Sepertinya kehidupan Tn. William sangatlah tidak bahagia alias tertekan.
Melihat tingkah William yang seperti itu, Eva tersenyum kecut. Alih- alih cemburu,Ia justru mengasihani "mantan" teman dekatnya itu yang terlihat mati kutu dihadapan istrinya sendiri.
"Kasihan nasibmu Mr. Playboy" Batin Eva mencibir.
Mereka memang pernah sangat dekat, tapi itu adalah masa lalu. Baginya, William sekarang adalah sahabat yang selalu asyik dan siap dia ajak diskusi apapun dan kapanpun Eva butuh. Meskipun terkadang sikap Will membuat Eva kesal namun laki- laki itu sangatlah baik padanya.
Jadi,di sisi hatinya yang lain, ada rasa tak terima melihat perlakuan Hellen yang selama ini terkesan memandang rendah Will,sahabatnya itu.
Selesai menyantap dessertnya, Marshall meminta izin sebentar untuk pergi ke toilet. Kesempatan baik ini tak disia-siakan oleh Eva untuk sedikit memberi pelajaran pada wanita berwajah es di depannya itu. Eva tersenyum licik, tiba- tiba ...
"Ahh...." pekik Hellen, segelas anggur merah tumpah tepat di gaun mewah yang Ia kenakan,
"Ups.... sory Nyonya Hellen.... Saya tak sengaja." Ucap Eva seraya memandang ke arah Hellen dengan tatapan penyesalan yang kentara hanya dibuat- buat olehnya itu.
Kini Hellen memandang tepat ke arah Eva, mata mereka bersiroboh. Hellen sangat yakin Eva sengaja mengerjainya.
Sementara itu, William terlihat panik sedang membantu istrinya itu membersihkan gaun mewahnya yang basah.
William takut kalau Hellen hilang kendali dan mengamuk di perjamuan penting itu, akan sangat memalukan bukan,putri seorang presdir sekaligus istri CEO D&D fasion terlibat perkelahian yang akan menurunkan citra keluarga mereka.
"Tenang Sayang, kita akan membereskannya segera. Jika perlu kita ganti gaun yang lebih bagus untukmu." bujuk Will berusaha menenangkan Hellen.
Wanita itu masih menatap tajam ke arah Eva yang terlihat santai dan jelas tak menunjukkan penyesalan sedikitpun.
Beruntung Marshall segera kembali ketengah- tengah mereka. Marshall yang tak mengetahui duduk masalah terheran melihat ketiga orang di mejanya tengah berdiri saling tatap dengan tegang.
"Ada apa sayang?" tanyanya pada Eva, seraya melingkarkan tangan di pinggang ramping istrinya.
" Tak apa sayang, hanya sedikit ketidak sengajaan." terang Eva memberi alasan,
perhatian kedua pasangan itu beralih saat MC mempersilakan para tamu VVIP itu untuk segera bergabung ke dalam bellroom guna menyaksikan acara inti peragaan busana yang sebentar lagi akan dimulai.
"Baik sayang, ayo kita pergi. Acara inti segera dimulai." Ajak Eva pada Marshall, Dia melenggang lebih dulu diikuti oleh Marshall dibelakangnya meninggalkan William yang masih sibuk menenangkan istrinya.
Pasangan itu duduk di barisan kursi paling depan, tepat di samping catwalk bersama para tamu undangan VVIP lainya, menyaksikan para model berlenggak lenggok menampilkan koleksi busana terbaru dari brand mereka.
Acara berjalan sukses dan lancar, fashion show tersebut ditutup dengan menampilkan all model di atas catwalk disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin, kemudia acara dilanjut dengan penampilan hiburan dari beberapa artis ibu kota kenamaan.
Eva memutuskan untuk meninggalkan acara terlebih dahulu, kali ini ia tak berminat untuk menunggu hingga akhir acara. Rasa lelah yang bertumpuk membuat raganya menuntut untuk segera diistirahatkan. Saat Dia dan Marshall hampir keluar dari pintu utama, seseorang memanggilnya dari arah belakang.
"Eva? " suara kharismatik yang amat dikenal olehnya, Tuan Herry- Presdir D&D Fashion. Eva menghentikan langkahnya dan segera menoleh ke sumber suara. Tuan Herry berjalan ke arahnya dengan senyum puas mengembang, kemudian laki- laki blasteran Jawa- Jerman itu menyalaminya dan sang suami bergantian seraya mengucapkan selamat.
"Selamat Eva, acaramu sukses luar biasa." pujinya atas kerja keras Eva dan team.
"Terimaksih Tuan, semua kesuksesan ini atas dukungan Anda juga." balas Eva merendah.
"Aku harap kesuksesan ini akan disusul dengan meningkatnya omset penjualan kita musim ini." harap Tuan Herry,
"Tentu Tuan, kami akan kerja keras untuk itu." jawab Eva meyakinkan,
"Kau pasti bisa diandalkan! Oya Eva, Apakah Will sudah memberitahumu tentang tambahan orang baru di teammu?" tanya Tuan Herry lagi, Eva mengernyitkan dahi.
"Ehm-- sepertinya belum Tuan. Siapa kiranya yang akan menguatkan team pemasaran kita?" tanya Eva penasaran,
"Hemm, Tunggu saja. Ia akan datang ke kantor Senin lusa." jawab Tuan Herry membuat Eva makin penasaran, Bosnya itu tak pernah semabarangan merekrut orang baru di perusahaannya. Siapa kiranya orang yang beruntung itu? Bisakah mereka menjadi team solid kedepannya. Benak Eva dipenuhi dengan banyak pertanyaan.
"Kau tidak ingin menghabiskan malam hingga acara selesai?" Tanya Tuan Herry membuyarkan lamunan Eva,
"Terimakasih Tuan, mohon maaf Saya tidak bisa menunggu hingga acara selesai." pamit Eva,
"Baiklah, sampai jumpa Senin lusa. Aku harap kalian nantinya bisa bekerjasama dengan baik." kembali Tuan Herry menyampaikan harapannya,
"Semoga Tuan, sesuai dengan yang Anda harapkan. Kami permisi mohon diri Tuan." Eva segera menggandeng lengan sang suami dan kembali melangkah meninggalkan tempat pesta tersebut, meninggalkan Herry yang masih menyaksikan mereka meninggalkan ballroom dari tempatnya berdiri.
Sampai di rumahnya Eva segera menghempaskan tubuhnya di atas sofa, Ia merasa begitu kelelahan. Melihat itu Marshall hanya bisa mendengus, sudah berkali- kali Dia meminta Eva untuk berhenti dari pekerjaannya namun wanita itu menolak. Bahkan sudah beberapa hari ini Ia diabaikan oleh istrinya itu karena terlalu sibuk mempersiapkan event yang baru saja mereka hadiri tadi.
Sebagai lelaki normal tentu Ia tak bisa terlalu lama untuk menahan hasratnya, jiwanya bergejolak minta segera dituntaskan. Tanpa meminta persetujuan Eva, Marshall membawa tubuh itu ke atas ranjang mereka. Malam ini Eva harus membayar malam- malam kemarin saat wanita cantik itu tega mengabaikannya.
"Aww... Sayang, Aku lelah!" Protes Eva saat tangan kekar itu membopong tubuhnya ke dalam kamar mereka di lantai dua.
"Jangan mengujiku Eva, Kau tau Aku bisa mati jika terlalu lama menahan semua ini!" sanggah Marshall sambil terus membawa istrinya menuju peraduan.
Sampai di kamar luas nan mewah itu, Marshall segera melempar tubuh Eva ke atas ranjang dan langsung menindihnya. Lelaki itu sudah tak bisa menahan diri lagi. Dengan buas Marshall mencumbui setiap inci tubuh Eva membuat wanita cantik itu melengguh ikut terbakar permainan panas sang suami.
Marshall memaksa masuk ke dalam bibir tipis istrinya, memberikan isapan panas pada lidah Eva. Benar- benar cumbuan yang membangkitkan gairah, Eva yang semula menolak ikut hanyut dan menikmati permainan panas tersebut.
Puas mencumbui area atas, Marshall menggeser posisinya beringsut di atas tubuh Eva dan bermain diarea leher dan d**a yang menantang itu. Ia tak segan meninggalkan banyak tanda kepemilikan disana, seolah menegaskan Dialah yang berkuasa atas tubuh molek Eva.
Tak hanya bibir dan lidahnya yang bermain- main, jari dan tangan Marshall tak dibiarkan menganggur. Tangan besar dan kekar itu sangat pandai memberikan sentuhan- sentuhan sensasional tepat dibagian- bagian sensitif milik Eva. Membuat wanita itu mengelijang nikmat hingga memohon padanya untuk segera dituntaskan.
"Cepat sayang...Ahhh...Aak--kuu tak taa--hann laa--giii--"legguhnya memohon, miliknya benar- benar telah basah oleh cairan miliknya, menandakan siap untuk mendapat perlakuan lebih.
Marshall tersenyum puas, melihat wanita di bawah kungkungannya itu menggeliat makin tak sabar. Marshall bangun dari tubuh Eva, melepas kemeja yang masih membungkus d**a bidangnya itu lalu membuangnya asal. Kemudian Ia melucuti sisa kain yang masih menempel di tubuh mulus istrinya hingga tak bersisa.
Kini Ia sudah kembali menggagahi tubuh ramping itu, bersiap memulai penyatuan,
"Ahhh...." Eva mengeratkan cengkraman tangannya saat milik Marshall berlahan masuk ke liang surganya, Marshall mulai memompa dengan irama pelan, membiarkan Eva menikmati setiap momen penyatuan itu.
Semakin lama semakin cepat seiring dorongan pelepasan yang Ia rasakan, hingga akhirnya keduanya menemukan puncak kenikmatan bersamaan.
"Arggghhhhh......"