnya malam nanti bersama Marshall. Saat Eva sampai di butik Sesa, ternyata laki- laki bertubuh tegap itu telah samapi disana tengah menunggu kedatangannya.
Fitting selesai tepat waktu, segera Eva menuju salon favoritnya berganti untuk merias diri. Jam tujuh malam pasangan serasi itu siap berangkat ke tempat acara.
Sampai di ballroom hotel, Eva disambut oleh resepsionis dan diantar ke meja VVIP untuknya. Sesuai rundown acara malam itu, acara inti fasion show justru akan digelar di belakang setelah acara makan malam terbatas bagi tamu VVIP.
Satu meja diperuntukkan bagi dua atau tiga pasang undangan, kebetulan meja Eva menjadi satu dengan meja William dan Hellen. Eva sampai lebih dulu, Ia dan Marshall segera mengambil tempat dan duduk sambil menikmati alunan musik jazz yang melatari dinner malam itu. Tak berapa lama William datang bersama Hellen disampingnya, wanita cantik itu menatap Eva dengan tatapan tak bersahabat. Tentu, masa lalu Eva dan Will menjadi alasan ketidak sukaannya pada Eva.
William menjabat tangan Marshall lalu berpelukan, Hellen dengan terpaksa melakukan hal yang sama pada Eva, kedua pasangan serasi itu mulai menikmati dinner bersama. Sesekali Wiliam mencuri pandang ke arah Eva yang terlihat sexy dengan gaun pesta merah maroonya yang dipadu make up bold membuatnya tampil elegan yang berkelas.
Namun, ketika mendengar istrinya--Hellen--berdehem sedang memergokinya, segera pandangan itu Ia alihkan pada wanita disampingnya itu dan memaksakan senyumnya melengkung sempurna untuknya.