Mei Lin tidak tidur sepanjang malam.
Ia tetap duduk di tepi ranjang, kerudung sutera merah masih menutup wajahnya, jubah pengantin yang sudah berat dan basah lumpur menarik bahunya ke bawah. Di luar, hujan akhirnya berhenti pada subuh. Suara terakhir yang ia dengar adalah tetesan air dari atap kayu istana — pelan, satu per satu, seperti detik jam yang ragu-ragu untuk maju.
Pintu kamar dibuka pukul lima pagi. Mei Lin sudah tahu tanpa harus menatap — ia mengenali bunyi langkah dayang yang membawa baki: tergesa-gesa di awal, lalu hati-hati di akhir, supaya teh tidak tumpah.
"Tuan Putri." Suara perempuan, lembut tapi formal. "Saya Bu Niang, kepala dayang sayap timur. Saya mohon izin untuk membuka kerudung Anda."
Mei Lin mengangguk. Ia tidak yakin Bu Niang melihat anggukan itu lewat sutera, tetapi ia mengangguk juga.
Dua tangan tipis bergerak di atas kepalanya. Kerudung perlahan diangkat — gerakan yang seharusnya dilakukan oleh sang suami, tetapi malam ini tidak terjadi. Mei Lin merasakan udara dingin menyentuh wajahnya yang lengket dengan keringat dan bedak yang sudah luntur.
Bu Niang adalah perempuan berumur empat puluh, mungkin lebih. Wajahnya tegas tetapi tidak kejam. Ia menundukkan kepala saat menatap Mei Lin — tetapi cuma sebentar, dan dalam waktu sebentar itu, mata mereka bertemu. Mei Lin melihat sesuatu di mata Bu Niang yang ia tidak duga: simpati.
"Yang Mulia Pangeran tidak datang malam ini," kata Bu Niang pelan, hampir berbisik. "Tetapi ini bukan hal yang tidak biasa di istana. Banyak pernikahan yang... butuh waktu."
Mei Lin tidak menjawab. Ia tahu Bu Niang sedang mencoba menghiburnya, dengan cara yang protokol istana tidak izinkan dilakukan secara terang-terangan.
"Mandi sudah disiapkan, Tuan Putri. Ada sarapan setelah itu. Lalu saya akan mengantar Anda berkeliling istana — itu pesan dari Yang Mulia Permaisuri Ibu Suri."
***
Bak mandi marmer di kamar pengantin diisi air panas yang berasap. Bunga melati segar mengapung di permukaan — bukan sekedar dekorasi, melainkan bagian dari ritual pemurnian setelah malam pengantin. Tradisi ini, Mei Lin tahu dari pelajaran adat-istiadat yang ibunya pernah ajarkan, dimaksudkan untuk membersihkan istri dari "darah perawan" — yang malam ini, tentu saja, tidak ada.
Bu Niang dan dua dayang muda membantu Mei Lin melepas jubah pengantin yang berat. Ketika sutera merah itu jatuh ke lantai, Mei Lin merasa seperti melepas baju zirah — beban yang ia pikir tidak akan pernah lepas.
"Tuan Putri kuat," kata salah satu dayang muda, dengan suara mengagumi. "Saya pernah lihat pengantin lain pingsan setelah upacara seperti itu."
"Aku tidak punya pilihan untuk pingsan," kata Mei Lin pelan, dan dayang muda itu tersenyum kecil — senyum yang langsung disembunyikan ketika Bu Niang menatapnya tajam.
Air mandi membuat Mei Lin merasakan tubuhnya kembali. Ia mencuci rambutnya tiga kali, sampai aroma minyak kemiri pengantin hilang, sampai tidak ada lagi jejak Mei Yan — kakaknya — yang harusnya hari ini berada di sini, bukan dia.
Ketika ia keluar dari bak, dayang sudah menyiapkan jubah pagi yang lebih sederhana: sutera kuning lembut dengan sulam biru muda. Pakaian seorang istri, bukan pengantin lagi. Bukan pakaian Mei Lin sang adik kedua — tetapi juga bukan pakaian rakyat biasa.
Pakaian seseorang yang sekarang bukan dirinya, dan bukan kakaknya, dan belum tahu siapa.
***
Sarapan disajikan di kamar — protokol untuk pengantin baru yang belum diperkenalkan kepada keluarga kerajaan secara formal. Tujuh hidangan berderet di meja kayu rendah: bubur beras dengan jamur shiitake, ikan kukus dengan jahe muda, telur asin, sayur tumis, kue beras manis, teh hijau, dan satu hidangan yang Mei Lin tidak kenali — sejenis daging panggang dengan saus merah yang berkilat.
Mei Lin mencicipi semuanya. Tidak ada satu pun yang ia tahu rasanya enak — lidahnya seperti mati rasa sejak bibir Permaisuri Ibu Suri mengucapkan "lupakan namamu sendiri" semalam.
Ia makan secukupnya untuk tidak menghina pelayan. Lalu ia berdiri.
"Bu Niang. Saya siap untuk berkeliling istana."
***
Istana Tan dibangun seperti labirin yang sengaja membingungkan musuh. Tujuh paviliun utama, empat puluh paviliun cabang, dua taman dalam, satu taman luar, dan jaringan lorong batu yang menyambung semuanya — kadang lurus, kadang berkelok, kadang tiba-tiba berubah arah karena tembok yang dibangun lebih baru.
Bu Niang berjalan di samping Mei Lin, satu langkah di belakang — protokol untuk dayang kepala. Dayang muda yang lebih rendah pangkat berjalan dua langkah lagi di belakang.
"Sayap Timur — tempat tinggal Tuan Putri." Bu Niang menunjuk paviliun yang baru saja mereka tinggalkan. "Sebelumnya kosong selama tiga tahun. Selir terakhir yang tinggal di sini... wafat tujuh tahun lalu."
"Wafat bagaimana?" Mei Lin bertanya sebelum menyadari pertanyaan itu mungkin tidak sopan.
Bu Niang ragu sebentar. "Sakit, Tuan Putri. Sakit panjang."
Mei Lin tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu nada itu — nada orang yang tidak bisa cerita lengkap karena tembok di istana memiliki telinga.
Mereka melewati Sayap Selatan — tempat selir-selir senior tinggal. Mei Lin melihat Paviliun Anggrek dari kejauhan, dengan tirai merah yang menyala-nyala di bawah matahari pagi. "Itu paviliun Selir Wei," Bu Niang berkata, suaranya lebih pelan. "Selir senior, tujuh tahun di istana. Pintar. Sangat pintar."
"Saya sudah mengerti, Bu Niang."
Mereka menuju Balai Utama — tempat di mana semalam upacara pernikahan berlangsung. Di siang hari, balai itu kelihatan jauh lebih besar dari yang ia ingat. Lantai batu hitam yang dipoles licin, ratusan tiang merah dengan ukiran emas, dan di ujung balai, anak tangga tujuh tingkat naik ke takhta utama — kosong sekarang, tetapi malam ini Mei Lin telah berdiri di tempat yang sama dengan Pangeran Liang.
Di sebelah Balai Utama, ada Aula Dewan — tempat Pangeran menerima pejabat dan utusan. Bu Niang menunjuk dari jauh; mereka tidak boleh masuk.
"Yang Mulia Pangeran ada di dalam sekarang. Beliau menerima utusan dari kerajaan utara. Kalau Tuan Putri ingin lihat sebentar — dari koridor luar — itu masih boleh. Tapi tidak lebih dari dua nafas."
Mei Lin merasakan dadanya berdetak lebih cepat. Ia tahu seharusnya tidak — ia sudah bertemu Liang semalam, dia bahkan menjadi suaminya — tapi seperti ini, melihat dari jauh tanpa Liang tahu...
"Iya, Bu Niang."
Mereka berjalan ke koridor luar. Pintu Aula Dewan terbuka sedikit — celah kira-kira selebar telapak tangan. Bu Niang berhenti dua tombak di depan pintu, memberikan ruang kepada Mei Lin.
Mei Lin melangkah pelan. Sangat pelan. Lalu mengintip.
Liang duduk di kursi kerja yang terangkat dua anak tangga di atas lantai aula. Hari ini ia mengenakan jubah pagi yang lebih ringan — sutera abu-abu gelap dengan motif naga perak. Rambutnya, yang semalam terlihat hitam pekat, di siang hari kelihatan punya kilau biru tua — seperti tinta segar.
Di hadapannya, dua utusan berdiri. Mereka mengenakan pakaian Kerajaan Bei — jubah hijau dengan sulam putih. Salah satu sedang berbicara, gestur tangannya cepat dan agak gugup.
Liang mendengarkan tanpa ekspresi. Tetapi mata gelapnya bergerak. Setiap kali utusan mengubah kalimat, mata Liang menangkapnya — seperti pemain catur yang membaca papan tujuh langkah ke depan.
Mei Lin merasa sesuatu yang ia tidak duga. Bukan ketakutan — meski Liang masih asing baginya, masih dingin, masih mengintimidasi. Tetapi sesuatu yang lebih halus.
Ketertarikan.
Pria ini — yang semalam menatapnya seolah sudah tahu segalanya, lalu pergi tanpa kata setelah upacara — sekarang duduk di kursi kekuasaan, mengelola politik kerajaan dengan ketenangan yang Mei Lin tidak pernah lihat di siapa pun. Bahkan ayahnya, yang dulu Mei Lin pikir paling tenang di dunia.
Liang tiba-tiba berbicara — Mei Lin tidak menangkap kata-katanya, tetapi ia melihat bagaimana utusan langsung diam, lalu menundukkan kepala dengan dalam. Apa pun yang Liang katakan, itu menyelesaikan diskusi.
"Tuan Putri," bisik Bu Niang dari belakang. "Dua nafas sudah lewat."
Mei Lin mundur. Menarik dirinya dari celah pintu.
Tetapi tepat sebelum ia berbalik, ia melihat sesuatu yang membuat dadanya berhenti.
Liang menatap ke arah pintu.
Tidak — ia menatap ke arah Mei Lin. Lewat celah pintu yang sedikit terbuka itu, Liang menatap Mei Lin langsung. Mata gelap yang tidak berkedip. Mata yang sudah tahu, sejak entah kapan, bahwa Mei Lin ada di sana.
Mei Lin berbalik cepat. Wajahnya panas.
"Bu Niang, mari kita pergi."
Bu Niang menatapnya dengan ekspresi yang Mei Lin tidak bisa baca. "Tuan Putri... Yang Mulia melihat Anda?"
"Saya tidak tahu."
"Beliau melihat Anda."
Mei Lin tidak menjawab. Mereka terus berjalan, melewati lorong-lorong lain, paviliun-paviliun lain. Tetapi Mei Lin hampir tidak mendengar apa pun yang Bu Niang katakan setelah itu. Hatinya masih di pintu Aula Dewan, di mata gelap yang menatapnya, di detak yang terlalu cepat untuk alasan yang ia tidak mau akui.
***
Sore itu, di kamar pengantinnya, Mei Lin menulis surat untuk ayahnya. Surat pertama dari istana.
*"Ayah. Saya sudah sampai dengan selamat. Pernikahan berlangsung sesuai protokol. Sang Pangeran adalah pria yang dingin tetapi adil. Saya akan baik-baik saja. Tolong jaga Mei Hua dengan sungguh-sungguh.*
*Saya mencintai Ayah dan Mei Hua, lebih dari apa yang dapat ditulis di kertas yang akan dibaca orang lain sebelum sampai ke tangan Ayah."*
Ia menutup surat itu dengan segel keluarga Ho. Bu Niang akan mengirimkannya melalui kurir kerajaan — yang artinya, surat itu akan dibaca oleh empat orang sebelum sampai ke ayahnya.
Itu sebabnya Mei Lin tidak menulis kebenaran. Tidak menulis tentang Permaisuri yang menatapnya seperti elang menatap kelinci. Tidak menulis tentang Pangeran yang tidak datang ke kamar pengantinnya. Tidak menulis tentang mata Liang di pintu Aula Dewan, yang sampai sekarang masih menempel di benaknya.
Ia menutup matanya. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Lembah Yang tiga hari yang lalu, ia membiarkan dirinya menangis — sangat pelan, agar dayang di luar kamar tidak mendengar.
Ia menangis sebentar, lalu menyeka air matanya.
Kemudian ia berdiri, berjalan ke meja rias, dan memandang dirinya di cermin tembaga.
Wajah yang menatap balik bukan Mei Lin sang adik kedua dari Lembah Yang. Bukan juga Mei Yan sang kakak yang kabur dengan jenderal muda.
Itu adalah perempuan baru. Perempuan yang sedang belajar bertahan hidup di istana yang tidak menginginkannya.
"Aku akan baik-baik saja," ia berbisik kepada bayangan dirinya. "Aku akan baik-baik saja."
Ia tidak yakin dirinya percaya pada kata-kata itu. Tetapi ia mengulanginya tiga kali lagi, sampai bibirnya berhenti gemetar.
***
Di paviliun barat, jauh dari sayap timur, Pangeran Liang duduk sendiri di balkon yang menghadap taman bambu. Di tangannya, secangkir teh yang sudah dingin — ia lupa meminumnya sejak satu jam yang lalu.
Pelayan pribadinya, Wei Bao, masuk dengan langkah berhati-hati.
"Yang Mulia."
"Iya, Wei."
"Selir Wei mengundang Anda untuk minum teh besok pagi. Beliau bilang... sudah lama tidak ada tamu istimewa di Paviliun Anggrek."
Liang tidak menjawab. Wei Bao menunggu, sabar.
"Wei Bao."
"Iya, Yang Mulia."
"Tuan Putri Mei Yan — istri saya — apakah ia sudah bertemu Selir Wei?"
"Belum, Yang Mulia. Tetapi Selir Wei sudah mengirim undangan ke Sayap Timur. Untuk besok pagi."
Liang menutup matanya sebentar.
"Wei Bao. Aku ingin Yi siap. Kalau ada hal yang tidak biasa terjadi besok pagi di Paviliun Anggrek, kau bawa Yi ke Sayap Timur — diam-diam, malam itu juga."
"Yi yang mana, Yang Mulia? Yi pengawal lama Anda?"
"Iya. Yi yang itu."
Wei Bao membungkuk dalam. "Saya mengerti, Yang Mulia."
Pelayan itu pergi. Liang tetap di balkon, menatap taman bambu yang tertiup angin sore.
Ia tidak berkata, tetapi pikirannya sudah jauh — sudah di Sayap Timur, di kamar pengantin, di gadis muda yang semalam berdiri di tangga utama dengan mata yang gemetar tetapi punggung yang tegak.
Gadis yang bukan Mei Yan.
Gadis yang adalah Mei Lin.
Dan untuk alasan yang Liang sendiri belum mau akui — pria yang telah memimpin tiga peperangan dan membunuh sembilan komandan musuh dengan tangannya sendiri — diam-diam khawatir tentang apa yang akan terjadi kepada gadis itu, dimulai besok pagi di Paviliun Anggrek.