Wanita cantik yang menjabat sebagai Permaisuri kerajaan Silla itu mendengus lirih. Menatap ayahnya yang menyampaikan sebuah kabar tak menyenangkan untuknya—tentang selir baru yang akan dipilih oleh suaminya, Yang Mulia Raja Jung.
“Lalu, apa yang harus kulakukan aboeji?”
Pejabat Kwon menatap putrinya sekilas. Yang menampakkan ekspresi khawatir, karena ia tahu Yang Mulia Jung sangat jarang berkunjung ke Istana Mawar—tempat kediaman putrinya sebagai pendamping sah sang Raja.
“Jangan lakukan apapun, untuk saat ini Yang Mulia.” sahut Pejabat Kwon dengan nada kalem. Ia tidak mungkin melakukan tindakan terburu-buru, apalagi berhadapan dengan seorang Kim Hangeng. “Kau hanya perlu memperhatikan gerak-gerik semua orang saat ini.”
Walaupun sebagai seorang Perdana Menteri pria itu selalu menuruti apa yang dikatakan Yang Mulia Jung, Perdana Menteri Kim selalu menyimpan sesuatu untuk dirinya sendiri yang terkadang sangat mengejutkan semua orang.
“Apa maksud aboeji tidak melakukan apapun?” ujar Permaisuri Boa geram. Sudah cukup dirinya mentolerir Yang Mulia Jung saat pria itu menerima beberapa selir wanita dan juga selir Lelaki. “Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, aboeji.”
“Bersabarlah!” hardik Pejabat Kwon pada putrinya yang tengah emosi, “Daripada kau meributkan tentang selir baru itiu, lebih baik kau berusaha agar segera memberi Yang Mulia Jung seorang keturunan. Itu adalah satu-satunya cara agar posisimu tidak tersingkir.”
Permaisuri Kwon mengepalkan kedua tangannya erat. Dengan kedua mata lentik yang merebak merah. Ayahnya hanya tidak tahu jika Yang Mulia Jung bahkan tidak pernah lagi mengunjungi kediamannya. Pria itu lebih memilih Selir Yoon Hye yang masuk Istana beberapa bulan yang lalu. Jadi bagaimana dia bisa memberi suaminya seorang putra jika pria itu tidak pernah menyentuhnya. Ia juga tidak bisa memaksa pria itu untuk bermalam di istananya, karena hal itu akan membuat pria itu semakin menjauh darinya, dan ia tidak menginginkan hal itu terjadi.
“Siapa? Siapa calon selir baru itu? apa aboeji mengetahui tentang hal itu?” tanya Permaisuri Boa dengan helaan nafas dalam. Berusaha untuk menakan kembali emosinya yang membumbung tinggi. Sejak dulu, ia diharuskan merasa iri dengan para selir yang mendapatkan perhatian lebih dari suaminya karena itu ia cukup sering membuat beberapa selir yang memiliki kesempatan mencuri tahtanya tersingkir dari istana kerajaan.
“Kim Taehee, putri dari Perdana Menteri Kim.”
“Mwora...” desis Permaisuri Kwon, mengingat jika Perdana Menteri Kim tidak memiliki seorang putri. Pejabat itu hanya memiliki sembilan orang putra yang kesemuanya menolak untuk menjadi pejabat Istana beberapa tahun lalu. “Bukankah Perdana Menteri selama ini tidak memiliki putri? Bagaimana bisa?”
Pejabat Kwon mendengus geli. Mengingat jika saingannya itu mengangkat seorang gadis tanpa asal usul yang jelas sebagai putrinya. “Perdana Menteri Kim mengangkat seorang anak tiga tahun yang lalu.”
“Seorang anak angkat?” tanya Permaisuri Kwon dengan kedua alis menyatu. Lalu terkekeh kemudian saat menyadari jika selir itu bahkan tidak akan sebanding dengan dirinya, “Bagaimana bisa seorang anak angkat, yang asal usulnya dipertimbangkan menjadi selir dari Yang Mulia Jung.”
“Kenapa tidak?” Pejabat Kwon memberi tatapan tajam putrinya, “Jika Yang Mulia Jung sendiri yang menunjukknya, itu bahkan lebih mengerikan dengan kenyataan dia hanya seorang anak angkat keluarga Perdana Menteri. Kau tahu apa yang kumaksudkan, bukan?”
Permaisuri Kwon terdiam. Apa yang dikatakan ayahnya memanglah benar. Jika Yang Mulia Jung sendiri yang memilih selir itu, bukankah pria itu memiliki ketertarikan pada selir baru itu. Dan itu akan menyulitkannya untuk melenyapkan selir itu seperti yang selama ini ia lakukan pada beberapa selir.
“Aku mengerti, aboeji. Jangan khawatirkan tentang hal itu, percayalah, aku bisa mengatasi selir baru itu nantinya.” gumam permaisuri Boa dengan seringai kecil, “Lagipula, aku yakin gadis itu tidak akan bertahan lama di istana yang penuh dengan persaingan ini.”
“Bagus. Aku ingin kau mempertahankan posisimu sebaik mungkin agar posisi kita dikerajaan ini tidak tergoyahkan.”
***
Taehee mengerjabkan kedua mata bulatnya sejenak. Menatap kelambu transparan yang menaungi dirinya. Mengingat beberapa waktu yang lalu, kedua orang tua angkatnya memintanya untuk mempertimbangkan apa yang diinginkan Yang Mulia Jung—menjadikannya seorang selir.
Ini jauh dari yang Taehee bayangkan. Bagaimana bisa pria tampan itu semudah itu menjadikannya seorang selir Istana. Aishh! Apa memang semua Raja didunia ini suka sekali memiliki banyak selir. Taehee mengerucutkan bibirnya lucu, dalam pikirannya sudah ada nilai negative pada pria itu.
FLASHBACK ON...
Taehee menatap suami isteri didepannya, yang memasang ekspresi sendu namun juga penuh harap. Taehee tertawa dalam hati, hidup bersama keluarga ini, membuatnya mengerti jika keluarga Perdana Menteri Kim memang benar-benar tulus menyayanginya.Tidak seperti drama-drama yang ia lihat pada dunianya dulu, yang memperlihatkan sebuah kasih sayang palsu walau untuk keluarga mereka sendiri.
“Aboeji..eommoni.. kalian tidak perlu sungkan padaku.” ujar Taehee mengawali kalimat, “Jika kalian menginginkanku untuk memasuki Istana sebagai selir Yang Mulia Jung, aku akan melakukannya. Sebagai tanda bakti seorang anak pada kedua orang tuanya. Kalian, selama ini sudah memberiku keluarga dan juga kasih sayang sebagai orang tua, karena itu ini adalah balas budiku untuk kalian.”
“Taehee.. semua yang kami berikan padamu tidak perlu kau balas dengan kehidupanmu, nak.” sahut nyonya Kim seraya menggenggam kedua tangan sang putri. Terasa kecil dan kurus dalam genggaman tangannya. “Kami mengangkatmu sebagai anak, karena kamui ingin. Dan itu tanpa paksaan.”
Menatap ibunya, Taehee tahu wanita didepannya ini memiliki hati yang lembut. “Karena itu aku akan menerima pinangan Yang Mulia Jung.”
“Kau serius, nak?” tanya Perdana Menteri Kim dengan wajah kalut. Ia tidak ingin putrinya memasuki Istana, namun hanya dengan itu juga mereka bisa membuat kekuasan Pejabat Kwon sedikit berkurang. “Kehidupan Istana tidaklah muda.”
“Karena itu aboeji, sebelum aku menerima pinangan Yang Mulia Jung. Aku ingin berbicara padanya sendiri nantinya.”
Menghela nafas, Perdana Menteri Kim akhirnya mengangguk menyetujui. Putrinya ini sangat keras kepala, akan sulit membujuknya jika sudah memiliki keinginan.
“Baiklah, nak. Aku akan membantumu untuk hal itu.”
FLASBACK OFF
Pada akhirnya Taehee terlelap dalam tidurnya setelah memikirkan beberapa hal tentang bagaimana dirinya harus menghadapi Raja dari kerajaan besar Silla.
Jika beruntung Taehee akan menjadi selir yang bisa mengendalikan Yang Mulia Raja Jung, yang selama ini dikabarkan memiliki hati sekeras batu. Dan jika keberuntungan belum berada dipihaknya, dirinya hanya akan menjadi boneka untuk menyingkirkan Pejabat Kwon.
‘Terserahlah. Yang penting punya uang banyak.. hahaha...’
***
Yang Mulia Jung menatap ibunya yang duduk dihadapannya dengan tatapan geli. Hatinya mengumpat karena lengah dengan sekitarnya. Tidak menyangka jika sang ibu akan mengetahui niatnya.
“Jadi.. putraku.. bisa kau katakan pada ibumu yang tua ini niatmu sebenarnya?” nada menggoda itu terdengar menyebalkan ditelingan sang putra.
Yang Mulia Jung berdecak kecil sebelum menjawab pertanyaan Ibu Suri. Pria itu menatap ibunya dengan tatapan lembut, “Aku tidak memiliki niat apapun eommoni. Hanya menuruti kemauan Perdana Menteri Kim.”
“Dengan memilih putri angkatnya sebagai selirmu?”
“Itu hanyalah sebuah kebetulan.” elak Yang Mulia Jung dengan tangan dikibaskan beberapa kali, “Perdana Menteri memintaku untuk memilih selir sendiri, dan kedua mataku memilih putri Perdana Menteri Kim. Kurasa gadis itu cukup layak untuk ku jadikan seorang selir.”
Alis Ibu Suri naik saat mendengar nada gugup putranya. Ia tertawa kecil, karena baru kali ini melihat kegugupan sang putra—setelah bertahun-tahun melihat kegugupan putranya didepan ayahnya sendiri, Raja terdahulu.
“Apa Yang Mulia tertarik dengan putri Perdana Menteri Kim itu? Aku sudah melihatnya, dan aku mengakui jika Taehee adalah gadis tercantik yang pernah aku lihat selama ini dibandingkan dua selirmu yang lain.”
Melihat wajah tampan putranya yang menampilkan semu merah dikedua pipinya, Ibu Suri tidak bisa untuk tidak tertawa. ini adalah pertama kali dalam hidupnya melihat sang putra tersipu malu.
“Jangan sungkan. Kau sudah dewasa Yang Mulia. Dapat memilah mana yang baik dan yang buruk untuk dirimu. Jika menurutmu Kim Taehee memang pantas mendapatkan perhatianmu, lakukan yang terbaik agar dia mau bertahan disisimu. Jika tidak, biarkan dia di Istana ini untuk membantu kita untuk melawan Pejabat Kwon.”
Yang Mulia Jung menghela nafasnya dalam. Berbicara dengan wanita didepannya, ia tidak akan mampu untuk membohonginya. “Aku mengerti eommoni. Aku akan memikirkannya baik-baik sebelum mengambil keputusan. Lagipula, belum tentu gadis itu juga menyetujui pinanganku ini.”
“Aku akan mendukung apapun keputusanmu Yang Mulia.” ujar Ibu Suri dengan senyum lembut. “Tapi, aku tetap berharap kabar baik darimu dan juga Perdana Menteri Kim.”
“Apa eommoniberkunjung ke kediaman Perdana Menteri Kim?” tanya Yang Mulia Jung dengan sepasang mata tajamnya yang menyipit. Melihat wajah cerah ibunya, pria itu mau tak mau menggelengkan kepalanya perlahan. “Jangan terlalu sering keluar Istana, kesehatan eommoni jauh lebih penting.”
“Aku mengerti Yang Mulia. Hanya saja, aku tidak bisa menahan rasa penasaranku untuk menemui Kim Taehee ini. Dan aku tidak merasa menyesal sama sekali. Dia benar-benar diluar ekspetasiku.”
“Maksud eommoni?”
“Dia cantik tentu saja.” sahut Ibu Suri dengan tawa pelan. “Dan, jika aku melihat sekilas, putri Perdana Menteri itu bukanlah orang yang muda dibodohi.”
“Ya.. aku mengerti tentang hal itu.”
***
Hari ketiga setelah telah berlalu, dan Taehee dengan resah menunggu kedatangan sang Raja. Pria tampan itu memberitahu jika dirinya lah yang akan mendatanginya.
Disampingnya, pelayan setianya, Taeyon sedang sibuk menata surai hitam panjangnya yang diikat setengahnya dengan sebuah pita berwarna putih. Tubuh rampingnya berbalut dengan sebuah hanfu berwarna merah jambu.
Membuat kulit putihnya semakin terlihat indah untuk dipandang. Taehee mendesah pelan saat melihat wajahnya yang terlihat sedikit pucat. Ia terkena demam ringan, entah karena apa, ia sendiri pun tak tahu tentang hal itu.Namun, semenjak dirinya berada didunia ini, seolah imunitasnya turun secara drastis. Dan Taehee berfikir itu karena keadaan dunia ini berbeda dengan dunianya terdahulu.
“Nona muda, tubuh anda sedikit hangat. Apa tidak apa-apa menemui Yang Mulia Jung dalam keadaan seperti ini?”
Taehee mengangguk kecil, melihat Taeyon dari cermin bulat yang berada didepannya. “Aku baik-baik saja. Karena itu, jangan katakan pada siapapun tentang keadaanku. Bahkan kepada kedua orang tuaku. Apa kau paham, Taeyon.”
Gadis manis itu mengangguk pelan, menuruti permintaan nona mudanya. Ia membenahi sedikit surai hitam panjang itu sekali lagi. Nona mudanya terlihat indah dengan hanfu yang dipakainya. “Aku mengerti nona.”
“Nona muda, Yang Mulia Raja sudah tiba.”
Sebuah suara dari seorang pelayan terdengar pelan. Taehee mengangguk seraya berucap dengan pelan. “Baiklah.. aku mengerti. Kajja Taeyon ah..”
Taehee berjalan keluar kamar. Berjalan dengan anggun, melewati beberapa lorong untuk sampai keruang tamu. Kedua matanya mendapati Yang Mulia Jung yang telah duduk bersila dengan kedua orang tuanya menemani.
“Salam hormat untuk Yang Mulia Jung.” ujar Taehee dengan nada lembut, memberi salam hormat pada Yang Mulia Jung yang mengangguk kecil. Pria itu memakai sebuah hanfu hanfu berwarna hitam dengan sulaman benang emas. Membuatnya terlihat tampan dan kokoh dari sebelumnya.
“Duduklah.”
Taehee menurut. Duduk didepan Yang Mulia Jung dengan gerakan anggun yang membuat pria tampan didepannya mengulum senyum.
“Jadi apa keputusanmu?” tanya Yang Mulia Jung langsung pada inti permasalahan, karena ia bukan orang yang suka bertele-tele. Ia sedikit penasaran, karena sebelum ini Perdana Menteri mengatakan jika Taehee sendirilah yang akan memberikan jawaban padanya.
Menunduk, Taehee mengutarakan maksudnya pada pria didepannya. “Yang Mulia, sebelum hamba memberi jawaban untuk anda. Bisakah hamba mengajukan beberapa pertanyaan? Hamba harap anda mau menjawabnya dengan jujur dan sepenuh hati.”
Alis Yang Mulia Jung menyatu mendengar itu, namun sedetik kemudian bibir tipisnya mengulas sebuah senyum lembut, “Katakan. Aku akan menjawab pertanyaanmu yang sekiranya tak melanggar batas.”
Bibir merah gadis cantik itu mengulas sebuah senyum tipis. Mendongak, ia memberanikan diri untuk menatap sepasang mata tajam didepannya. “Berapa banyak selir Yang Mulia saat ini?”
Perdana Menteri Kim hampir saja berteriak jika saja tidak melihat tangan Yang Mulia Jung yang terangkat untuk menghentikannya. Pria itu tersenyum tipis pada keberanian gadis cantik didepannya.
“Aku memiliki tiga orang selir utama, dan sisanya aku tidak mengetahuinya karena aku jarang mengunjungi mereka. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa menghitung jumlah mereka.”
Taehee mengangguk kecil. Ia harus memiliki informasi yang penting sebelum memutuskan sesuatu. “Anda sudah memiliki beberapa orang selir dan juga seorang Permaisuri disisi anda. Lalu, apa gunanya hamba jika anda telah memiliki banyak wanita disisi anda? Bukankah aku sama saja dengan selir lain nantinya, yang hanya akan menemani malam anda beberapa kali sebelum anda melupakan hambamu yang rendah ini?”
Yang Mulia Jung hampir saja tertawa lepas jika tidak menyadari dimana dirinya berada. Melirik Perdana Menteri Kim, pria tua itu bahkan mendelik pada putrinya karena keberaniannya.
“Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?” tanyanya dengan nada menggoda. Memang benar apa yang dikatakan ibunya, gadis ini memang lain dari beberapa wanita yang pernah ia kenal dan juga beberapa selirnya.
“Ya, Yang Mulia. Hamba ingin sebuah jawaban yang jujur, setelah itu aku akan memberikan jawaban untuk anda.”
“Jadi.. jawabanku adalah penentu jawabanmu nantinya?”
“Ya, yang Mulia..”
TO BE CONTINUED..