Yi tidak banyak bicara di hari-hari pertamanya di kamar Mei Lin. Tetapi setiap gerakan tangannya — saat menuangkan teh, saat melipat jubah, saat memeriksa pintu sebelum tidur — adalah gerakan yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah dilatih sejak kecil.
Mei Lin mengamatinya selama tujuh hari. Dan pada hari ketujuh — pagi hari, ketika Yi sedang menyiapkan air mandi dengan presisi yang nyaris mengganggu — Mei Lin akhirnya mengucapkan apa yang sudah ia pikirkan sejak hari pertama.
"Yi."
"Iya, Tuan Putri."
"Aku ingin kau mengajariku bela diri."
Yi berhenti menuangkan air. Pelan-pelan, ia menatap Mei Lin — tatapan dayang yang harus tahu kapan harus diam dan kapan tidak.
"Tuan Putri... bela diri bukan untuk istri kerajaan."
"Aku tidak peduli apa yang biasanya istri kerajaan lakukan. Aku ingin tahu bagaimana melindungi diriku sendiri kalau Pangeran tidak ada."
"Pangeran selalu mengirim pengawal—"
"Yi." Mei Lin berdiri dari tempat duduknya. "Dengar baik-baik. Aku tidak akan jadi boneka di istana ini. Bahkan kalau Pangeran Liang bisa melindungiku, aku juga harus bisa melindungi diri sendiri. Karena suatu hari, dia tidak akan ada — entah karena perang, entah karena politik. Dan aku harus siap."
Yi menatapnya lama. Sangat lama. Kemudian, untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke kamar Sayap Timur, Yi tersenyum tipis. Senyum yang Mei Lin tidak pernah lihat di wajah dayang istana sebelumnya — bukan senyum tunduk, melainkan senyum sesama yang akhirnya saling mengenali.
"Pangeran Liang akan marah kalau tahu."
"Maka jangan dia tahu."
Yi tertawa pelan. Tawa yang sangat singkat, lalu hilang.
"Anda... lebih cerdas dari yang saya kira, Tuan Putri."
"Saya kakak adik dari sembilan saudara. Anak ke enam dari sembilan. Kalau saya tidak cerdas, saya tidak akan dapat jatah makan."
***
Yi membawa Mei Lin ke ruang penyimpanan tua di belakang paviliun Sayap Timur — ruangan yang sudah tidak dipakai sejak dua puluh tahun lalu, kata Bu Niang. Tempat ini berdebu, lampu lentera di langit-langit sudah tidak menyala dalam waktu lama, dan di tengah ruangan ada beberapa peti kayu yang tertutup kain putih.
Yi membuka salah satu peti dengan tangan terlatih. Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah kotak laci panjang yang dibungkus pita merah — bungkusan yang jelas tidak berdebu seperti benda-benda lain di ruangan itu.
"Ini disimpan di sini sejak tujuh hari sebelum upacara pernikahan Anda."
Yi membuka kotak itu. Di dalamnya, di atas bantalan beludru hitam, terbaring satu set pisau lipat sutera — empat pisau kecil, masing-masing dengan gagang yang dililit pita panjang berwarna sutera ungu tua. Pita itu dirancang untuk disembunyikan di lengan baju jubah; pisau yang dilipat menyatu dengan pita, tidak terlihat sampai si pemakai menariknya keluar dengan satu gerakan cepat.
Mei Lin menyentuh salah satu pisau. Logamnya dingin, tipis, tetapi sangat tajam — bahkan sentuhan ringan di ujung pisau membuat darah merembes dari ujung jarinya.
"Yi. Ini..."
"Hadiah dari Pangeran Liang," kata Yi. "Saya yang menyiapkannya, atas perintah beliau, tujuh hari sebelum upacara."
"Pangeran tahu... aku akan memintanya?"
"Pangeran tahu Anda akan butuh, Tuan Putri." Yi menatap pisau-pisau itu dengan ekspresi yang Mei Lin tidak bisa baca. "Beliau memberi saya ini untuk Anda, kalau-kalau saya merasa Anda siap. Tetapi beliau tidak ingin memaksa. Beliau menunggu Anda yang memutuskan untuk minta diajari sendiri."
Mei Lin merasakan sesuatu yang aneh menggumpal di dadanya. Pria itu — Liang yang dingin, yang tidak pernah menyentuhnya, yang menjelaskan pernikahan mereka sebagai sekadar politik — diam-diam mempersiapkan ini untuknya. Jauh sebelum ia pernah mengenal Mei Lin sebagai diri sendiri. Hanya tahu ia akan menerima seorang pengantin yang dipaksa, di istana yang tidak menginginkannya.
"Mulai dari mana, Yi?"
"Pertama, Anda belajar berdiri. Lalu bernapas. Pisau datang terakhir."
***
Tiga jam latihan pertama membuat tubuh Mei Lin sakit di tempat-tempat yang ia tidak tahu bisa sakit.
Yi mengajarinya kuda-kuda pertama — posisi yang kelihatan sederhana tetapi membakar paha dan punggung dalam tiga puluh detik. "Lutut tertekuk delapan puluh derajat, kaki sejajar bahu, punggung lurus seperti tiang bendera. Pernapasan dari perut, bukan dada. Bahu turun, jangan tegang. Sekali lagi."
Mei Lin tetap di posisi itu sampai kakinya gemetar. Lalu Yi menyuruhnya bertahan tiga puluh detik lagi. Lalu satu menit. Lalu dua menit.
"Anda tidak boleh terlihat lelah, Tuan Putri. Kalau musuh tahu Anda lelah, Anda mati."
"Yi... aku... butuh... istirahat..."
"Tiga puluh detik lagi."
Saat akhirnya Yi mengizinkannya berhenti, Mei Lin jatuh di lantai berdebu. Ia tertawa — pertama kali sejak datang ke istana — meski tawanya bercampur isakan kelelahan.
"Yi, kau iblis."
"Bukan. Saya hanya pengawal yang tahu — kalau Anda mati di istana ini, Pangeran tidak akan memaafkan saya."
Mei Lin menatapnya. "Yi. Berapa lama kau bersama Pangeran?"
Yi terdiam. Untuk satu detik penuh, tidak ada suara di ruangan itu kecuali napas Mei Lin yang masih berat.
"Sejak Pangeran berumur sebelas tahun, Tuan Putri. Saat ibunya — ibu kandung Pangeran, bukan Permaisuri Ibu Suri — meninggal."
"Ibunya... bukan Permaisuri Ibu Suri?"
Yi memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Ibunya adalah Permaisuri kedua. Wanita biasa dari provinsi selatan. Permaisuri Ibu Suri yang sekarang... adalah istri pertama Kaisar yang lain, ibu dari saudara tiri Pangeran."
Mei Lin merasakan dingin yang berbeda. Sekarang ia mengerti sedikit lebih banyak tentang istana — dan tentang mengapa Liang seperti yang sekarang. Ditinggalkan oleh ibu kandung saat sebelas tahun, dibesarkan di antara tembok yang membenci darahnya, di bawah pengawasan ibu tiri yang menatapnya seperti rival politik bukan anak.
"Yi. Apakah Permaisuri Ibu Suri... membenci Liang?"
"Beliau tidak membenci Pangeran." Yi menunduk. "Beliau hanya tidak peduli pada Pangeran. Itu lebih dingin dari benci, Tuan Putri."
Mei Lin tidak menjawab. Ia hanya berbaring di lantai berdebu, menatap langit-langit ruangan tua, dan untuk pertama kali ia memahami sesuatu yang penting:
Liang adalah laki-laki yang seumur hidupnya tidak pernah dicintai oleh siapa pun.
Maka ketika ia menatap Mei Lin di taman teratai dan berkata "aku menghormati hal yang langka" — itu bukan kalimat protokol. Itu adalah kalimat seseorang yang sudah lama mencari hal yang langka, dan baru saja menemukannya.
***
Saat malam datang, Mei Lin berbaring di kamarnya, otot-otot yang sakit di seluruh tubuh, tetapi pikirannya sangat jelas.
Yi tidur di lantai di sebelahnya seperti biasa. Bunyi napasnya teratur tetapi terjaga.
Mei Lin menatap langit-langit kamar. Dan untuk pertama kalinya sejak ia mengenakan jubah pengantin merah-emas tujuh hari yang lalu, ia mengizinkan dirinya berpikir satu pertanyaan yang ia hindari sejak malam di taman teratai:
*Apakah Liang juga sedang berbaring memikirkan hal yang sama?*
***
Di paviliun barat, jauh dari Sayap Timur, Pangeran Liang menatap secangkir teh yang sudah dingin di meja kerjanya.
Wei Bao — pelayan pribadinya — masuk dengan langkah berhati-hati.
"Yang Mulia. Yi melapor: Tuan Putri minta diajari bela diri tadi pagi. Latihan pertama tadi siang."
Liang menutup matanya sebentar. Ketika ia membuka lagi, ada sesuatu di matanya yang mungkin orang lain akan sebut sebagai senyum — meski bibirnya tidak bergerak.
"Wei Bao. Kapan Tuan Putri berumur delapan belas?"
"Tiga bulan lagi, Yang Mulia."
"Tujuh hari sebelum hari itu, kirim cermin perak ke kamarnya. Cermin perak yang aku simpan di gudang barat — yang dulu milik ibu saya."
Wei Bao membungkuk. "Iya, Yang Mulia."
Pelayan itu pergi. Liang tetap di meja, tetapi pikirannya sudah jauh — sudah di Sayap Timur, di kamar pengantin, di gadis yang menolak menjadi boneka istana, yang minta diajari pisau, yang tidak menangis ketika ia tahu kebenaran tetapi juga tidak meminta maaf untuk apa pun.
Pria itu — yang seumur hidupnya tidak pernah dicintai oleh siapa pun — diam-diam mulai memikirkan hal yang ia janjikan kepada dirinya sendiri tidak akan dipikirkan: bahwa di balik tembok Sayap Timur, mungkin, ada satu orang yang akhirnya akan melihatnya bukan sebagai pangeran.
Tetapi sebagai Liang.