Menjelang dini hari, suara gerbang kastil terdengar dari kejauhan. Alger telah kembali dari kota dengan tas kecil berisi alat yang diminta Albert. Seluruh penghuni kastil yang terjaga segera tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi di kamar utama. Dawin, Keenan, dan Robert duduk di ruang tengah dengan gelisah, sementara Arla sibuk menyiapkan teh hangat dan handuk bersih atas permintaan Alger.
Di dalam kamar, Syahquita duduk di tepi ranjang dengan selimut menutupi kakinya. Wajahnya sudah sedikit lebih baik dibanding beberapa jam yang lalu, meski kantung matanya semakin terlihat jelas. Albert berdiri mondar-mandir di depan lemari, tidak bisa duduk diam bahkan sedetik pun.
“Berhentilah berjalan, Albert. Kau membuatku pusing,” tegur Syahquita akhirnya, tidak tahan melihat suaminya yang seperti setrikaan itu.
Albert berhenti, tapi hanya untuk berdiri kaku di tengah kamar. “Aku tidak bisa duduk. Tidak sekarang.”
Alger yang sedang menyiapkan alatnya di meja kecil tersenyum mendengar pertengkaran kecil itu. “Tenang, Tuan. Tes ini sangat sederhana untuk manusia. Hanya butuh beberapa menit untuk menunggu hasilnya.” Ia menyerahkan alat kecil berbentuk stik kepada Syahquita dan menjelaskan cara penggunaannya dengan sangat hati-hati. Setelah itu, ia dan Albert menunggu di luar kamar mandi, memberikan privasi kepada Syahquita.
Menit-menit berikutnya terasa seperti bertahun-tahun bagi Albert. Ia berdiri di depan pintu kamar mandi dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya. Alger duduk di kursi dekat jendela, sesekali melirik arlojinya. Tidak ada yang bicara. Bahkan suara angin malam yang biasanya berdesir di celah jendela pun terdengar sangat keras dalam keheningan itu.
Pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Syahquita keluar dengan wajah yang sulit dibaca, alat kecil itu tergeletak di telapak tangannya yang sedikit gemetar. Albert langsung menghampirinya, menatap wajah istrinya dengan intens, mencari jawaban sebelum pertanyaan sempat keluar dari mulutnya.
Syahquita mengangkat alat itu perlahan. Di layar kecilnya, terlihat dua garis merah yang samar tapi jelas.
“Dua garis,” bisik Syahquita. Suaranya pecah di tengah. “Albert… dua garis.”
Albert tidak langsung menjawab. Ia menatap dua garis merah itu seperti sedang menatap sesuatu yang tidak masuk akal. Tangannya terangkat, menyentuh alat kecil itu dengan ujung jarinya, seolah memastikan bahwa benda itu nyata dan bukan mimpi. Kemudian ia menatap Syahquita, dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Syahquita melihat mata suaminya berkaca-kaca.
“Alger,” panggil Albert dengan suara serak, tanpa berpaling dari istrinya.
Alger yang sudah berdiri di belakang mereka menghampiri dan melihat alat itu. Ia mengangguk dengan senyum lebar yang tidak bisa ditahannya. “Selamat, Tuan. Selamat, Tuan Putri. Dua garis berarti positif. Tuan Putri hamil.”
Syahquita merasakan lututnya melemas. Albert dengan sigap menangkap tubuh istrinya sebelum wanita itu jatuh, memeluknya erat-erat dengan satu tangan sementara tangan lainnya masih memegang alat kecil itu. Syahquita menangis dalam pelukan suaminya, tangis yang bercampur antara bahagia, lega, dan takut. Semua emosi yang ia tahan sejak sore meledak sekaligus di dada Albert.
“Aku hamil,” isak Syahquita, seolah masih tidak percaya dengan kata-katanya sendiri. “Albert, aku hamil. Kita akan punya anak.”
“Iya,” jawab Albert dengan suara yang lebih serak dari sebelumnya. Ia mengecup puncak kepala istrinya dengan sangat lembut, gerakan yang begitu langka hingga membuat Alger yang melihatnya ikut terharu. “Iya, Syah. Kita akan punya anak.”
Mereka berdiri seperti itu cukup lama, tidak peduli pada Alger yang dengan sopan mundur ke sudut kamar untuk memberi mereka ruang. Syahquita melepaskan pelukan itu perlahan, lalu menatap perutnya sendiri dengan tatapan yang sama sekali baru. Ada kehidupan di sana. Kehidupan yang lahir dari cinta mereka, dari semua pertengkaran, dari semua luka, dari semua air mata yang pernah mereka lewati bersama.
“Oliver akan jadi kakak,” ucap Syahquita tiba-tiba, dan tawanya pecah di tengah tangisnya. “Albert, Oliver akan punya adik.”
Wajah Albert berubah saat nama Oliver disebut. Ada kehangatan yang muncul di matanya, perasaan yang sama seperti saat pertama kali ia menggendong anak adopsi mereka itu. “Dia akan jadi kakak yang hebat,” ucap Albert yakin. “Dia sudah terbiasa merebut perhatian semua orang di kastil ini. Sekarang ada yang bisa ia bagi.”
Syahquita tertawa pelan, lalu wajahnya berubah serius sejenak. “Aku ingin memberi tahu ibuku,” ucapnya pelan. “Dia pasti akan menangis bahagia. Sudah lama sekali dia menanyakan cucu.”
“Besok kita kirim surat. Atau kalau kau mau, kita jemput dia ke sini,” jawab Albert cepat. “Kastil ini cukup besar. Dia bisa tinggal selama yang dia mau.”
Syahquita menatap suaminya dengan takjub. Albert yang dulu bahkan tidak sudi membicarakan keluarganya kini menawarkan untuk menjemput ibu mertuanya. “Kau yakin? Ibumu dan ibuku dalam satu atap?”
Albert meringis membayangkannya, dan Syahquita tertawa lepas untuk pertama kalinya malam itu. Tawa yang membuat wajahnya yang pucat kembali bersemu merah, dan membuat Albert ikut tersenyum tanpa bisa menahannya. Momen itu singkat, tapi cukup untuk mengingatkan mereka berdua bahwa di tengah semua kekhawatiran, masih ada ruang untuk tertawa bersama.
“Satu hal lagi,” ucap Syahquita setelah tawanya reda. “Jangan umumkan ke mana-mana dulu. Setidaknya sampai aku diperiksa dengan benar di klinik. Aku tidak mau kabar ini tersebar sebelum kita yakin seratus persen.”
Albert mengangguk mengerti. “Hanya orang-orang di kastil ini yang tahu. Aku akan memastikan tidak ada yang membicarakannya keluar.”
Alger berdehem pelan, mengingatkan kedua orang itu bahwa ia masih ada di ruangan. “Tuan Putri, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. Karena Tuan Putri manusia, kehamilan ini perlu perhatian ekstra. Istirahat yang cukup, makanan yang bergizi, dan—yang paling penting—hindari stres. Trimester pertama adalah masa yang paling rawan.”
Albert langsung menegakkan tubuhnya seperti prajurit yang menerima perintah. “Catat semuanya. Apa pun yang dia butuhkan, sediakan. Mulai besok, aku mau kau membuat jadwal makan dan vitamin untuknya.”
“Tuan, tenang—”
“Dan tidak ada lagi pekerjaan berat. Tidak ada lagi begadang. Tidak ada lagi pergi-pergi tanpa pengawal,” lanjut Albert, nadanya sudah seperti mendikte. “Aku akan mengatur semuanya.”
Syahquita yang baru saja menghapus air matanya langsung mengerutkan dahinya. “Albert, aku hamil, bukan sakit parah. Aku masih bisa beraktivitas seperti biasa.”
“Kau dengar sendiri kata Alger. Hindari stres. Istirahat yang cukup.”
“Itu bukan berarti aku harus dikurung di kamar sepanjang hari!”
Dan begitulah, di tengah malam yang seharusnya penuh kebahagiaan itu, pasangan suami istri ini kembali bertengkar kecil seperti biasa. Alger hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, mengemasi tasnya dengan pelan. Di luar sana, para pangeran yang sudah tidak tahan menunggu akhirnya mendengar kabar dari Alger yang keluar kamar, dan sorak-sorai kecil pun pecah di koridor kastil perbatasan menjelang subuh.