Alger membuka tas dokternya dengan tergesa-gesa. Ia mengeluarkan stetoskop, termometer, dan beberapa alat kecil lain yang hanya ia sendiri yang paham kegunaannya. Syahquita berbaring di atas kasur dengan wajah pucat, rambutnya masih sedikit basah oleh keringat dingin yang muncul sejak tadi di kamar mandi. Albert berdiri di sisi ranjang, tangannya tidak berhenti menggenggam tangan istrinya sejak mereka tiba di kamar ini.
“Tarik napas pelan-pelan, Tuan Putri. Keluarkan lewat mulut,” ucap Alger lembut, mencoba menenangkan pasiennya yang terlihat begitu lelah. Ia menempelkan stetoskop di dada Syahquita, mendengarkan detak jantungnya dengan konsentrasi penuh. Sejenak suasana kamar menjadi hening, hanya terdengar suara napas Syahquita yang berat dan helaan napas Albert yang tidak sabar menunggu hasil.
“Bagaimana?” tanya Albert tidak tahan dengan keheningan yang hanya berlangsung beberapa detik itu.
“Sabar dulu, Tuan. Saya masih memeriksa,” jawab Alger tanpa mengalihkan perhatiannya dari pasiennya. Ia kemudian memeriksa mata Syahquita, menempelkan punggung tangannya di kening wanita itu, lalu mencatat sesuatu di buku kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana. “Tidak ada demam. Detak jantungnya normal, hanya sedikit lebih cepat dari biasanya, tapi itu wajar setelah muntah-muntah.”
“Jadi dia sakit apa?” tanya Albert lagi, kali ini dengan nada yang lebih tinggi. Ada kekhawatiran yang sangat jelas terdengar dari suaranya, sesuatu yang jarang sekali ditunjukkan pria itu di depan orang lain.
Alger menimbang-nimbang sebelum menjawab. Ia melirik Syahquita yang menutup matanya, lelah, lalu kembali menatap Albert. “Tuan, kalau boleh saya tahu… kapan terakhir Tuan Putri datang bulan?”
Pertanyaan itu membuat Albert terdiam. Ia menatap istrinya yang masih memejamkan mata. “Aku sudah menanyakannya tadi di kamar mandi. Dia bilang tidak ingat.”
Syahquita membuka matanya perlahan. Suaminya dan dokter keluarga itu sedang membicarakannya seolah ia tidak ada di ruangan ini. “Aku masih bisa mendengar kalian berdua, tahu,” ucapnya lemah, tapi cukup jelas untuk membuat kedua pria itu menoleh ke arahnya dengan kikuk.
Alger tersenyum kecil, sedikit lega karena pasiennya masih punya tenaga untuk protes. “Maaf, Tuan Putri. Tapi pertanyaan ini penting. Gejala yang Tuan Putri alami—mual, muntah, pusing, lemas—bisa saja karena kelelahan biasa atau masuk angin. Tapi bisa juga karena sebab lain.”
“Sebab lain apa?” tanya Syahquita, matanya yang tadinya sayu kini sedikit lebih terbuka.
“Hamil, Tuan Putri. Gejala-gejala itu sangat mirip dengan tanda awal kehamilan.”
Kamar itu mendadak sunyi. Syahquita menatap langit-langit kamar dengan mata yang bergerak-gerak, seolah sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia mendapatkan tamu bulanannya, dan wajahnya perlahan berubah pucat dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Bukan pucat karena sakit, melainkan pucat karena menyadari sesuatu.
“Syah?” panggil Albert pelan, melihat perubahan di wajah istrinya.
“Sudah hampir dua bulan,” bisik Syahquita akhirnya, suaranya nyaris tidak terdengar. “Aku… aku tidak sadar. Terlalu banyak yang terjadi. Aku tidak menghitung.”
Albert membelalakkan matanya. Ia menatap istrinya, lalu menatap Alger, lalu kembali menatap istrinya lagi seolah sedang memproses informasi yang terlalu besar untuk dicerna dalam satu waktu. Tangannya yang menggenggam tangan Syahquita terasa sedikit bergetar, dan Syahquita bisa merasakannya dengan jelas.
“Untuk memastikannya, saya butuh alat tes. Tapi alat itu tidak ada di sini, Tuan. Kastil perbatasan tidak memiliki peralatan untuk manusia sepertinya,” ucap Alger sambil melirik Syahquita. “Saya sarankan besok pagi Tuan Putri dibawa ke klinik di kota terdekat. Atau kalau Tuan mengizinkan, saya bisa pergi sekarang dan kembali sebelum subuh.”
“Pergi sekarang,” jawab Albert tanpa berpikir dua kali. “Aku tidak bisa menunggu sampai besok.”
“Albert,” panggil Syahquita pelan. “Sudah malam. Kota itu jauh. Biarkan Alger istirahat, aku juga bisa menunggu sampai besok.”
“Tidak,” tolak Albert dengan tegas. “Aku mau tahu malam ini juga.”
Syahquita menghela napas panjang. Ia sudah terlalu mengenal suaminya untuk berdebat dalam kondisi seperti ini. Ego Albert selalu menang dalam hal-hal yang berhubungan dengan kekhawatirannya, dan kali ini Syahquita tidak punya tenaga untuk melawannya. Ia hanya mengangguk kecil, membiarkan Alger berkemas dan pamit untuk segera berangkat ke kota.
Setelah Alger keluar dari kamar, Albert duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, sesuatu yang ia lakukan setiap kali pikirannya sedang kalut. Syahquita memperhatikan suaminya itu dari samping, dan entah mengapa ada rasa hangat yang merayap di dadanya. Pria yang selalu terlihat dingin dan penuh ego itu sekarang terlihat seperti orang kebingungan.
“Kau takut?” tanya Syahquita pelan.
Albert menoleh. Matanya bertemu dengan mata istrinya yang lelah. “Aku tidak takut,” jawabnya, tapi nada suaranya mengkhianati kata-katanya. “Aku hanya… tidak menyangka.”
“Aku juga,” bisik Syahquita. Ia menatap perutnya sendiri yang masih rata, seolah tidak percaya ada kemungkinan kehidupan kecil sedang tumbuh di sana. Tangannya bergerak tanpa sadar, menyentuh perutnya dengan sangat pelan, seolah takut menyakiti sesuatu yang bahkan belum pasti ada.
Albert memperhatikan gerakan itu. Sesuatu di dalam dadanya bergeser, perasaan yang tidak bisa ia namai. Ia sudah menjadi ayah bagi Oliver, tapi ini berbeda. Ini adalah kemungkinan seorang anak yang berasal dari darah dagingnya sendiri, dari pernikahannya dengan wanita yang paling keras kepala yang pernah ia kenal.
“Kalau benar kau hamil,” ucap Albert akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya, “aku akan menjaga kalian berdua. Aku janji.”
Syahquita tersenyum kecil mendengar janji itu. Janji yang sederhana, tapi keluar dari mulut Albert yang jarang sekali berjanji. Ia mengangguk, lalu membiarkan matanya tertutup kembali. Tubuhnya masih lemah, dan kepalanya masih berputar, tapi untuk pertama kalinya malam ini, ada sedikit ketenangan yang menyelimutinya.
Sesaat kemudian, Albert berjalan ke pintu dan membukanya sedikit. Benar saja, Dawin dan Keenan sudah berdiri di koridor dengan wajah penuh tanya, tidak berani mengetuk tapi juga tidak mau kembali ke kamar mereka. Robert berdiri beberapa langkah di belakang mereka, bersandar ke dinding dengan tangan bersedekap.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Dawin langsung, suaranya direndahkan sampai nyaris berbisik.
“Alger sedang memeriksanya. Kami masih menunggu,” jawab Albert dengan nada yang sama pelannya. Ia menatap ketiga pria di depannya, lalu menambahkan, “Kalian tidak perlu menunggu di sini. Tidurlah. Aku akan memberi tahu kalian kalau ada kabar.”
“Kami tidak akan bisa tidur, Albert,” ucap Keenan sambil menggaruk tengkuknya. “Jadi lebih baik kami menunggu di sini saja.”
Albert menatap mereka satu per satu. Ada sesuatu yang hangat di dadanya melihat kekhawatiran tulus di wajah para pangeran itu. Dulu, koridor ini adalah tempat mereka berdebat dan saling curiga. Sekarang, mereka berdiri di sini bersama-sama di tengah malam karena peduli pada Syahquita. Perubahan yang tidak pernah ia bayangkan.
“Terserah kalian,” gumam Albert akhirnya, lalu menutup pintu kembali dan kembali ke sisi istrinya.
Di luar kamar, suara langkah-langkah kaki para pangeran yang menunggu dengan cemas terdengar samar-samar. Dawin dan Keenan pasti sudah berkumpul di koridor, tidak berani masuk tapi juga tidak mau pergi. Malam itu, seluruh kastil perbatasan seolah ikut menahan napas, menunggu kabar yang akan mengubah segalanya.