Pagi datang dengan cahaya yang masuk lewat jendela-jendela besar kastil perbatasan. Syahquita terbangun dengan tubuh yang masih terasa berat, tapi kepalanya sudah tidak berputar seperti semalam. Albert sudah tidak ada di sisinya, dan dari suara gaduh samar di lantai bawah, Syahquita menduga suaminya sedang sibuk mengatur sesuatu yang pasti berlebihan.
Dugaannya benar. Ketika ia turun ke ruang makan dengan langkah pelan, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Albert yang sedang memberikan instruksi kepada Arla dengan daftar panjang di tangannya. Di meja makan, Dawin dan Keenan duduk dengan wajah menahan tawa, sementara Robert memperhatikan dengan gelengan kepala kecil yang penuh arti.
“Syah! Kau sudah bangun!” sapa Dawin dengan senyum lebar, matanya berbinar seperti anak kecil yang mendapat hadiah. “Selamat ya, Syah. Aku dengar kabar baiknya dari Alger subuh tadi.”
“Terima kasih, Dawin,” jawab Syahquita dengan senyum kecil. Ia duduk di kursi yang langsung ditarik oleh Albert yang entah sejak kapan sudah berada di sisinya.
“Kau seharusnya memanggilku. Aku bisa menggendongmu turun,” ucap Albert dengan wajah serius, dan Syahquita hanya bisa memutar matanya mendengar itu.
“Albert, aku bisa berjalan sendiri. Kaki ku tidak patah.”
“Tapi—”
“Tidak ada tapi-tapian,” potong Syahquita tegas, lalu menoleh ke Arla yang datang membawa sarapan. “Terima kasih, Arla. Ini terlihat sangat banyak.”
Arla tertawa kecil. “Itu permintaan Tuan, Tuan Putri. Katanya Tuan Putri harus makan dua porsi sekarang. Satu untuk Tuan Putri, satu untuk bayi.”
“Dia bahkan belum sebesar kacang, Albert,” keluh Syahquita, tapi ada senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Suaminya memang berlebihan, tapi ada kehangatan aneh yang ia rasakan melihat sisi protektif Albert yang selama ini hanya muncul dalam bentuk ego dan amarah.
Di tengah sarapan, Robert yang sejak tadi diam akhirnya membuka suaranya. “Bagaimana perasaanmu, Syahquita?” tanyanya dengan nada yang lebih lembut dari biasanya. Pangeran yang satu ini memang selalu lebih banyak diam, tapi ketika ia berbicara, kata-katanya selalu berbobot.
“Aku baik, Robert. Terima kasih sudah bertanya,” jawab Syahquita tulus. Ia tahu Robert dan Albert baru saja melewati masa-masa yang tidak mudah dalam hubungan mereka sebagai saudara, dan melihat Robert bertanya dengan tulus membuat hatinya sedikit lebih ringan.
Keenan yang sejak tadi menahan diri akhirnya tidak tahan lagi. “Jadi kapan kita bisa tahu jenis kelaminnya? Aku bertaruh seratus keping emas kalau anaknya laki-laki.”
“Keenan!” sergah Dawin dan Syahquita bersamaan.
“Apa? Aku hanya bertanya!” Keenan mengangkat kedua tangannya, pura-pura tidak bersalah. “Dan untuk catatan, aku akan jadi paman terbaik. Lihat saja nanti.”
Suasana sarapan itu penuh dengan tawa dan obrolan ringan yang sudah lama tidak terjadi di kastil perbatasan. Oliver yang duduk di baby chair-nya ikut tertawa setiap kali orang-orang di sekelilingnya tertawa, meski ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan. Syahquita memperhatikan anak angkatnya itu dan tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mengelus kepala kecil Oliver.
“Oliver,” panggil Syahquita lembut. Anak itu menoleh dengan mata besarnya yang bulat. “Kau akan jadi kakak. Kau mau jadi kakak?”
Oliver hanya menatapnya dengan polos, lalu tertawa dan menepuk-nepuk meja baby chair-nya dengan kedua tangan mungilnya. Semua orang di meja itu tertawa melihat tingkahnya, dan Albert yang duduk di samping Syahquita menyentuh tangan istrinya di bawah meja, menggenggamnya dengan erat.
Namun di tengah kebahagiaan itu, Syahquita tidak bisa menghilangkan perasaan kecil yang mengganjal di hatinya. Ia memikirkan bagaimana kabar ini akan diterima oleh orang-orang di luar kastil perbatasan. Oleh keluarga Albert yang sebagian masih belum sepenuhnya menerimanya. Oleh orang-orang yang pernah memusuhinya dan kini berdamai dengan enggan. Kehamilan ini adalah berkah, tapi juga bisa menjadi titik lemah baru bagi musuh-musuh yang masih mengintai di luar sana.
“Kau melamun lagi,” suara Albert menyadarkannya dari pikirannya sendiri.
“Tidak. Aku hanya… memikirkan sesuatu,” jawab Syahquita diplomatis. Ia tidak ingin merusak suasana pagi yang indah ini dengan kekhawatirannya. Tapi Albert sudah terlalu mengenalnya untuk percaya begitu saja.
“Apa pun yang kau pikirkan, kita bicarakan nanti. Sekarang, habiskan sarapanmu,” ucap Albert dengan nada yang tidak bisa dibantah, dan Syahquita hanya bisa mengangguk sambil menyuapkan makanannya.
Setelah sarapan, Albert mengajak Syahquita berjalan-jalan di taman kastil. Udara pagi yang segar menyambut mereka berdua, dan untuk sesaat, semua kekhawatiran terasa jauh. Albert berjalan sangat pelan, menyesuaikan langkahnya dengan langkah istrinya, dan tangannya tidak pernah lepas dari pinggang Syahquita seolah takut wanita itu terjatuh.
“Aku sudah mengirim surat kepada ibuku,” ucap Albert tiba-tiba saat mereka berhenti di dekat air mancur kecil di tengah taman. “Tentang kehamilanmu.”
Syahquita menoleh dengan kaget. “Secepat itu? Albert, kita baru tahu semalam.”
“Dia berhak tahu. Dia akan jadi nenek,” jawab Albert, lalu menatap istrinya dengan tatapan yang jarang ia tunjukkan—tatapan yang penuh harap. “Aku ingin anak ini tumbuh dalam keluarga yang utuh, Syah. Tidak seperti aku dulu.”
Kalimat itu membuat Syahquita terdiam. Ia tahu betul luka masa kecil Albert, dan mendengar suaminya berbicara seperti itu membuatnya ingin menangis lagi. Ia merangkul lengan Albert dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, membiarkan pagi itu menjadi milik mereka berdua, jauh dari segala tipu muslihat dan musuh yang menunggu di luar tembok kastil.
Mereka berdiri di sana cukup lama, mendengarkan suara air mancur dan kicau burung yang hinggap di dahan-dahan pohon tua di sudut taman. Burung-burung itu sudah ada di sana sejak lama, jauh sebelum Syahquita datang ke kastil ini sebagai pengantin baru yang penuh keraguan.
“Kau sudah memikirkan nama?” tanya Albert tiba-tiba.
Syahquita terkekeh. “Albert, kita bahkan belum tahu jenis kelaminnya. Dan aku baru tahu aku hamil semalam.”
“Tidak ada salahnya memikirkan nama dari sekarang,” jawab Albert dengan wajah serius yang membuat Syahquita semakin tertawa. “Kalau laki-laki, aku mau namanya punya arti pelindung. Kalau perempuan, terserah kau.”
“Terserah aku? Itu kemajuan besar untuk seorang Albert,” goda Syahquita, dan suaminya hanya mendengus pelan tanpa membantah. Mereka berdua tahu betul bahwa dulu Albert tidak akan pernah menyerahkan keputusan apa pun kepada orang lain, bahkan untuk hal sekecil apa pun.
“Bagaimana denganmu?” tanya Syahquita balik. “Kau pernah membayangkan akan punya anak kandung?”
Albert menatap air mancur itu dalam diam sejenak. “Tidak pernah. Aku bahkan tidak pernah membayangkan akan menikah dengan bahagia. Pernikahan bagi ku dulu hanya urusan politik dan kekuasaan.” Ia menoleh ke Syahquita. “Lalu kau datang dan merusak semua rencanaku.”
“Merusak?” Syahquita menaikkan sebelah alisnya.
“Merusak dengan cara yang terbaik,” lanjut Albert, dan ada senyum tipis di bibirnya. “Kau membuatku belajar bahwa rumah bukan tentang kastil atau kekuasaan. Rumah itu kau, Syah. Dan Oliver. Dan sekarang, anak ini.”
Syahquita merasakan matanya kembali menghangat. Hormon kehamilan membuatnya jauh lebih mudah tersentuh dari biasanya, dan kata-kata Albert pagi itu tidak membantu sama sekali. Ia menghapus sudut matanya dengan punggung tangan, tertawa kecil pada dirinya sendiri.
“Lihat apa yang kau lakukan. Aku menangis lagi,” keluhnya.
Albert menarik istrinya ke dalam pelukannya, membiarkan Syahquita menyandarkan wajahnya di dada pria itu. Di kejauhan, dari jendela lantai dua, Dawin dan Keenan memperhatikan mereka berdua dengan senyum masing-masing, sebelum akhirnya saling menyikut dan kembali ke dalam dengan tawa kecil yang tertahan.