Raja Jung menatap sosok pria tua didepannya, yang membungkuk bersama sang isteri yang berdiri disisinya. Keinginannya untuk berkunjung kerumah Perdana Menteri hari ini memang telah terwujud, namun sepasang mata tajam miliknya belum juga menemukan keberadaan sosok cantik yang ingin dilihatnya.
“Duduklah.” suara beratnya mengalun ditengah ruangan. Ill Woo membiarkan seorang pelayan memenuhi meja didepannya dengan suguhan-suguhan yang ia yakini dipersiapkan dengan kualitas terbaik.
“Yang Mulia, jika hamba boleh tahu ada kehendak apa Yang Mulia sampai berkunjung ke kediaman hamba yang kumuh ini.”
Perdana Menteri Kim melirik sekilas isterinya yang menunduk kecil. Kemudian kembali menatap sosok pria muda yang telah menjadi penguasa Kerajaan Silla saat dirinya berusia delapan belas tahun.
Dalam hatinya, ia memikirkan jika Yang Mulia Jung berkunjung karena saran yang ia berikan beberapa waktu lalu dipertemuan sebelumnya..
“Aku mendengar kabar jika kau mengangkat seorang putri. Aku baru mendengar kabar ini, jadi aku ingin melihatnya. Apa kau akan mengijinkannya, Perdana Menteri Kim?”
Perdana Menteri melebarkan kedua matanya, nampak isterinya pun terkejut hingga tubuh wanita yang mendampinginya selama bertahun-tahun itu gemetar kecil. Ia bisa mengerti tentang ketakutan yang dialami isterinya saat ini.
“Yang Mulia, dari mana anda mendengar kabar itu?” tanya Perdana Menteri Kim dengan nada ragu. Takut jika putrinya itu melakukan kenakalan diluar rumah hingga terdengar ditelinga sang Raja. Namun, jika putrinya melakukan kenakalan ataupun sebuah masalah, dirinya pasti orang pertama yang mendengarnya.
“Aku ingin bertemu dengannya sekarang juga, minta dia untuk menemuiku..”
Kim Jiyeon melirik suaminya dengan keringat yang muncul dipelipisnya. Ketakutan akan apa yang terjadi pada putri cantiknya membuat kedua tangannya tanpa sadar menggenggam erat jemari sang suami.
Perdana Menteri Kim menyadari kekhawatiran isterinya, karena itu ia segera meminta seorang pelayan untuk memanggil Taehee, sebelum Yang Mulia Jung berubah suasana hatinya.
“Yang Mulia, anda belum menjawab pertanyaan hamba.”
Raja Jung tertawa kecil melihat gurat ketakutan dari sepasang suami isteri yang duduk didepannya. Kedua mata musangnya menangkap sosok gadis berparas cantik yang memakai hanfu berwarna hitam berjalan mendekat kearah mereka. Gadis itu terlihat menawan dan semakin membuat hatinya tertarik.
“Aku hanya penasaran padanya.”
Perdana Menteri Kim tak sempat untuk berucap lebih ketika putrinya melakukan salam hormat pada Yang Mulia Raja.
“Salam Hormatku untuk Yang Mulia Raja Jung.” Taehee didepan d**a sementara kepalanya sedikit menunduk. “Hamba adalah putri dari Perdana Menteri Kim.”
“Bangunlah.” ujar Yang Mulia Jung, dengan kedua mata tajam yang mengikuti setiap gerakan gadis cantik didepannya. “Angkat kepalamu, dan tatap aku. Jangan menundukkan kepalamu.”
Taehee yang duduk tepat disebelah ibunya berjengit kecil, melirik kedua orang tuanya, mereka mengangguk kecil. Sejenak ia menghela nafas untuk meredam ketakutan diwajah cantiknya.Niatan untuk mengambil perhatian Yang Mulia Raja dengan penampilannya yang mempesona hilang sudah berganti dengan ketakutan yang menjalari hatinya. Ia tidak menyangka jika penguasan kerajaan ini memiliki aura d******i yang kuat.
Mendongak, kedua mata bulatnya bersirobok dengan sepasang mata tajam yang juga tengah memandangnya tanpa kedip. Berkedip, Taehee merasa dirinya salah lihat—karena beberapa detik lalu, ia melihat seringai kecil dibibir pria tampan itu.
“Siapa namamu?”
Taehee merasa ragu, namun ketika mengingat nasehat ayahnya agar tidak mempermalukan keluarga, karena itu ia membuka suaranya kembali.
“Nama hamba, Kim Taehee.”
Yang Mulia Jung mengangguk kecil, melirik sekilas sepasang suami isteri didepannya yang terlihat enggan bersuara. Mungkin keduanya takut sang putri melakukan kesalahan hingga menyinggung hatinya.
“Perdana Menteri kim.”
Perdana Menteri Kim mendongak, menatap pria muda yang menjadi junjungan seluruh kerajaan. “Ya, Yang Mulia.”
“Bukankah kau memberiku saran agar mencari seorang selir dari luar Istana agar aku merasa lebih baik.”
Tiba-tiba perasaan Perdana Menteri Kim gelisah dengan kalimat yang diutarakan sang Raja. Melirik isterinya, wanita itu pun terlihat gelisah. Apa mungkin yang diinginkan sang Raja adalah apa yang dipikirkannya saat ini.
“Ya, kau benar. Apa yang kau pikirkan saat ini adalah apa yang aku inginkan.” sahut Yang Mulia Jung dengan suara lantang. “Aku menginginkan putrimu sebagai selirku, Perdana Menteri.”
Taehee terkejut, refleks mendongak untuk manatap sang Raja yang meliriknya sekilas. Menoleh pada kedua orang tuanya, sepasang suami isteri itu terlihat terkejut terutama sang ibu. Dalam hatinya, ia tidak menyangka jika akan secepat ini bisa menarik perhatian pria itu.
“Yang Mulia, mohon ampuni hambamu ini. Namun, apa yang hamba sarankan bukanlah putri hamba.”
“Aku tahu hal itu.” ujar Yang Mulia Jung dengan nada datar, “Kau memintaku untuk mengambil seorang selir dari luar istana, dan kedua mataku jatuh pada putri angkatmu.”
Menatap Taehee, gadis itu tampak semakin menundukkan kepalanya. Membuatnya tertawa dalam hati. “Apa kau bersedia Kim Taehee.”
Taehee bergerak kecil ditempatnya tanpa berani mendongak untuk menatap pria tampan didepannya. Ia hanya melirik kedua orang tuanya yang terlihat memikirkan sesuatu.
Hening melanda. Yang Mulia Jung menunggu dengan sabar ketiga orang didepannya yang terlihat diam. Raja Jung Ill Woo tidak bisa untuk tidak tertawa dalam hati melihat reaksi ketiga orang didepannya.
“Jadi, Perdana Menteri Kim. Apa jawabanmu?”
Menghela nafas, Perdana Menteri Kim melirik sekilas putri angkatnya. Bagaimana bisa dirinya menyerahkan Taehee pada Yang Mulia Jung. Ia tidak mau, putrinya menderita didalam istana yang penuh dengan bahaya.
“Yang Mulia, ijinkan hamba meminta waktu untuk berfikir tentang hal ini.” ujar Perdana Menteri Kim. Ia tidak mungkin gegabah mengambil keputusan besar dalam beberapa menit.
Kehidupan putrinya menjadi taruhannya, dan ia terlanjur menyayangi putri angkatnya itu seperti putri kandungnya sendiri. Mana mungkin ia melepaskan Taehee begitu saja.
Tiga tahun, waktu yang cukup singkat mengenal Taehee, dan gadis cantik itu semakin membuatnya menguras kasih sayang hanya untuknya, melebihi kasih sayangnya pada sembilan putranya yang lain.
Yang Mulia Raja mengangguk paham. Menyadari jika dirinya terlalu terburu-buru untuk meminta sebuah keputusan. “Baiklah, aku memberimu waktu tiga hari untuk berfikir. Tidak lebih, karena aku tidak bisa menunggu lama.”
“Komapseumnida, Yang Mulia..”
***
Ibu Suri segera memasuki kediaman Perdana Menteri Kim setelah sang putra—Yang Mulia Jung meninggalkan kediaman Perdana Menteri. Ia telah mendengar semua pembicaraan itu tanpa sengaja, dan tentunya hal itu membuatnya sedikit penasaran.
Putranya—Jung Ill Woo, bukan orang yang mudah peduli dengan seseorang, bahkan pada isteri sahnya sendiri, Kwon Boa selaku permaisuri Kerajaan Silla.
“Ibu Suri!”
Perdana Menteri Kim yang terkejut dengan kedatangan ibu dari kerajaan Silla ini membungkuk hormat bersama sang isteri yang membungkuk dibelakangnya.
Sedangkan Taehee menatap polos wanita tua didepannya yang berdiri diambang pintu dengan beberapa pelayan disisinya. Gadis berparas cantik itu masih menatap bingung wanita itu sampai Ibu Suri mendudukkan dirinya.
“Apakah kau putri dari Perdana Menteri Kim yang diinginkan putraku?” tanya Ibu Suri seraya memperhatikan setiap lekuk tubuh gadis berparas menawan yang mencuri perhatian putranya.
Indah.. cantik.. dan menawan adalah tiga kata yang ia ucapkan dalam hati setelah memperhatikan gadis yang berdiri tak jauh darinya.
“Dia adalah putri angkat hamba Ibu Suri.” Perdana Menteri Kim yang menjawab tanya dari wanita tua didepannya, karena Taehee sepertinya masih terkejut dengan situasi yang dihadapinya. “Taehee, beri salam pada Yang Mulia Ibu Suri.”
Gadis cantik itu terkesiap, segera berdiri didepan Ibu Suri, dan melakukan salam hormat. “Taehee memberi salam pada Ibu Suri.”
“Kembalilah kekamarmu, karena aku ingin berbicara dengan kedua orang tuamu.”
Taehee segera mengangguk dan mohon undur diri. Dirinya merasa lega karena wanita itu memintanya untuk kembali kekamarnya. Jika tidak mungkin ia akan terjatuh secara tidak elit dihadapan wanita itu.
“Benar-benar menakutkan.” gumamnya lirih dengan wajah cantik yang memucat.
Sepeninggal Taehee, Ibu Suri memfokuskan pandangan pada kedua suami isteri didepannya. Mengulas sebuah senyum tipis pada Kim Jiyeon yang terlihat cantik diusianya yang tak lagi muda.
“Aku telah mendengar semuanya. Pembicaraan kalian dengan Yang Mulia Yunho, dan aku ingin kalian menerima pinangannya untuk putri kalian.”
Melihat keterkejutan kedua orang didepannya, Ibu Suri kembali mengulum senyum. “Kalian tenanglah, aku tahu apa yang kalian khawatirkan. Karena itu aku berjanji akan melindungi putri kalian saat dia memasuki istana nantinya.”
“Ibu Suri, kami hanya khawatir akan keselamatan putri kami jika dia memasuki Istana.” sahut Perdana Menteri dengan nada cemas. “Anda tahu bagaimana kekuasaan Permaisuri Kwon saat ini, dan putri kami tidak mempunyai pengalaman untuk itu. dia masih terlalu polos untuk ikut dalam permasalahan di Istana.”
Menghela nafas, Ibu Suri memahami ketakutan Perdana Menteri Kim terhadap putrinya. Ia mengetahui dengan jelas jika Taehee diangkat sebagai putrinya tiga tahun yang lalu—dalam keadaan tak sehat.
“Karena itu, aku menjanjikan keamanan untuknya. Aku sendiri yang akan menjaganya di Istana.” ujar Ibu Suri, kembali menyuarakan pendapatnya. “Pikirkanlah, dengan putrimu menjadi selir yang dipilih oleh Yang Mulia Raja sendiri, itu berarti dia memiliki tempat dihati Yang Mulia Raja dan kita bisa menekan kekuasaan pejabat Kwon. Bukankah itu yang kau inginkan Perdana Menteri?”
Memang apa yang dikatakan Ibu Suri ada benarnya. Dengan Taehee menjadi selir Istana, ia bisa menekan kekuasaan Pejabat kwon. Apalagi, putrinya dipilih sendiri oleh Yang Mulia Jung. Bukankah itu berarti putrinya dianggap istimewa—karena dapat menarik perhatian Yang Mulia Jung. Karena yang selama Perdana Menteri Kim ketahui, semua selir milik Yang Mulia, dan bahkan Permaisuri Boa sekalipun tidak pernah bisa menarik minat sang Raja.
“Akan hamba pikirkan Ibu Suri. Hamba telah meminta waktu, dan Yang Mulia Jung untuk memberikan waktu selama tiga hari untuk berfikir. Selama itu, hamba akan mencari keputusan yang terbaik.”
Ibu Suri mengangguk puas. Tidak salah dirinya memilih Kim Hangeng sebagai seorang Perdana Menteri, karena pejabat didepannya ini benar-benar bersih. Bahkan menolak dengan halus ketika ia menawarkan diri untuk berbesanan.
Pria didepannya ini lebih memilih kebahagiaan para putranya untuk menikah dengan gadis pilihannya, tanpa memaksakan kehendak. Tidak peduli, gadis itu dari kasta ataupun keluarga manapun, asalkan gadis itu dapat menjadi pasangan dan seorang isteri yang baik bagi para putranya.
“Baiklah, aku menunggu kabar baik darimu Perdana Menteri Kim.” ujar Ibu Suri penuh harap, “Aku berharap, kau mau membantu kerajaan ini dengan mengijinkan Yang Mulia Jung meminang putrimu.”
TO BE CONTINUED..