Kemenangan itu terlalu cepat. Terlalu mulus.
Mei Lin tahu sesuatu masih salah ketika dayang yang biasanya membersihkan paviliun-nya tidak datang pagi itu. Yi pergi mencari ke dapur Sayap Timur — tugas dayang junior itu, biasanya, sudah selesai sebelum Mei Lin sarapan. Yi kembali sepuluh menit kemudian, dengan ekspresi gelap.
"Selir Wei lolos dari Paviliun Timur Bawah tadi malam, Tuan Putri."
Mei Lin merasakan tangannya menjadi dingin. Cangkir teh yang ia pegang hampir jatuh. "Apa? Tetapi penjagaan—"
"Klan Mu masih kuat di istana. Mereka menyuap pengawal. Wei sekarang... entah di mana. Tetapi pesan tertulis ditemukan di Paviliun Anggrek pagi ini — di altar bunga anggrek yang sengaja dibalik."
Yi mengeluarkan secarik kertas. Tulisan kasar dengan tinta merah — tinta yang berbeda dari tinta hitam yang biasanya dipakai di istana. Tinta merah hanya dipakai untuk tiga hal: dokumen kerajaan, kontrak pernikahan, dan ancaman pembunuhan.
*"Anak ayam tidak akan lihat matahari besok."*
Mei Lin merasakan dingin merambat naik dari telapak kaki ke punggungnya.
"Tuan Putri." Yi sudah berdiri di depan pintu kamar, seolah memblokir jalan masuk-keluar. "Anda tidak boleh meninggalkan paviliun ini sampai Pangeran kembali dari rapat dewan."
"Liang di rapat dewan sekarang? Berapa lama lagi?"
"Sampai sore. Mungkin lebih lama. Kaisar sedang menanyai pejabat-pejabat tentang konspirasi klan Mu."
"Kalau begitu kirim pengawal—"
Suara langkah cepat di luar memotong Yi. Lima dayang masuk dengan tergesa, wajah-wajah panik, jubah-jubah mereka basah keringat.
"Tuan Putri! Kebakaran di dapur kerajaan! Asap tebal masuk ke paviliun! Anda harus pindah ke paviliun selatan untuk keselamatan!"
Mei Lin menatap kelima dayang itu. Wajah-wajah yang tidak ia kenal — bukan dayang Sayap Timur. Bukan dayang yang biasanya bertugas di paviliun mana pun yang dekat. Mereka mengenakan seragam dayang biasa, tetapi sepatu mereka — Mei Lin baru menyadari ini sekarang — adalah sepatu yang sedikit terlalu kuat untuk dayang biasa. Sepatu pengawal.
Lima "dayang" yang sebenarnya pengawal yang menyamar.
Yi menatap Mei Lin. Mata mereka bertemu. Kedua perempuan itu tahu satu hal yang sama dalam waktu satu detik:
*Itu jebakan.*
Dan kalau mereka menolak ikut, lima pengawal yang menyamar itu akan menyerang sekarang juga — di kamar Mei Lin, di mana hanya ada Yi yang melindunginya, dengan satu pisau lipat di lengannya.
Tidak. Lebih baik di taman terbuka, di mana Yi bisa bergerak.
"Yi," bisik Mei Lin, suara terlalu pelan untuk didengar siapa pun selain Yi. "Kau pegang pisau di lengan?"
"Selalu."
"Kita ikut mereka. Tetapi waspada."
***
Mereka diantar oleh lima dayang melalui koridor sepi yang aneh — bukan jalan menuju paviliun selatan yang biasa, melainkan jalan tikus yang melewati taman dalam kecil di belakang Sayap Tengah. Taman yang sepi. Yang tidak ada penjaga reguler. Yang sengaja dipilih sebagai tempat eksekusi yang tenang.
Tidak ada bau asap. Tidak ada tanda kebakaran. Tidak ada keributan di kejauhan yang biasanya menyertai kebakaran besar.
Hanya hujan yang baru saja mulai turun — hujan rinai di awal, lalu lebih deras saat mereka memasuki taman dalam.
Mei Lin berbisik pada Yi tepat sebelum mereka memasuki gerbang taman.
"Sekarang."
***
Yi bergerak lebih cepat dari yang Mei Lin sempat lihat.
Pisau lipat keluar dari lengan baju Yi dengan satu gerakan halus — tidak ada teriakan, tidak ada pengumuman. Tepat saat mereka melewati ambang gerbang, Yi sudah memutar tubuhnya, dan pisau itu sudah masuk ke dada salah satu "dayang" yang berjalan di belakang mereka. Pria yang menyamar itu tumbang sebelum sempat menarik senjata dari balik jubah.
Yang kedua bereaksi cepat — pisau panjang keluar dari lengannya. Tetapi Yi sudah di sana, menangkap lengannya dengan satu tangan, memutarnya dengan kecepatan yang membuat tulang lengan itu berbunyi *tak* dan pria itu menjerit pendek sebelum jatuh.
Yang ketiga, keempat, kelima — semua sudah mengeluarkan senjata. Pisau-pisau panjang yang biasa dipakai pengawal istana.
Mei Lin — dengan tangan gemetar tetapi gerakan yang sudah dilatihnya selama tiga minggu di ruang penyimpanan tua — menarik pisau lipat sutera dari lengan jubahnya sendiri. Yi tidak berharap ia bertarung. Tetapi Yi juga tidak akan menyalahkannya kalau ia tidak.
Tetapi Mei Lin sudah memilih: ia tidak akan mati hanya berdiri.
Pria ketiga datang ke arahnya. Mei Lin menusuk — bukan ke jantung, ke bahu, sesuai yang Yi ajarkan. *Lukai dulu, jangan bunuh dulu*. Pisaunya masuk dengan resistensi yang kurang dari yang Mei Lin bayangkan — daging manusia, ternyata, lebih lunak dari karung beras yang ia latih.
Pria itu menjerit. Jatuh ke lutut. Pisaunya jatuh dari tangan.
Yi sudah menumbangkan yang keempat. Lima detik. Empat dari lima pengawal sudah jatuh.
Tetapi yang kelima lebih cepat dari yang lain.
Tangan dingin menggenggam leher Mei Lin dari belakang. Pisau yang dingin menempel di tenggorokannya — sangat dekat, satu gerakan kecil dan pembuluh darah utamanya akan terputus.
"Halo, adik kecil."
Suara perempuan. Suara yang Mei Lin kenal terlalu baik. Tepat di telinganya.
Selir Wei.
Wei adalah pengawal kelima. Yang sengaja datang sendiri, untuk memastikan pekerjaan kali ini selesai dengan tangannya sendiri.
Yi membeku tiga meter dari Mei Lin. Pisau lipatnya basah dengan darah yang bukan miliknya. Mata Yi — yang biasanya tenang — sekarang menghitung kemungkinan dengan kecepatan komputer.
Mei Lin tidak bergerak. Pisau di lehernya terlalu dekat. Satu gerakan dan ia mati.
"Pangeran-mu," desis Wei di telinga Mei Lin, "mengirim selir baru ke depan tahta Kaisar untuk menjatuhkan saudaraku. Saudara saya dipenjara semalam, akan dihukum mati besok pagi. Maka sekarang, aku akan kirim selir-mu ke akhirat untuk membalasnya."
Mei Lin merasakan hujan menetes di rambutnya. Tetes yang dingin di kening. Detak jantungnya — yang seharusnya berdebar gila-gilaan — ternyata pelan. Sangat pelan. Seperti tubuhnya tahu, dalam saat-saat terakhir, untuk menghemat energi.
"Lepaskan dia, Wei."
Suara baru. Datar. Dingin.
Mei Lin menahan napas.
Pangeran Liang berdiri di pintu masuk taman. Mengenakan jubah hitam yang basah karena hujan — ia jelas berlari, atau diberi tahu tepat waktu, atau dua-duanya. Mata Liang gelap dengan cara yang Mei Lin belum pernah lihat — bukan dingin profesional yang biasa, melainkan dingin pembunuh yang menatap target. Mata yang sudah memutuskan: kalau Wei tidak melepaskan Mei Lin, Wei akan mati di taman ini, malam ini.
Di belakang Liang, sepuluh pengawal istana — pengawal asli, dengan seragam yang benar — berdiri siap. Tetapi Liang sendiri sudah menarik pedang. Pedang panjang yang Mei Lin pernah lihat tergantung di paviliun barat — pedang yang katanya hadiah Kaisar untuk kemenangan Liang di Perang Beyu lima tahun lalu.
"Pangeran," desis Wei. Pisaunya tetap di leher Mei Lin. "Satu langkah lagi dan dia mati."
Liang tidak bergerak. Tetapi suaranya saat berbicara mengubah semua keseimbangan di taman itu.
"Wei. Kau sudah salah."
"Salah apa?"
"Salah memilih Mei Lin." Liang menatap Wei dengan tatapan yang langsung melewati Mei Lin — seperti Mei Lin tidak ada di sana, hanya Wei. "Aku akan membakar seluruh klan-mu dari akarnya kalau kau menggoresnya satu mili pun. Aku sumpah pada nama leluhurku — pada nama ibu kandungku yang dikuburkan di gunung utara — pada darah lima generasi keluarga Tan."
Hujan turun lebih deras. Wei tertawa pelan — tawa yang gemetar, bukan yakin.
"Jadi benar." Wei berbicara kepada belakang kepala Mei Lin, tetapi keras enough untuk Liang dengar. "Pangeran dingin akhirnya jatuh hati."
Liang melangkah maju. Satu langkah saja.
Wei menggerakkan pisau. Detik itu juga.
Dan dunia Mei Lin meledak menjadi merah.