Tiga hari berlalu sejak kabar kehamilan Syahquita, dan kastil perbatasan berubah menjadi tempat yang hampir tidak bisa dikenali. Albert telah mengeluarkan serangkaian aturan baru yang membuat semua orang geleng-geleng kepala: Syahquita tidak boleh naik turun tangga tanpa ditemani, tidak boleh ke dapur karena bau masakan bisa memicu mual, tidak boleh ke taman saat angin kencang, dan yang paling membuat Syahquita ingin berteriak—tidak boleh mengangkat Oliver karena dianggap terlalu berat.
“Ini sudah keterlaluan, Albert!” protes Syahquita pada pagi keempat, ketika ia mendapati suaminya sedang memindahkan semua buku dan dokumen dari meja kerjanya di ruang baca. “Itu dokumenku! Aku sedang mengerjakannya!”
“Tidak ada lagi kerja,” jawab Albert tanpa menoleh, terus memindahkan tumpukan kertas itu ke lemari yang terkunci. “Alger bilang kau harus istirahat total. Dokumen-dokumen ini bisa menunggu.”
“Aku hamil, bukan lumpuh!” Syahquita merebut kembali map yang ada di tangan Albert, dan mereka pun berebut seperti dua anak kecil yang memperebutkan mainan. “Albert! Lepaskan!”
“Syahquita! Ini demi kebaikanmu!”
“Demi kebaikanku atau demi egomu?”
Kalimat itu menghentikan keduanya. Albert menatap istrinya dengan rahang mengeras, sementara Syahquita menatap balik dengan mata yang berkobar. Ini adalah pertengkaran mereka yang sesungguhnya yang pertama sejak kabar kehamilan, dan keduanya tahu bahwa ini bukan hanya tentang dokumen atau aturan-aturan konyol. Ini tentang sesuatu yang lebih dalam yang sudah lama menjadi sumber perselisihan mereka: kebiasaan Albert memutuskan segalanya sendiri tanpa bertanya.
“Aku melakukan ini karena aku peduli,” ucap Albert akhirnya dengan suara rendah. “Apa itu salah?”
“Peduli tidak sama dengan mengendalikan,” jawab Syahquita, suaranya juga melembut tapi tetap tegas. “Albert, aku menghargai semua perhatianmu. Sungguh. Tapi aku bukan barang pecah belah. Aku masih Syahquita yang sama. Aku masih bisa berpikir, masih bisa bekerja, masih bisa mengambil keputusan tentang tubuhku sendiri.”
Albert melepaskan map itu perlahan. Ia berjalan ke jendela dan menatap keluar, punggungnya menghadap Syahquita. “Kau tahu apa yang kupikirkan semalam? Aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan semua hal buruk yang bisa terjadi. Keguguran, komplikasi, musuh-musuh yang masih di luar sana.” Ia berbalik menghadap istrinya. “Aku tidak bisa kehilangan kau atau anak ini, Syah. Aku tidak akan sanggup.”
Hati Syahquita mencelos mendengar pengakuan itu. Di balik semua aturan dan ego suaminya, ada ketakutan yang sangat besar. Ketakutan seorang pria yang pernah kehilangan terlalu banyak hal dalam hidupnya. Syahquita berjalan menghampiri Albert dan memegang kedua tangannya.
“Kau tidak akan kehilangan kami,” ucap Syahquita lembut tapi yakin. “Tapi aku butuh kau percaya padaku. Percaya bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri. Kita ini tim, Albert. Bukan bos dan bawahan.”
Albert menarik napas panjang. Ia menatap tangan istrinya yang menggenggam tangannya, lalu menatap mata wanita itu yang penuh ketulusan. “Baiklah,” ucapnya akhirnya. “Tapi setidaknya biarkan aku menemanimu ke mana pun kau pergi. Itu saja. Aku tidak minta lebih.”
“Itu masih terlalu berlebihan.”
“Syahquita.”
“Albert.”
Mereka beradu pandang beberapa detik, lalu Syahquita menghela napas dan tersenyum kecil. “Bagaimana kalau begini: aku boleh bekerja di ruang baca dua jam sehari, kau boleh mengecekku setiap jam. Aku boleh menggendong Oliver, tapi hanya saat duduk. Dan aku akan memberitahumu ke mana pun aku pergi di dalam kastil. Sepakat?”
Albert mempertimbangkan tawaran itu dengan wajah serius, seolah sedang menegosiasikan perdamaian antarnegara. “Tiga jam pengecekan, bukan satu jam.”
“Setiap dua jam.”
“Sembilan puluh menit.”
“Albert!”
“Baik, baik. Dua jam,” Albert akhirnya mengalah, dan ada senyum kecil yang muncul di sudut bibirnya. “Tapi kalau kau merasa pusing atau mual sedikit saja, kau langsung ke kamar. Tidak ada tawar-menawar untuk yang satu itu.”
“Sepakat,” jawab Syahquita, dan mereka menyegel kesepakatan itu dengan pelukan yang lama.
Keesokan harinya, kesepakatan itu langsung diuji. Syahquita duduk di ruang baca dengan dokumen-dokumennya yang sudah dikembalikan, dan tepat dua jam sekali—tidak kurang, tidak lebih—pintu ruang baca terbuka dan kepala Albert muncul tanpa mengetuk.
“Aku baik-baik saja,” ucap Syahquita bahkan sebelum Albert sempat bertanya, tanpa mengangkat wajahnya dari dokumen yang sedang ia baca.
“Aku hanya mau memastikan,” jawab Albert, lalu menutup pintu lagi dengan pelan.
Dua jam kemudian, pintu itu terbuka lagi. Kali ini Albert datang membawa segelas susu hangat dan sepiring buah potong yang ia letakkan di meja Syahquita tanpa diminta. Syahquita memperhatikan suaminya itu dengan tatapan geli. Pria yang biasanya memerintah orang lain untuk melayaninya kini sibuk mengantarkan makanan dengan tangannya sendiri.
“Kau tahu Arla bisa melakukan ini, kan?” ucap Syahquita.
“Arla punya pekerjaan lain. Dan aku tidak sibuk,” jawab Albert kaku, seolah mengantar susu untuk istrinya adalah kegiatan yang sangat penting dan resmi.
Syahquita menggeleng-geleng, tapi ia meminum susu itu sampai habis karena ia tahu Albert tidak akan pergi sebelum gelasnya kosong. Di balik semua sikap berlebihannya, ada ketulusan yang tidak bisa ia abaikan. Ego suaminya memang masih besar, tapi setidaknya sekarang ego itu bekerja untuknya, bukan melawannya.
Siangnya, saat jam kerja Syahquita yang disepakati berakhir, ia menemukan Oliver sedang bermain balok kayu di ruang keluarga bersama Arla. Anak itu langsung merangkak dengan cepat ke arahnya begitu melihatnya masuk, mengangkat kedua tangannya minta digendong. Syahquita duduk di sofa terlebih dahulu—sesuai kesepakatan—baru mengangkat Oliver ke pangkuannya.
“Dia menunggumu sejak tadi,” ucap Arla sambil tersenyum. “Sejak Tuan Putri masuk ruang baca, dia terus melihat ke pintu.”
Syahquita mencium pipi Oliver yang gembul. “Kau sudah punya penggemar setia sekarang, ya, Oliver. Nanti kalau adikmu lahir, kalian bisa berebut siapa yang paling disayang.”
Oliver menjawab dengan gumaman tidak jelas khas balita dan tawa kecilnya, lalu bersandar nyaman di pelukan Syahquita. Untuk sesaat, semua aturan, semua ketegangan, dan semua kekhawatiran memudar. Yang tersisa hanya kehangatan anak kecil di pangkuannya dan janji kehidupan baru yang sedang tumbuh di dalam tubuhnya.
Sore harinya, ketika Syahquita sedang membaca di taman bersama Oliver yang bermain di selimut tebal di atas rumput, Dawin datang dengan wajah yang sedikit serius. Ia duduk di bangku sebelah Syahquita setelah menyapa Oliver dengan jari-jarinya yang membuat anak itu cekikikan.
“Syah, aku tidak mau membuatmu khawatir,” ucap Dawin pelan, matanya mengawasi sekeliling taman. “Tapi penjaga di pos perbatasan menemukan sesuatu pagi ini.”
Syahquita menurunkan bukunya. “Sesuatu apa?”
“Jejak. Jejak kaki di tanah di luar tembok sebelah utara. Jejak yang tidak dikenali.” Dawin menatap Syahquita dengan tatapan yang berhati-hati. “Mungkin hanya pemburu yang tersesat. Tapi kau tahu sendiri, Syah. Setelah semua yang sudah terjadi, kami tidak bisa menganggap remeh hal sekecil apa pun.”
Syahquita menelan ludah. Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih rata. “Apa Albert sudah tahu?”
“Belum. Aku ingin memberitahumu dulu karena kau yang paling mengenal daerah itu. Tapi kita harus memberitahunya malam ini.”
Syahquita mengangguk pelan. Damai yang mereka rasakan beberapa hari ini memang terlalu indah untuk bertahan lama. Ia menatap Oliver yang sedang tertawa memainkan daun kering, dan tekadnya kembali menguat. Apa pun yang sedang datang, ia akan melindungi keluarganya. Tidak ada yang akan menyentuh anak-anaknya. Tidak kali ini.