Xia tidak datang menyisir rambut Mei Lin pagi berikutnya.
Mei Lin sudah menunggu. Sejak pukul lima pagi, ia sudah duduk di meja rias, sisir kayu sudah tersedia di atas baki, dan tempat duduk Xia di belakangnya — kursi kecil yang biasanya ia tempati untuk menyisir rambut Tuan Putri — kosong.
Pukul setengah enam, Bu Niang masuk dengan baki sarapan. Wajahnya pucat. Lebih pucat dari yang Mei Lin pernah lihat.
"Tuan Putri."
"Bu Niang. Ke mana Xia?"
Bu Niang meletakkan baki dengan tangan yang gemetar.
"Xia... pulang ke kampung halamannya, Tuan Putri. Ibunya sakit. Kabar datang semalam, dan kepala dayang istana mengizinkan ia pulang segera. Ia tidak sempat berpamitan."
Bohong.
Mei Lin tahu itu dari beberapa hal sekaligus. Pertama, Xia adalah dayang dari Lembah Yang yang sudah dikirim ke Mei Lin sebagai dayang pribadi — yang artinya, ia tidak punya keluarga di kampung halaman lain selain Lembah Yang yang jauh tujuh hari berkuda. Kedua, Bu Niang berbohong dengan kepala terlalu menunduk — seseorang yang biasanya menatap mata berbicara sekarang menatap lantai. Ketiga, suara Bu Niang gemetar di kata "kampung halamannya" — sengaja meninggikan kata, seolah meminta Mei Lin untuk percaya.
Bu Niang sedang menyampaikan kebohongan resmi istana. Bahkan kalau ia ingin memberitahu kebenarannya, ia tidak bisa — tembok istana memiliki telinga, dan setiap kata yang keluar dari mulut kepala dayang akan dilaporkan kepada empat orang berbeda dalam dua jam.
"Saya mengerti, Bu Niang. Saya akan menulis surat untuk keluarga Xia, mengirim doa untuk ibunya yang sakit."
"Iya, Tuan Putri."
Bu Niang membungkuk dan keluar.
Mei Lin tidak menyentuh sarapannya.
***
Sore itu, Mei Lin minta izin untuk berjalan-jalan di taman istana. Sendirian.
"Sendirian, Tuan Putri?" Bu Niang ragu. "Itu... tidak biasa."
"Saya butuh udara segar. Kepala saya sakit."
"Tetapi protokol mengharuskan setidaknya satu dayang menemani—"
"Bu Niang." Mei Lin menatap kepala dayang dengan tatapan yang ia harap menyampaikan pesan: *aku tahu lebih banyak dari yang aku katakan*. "Saya mau sendirian. Untuk satu jam saja. Saya akan kembali sebelum matahari terbenam."
Bu Niang tidak membantah lebih lanjut. Ia hanya membungkuk.
"Iya, Tuan Putri."
Mei Lin menyusuri lorong-lorong yang tidak biasa dilewati tamu — yang ia ingat dari tour bersama Bu Niang dua hari lalu. Ia melewati paviliun-paviliun tua di belakang Sayap Timur — paviliun yang katanya kosong, yang dindingnya berdebu, yang lampunya tidak dinyalakan kecuali pada upacara khusus.
Lorong-lorong ini sepi. Tidak ada dayang. Tidak ada pejabat. Hanya angin yang mengusik daun bambu di taman cabang.
Mei Lin memilih jalan yang membawa ia mendekati Sayap Barat — tempat Pangeran Liang tinggal. Tetapi ia tidak akan masuk Sayap Barat, tentu saja — itu pelanggaran berat tanpa undangan resmi. Ia hanya akan berjalan di sepanjang tembok luar Sayap Barat. Di sana ada koridor yang dilalui pejabat untuk menuju paviliun teh — dan kalau ia beruntung, ia akan mendengar percakapan-percakapan yang tidak dimaksudkan untuk telinganya.
Itu cara orang miskin di Lembah Yang dulu — ketika pasar penuh — mendengar harga yang sebenarnya, sebelum penjual menaikkan untuk pembeli kaya. Mei Lin tidak pernah menyangka pelajaran masa kecil itu akan berguna di istana.
Di balik tembok rendah Sayap Barat, ia mendengar suara.
Suara Liang.
Mei Lin berhenti. Berdiri membungkuk di belakang tembok yang setinggi pinggangnya. Ditutupi oleh semak-semak peony yang tinggi.
"Aku sudah peringatkan Anda, Yang Mulia. Selir baru itu... berbeda."
Suara kedua. Pria. Lebih tua dari Liang. Mei Lin tidak mengenalinya — mungkin pelayan pribadi, atau penasihat.
"Berbeda bagaimana?" Suara Liang. Dingin, tetapi penuh perhatian.
"Ia tidak meminum tehnya kemarin di Paviliun Anggrek. Selir Wei murka. Saya dengar dari pelayan dapur — Wei membanting cangkir teh setelah Selir Mei Lin pergi. Cangkir porselen seharga tiga puluh tael perak."
Hening sebentar.
"Lalu apa lagi, Wei Bao?"
"Dayang Xia... sudah disingkirkan, Yang Mulia. Pagi ini. Ia adalah mata Selir Wei di Sayap Timur — sudah dua bulan, sejak Selir Wei tahu Anda akan menikahi keluarga Ho. Wei Bao..."
"Iya?"
"Tubuh Xia ditemukan di dasar sumur kering belakang Paviliun Anggrek pagi ini. Selir Wei tidak ingin pengkhianatnya — yang gagal — hidup untuk mengatakan apa pun."
Mei Lin menutup mulutnya dengan tangan. Tubuhnya membeku.
Xia mati. Bukan pulang. Mati. Karena gagal meracuni Mei Lin.
Tetapi Selir Wei adalah otaknya. Xia hanyalah tangan.
"Wei Bao." Suara Liang sekarang lebih lembut dari yang Mei Lin pernah dengar. "Yang Mulia berjanji akan melindunginya jika Anda menerimanya. Tapi ini..."
"Aku tahu."
"Selir Wei sekarang tahu Selir Mei Lin pintar. Ia akan mencoba lagi. Tetapi kali ini bukan dengan racun yang langsung — ia akan pakai racun lambat, atau jebakan politik, atau sesuatu yang tidak bisa Tuan Putri hindari hanya dengan adat."
"Aku tahu, Wei Bao."
"Apa yang akan Yang Mulia lakukan?"
Hening lama. Mei Lin merasa angin dingin mengusik daun di belakangnya. Hatinya berdegup keras.
"Kirim Yi ke kamarnya malam ini." Suara Liang. Tegas, sekarang. Keputusan sudah diambil. "Sebagai dayang baru. Pastikan ia tidak makan apa pun yang tidak Yi siapkan sendiri. Pastikan ia tidur dengan Yi di lantai kamar yang sama. Pastikan ia tidak keluar dari kamar tanpa Yi."
"Yi yang dari Pengawal Bayangan, Yang Mulia?"
"Iya."
"Yang Mulia... Yi sudah tujuh tahun menjadi pengawal pribadi Anda. Mengirim Yi ke kamar Tuan Putri berarti mengakui kepada seluruh istana bahwa Anda... peduli pada Selir Mei Lin."
Hening.
Mei Lin merasakan jantungnya berhenti.
"Aku tahu, Wei Bao."
"Yang Mulia..."
"Lakukan saja."
Langkah kaki menjauh. Suara pintu paviliun yang ditutup. Lalu hanya angin di daun bambu.
Mei Lin tidak bisa bergerak. Tubuhnya menempel ke tembok. Telapak tangannya basah dengan keringat, dan ia tidak sadar ia menahan napas selama dua puluh detik penuh.
Ia mundur perlahan dari tembok itu. Setiap langkah terasa seperti melayang.
Pangeran Liang yang dingin itu... melindunginya. Diam-diam. Sejak sebelum upacara pernikahan.
Mengapa? Pertanyaan ini berputar-putar di kepalanya sepanjang sore. Sampai matahari terbenam dan ia kembali ke kamar dengan langkah yang ia harap terlihat biasa.
***
Malam itu, dayang baru itu datang.
Pintu kamar Mei Lin diketuk pukul sembilan malam. Bu Niang membuka. Mei Lin mendengar suara percakapan singkat — bisikan, formalitas, lalu pintu dibuka lebar.
Yang masuk adalah seorang gadis bermata tajam. Mungkin tujuh belas tahun, sama seperti Mei Lin. Tetapi cara ia berdiri — kaki sedikit terbuka, lengan rileks tetapi siap, mata yang menyapu ruangan dalam tiga detik — adalah cara seseorang yang sudah dilatih bertarung sejak kecil.
Bukan dayang biasa. Bukan dayang sama sekali.
Pengawal yang menyamar.
"Saya Yi." Gadis itu membungkuk satu kali — dalam, formal. "Yang Mulia mengirim saya. Mulai malam ini, saya akan tidur di lantai kamar Anda, dengan kasur jerami di samping ranjang Anda. Saya tidak akan pergi dari kamar ini selama Anda di sini, kecuali untuk mandi pagi — yang akan dilakukan dalam lima menit, dengan dua dayang Bu Niang menjaga pintu kamar Anda dari luar."
Yi berhenti, lalu menambahkan dengan suara yang sama datarnya:
"Anda tidak boleh keluar tanpa izin saya. Anda tidak boleh menerima makanan dari siapa pun selain saya. Saya akan menyiapkan makanan Anda sendiri di dapur Sayap Timur, dengan bahan-bahan yang saya pilih sendiri dari pasar pagi. Saya akan mencicipi semuanya sebelum Anda makan."
Mei Lin mengangguk pelan. "Iya, Yi."
"Satu hal lagi, Tuan Putri. Yang Mulia memberi pesan: 'Maaf untuk apa yang Anda dengar di balik tembok sore ini. Saya tidak tahu Anda di sana sampai saya melihat Anda kembali ke kamar dengan wajah pucat.'"
Mei Lin merasa pipinya panas.
Liang tahu. Ia tahu Mei Lin mendengar percakapan itu. Tahu Mei Lin sekarang sudah menyadari ia melindunginya secara diam-diam. Tahu Mei Lin akan punya pertanyaan yang ia tidak akan jawab dengan kata-kata.
"Yi. Tolong sampaikan ke Yang Mulia: terima kasih."
"Iya, Tuan Putri."
***
Mei Lin berbaring di tempat tidur malam itu.
Yi tidur di lantai di samping ranjang, tetapi tidak tidur — Mei Lin bisa mendengar napas Yi yang teratur tetapi terjaga. Pengawal tidur dengan satu mata terbuka, kata orang. Itu jelas benar.
Mei Lin menatap langit-langit kamar. Lilin yang terakhir baru saja padam. Hanya cahaya bulan dari jendela yang membuat bayangan-bayangan halus di kayu langit-langit.
Ia tidak bisa tidur.
Karena ia mulai menyadari sesuatu yang akan mengubah hari-harinya di istana ini — sesuatu yang ia tidak ingin akui, tetapi sudah terlambat untuk disangkal.
Ia mulai jatuh cinta pada seorang pria yang bahkan belum pernah memandanginya dengan benar di siang hari. Pria yang bicara dengan suara dingin, yang tidak menyentuhnya pada malam pengantin, yang menjelaskan pernikahan mereka sebagai "politik" — tetapi yang diam-diam mengirim pengawal pribadinya untuk melindunginya, yang minta maaf karena ia dengar percakapan rahasia, yang mengucapkan kata "menghormati hal yang langka" di bawah cahaya bulan di taman teratai.
Jatuh cinta dengan Pangeran Liang adalah hal paling berbahaya yang ia bisa lakukan di istana ini.
Tetapi ia sudah jatuh.
Dan ia tahu — sambil mendengar Yi bernapas teratur di lantai dingin — bahwa ia tidak akan bisa menarik dirinya kembali, bahkan kalau ia mau.