Hujan turun dengan deras malam itu ketika Mei Lin tiba di gerbang istana.
Roda kereta menjerit di atas batu basah, pelan-pelan berhenti di bawah lentera merah yang berayun-ayun ditiup angin. Kuda-kuda menghela napas berat, uap putih keluar dari moncong mereka, bercampur dengan udara dingin yang menusuk tulang. Di luar, langit bergemuruh — petir membelah malam dengan kilat sesaat, lalu padam, menyisakan sunyi yang lebih menekan dari sebelumnya.
Mei Lin menarik napas dalam-dalam. Aroma hujan basah, daun pinus yang tergenang, dan asap dupa dari arah dalam istana — semua bercampur, mengingatkannya pada sesuatu yang ia tidak yakin: rumah, atau kuburan.
Tirai sutera kereta tersibak. Wajah seorang pengawal istana muncul, basah kuyup, helmnya menetes-netes air ke bahu. Matanya tidak menatap Mei Lin langsung — etika kerajaan melarang pelayan menatap wajah seorang pengantin.
"Cepat masuk, Tuan Putri sedang menunggu," katanya, suara serak ditiup angin. "Permaisuri Ibu Suri juga. Kalian terlambat tujuh ketukan."
Tujuh ketukan. Hampir setengah jam. Mei Lin tahu apa artinya itu di istana — pelanggaran protokol pertama, dan ia bahkan belum melangkah keluar dari kereta.
Ia mengulurkan tangan. Pengawal menyangganya — tetap tanpa menatap — dan Mei Lin turun ke atas batu yang dingin dan licin. Sandal sutera putihnya langsung basah, membuat ujung jubah pengantin merahnya terseret di kubangan air. Emas yang disulam di tepinya — yang katanya pekerjaan tiga puluh penjahit selama tujuh hari tujuh malam — sekarang ternoda lumpur.
Tidak ada yang akan menjawab kalau ia menangis sekarang. Maka ia tidak menangis.
***
Tiga hari lalu, Mei Lin tidak tahu ia akan ada di sini.
Tiga hari lalu, ia masih duduk di kebun teh keluarganya di Lembah Yang. Membuat puisi pendek tentang awan, sebagaimana yang ia lakukan setiap pagi sejak umur dua belas. Adiknya — Mei Hua, sembilan tahun — bermain di sebelahnya, memetik bunga lalu meletakkannya di atas tinta yang masih basah. "Lebih cantik begini, Kak."
Lalu utusan istana datang.
Bukan utusan biasa. Tiga ekor kuda hitam, semuanya bersarung emas. Di atasnya tiga prajurit berpakaian seragam Kerajaan Tan — merah dengan naga emas di dada. Mereka tidak turun dari kuda. Salah satu hanya melempar gulungan kertas ke tangan ayah Mei Lin.
Ayahnya membuka. Membaca. Wajahnya — yang tujuh tahun terakhir hampir tidak pernah pucat sejak kematian ibu — menjadi pucat seperti tepung beras.
"Apa, Yah?" Mei Lin bertanya, meletakkan kuasnya.
Ayahnya tidak menjawab langsung. Ia melipat gulungan itu dengan tangan yang gemetar, seperti orang yang lupa cara menutup buku, lalu menatap kebun teh — tempat di mana ia membesarkan tiga anak, di mana istrinya pertama kali batuk darah, di mana semuanya pernah baik-baik saja.
"Mei Lin," akhirnya ia berkata. Suaranya pelan, tetapi seperti besi yang patah. "Kakakmu, Lan Yi. Ia... ia tidak akan menikahi Pangeran Liang."
Mei Lin menutup mulutnya dengan tangan. Pernikahan itu — pernikahan adat lama, dijodohkan oleh kakek-kakek, ditandatangani delapan tahun lalu ketika Lan Yi masih dua belas dan Pangeran Liang masih tujuh belas — adalah satu-satunya hal yang bertahun-tahun didoakan keluarga mereka untuk tidak terjadi.
Tetapi sekarang, hari pernikahan itu — yang ditetapkan kerajaan tujuh hari yang lalu — sudah datang.
"Apa yang terjadi pada Kak Lan Yi?"
Ayahnya menutup matanya. Menarik napas tiga kali. Ketika ia membuka mata kembali, Mei Lin melihat sesuatu yang ia tidak pernah lihat di mata ayahnya: pengakuan kekalahan.
"Lan Yi kabur tadi malam. Bersama Jenderal muda Bai Heng yang setahun ini ia diam-diam... mencintai. Mereka sekarang sudah di luar perbatasan. Kuda paling cepat pun tidak akan menyusul."
Mei Lin tidak ingat berapa lama ia tetap diam.
Ia ingat: tangannya yang dingin di pipinya. Ayahnya yang berlutut — pria berumur lima puluh enam tahun, yang seumur hidupnya tidak pernah berlutut bahkan kepada raja — berlutut di hadapan putrinya yang ketujuh belas tahun.
"Mei Lin. Ayah tahu ini tidak adil. Tetapi kalau Pangeran Liang tiba di sini dan tidak ada pengantin... seluruh keluarga kita akan dihukum mati. Adikmu Mei Hua. Pamanmu, bibimu. Lima puluh empat orang dalam keluarga besar kita."
"Saya tahu, Yah," Mei Lin akhirnya berbisik. Suaranya tidak gemetar. Itu yang paling aneh — suaranya tidak gemetar.
"Mei Lin..."
"Saya akan pergi."
Ayahnya menangis. Pertama kali Mei Lin lihat, sejak pemakaman ibu.
***
Sekarang, di gerbang istana, di tengah hujan, Mei Lin berdiri sendirian.
Di belakangnya, kereta sudah berbalik — pengawal tidak menungguinya. Di hadapannya, gerbang istana terbuka perlahan: dua daun pintu kayu setinggi tiga tombak, diukir dengan naga dan burung phoenix bersulang teh, perlahan membuka ke arah dalam — seperti rahang raksasa yang siap menelan.
Ia melangkah masuk.
Lentera-lentera merah berbaris di sepanjang lorong batu. Setiap lima langkah, ada pelayan istana berdiri menunduk, tidak bergerak — seperti patung. Mei Lin tidak tahu apakah mereka manusia atau bukan, sampai salah satu dari mereka bersin sekali, lalu kembali diam.
Lorong itu panjang. Mei Lin merasa setiap langkahnya bergema lebih keras dari yang seharusnya — seperti istana sengaja mendengarkan, sengaja menghitung. Sutera jubahnya berdesir dengan bunyi yang terlalu nyata. Bau dupa kemenyan dan bunga melati segar — mawar pengantin — semakin kuat semakin ia masuk.
Di ujung lorong, sebuah ruangan besar terbuka. Lantainya batu hitam yang dipoles licin, memantulkan cahaya seratus lilin di dinding-dinding. Di tengah ruangan, di atas kursi tinggi yang diukir dengan emas dan permata, duduk seorang perempuan tua.
Permaisuri Ibu Suri. Mei Lin mengenalnya dari potret yang pernah ia lihat di buku sejarah keluarga — meskipun di dalam potret itu, Permaisuri masih muda, mata yang sama tajamnya tetapi belum dipenuhi keriput tipis di sekitar pelipisnya.
Permaisuri tidak berdiri. Ia mengangkat satu jari — tipis, putih, dengan kuku panjang yang dicat merah tua. Pelayan-pelayan di sekitarnya langsung mundur tiga langkah.
"Mei Lin dari keluarga Ho." Suaranya tidak keras. Tetapi setiap kata jatuh ke ruangan seperti batu di kolam yang tenang. "Datang menggantikan kakak yang... lebih bijaksana memilih kebebasan daripada kewajiban."
Mei Lin berlutut. Dahinya menyentuh lantai dingin. "Yang Mulia Permaisuri."
Hening lama. Mei Lin tidak boleh mengangkat kepala tanpa izin — itu protokol untuk orang yang lebih rendah dari Permaisuri. Ia menunggu. Tetes air dari rambutnya yang basah jatuh ke lantai, satu per satu, menjadi noda kecil di batu hitam.
"Bangun, Anak."
Mei Lin bangun. Pelan-pelan. Ia tidak menatap Permaisuri langsung — ia menatap kakinya sendiri. Kuku-kuku jari kakinya yang lecet karena sandal basah.
"Mei Lin." Suara Permaisuri lebih pelan sekarang, hampir lembut, dan justru itu yang membuat Mei Lin lebih takut. "Kau tahu konsekuensi kalau pernikahan ini tidak terjadi malam ini?"
"Saya tahu, Yang Mulia."
"Kau tahu konsekuensi kalau Pangeran Liang tahu kau bukan kakakmu?"
Mei Lin mengangkat wajahnya satu detik. Permaisuri menatapnya dengan mata yang Mei Lin sekarang sadari: bukan mata tua. Mata yang sangat hidup. Mata yang sudah membaca seribu wajah pengantin dan mengetahui setiap kebohongan sebelum bibir mereka bergerak.
"Saya... saya tahu, Yang Mulia."
"Bagus." Permaisuri tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Maka kau tahu juga, mulai malam ini, namamu bukan Mei Lin lagi. Kau adalah Lan Yi. Kakakmu. Lupakan namamu sendiri."
Mei Lin menelan ludah.
"Iya, Yang Mulia."
"Pangeran Liang akan datang ke sini setengah jam lagi. Sekarang, kau dipersiapkan."
Permaisuri mengibaskan tangannya. Pelayan-pelayan langsung berkumpul di sekitar Mei Lin — empat dayang muda, kepala tertunduk, tetapi tangan mereka cepat dan terlatih. Mereka membawanya ke kamar di balik tirai emas: bak mandi marmer dengan air hangat berbau melati, lap sutera, minyak rambut, riasan dengan kuas-kuas tipis seperti rambut bayi.
Ia ditelanjangi tanpa kata. Dimandikan. Dikeringkan. Rambutnya yang panjang sampai pinggang dipisah, disisir dengan minyak kemiri, dilipat menjadi tiga gelung tinggi yang dipancing dengan tusuk emas berbentuk bunga teratai.
Bibirnya dicat merah pekat. Pipinya disapu putih bedak beras. Alisnya digarisi tipis dengan tinta hitam — gaya selir kerajaan zaman dulu, gaya yang sudah tidak dipakai siapa pun di luar tembok istana.
Akhirnya, jubah pengantin ditambahkan: sutera merah darah dengan emas yang disulam dalam pola burung phoenix yang bertarung melawan naga. Berat sekali — Mei Lin merasa bahunya seperti dibebani batu.
Ketika ia melihat dirinya sendiri di cermin tembaga di pojok ruangan, ia tidak mengenali wajah yang menatap balik.
Itu bukan Mei Lin lagi.
Itu adalah perempuan asing.
Perempuan yang akan menikahi pangeran asing, di istana asing, dengan nama yang bukan namanya.
***
Pintu kamar dibuka tanpa peringatan.
"Pangeran Liang sudah tiba," kata salah satu dayang, tertekan, hampir tidak bersuara. "Ke balai utama, Tuan Putri. Sekarang."
Mei Lin berjalan keluar.
Lorong yang tadi panjang terasa lebih panjang. Setiap langkah lebih berat dari sebelumnya — bukan hanya karena jubah, tetapi karena keputusan yang sekarang tidak bisa lagi dicabut.
Di balai utama, ratusan lilin menyala. Para pejabat istana berdiri di dua sisi, semua mengenakan jubah hitam dengan motif emas. Tidak ada musik. Tidak ada tepuk tangan. Hanya hening yang berat — seperti malam sebelum perang.
Dan di tengah balai, di atas anak tangga marmer tujuh tingkat, berdiri Pangeran Liang.
Mei Lin pernah dengar ceritanya. Pangeran sulung. Dua puluh lima tahun. Sudah memimpin tiga peperangan dan menang semua. Wajahnya — kata orang — adalah wajah yang dibawa pulang Dewa Perang setelah lupa cara tersenyum.
Sekarang, untuk pertama kalinya, Mei Lin melihatnya sendiri.
Cerita-cerita itu... benar, dan kurang.
Tinggi. Lebih tinggi dari yang ia bayangkan — kepala Liang menjulang melebihi kepala pengawalnya. Bahunya lebar, ditutup jubah hitam dengan naga emas di punggung. Tetapi yang membuat Mei Lin berhenti bernapas, sesaat, adalah matanya.
Mata yang gelap seperti malam tanpa bulan. Mata yang menatapnya — menembus jubah pengantin, menembus riasan tebal, menembus nama yang bukan namanya — dan, untuk satu detik yang menakutkan, Mei Lin merasa: pria ini sudah tahu.
Pria ini sudah tahu ia bukan Lan Yi.
Pria ini sudah tahu, dan ia tidak peduli.
Sang Permaisuri Ibu Suri — yang kini berdiri di samping Liang, anggun di pakaian merah-emasnya — mengangkat tangan.
"Mempelai mendekat."
Mei Lin melangkah. Naik tujuh anak tangga. Berdiri di sebelah pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya, di hadapan ratusan saksi.
Liang tidak menatapnya. Liang menatap lurus ke depan, seperti orang yang sedang menunggu sesuatu selain pernikahannya sendiri.
Pendeta istana mulai membaca janji-janji. Bahasa kuno yang Mei Lin hampir tidak mengerti. Sesuatu tentang naga dan phoenix, tentang langit dan bumi, tentang kewajiban yang melebihi kematian.
Cawan teh suci dituang. Liang meneguk. Mei Lin meneguk. Tangannya tidak gemetar — entah dari mana keberaniannya datang.
Pendeta mengikat selendang merah ke pergelangan tangan mereka berdua. Pita itu — kata adat — tidak akan dilepas selama tujuh hari tujuh malam, sebagai simbol ikatan yang baru terbentuk.
"Pangeran Liang dari Klan Tan dan Tuan Putri Lan Yi dari Keluarga Ho," ucap pendeta. "Sekarang adalah suami dan istri di hadapan langit dan bumi."
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada teriakan. Hanya hening yang lebih dalam dari sebelumnya.
Dan dalam hening itu, Liang akhirnya berbalik kepadanya. Untuk pertama kali sepanjang upacara.
"Tuan Putri," katanya. Suaranya rendah, tenang, tidak dingin — tetapi juga tidak hangat. "Selamat datang di istana."
Mei Lin menundukkan kepala. "Yang Mulia."
Liang menatapnya satu detik lebih lama dari yang sopan.
Lalu berbalik, menuruni tangga, dan pergi.
***
Mei Lin diantar ke kamar pengantin oleh empat dayang.
Kamar itu mewah dengan cara yang membuat dada terasa sesak — bukan rumah, tetapi etalase. Ranjang kayu mahoni dengan tirai sutera merah. Lentera emas di empat sudut. Bunga teratai segar di kolam kecil di tengah kamar — air yang tenang memantulkan cahaya lilin seperti cermin.
Para dayang memasangkan kerudung sutera merah di kepala Mei Lin — kerudung yang, menurut adat, hanya boleh diangkat oleh sang suami. Tradisi malam pertama.
Lalu mereka pergi. Pintu ditutup.
Mei Lin sendirian.
Ia duduk di tepi ranjang. Kerudung di kepalanya menutup pandangan — ia hanya bisa melihat lantai, kakinya sendiri, tepi jubahnya yang masih bernoda lumpur dari hujan tadi.
Detik-detik berlalu. Lalu menit. Lalu jam.
Pangeran Liang tidak datang.
Lilin yang menyala di empat sudut mulai menipis. Satu padam. Lalu yang kedua. Lalu yang ketiga.
Mei Lin masih duduk dengan kerudung di kepala, tidak berani bergerak — adat mengatakan pengantin tidak boleh mengangkat kerudung sendiri.
Di luar, hujan masih turun. Lebih pelan sekarang, tetapi tetap turun.
Ia tidak menangis.
Ia hanya menunggu.
Dan untuk pertama kali sejak ayahnya berlutut tiga hari yang lalu, Mei Lin menyadari sesuatu yang akan ia bawa selama bertahun-tahun di istana ini:
Ia tidak akan pernah lagi menjadi Mei Lin.
Ia adalah Lan Yi sekarang. Selir pengganti. Pengantin yang menggantikan kakaknya, dalam pernikahan yang seharusnya tidak terjadi, dengan pria yang tidak menginginkannya, di istana yang tidak peduli.
Tetapi takdir sudah menulis namanya di buku kerajaan.
Dan keesokan paginya, ketika matahari naik dan kerudung akhirnya diangkat — bukan oleh Pangeran Liang, tetapi oleh dayang kepala — Mei Lin tahu: kehidupannya yang sebenarnya, baru akan dimulai.