Kaisar memanggil keduanya tiga hari kemudian.
Tiga hari yang Liang habiskan untuk hal yang tidak ia jelaskan kepada Mei Lin. Mei Lin tahu hanya ini: setiap pagi, Liang berangkat dari paviliun barat sebelum subuh, kembali setelah matahari terbenam. Wei Bao masuk-keluar paviliun timur dengan map-map kertas yang berbeda. Yi kadang dipanggil ke paviliun barat untuk pertemuan singkat — hanya beberapa menit, lalu kembali tanpa berkata apa pun selain "Pangeran sedang bekerja".
Pada pagi keempat, Bu Niang masuk ke kamar Mei Lin dengan baki yang berbeda dari biasanya: di atasnya, satu set jubah formal lengkap.
"Kaisar memanggil Anda dan Pangeran ke Aula Tahta hari ini, Tuan Putri. Pukul kesepuluh pagi."
Mei Lin merasakan dadanya menjadi dingin. Aula Tahta. Tempat yang hanya dimasuki dua kali setahun — saat Kaisar berkunjung dari Ibu Kota Kuno, dan saat keputusan-keputusan paling penting kerajaan diumumkan.
"Kaisar... datang ke istana ini?"
"Sudah datang sejak kemarin malam, Tuan Putri. Diam-diam. Pangeran yang minta beliau datang."
Mei Lin berdiri. Tangannya gemetar.
"Bu Niang. Bantu saya berpakaian."
***
Jubah audiensi Mei Lin adalah jubah merah marun dengan sulam naga emas di dada — pakaian formal istri pangeran yang hanya dipakai dalam acara-acara kerajaan paling tinggi. Berat, dengan tujuh lapis sutera di dalam dan emas yang dianyam di tepiannya seperti tirai tipis. Bu Niang dan tiga dayang muda butuh setengah jam untuk membantunya memakai semuanya — termasuk ikat kepala perak dengan giok hijau di tengah.
Saat Mei Lin akhirnya menatap dirinya di cermin tembaga, ia tidak mengenali diri sendiri lagi.
Bukan Mei Lin sang adik kedua dari Lembah Yang. Bukan juga Lan Yi sang kakak yang kabur. Bahkan bukan Selir Mei Lin yang pendiam dari Sayap Timur.
Itu adalah Tuan Putri Mei Lin dari Kerajaan Tan. Dan sebentar lagi, ia akan berdiri di hadapan Kaisar.
Liang sudah menunggu di koridor Sayap Timur. Ia mengenakan jubah kerajaan biru tua dengan motif sembilan naga emas — pakaian putra mahkota yang hanya dipakai di hadapan Kaisar. Mahkota perak penuh di rambutnya. Pedang seremonial di pinggang.
Untuk satu detik penuh, Mei Lin menatapnya tanpa kata. Bukan karena tampilannya — tetapi karena ekspresi di wajahnya. Tegang, tetapi tenang. Seperti orang yang sudah mempersiapkan setiap kata, setiap gerakan, setiap kemungkinan kontra-argumen.
"Tuan Putri Mei Lin." Liang membungkuk satu kali — protokol formal, bukan untuk Mei Lin secara pribadi melainkan untuk istri pangeran yang akan menghadap Kaisar. "Kita berangkat."
"Yang Mulia."
Mereka berjalan ke Aula Tahta dalam diam. Lima pengawal di depan, lima di belakang. Pelayan-pelayan istana berlutut di sepanjang lorong, dahi di lantai, sampai keduanya lewat.
Tepat sebelum mereka memasuki Aula, Liang berbicara untuk pertama kalinya pagi itu.
"Mei Lin."
"Iya."
"Kaisar akan bertanya tentang surat itu. Kau tidak boleh menyebut nama kakakmu. Tidak boleh menyebut Lembah Yang. Ceritakan saja: kau menerima surat anonim, kau menyampaikannya ke saya."
"Saya mengerti."
"Dan satu hal lagi."
"Iya."
"Apa pun yang Kaisar bilang, jangan menatap matanya secara langsung. Hanya matanya. Itu pelanggaran. Tatap di tengah dahinya — itu cukup sopan."
Mei Lin mengangguk pelan. Liang menatapnya sekilas — tatapan singkat, tetapi penuh sesuatu yang Mei Lin tidak bisa beri nama. Lalu ia mengangguk kepada pengawal pintu. Pintu Aula Tahta dibuka.
***
Aula Tahta lebih besar dari yang Mei Lin bayangkan.
Empat puluh tiang merah dengan ukiran emas berdiri di dua sisi. Lantai marmer hijau gelap dipoles sampai memantulkan cahaya seperti cermin. Di langit-langit, dua belas naga emas saling melingkar, mengelilingi sebuah simbol matahari. Tetapi yang paling mencolok adalah tahta itu sendiri — tahta dari kayu mahoni dengan ukiran sembilan naga, dilapisi emas di seluruh tepiannya, dengan bantal sutera kuning di atasnya.
Dan di atas tahta itu, duduk Kaisar.
Kaisar Tan, pria yang sudah memerintah selama empat puluh tahun. Rambut perak yang tertata rapi, jubah kuning kerajaan dengan sulam naga merah. Wajahnya — Mei Lin sekarang menyadari dengan sedikit terkejut — sangat mirip dengan Liang. Rahang yang sama tegas, mata yang sama gelap. Tetapi jauh lebih tua, jauh lebih lelah, jauh lebih dingin.
Empat puluh pejabat istana berdiri di dua sisi aula. Di antara mereka, Mei Lin melihat Permaisuri Ibu Suri di kursi terhormat di sebelah kanan tahta — wajahnya tidak menunjukkan apa pun. Dan di kerumunan pejabat, ia melihat Selir Wei berdiri dengan dua dayangnya — wajah Wei sangat tenang, terlalu tenang, dan mata almond-nya bergerak dengan kecepatan orang yang sedang mencoba menebak apa yang akan terjadi.
Liang dan Mei Lin berlutut di tengah aula, di atas dua bantal merah yang sudah disiapkan.
"Ayahanda Kaisar," kata Liang dengan suara tegas dan formal. "Pangeran Liang dari Klan Tan dan Tuan Putri Lan Yi dari Keluarga Ho menghaturkan hormat."
Kaisar mengangguk pelan.
"Bangkit."
Mereka bangkit. Berdiri sejajar di tengah aula.
"Pangeran Liang." Suara Kaisar dalam dan pelan, tetapi setiap kata jatuh seperti batu di kolam yang tenang. "Sudah dilaporkan padaku bahwa selir baru dari keluarga Ho membawa berita tentang pengkhianatan di klan Mu. Apakah ini benar?"
"Benar, Ayahanda."
"Selir Lan Yi, maju."
Mei Lin maju. Lima langkah ke depan, lalu berhenti. Empat puluh mata pejabat istana menatapnya. Selir Wei tidak menatapnya — tetapi Mei Lin merasakan kemarahan vulkanik di balik wajah tenang Wei, seperti panas di balik kaca.
Mei Lin menatap ke titik di antara dua alis Kaisar. Bukan langsung matanya. Sopan, tetapi tegak.
"Yang Mulia."
"Tuan Putri. Ceritakan apa yang kau ketahui."
Mei Lin menarik napas pelan, lalu berbicara dengan suara yang ia harap tidak gemetar.
"Yang Mulia. Lima hari yang lalu, sebuah surat anonim sampai ke saya melalui kotak buah-buahan yang dikirim seorang pedagang yang tidak diketahui. Surat itu berisi peringatan bahwa Jenderal Bai Heng akan dijebak dengan tuduhan konspirasi dengan Khanate Beyu. Pengirim surat tidak menyebutkan namanya. Saya tidak mengenal tulisan tangan di surat tersebut. Tetapi karena isinya melibatkan keamanan kerajaan, saya merasa berkewajiban menyampaikannya kepada Pangeran Liang."
"Anonim?" Kaisar mengangkat alis.
"Saya tidak tahu siapa pengirimnya, Yang Mulia. Tetapi tulisan tangan menunjukkan seseorang yang terdidik. Saya merasa berkewajiban menyampaikan."
Kaisar mengangguk pelan. Lalu matanya beralih ke kerumunan.
"Selir Wei dari klan Mu. Maju."
Wei melangkah ke depan dengan grace yang dilatih bertahun-tahun. Berlutut sebentar, lalu berdiri di sebelah Mei Lin — tetapi dua langkah di belakang, sesuai protokol untuk selir yang lebih rendah pangkat dari istri pangeran.
"Yang Mulia."
"Apakah klan-mu memiliki sengketa dengan Jenderal Bai Heng?"
"Tidak, Yang Mulia."
"Tetapi saudara laki-lakimu, Jenderal Mu, mengincar posisi Komandan Pertahanan Utara yang akan kosong tahun ini. Apakah benar?"
Wei tersenyum tipis. "Itu kompetisi sehat antar perwira, Yang Mulia. Tidak ada yang luar biasa."
Kaisar menatap Wei lama. Sangat lama. Aula Tahta menjadi senyap — tidak ada yang berani bahkan bernapas keras.
"Pangeran Liang sudah menyelidiki tiga hari ini," kata Kaisar akhirnya. "Bukti-bukti yang ditemukan di kediaman Jenderal Mu menunjukkan rencana pemalsuan dokumen dengan Khanate Beyu. Surat-surat yang seharusnya berasal dari Jenderal Bai Heng — tetapi yang segelnya, ketika diperiksa oleh ahli forensik kerajaan, terbukti dibuat dengan stempel palsu."
Pangeran Liang melangkah ke depan. Membungkuk. Lalu — dari jubahnya — mengeluarkan satu gulungan kertas.
"Bukti-bukti, Ayahanda."
Liang menyerahkan gulungan itu kepada eunuch yang menunggu, yang lalu menyerahkannya kepada Kaisar. Kaisar membukanya. Membaca. Dan dengan setiap baris, wajahnya menjadi semakin gelap.
Akhirnya, Kaisar melipat gulungan itu. Menatap Selir Wei.
"Selir Wei. Apakah Anda akan tetap menyangkal?"
Wajah Wei pucat seketika — pertama kalinya pagi itu. Tetapi ia adalah perempuan yang sudah dilatih sejak kecil untuk berbohong dengan elegan.
"Saya... tidak tahu apa-apa tentang itu, Yang Mulia."
Kaisar melambai dengan satu tangan. Tanpa kata.
Pengawal istana — dua dari mereka — bergerak dari sudut aula. Mereka menangkap Wei dengan sopan tetapi tegas. Wei tidak melawan. Ia hanya mengangkat dagu dengan sombong, dan saat mereka membawanya keluar, ia melempar tatapan ke Mei Lin — tatapan satu detik, tetapi cukup lama.
Tatapan yang berkata: *aku belum selesai denganmu*.
"Selir Wei akan dipenjara di Paviliun Timur Bawah sampai keputusan akhir," kata Kaisar dengan suara tegas. "Audiensi selesai."
***
Saat semua mulai bubar, Liang menyentuh siku Mei Lin pelan — sentuhan yang singkat, formal, tetapi yang membuat dada Mei Lin berdetak lebih cepat.
"Kau melakukannya dengan baik."
"Saya takut sekali."
"Aku tahu. Itu yang membuatmu berani, Mei Lin. Bukan ketidaktakutan — tetapi melakukan hal yang benar walaupun takut."
Mei Lin menatapnya. Liang menatap balik.
Dan untuk pertama kali, di tengah Aula Tahta yang sedang mengosong, Liang tersenyum padanya. Senyum kecil. Sederhana. Tidak ada gigi. Hanya sudut bibir yang naik sedikit, dan mata yang tidak lagi gelap seperti biasanya.
Tetapi itu cukup untuk membuat dunia Mei Lin berjungkir balik.