Yang pertama kali Mei Lin sadari — setelah suara, setelah hentakan, setelah dunia berputar — adalah bahwa ia masih hidup.
Detik-detik pertama berlalu seperti dalam mimpi yang patah-patah. Ia ingat: Wei menggerakkan pisau. Ia ingat: Yi melempar pisau lipatnya dari tiga meter, dengan presisi yang Mei Lin tidak pernah lihat dari siapa pun di hidupnya. Pisau Yi mengenai pergelangan tangan Wei yang memegang senjata. Wei menjerit kesakitan. Tangannya yang memegang pisau lemas, terlepas dari leher Mei Lin.
Lalu — bersamaan dengan itu — Liang melompat.
Bukan melompat untuk menyerang Wei. Melompat untuk menutupi Mei Lin dengan tubuhnya. Karena pisau Wei, walaupun lemas, masih punya momentum jatuh. Masih bisa mengenai Mei Lin di dada saat ia jatuh.
Liang yang menerima tusukan kedua itu di lengan kirinya.
***
Sekarang Mei Lin berbaring di rerumputan basah taman dalam, di atas tubuh Liang, dengan jubah perak sang Pangeran yang membungkus tubuhnya.
Hujan masih turun. Tetapi tidak menyentuhnya. Liang menutupinya dengan tubuhnya sendiri, jubahnya, dan tangannya yang tidak terluka. Sepertinya bahkan dalam keadaan terluka, refleks pertama Liang adalah melindungi.
Yi sudah menahan Wei. Pengawal-pengawal sudah datang. Seseorang berteriak memanggil tabib istana. Mei Lin mendengar semua itu seperti suara dari kejauhan — seperti orang yang berdiri di balik jendela kaca tebal yang meredam suara dunia.
Yang benar-benar nyata baginya, sekarang, hanya satu hal: napas Liang di dekat telinganya. Lebih cepat dari yang seharusnya. Tetapi masih ada. Masih ada.
"Liang—"
"Aku baik-baik saja."
"Kau berdarah—"
"Daging luka. Bukan apa-apa."
Mei Lin meraih wajah pria itu dengan kedua tangannya, tidak peduli pada darah yang menempel di jarinya. Tidak peduli pada hujan yang membasahi keduanya. Tidak peduli pada protokol istana yang melarang istri menyentuh wajah suami dalam keadaan publik.
"Bodoh. Bodoh sekali kau, Pangeran Liang. Apa yang kau pikirkan, melompat ke depan begitu? Pisau itu untuk saya. Saya yang dipakai sebagai sandera. Bukan kau."
"Kau memarahi pangeran?"
"Saya memarahi suami yang nyaris mati di hadapan saya."
Liang tertawa pelan. Tawa yang — lemah karena luka — membuat air mata Mei Lin akhirnya pecah. Pertama kalinya ia menangis sejak pernikahan tujuh minggu yang lalu. Pertama kalinya ia mengizinkan dirinya menangis di hadapan orang lain selain Bu Niang yang setengah pura-pura tidak melihat.
"Mei Lin," bisik Liang. Suaranya berat tetapi jelas. "Ada yang ingin saya katakan. Sejak hari pertama kau datang."
"Jangan bicara, kau perlu tabib—"
"Dengarkan saya. Sebentar. Kalau saya pingsan setelah ini, saya tidak akan bisa mengatakannya lagi."
Mei Lin terdiam. Hujan turun di rambutnya, di pipinya, di leher Liang. Tetes yang dingin. Tetapi tubuh Liang di bawahnya — meski berdarah — masih hangat.
Liang mengangkat tangan kanan — yang tidak terluka — dan menyentuh pipi Mei Lin. Telapak tangannya hangat di tengah hujan dingin. Kasar, tetapi hati-hati. Tangan seorang pria yang sudah membunuh sembilan komandan musuh, sekarang menyentuh wajah Mei Lin seperti menyentuh kelopak bunga teratai pertama yang mekar di musim semi.
"Saya menikahimu sebagai formalitas," Liang berkata. "Saya berjanji pada diri sendiri tidak akan mencintaimu, karena cinta di istana ini adalah kelemahan yang membunuh. Itu pelajaran yang saya pelajari dari ibu saya — yang mati karena terlalu mencintai suaminya yang Kaisar."
Mei Lin menahan napas.
"Tetapi setiap malam selama dua bulan terakhir," lanjut Liang dengan suara yang semakin pelan, "saya tidur dengan satu pikiran yang sama. Apakah kau makan dengan baik. Apakah Yi cukup melindungi. Apakah kau merasa kesepian di kamar yang seharusnya saya datangi tetapi tidak pernah. Apakah kau menyesali datang ke sini. Apakah... apakah kau memikirkan saya, juga, di malam-malam itu."
"Liang..."
"Saya tahu sekarang." Mata Liang masih terbuka, tetapi kelopaknya sudah berat. "Kalau saya mati di taman ini, satu-satunya hal yang akan saya sesali adalah tidak pernah memberitahumu. Jadi saya akan beritahu kamu sekarang, sebelum saya pingsan. Karena setelah ini, saya tidak yakin saya akan punya kesempatan."
Mei Lin tidak bisa lagi menahan air matanya. Air mata jatuh ke wajah Liang, bercampur dengan hujan, bercampur dengan darah di pipi Liang.
"Mei Lin Ho," kata Liang dengan suara yang nyaris berbisik, tetapi sangat jelas. "Saya jatuh cinta padamu. Sejak malam pertama saat saya menemukanmu di taman teratai di bawah bulan, dan kau memarahi saya — diam-diam, dengan punggung yang terlalu tegak — untuk pernikahan yang saya jelaskan sebagai 'sekedar politik'. Saya tahu di malam itu juga, walaupun saya tidak akan mengakuinya selama tujuh minggu. Saya cinta kau."
Mei Lin tertawa di antara isakannya. Karena bagaimana bisa pria ini — yang berdarah di pelukannya, yang nyaris mati untuknya, yang seharusnya tidak punya energi untuk monolog panjang seperti ini — masih mengingat momen-momen kecil. Masih mengingat semuanya.
"Saya juga," bisik Mei Lin. Suaranya pecah, tetapi kata-katanya jelas. "Saya juga jatuh cinta padamu, Pangeran dingin. Sejak malam itu. Sejak malam setelah audiensi Kaisar saat kau tersenyum kecil padaku dan dunia saya berjungkir balik. Sejak hari pertama saya tahu kau diam-diam mempersiapkan pisau lipat untuk saya, jauh sebelum kau pernah mengenal saya sebagai diri saya sendiri."
Liang tersenyum — senyum lengkap, tanpa pertahanan, untuk pertama kali sejak Mei Lin mengenalnya.
Lalu matanya menutup.
"Liang? Liang—!"
"YI! TABIB!"
Yi sudah berlari. Pengawal istana yang membantu Wei sudah mengikat Wei dan menyeretnya pergi dari taman. Pelayan-pelayan datang dengan tandu kayu, dengan kain putih, dengan ramuan obat.
Tetapi Mei Lin tidak peduli pada apa pun di dunia ini saat itu. Ia hanya memeluk pria yang baru saja mengaku mencintainya, di tengah hujan, di taman dalam istana yang asing, dengan darah Liang menempel di rambutnya dan jubahnya dan air matanya.
Ia berdoa pada langit dengan kata-kata yang ia bahkan tidak tahu dari mana datangnya — kata-kata yang bukan dari pendidikan keluarga Ho yang sederhana, bukan dari ritual formal istana Tan, melainkan dari sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang seperti naluri seorang istri yang baru saja menemukan suaminya:
*Tuhan. Langit. Apa pun yang menjaga dunia ini.*
*Jangan ambil dia. Belum.*
*Saya baru saja menemukannya.*
Hujan terus turun. Lebih deras. Lebih dingin.
Tetapi Mei Lin tidak melepaskan Liang. Tidak ketika tabib datang. Tidak ketika empat pengawal mencoba mengangkat Liang ke tandu. Tidak sampai Yi — dengan suara lembut yang Mei Lin tidak pernah dengar darinya — berkata, "Tuan Putri. Biarkan tabib bekerja. Pangeran akan baik-baik saja. Saya berjanji."
Mei Lin akhirnya melepaskan tangannya. Berdiri. Tubuhnya basah kuyup. Jubah merah marun yang ia pakai pagi itu sekarang berwarna lebih gelap, dengan noda merah yang lebih gelap di dada — darah Liang yang sudah meresap ke sutera.
Ia berjalan di belakang tandu menuju paviliun barat, di tengah hujan, dengan Yi di sampingnya yang tidak meninggalkannya selangkah pun.
Dan ia tahu — di dalam dirinya, dengan kepastian yang lebih dalam dari rasa cinta itu sendiri — bahwa kalau Liang pulih dari malam ini, hidupnya tidak akan lagi sama. Bahwa pernikahan formalitas sudah selesai. Yang dimulai sekarang adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang ia akan jaga dengan apa pun yang ia punya.
Dan kalau Liang tidak pulih...
Mei Lin menghapus pikiran itu. Tidak. Liang akan pulih. Liang harus pulih.
Karena setelah tujuh minggu di istana yang asing, Mei Lin akhirnya menemukan satu hal yang sungguh-sungguh miliknya.
Dan dia tidak akan kehilangan itu lagi.