Surat itu datang terlipat di dalam kotak buah persik segar.
Tiga minggu setelah Mei Lin tinggal di Sayap Timur. Pagi itu, pedagang yang tidak biasa membawa kotak buah ke gerbang luar Sayap Timur — pedagang berkulit gelap, dengan logat selatan yang asing di Trowulan, mengaku dari Lembah Yang. Bu Niang yang menerima kotak itu, lalu — sesuai protokol Liang — memberikannya kepada Yi untuk diperiksa sebelum dimakan oleh Mei Lin.
Yi membuka kotak. Di dalamnya, dua belas buah persik segar, ditata rapi di atas daun pisang.
Tetapi di antara buah ke enam dan ke tujuh, ada sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Lipatan kertas tipis, seukuran telapak tangan.
"Tuan Putri, lihat ini."
Mei Lin membuka surat dengan tangan gemetar. Tulisan tangan itu tidak akan ia salah kenali bahkan kalau ia melihatnya seribu tahun dari sekarang.
*"Mei Lin sayang,*
*Kalau kau membaca ini, berarti kabar yang sampai ke desa benar — kau ada di istana. Maafkan kakak. Maafkan ayah. Kami semua salah membiarkanmu pergi. Setiap malam saya berdoa kepada langit agar kau tidak membenci kami.*
*Tetapi sekarang ada hal yang harus kau tahu. Hal yang lebih besar dari permintaan maaf saya, lebih besar dari kebebasan saya, lebih besar dari kedamaian saya.*
*Jenderal yang saya cintai — Bai Heng — sedang dalam bahaya.*
*Selir Wei dari klan Mu adalah saudara perempuan Jenderal Mu, rivalnya di militer. Tahun ini, posisi Komandan Pertahanan Utara akan dikosongkan, dan dua kandidatnya adalah Bai Heng dan Mu. Klan Mu sudah menyiapkan jebakan: surat-surat palsu yang akan membuat Bai Heng terlihat berkonspirasi dengan Khanate Beyu — kerajaan musuh di utara. Kalau bukti palsu itu sampai ke Kaisar, Bai Heng akan dihukum mati dengan tuduhan pengkhianatan.*
*Mei Lin, kalau kau di sisi Pangeran Liang — beliau satu-satunya yang bisa menghentikan ini. Pangeran Liang adalah satu-satunya orang di istana yang Kaisar percaya untuk menyelidiki tuduhan pengkhianatan. Dan beliau juga satu-satunya yang punya pengaruh untuk membalik bukti palsu menjadi serangan balik.*
*Tetapi jangan pernah biarkan Selir Wei tahu kau memberitahunya. Klan Mu akan membunuhmu sebelum bukti diserahkan ke Kaisar.*
*Hidup-mati Bai Heng ada di tanganmu sekarang, Mei Lin. Dan kalau Bai Heng mati, saya tidak akan punya alasan untuk hidup. Saya akan minum racun yang sudah saya simpan tujuh tahun di lemari kayu kecil di bawah ranjang saya — racun yang ibu pernah ajarkan kepada saya, dengan pesan: 'Lan Yi, ini hanya untuk hari yang kau benar-benar tidak ingin lihat besok.'*
*Maafkan saya menempatkan beban ini di pundakmu. Tetapi tidak ada orang lain yang bisa saya percaya, kecuali kau.*
*Selalu menyayangimu, Lan Yi."*
Mei Lin meremas surat itu di tangannya. Air matanya tidak keluar — tetapi dadanya terasa seperti dipenuhi air mata yang tidak punya tempat untuk pergi.
Kakaknya. Lan Yi sang gadis lembut yang dulu menangis melihat kupu-kupu mati di teras kebun teh. Yang dulu menulis puisi tentang awan dan tidak pernah berani membantah ayah. Yang sekarang menjadi perempuan yang siap mati untuk pria yang dicintainya.
Di antara semua perasaan yang berkecamuk di dada Mei Lin — marah karena ditinggalkan, sedih karena rindu, terkejut karena permintaan tolong yang datang setelah pengkhianatan — yang paling kuat adalah satu yang tidak ia duga: bangga.
Bangga karena kakaknya akhirnya mencintai sesuatu cukup untuk mengambil resiko mati.
"Yi."
"Iya, Tuan Putri."
"Kita harus bicara dengan Pangeran. Malam ini."
Yi membaca surat itu dari atas bahu Mei Lin. Wajah Yi tidak menunjukkan ekspresi — tetapi tangannya yang menutup kotak buah persik itu sangat hati-hati, seolah kotak itu sudah berubah menjadi kotak racun.
"Pangeran sedang dalam pertemuan dengan Kaisar di Aula Kaisar, Tuan Putri. Akan berakhir paling cepat tengah malam."
"Kalau begitu kita tunggu di paviliun barat. Sampai pagi kalau perlu."
Yi menatapnya, lalu mengangguk.
"Saya akan bawa pisau."
***
Mei Lin duduk di teras paviliun barat selama empat jam.
Lampion-lampion meredup. Kunang-kunang muncul dari taman bambu di belakang paviliun, terbang pelan di udara malam yang lembab. Yi duduk di sebelahnya, tetap diam, tetap waspada — tangannya tidak pernah jauh dari pisau yang tersembunyi di lengan baju jubahnya.
Mei Lin tidak bisa membaca. Tidak bisa menjahit. Tidak bisa duduk diam. Tetapi ia tetap duduk, karena pintu masuk paviliun barat sudah dikunci sejak pukul sembilan malam — kalau ia pergi sekarang, ia tidak akan bisa kembali.
Ia memikirkan banyak hal selama empat jam itu. Tentang kakaknya yang sekarang di Khanate Beyu, hidup berdua dengan jenderal yang ia cintai, di rumah kecil yang Mei Lin bayangkan punya kebun mawar. Tentang ayahnya di Lembah Yang, yang setiap pagi pasti masih menunggu surat dari Mei Lin. Tentang adiknya, Mei Hua, yang tidak pernah mengerti mengapa kakak-kakaknya hilang berturut-turut.
Tentang Liang, yang sekarang mungkin sedang membungkukkan kepala kepada Kaisar di Aula yang penuh lilin.
Liang yang dingin. Liang yang tujuh tahun lalu ditinggalkan ibunya. Liang yang diam-diam mempersiapkan pisau lipat sutera untuk istri yang ia bahkan belum kenal.
Mei Lin tidak bisa membayangkan apa yang akan ia lakukan kalau Liang menolak permintaannya. Tetapi ia juga, dalam relung paling jujur di hatinya, tidak bisa membayangkan Liang menolak.
***
Liang akhirnya pulang pukul tiga pagi.
Mei Lin mendengar langkahnya sebelum melihatnya — langkah yang berbeda dari biasanya. Lebih lambat. Lebih berat. Seperti orang yang sudah berdiri di tempat yang sama selama lima jam dan baru sekarang diizinkan duduk.
Liang muncul di tangga paviliun. Jubahnya bercipratan tanah — hujan tiba-tiba turun pukul satu pagi tadi, dan Liang jelas tidak punya payung di perjalanan pulangnya. Mahkota peraknya miring sedikit, seolah ia sudah lupa untuk meluruskannya.
Ia berhenti di tangga ketika melihat Mei Lin.
Selama tiga detik penuh, Liang tidak bergerak. Hanya menatap.
Mei Lin tahu dari tatapan itu — Liang sudah menebak, dalam tiga detik itu, mengapa istrinya menunggu di teras paviliun pribadinya pukul tiga pagi. Pria ini tidak butuh penjelasan; ia membaca situasi seperti orang lain membaca kalimat pertama buku.
"Tuan Putri Mei Lin," akhirnya Liang berkata. Suaranya berat dengan kelelahan, tetapi bukan dengan kesalkesalan. "Kenapa Anda di sini?"
Mei Lin berdiri. Ia tidak menjawab. Ia hanya menyodorkan surat itu.
Liang naik ke teras. Mengambil surat dari tangan Mei Lin. Membaca dalam diam, di bawah cahaya lampion yang hampir padam.
Wajahnya tidak berubah saat membaca. Tidak ada satu otot pun yang bergerak di rahangnya. Tetapi ketika ia akhirnya melipat kertas itu — pelan-pelan, seperti orang yang melipat kain yang akan disimpan untuk waktu lama — tangannya bergetar untuk waktu yang sangat singkat.
Hanya satu detik. Tetapi Mei Lin menangkapnya.
"Mei Lin." Suaranya berbeda kali ini. Lebih lembut. "Terima kasih sudah datang ke saya dengan ini. Banyak orang akan menyembunyikannya."
"Apakah saya bisa percaya pada Anda?"
Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari yang Mei Lin niatkan. Tetapi sekarang sudah terucap, dan ia tidak akan menariknya kembali.
Liang menatapnya lama. Lalu, untuk pertama kali sejak ia mengenal Mei Lin, ia menyentuhnya — bukan ciuman, bukan pelukan, hanya satu jari di punggung tangannya. Pelan, seolah ia takut akan mematahkannya.
"Iya, Mei Lin. Kau bisa."
Mei Lin menarik napas. Dan ia tahu, dari sentuhan satu jari itu — sentuhan yang lebih lembut dari yang seharusnya bisa dilakukan oleh tangan yang sudah membunuh sembilan komandan musuh — bahwa pria ini akan menyelamatkan Bai Heng. Bukan untuk Bai Heng. Bukan untuk Lan Yi.
Untuknya. Untuk Mei Lin.
Karena pria yang seumur hidupnya tidak pernah dicintai oleh siapa pun, akan melakukan apa pun untuk satu orang yang mulai melihatnya bukan sebagai pangeran, tetapi sebagai Liang.