Pagi datang dengan ketukan keras di pintu kamar.
"Selir Mei Lin. Selir Wei mengundang Anda untuk minum teh di Paviliun Anggrek. Pukul kesembilan pagi."
Bu Niang yang menyampaikan pesan itu. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun — kepala dayang sudah dilatih sejak muda untuk tidak menunjukkan emosi — tetapi tangannya yang menggenggam baki sarapan terlalu erat. Mei Lin melihat buku-buku jari Bu Niang memucat.
"Pukul kesembilan."
"Iya, Tuan Putri. Itu setengah jam dari sekarang."
Para dayang di kamar Mei Lin saling berpandangan. Mei Lin menangkap tatapan itu dari sudut matanya. Xia, dayang muda yang setiap pagi menyisirkan rambutnya, membeku selama sepersekian detik sebelum melanjutkan tugasnya. Ada sesuatu yang aneh di gerakan Xia pagi ini — terlalu hati-hati, terlalu fokus pada hal-hal kecil.
"Bu Niang." Mei Lin meletakkan sumpitnya. Ia hanya makan dua suap dari sarapannya. "Boleh saya tanya satu hal sebelum berangkat?"
"Iya, Tuan Putri."
"Selir Wei. Berapa banyak istri muda yang telah ia undang minum teh sejak ia tinggal di istana?"
Bu Niang menundukkan kepala lebih dalam. Tidak menjawab langsung.
"Bu Niang."
"Tujuh, Tuan Putri."
"Dan dari tujuh itu... berapa yang masih hidup?"
Hening lama. Bu Niang akhirnya berbisik, hampir tidak terdengar:
"Empat, Tuan Putri."
Mei Lin menutup matanya. Tiga dari tujuh istri muda di istana ini telah mati setelah minum teh dengan Selir Wei. Bukan kebetulan. Tidak ada hal seperti kebetulan di istana.
Ia membuka mata. Menatap dirinya di cermin tembaga.
Wajahnya pucat, tetapi punggungnya tegak.
"Bantu saya berdandan, Bu Niang. Saya akan datang."
***
Paviliun Anggrek terletak di Sayap Selatan, dipisahkan dari Sayap Timur oleh jalan setapak yang melewati taman luar. Mei Lin membutuhkan tujuh menit untuk berjalan ke sana — lebih lama daripada seharusnya, karena ia sengaja melambatkan langkah, mengamati setiap detail, menghafalkan setiap pintu cabang yang ia lalui.
Kalau hari ini ia harus melarikan diri, ia harus tahu jalan kembali.
Bu Niang berjalan di belakangnya. Dua dayang muda — bukan Xia hari ini, melainkan dua dayang lain yang Mei Lin belum kenal namanya — mengikuti dua langkah lagi di belakang Bu Niang.
"Xia di mana hari ini, Bu Niang?" Mei Lin bertanya dengan suara biasa, seolah bertanya tentang cuaca.
"Xia... ada tugas lain hari ini, Tuan Putri."
Mei Lin tidak mempertanyakan lebih lanjut. Tetapi ia mencatat dalam ingatannya: Xia dibuang dari rombongan sebelum pertemuan dengan Selir Wei. Itu artinya Bu Niang tahu sesuatu yang Xia akan lakukan, dan ia tidak ingin Xia hadir ketika hal itu terjadi.
Atau, alternatifnya: Xia adalah pengkhianat, dan Bu Niang tahu.
Mei Lin tidak tahu mana yang benar. Tetapi ia tahu satu hal: di hari pertamanya ke Paviliun Anggrek, ia tidak boleh meminum teh apa pun yang disuguhkan kepadanya.
***
Paviliun Anggrek dipenuhi aroma kembang dan dupa. Anggrek putih, anggrek merah muda, anggrek ungu — mungkin tiga puluh pot, semuanya berbunga. Selir Wei jelas menanam dengan keterampilan yang tidak dimiliki tukang kebun biasa. Itu, di istana di mana keterampilan sering kali diukur dengan racun yang seseorang mampu meracik, adalah pesan tersendiri.
Selir Wei duduk di kursi kayu cendana di ujung paviliun. Mengenakan jubah merah delima yang menyala di bawah cahaya pagi yang masuk lewat jendela kayu kisi. Wajahnya — Mei Lin sekarang melihat dari dekat — sangat cantik. Mata almond yang dalam, bibir yang merah alami, kulit yang sehalus porselen. Mungkin sekitar dua puluh delapan tahun, mungkin lebih, sulit ditebak. Di atas kepalanya, hiasan rambut berbentuk bunga anggrek emas berkilauan.
"Adik kecil." Wei tersenyum — senyum yang lebar, ramah, dan sama sekali tidak sampai ke matanya. Ia menepuk bantal di sebelahnya. "Duduk. Aku ingin mengenalmu."
Mei Lin duduk dengan gerakan terlatih. Lan Yi — kakaknya — telah menghabiskan tahun-tahun melatihnya untuk hal-hal seperti ini, kalau-kalau ia harus menggantikan kakaknya. Bagaimana cara duduk di hadapan selir senior. Bagaimana cara menundukkan kepala tanpa terlihat lemah. Bagaimana cara tersenyum tipis yang tidak janji apa pun.
Pelatihan itu sekarang berguna dengan cara yang Mei Lin harap tidak akan pernah ia perlukan.
"Kakak Wei, terima kasih telah mengundang saya."
Selir Wei tertawa kecil. "Tidak perlu formal di antara kita, adik. Kita sekarang seperti saudara, tinggal di istana yang sama, melayani Pangeran yang sama."
Pangeran yang sama. Kalimat itu, diucapkan dengan suara lembut, terasa seperti sayatan kecil. Selir Wei sudah tujuh tahun di istana — sebelum Mei Lin ada, sebelum pernikahan Pangeran dengan keluarga Ho bahkan didiskusikan.
Selir Wei bukanlah saudara.
Selir Wei adalah saingan.
"Iya, Kakak Wei."
Pelayan datang dengan baki — tiga jenis teh dalam tiga teko porselen yang berbeda. Daun teh yang berbeda, harga yang berbeda, asal yang berbeda. Selir Wei menjelaskan masing-masing dengan keahlian seseorang yang sudah mempelajari dunia teh selama bertahun-tahun.
"Yang ini Bai Hao Yin Zhen, dari Fujian. Putih, sangat lembut, dipetik hanya dengan kuncup-kuncup muda. Yang ini Tieguanyin, oolong, dari Anxi. Yang ini..." Wei mengangkat teko ketiga, dan senyumnya melebar sedikit, "ini Da Hong Pao. Teh dari Pohon Jubah Merah Besar. Hanya tujuh pohon yang masih hidup di seluruh kekaisaran. Setiap daun berharga lebih dari emas. Saya menyimpannya untuk tamu istimewa."
Wei menuang teko ketiga ke dalam cangkir Mei Lin. Cairan keemasan mengalir, dengan aroma yang Mei Lin tidak pernah ia cium sebelumnya — bunga, rempah, dan sesuatu yang lebih dalam, hampir mineral.
"Adik, minumlah."
Mei Lin mengangkat cangkir itu ke bibirnya. Tetapi ia tidak meminumnya. Ia hanya menahan cangkir di hadapan bibirnya, seolah menghirup aroma — tradisi yang juga merupakan bentuk penghormatan.
"Saya... berterima kasih, Kakak Wei. Tetapi saya tidak bisa minum dulu."
Mata Wei berkilat — sangat pelan, tetapi Mei Lin menangkapnya. "Mengapa, adik?"
"Adat keluarga saya. Kakak senior pasti minum dulu dari teko yang sama, sebelum tamu meminum. Itu cara kami menunjukkan saling percaya."
"Adat yang menarik," kata Wei. Senyumnya tetap di tempat, tetapi sesuatu di balik mata almond-nya berubah. "Adat keluarga Ho?"
"Iya. Diturunkan dari nenek saya."
"Lan Yi tidak pernah cerita tentang adat ini saat kami berkirim surat tahun lalu."
Mei Lin menelan ludah pelan. Ia tidak tahu Selir Wei pernah berkirim surat dengan kakaknya. Tetapi ia tetap tenang.
"Kakak Lan Yi tidak terlalu peduli pada adat-adat lama. Ia... lebih bebas."
"Tampaknya begitu. Kalau ia tidak peduli adat, mungkin itu sebabnya ia tidak ada di sini sekarang."
Sayatan yang lebih dalam. Mei Lin merasakan pisau dalam kalimat itu, tetapi ia tidak bereaksi.
"Kakak Wei. Maukah Kakak meminum dulu?"
Wei terdiam selama dua detik. Lalu, tanpa menunjukkan kekesalan, ia mengganti cangkirnya dengan cangkir Mei Lin. Ia mengangkat cangkir Mei Lin ke bibirnya — perlahan, anggun — dan meminumnya.
Sampai habis.
Ia meletakkan cangkir kosong itu ke atas meja, lalu tersenyum kepada Mei Lin.
"Lihat? Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
Wei menuang teh baru ke cangkir kosong itu, lalu memberikan ke Mei Lin.
Mei Lin meminumnya. Karena sekarang, di hadapan Selir Wei yang baru saja minum dari teko yang sama, ia harus minum — kalau tidak, itu sudah jadi penghinaan langsung, bukan lagi masalah adat.
Tehnya... enak. Sangat enak. Aromanya kompleks, rasanya halus, dengan aftertaste yang seperti madu dan kayu cendana. Seharusnya pengalaman menyenangkan.
Tetapi Mei Lin tidak bisa menikmati. Karena di sudut mata, ia menangkap reaksi salah satu dayang Selir Wei — perempuan yang tampaknya berumur empat puluhan, mata tajam — yang sekarang menatap cangkir yang Wei minum dengan wajah yang sedikit memucat.
Dayang itu tahu sesuatu.
Mei Lin meminum tiga kali lagi, mengobrol formal dengan Selir Wei tentang anggrek, tentang cuaca, tentang puisi-puisi terkenal. Pembicaraan permukaan yang tidak bermakna, dilakukan dengan kesempurnaan yang dilatih. Setelah satu jam, ia minta izin untuk pulang ke kamar — protokol mengizinkan kunjungan minum teh maksimal satu jam.
Selir Wei melepasnya dengan senyum yang lebih lebar.
"Kita akan minum teh lagi, adik. Sangat sering."
"Saya menantikannya, Kakak Wei."
Mei Lin keluar dari Paviliun Anggrek. Bu Niang dan dua dayang muda mengikutinya. Mei Lin tidak berbicara sepanjang jalan kembali — pikirannya terlalu sibuk merangkai apa yang baru saja terjadi.
Selir Wei meminum teh dari cangkirnya sendiri. Tetapi reaksi dayang Selir Wei — memucat seperti melihat hantu — mengkonfirmasi: teh itu memang ada racunnya. Selir Wei tidak takut karena ia sudah meminum penawar sebelum pertemuan, atau karena ia memiliki kekebalan yang dibangun selama bertahun-tahun, atau — Mei Lin merinding di pikiran ini — karena ia memang ingin meminum teh beracun, sebagai bukti.
Mungkin Wei sudah merencanakan: kalau Mei Lin meminum, ia mati. Kalau Mei Lin menolak, Wei akan minum sendiri sebagai "bukti tidak ada racun" — sembari diam-diam Wei mengkonsumsi penawar sebelum pertemuan. Cara apa pun, Wei menang: kalau Mei Lin mati, satu saingan hilang. Kalau Mei Lin selamat, Wei mengetahui bahwa Mei Lin pintar — informasi berharga untuk pertarungan berikutnya.
Mei Lin menarik napas pelan. Permainan istana lebih dalam dari yang ia kira.
***
Sore itu, Xia kembali ke kamar Mei Lin untuk menyisir rambut.
"Tuan Putri sudah pulang." Suara Xia lebih lembut dari biasanya. Tangannya gemetar saat memegang sisir.
"Iya, Xia. Kau ke mana pagi ini?"
"Saya... saya disuruh Bu Niang membersihkan paviliun lain. Maaf saya tidak bisa hadir di rombongan."
Xia berbohong. Mei Lin tahu dari cara Xia tidak menatap mata Mei Lin. Dari cara tangannya yang gemetar.
Mei Lin tidak menanyakan lebih. Ia membiarkan Xia menyisir rambutnya. Tetapi malam itu, ia tidak tidur — ia menunggu, di tempat tidur, dengan mata terbuka, untuk apa pun yang akan datang.
Karena hari ini ia tahu satu hal pasti:
Selir Wei akan mencoba lagi. Dan kali ini, mungkin, dengan cara yang Mei Lin tidak akan bisa hindari hanya dengan adat.