Malam itu, ruang pertemuan kastil perbatasan dipenuhi oleh ketegangan yang hampir bisa disentuh. Albert berdiri di kepala meja dengan wajah gelap setelah mendengar laporan dari Dawin dan Syahquita. Di meja besar itu hadir Keenan, Robert, dan beberapa kepala penjaga yang bertanggung jawab atas keamanan perbatasan.
“Jejaknya mengarah ke mana?” tanya Albert dengan suara yang terkendali, tapi Syahquita yang duduk di sampingnya bisa melihat urat di leher suaminya yang menegang.
“Hilang di tepi hutan pinus, Tuan,” jawab kepala penjaga. “Kami sudah mengirim dua regu untuk menyisir area itu, tapi mereka tidak menemukan apa-apa lagi. Jejaknya berhenti begitu saja, seperti orangnya menghilang.”
“Menghilang?” Albert mengulang kata itu dengan nada tidak suka. “Orang tidak menghilang begitu saja. Kecuali dia bukan orang biasa.”
Keenan menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kalau jejaknya berhenti tiba-tiba, kemungkinan besar dia terbang atau berpindah. Artinya kita sedang berhadapan dengan salah satu dari kita—atau penyihir.”
Suasana meja itu semakin tegang. Syahquita memperhatikan satu per satu wajah mereka, mencoba menangkap apa yang tidak diucapkan. Ia tahu mereka semua memikirkan hal yang sama: apakah kedamaian yang baru saja mereka bangun akan runtuh lagi? Apakah ada musuh lama yang kembali, atau musuh baru yang sedang mengintai?
“Mungkin bukan apa-apa,” ucap Syahquita akhirnya, dan semua mata langsung tertuju padanya. “Dengarkan aku dulu. Kita baru saja keluar dari perang panjang. Kita semua masih waspada, dan itu bagus. Tapi kita juga tidak boleh membiarkan ketakutan mengendalikan kita. Jejak itu bisa saja milik siapa pun. Pedagang, pengelana, atau ya—pemburu yang tersesat.”
“Syahquita benar,” timpal Robert, mengejutkan semua orang. “Tapi kita juga tidak boleh lengah. Perkuat penjagaan di sisi utara, ganti jadwal patroli agar tidak terduga, dan pasang jebakan alarm di hutan pinus. Kalau memang ada yang mengintai, mereka akan tahu bahwa kastil ini tidak bisa didekati sembarangan.”
Albert mengangguk setuju dengan usul Robert. “Lakukan. Dan mulai besok, aku mau laporan harian dari setiap pos.” Ia menoleh ke Syahquita yang sedang menatapnya. “Kau keberatan?”
Syahquita tahu pertanyaan itu bukan tentang keamanan kastil, melainkan tentang janji mereka sore tadi—bahwa Albert akan melibatkannya, bukan memutuskan sendiri. Ia tersenyum kecil. “Tidak. Aku setuju. Tapi aku mau ikut membaca laporannya. Aku bisa membantu menganalisis pola kalau jejak itu muncul lagi.”
Albert mengangguk. “Sepakat.”
Setelah pertemuan itu, Dawin menahan Albert sebentar di ambang pintu sementara yang lain beranjak keluar. “Kau terlihat lebih tenang dari yang kukira,” ucap Dawin pelan. “Kukira kau akan langsung memerintahkan menyerbu hutan pinus malam ini juga.”
Albert melirik sahabatnya itu. “Aku sudah belajar bahwa menyerbu tanpa informasi hanya akan membuat kita buta. Lagi pula,” ia melirik Syahquita yang sedang berbicara dengan Robert di sudut ruangan, “ada orang yang mengajariku untuk berpikir dulu sebelum bertindak.”
Dawin mengikuti arah pandang Albert dan tersenyum kecil. “Dia mengubahmu, Albert. Semua orang bisa melihatnya.”
“Aku tahu,” jawab Albert singkat, tapi tidak ada nada menyangkal di suaranya. Justru ada sesuatu yang menyerupai rasa syukur di sana, hal yang dulu tidak akan pernah diakui oleh pria itu bahkan di bawah siksaan.
“Satu hal lagi,” lanjut Dawin, suaranya kembali serius. “Aku sudah menyuruh dua orang kepercayaanku mengamati jalan setapak ke desa terdekat. Kalau ada orang asing yang datang atau pergi, kita akan tahu dalam hitungan jam.”
Albert mengangguk puas. “Bagus. Laporkan langsung kepadaku, bukan lewat siapa pun.”
Setelah pertemuan bubar dan semua orang kembali ke kamar masing-masing, Albert dan Syahquita berjalan beriringan menyusuri koridor menuju kamar mereka. Oliver sudah tertidur di kamar bayinya yang dijaga oleh Arla, dan malam itu kastil terasa lebih sunyi dari biasanya.
“Kau tidak takut?” tanya Albert saat mereka sampai di depan pintu kamar.
Syahquita berhenti dan menatap suaminya. “Aku takut. Aku tidak akan bohong soal itu. Tapi aku lebih takut kalau kita menghadapi ini dengan saling menyalahkan daripada saling percaya.”
Albert mengangguk pelan. Ia membuka pintu kamar dan mempersilakan istrinya masuk terlebih dahulu. Di dalam, ia membantu Syahquita melepas selendangnya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah istrinya adalah sesuatu yang paling berharga di dunia ini.
“Aku akan bertanya sesuatu, dan aku ingin jawaban jujur,” ucap Syahquita saat mereka berdua sudah duduk di tepi ranjang. “Kau menyesal membawa Drake kembali ke dalam lingkaran kita?”
Albert terdiam cukup lama sebelum menjawab. “Tidak. Kau yang memutuskan untuk memberinya kesempatan kedua, dan aku menghormati keputusan itu. Tapi kalau jejak di utara itu ada hubungannya dengan dia atau orang-orangnya…” Ia berhenti, rahangnya mengeras. “Aku tidak akan memberikan kesempatan ketiga.”
Syahquita mengangguk mengerti. Ia juga memikirkan kemungkinan yang sama, meski tidak ingin mengucapkannya dengan lantang. Drake sudah menunjukkan penyesalannya, dan Oliver adalah bukti nyata dari perubahan itu. Tapi kepercayaan adalah sesuatu yang rapuh, dan satu kesalahan saja bisa menghancurkan semuanya.
“Kita tidak tahu apa-apa sekarang,” ucap Syahquita sambil berbaring dan menyandarkan kepalanya di bantal. “Jangan mengambil kesimpulan sebelum ada bukti. Aku tidak mau anak kita tumbuh di rumah yang penuh kecurigaan.”
Albert berbaring di sampingnya, menghadap wajah istrinya. Tangannya terulur, menyentuh pipi Syahquita dengan lembut. “Kau selalu seperti ini. Selalu melihat sisi baik dari segalanya, bahkan ketika semua bukti mengarah ke sisi buruk.”
“Karena sisi baik itu nyata, Albert. Kau adalah buktinya,” jawab Syahquita dengan senyum kecil. “Dulu semua orang bilang kau pria tanpa hati. Lihat kau sekarang, tidak bisa tidur karena khawatir tentang bayi sebesar kacang di perutku.”
Albert mendengus, tapi ada tawa kecil yang lolos dari bibirnya. “Dia sudah lebih besar dari kacang sekarang. Alger bilang minggu-minggu ini ukurannya sudah seperti biji anggur.”
“Biji anggur,” ulang Syahquita, tertawa pelan. “Astaga, Albert. Kau benar-benar membaca semua catatan Alger, ya?”
“Setiap kata,” jawab Albert tanpa malu-malu. “Dan aku juga sudah membaca tiga buku tentang kehamilan yang kuminta dari kota.”
Syahquita menatap suaminya dengan tatapan yang penuh keheranan dan kehangatan yang bercampur menjadi satu. Pria ini, yang dulu hanya mengedepankan egonya dalam segala hal, sekarang membaca buku kehamilan di tengah malam. Perubahan yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi, tapi terjadi juga pada akhirnya.
“Aku mencintaimu,” ucap Syahquita pelan, kata-kata yang tidak sering ia ucapkan tapi selalu ia maksudkan dengan segenap hatinya.
Albert mendekat dan mengecup kening istrinya dengan lembut. “Dan aku mencintaimu. Kau, Oliver, dan biji anggur kita. Kalian bertiga adalah duniaku sekarang.”
Mereka tertidur berpelukan malam itu, dengan tangan Albert melingkar protektif di perut Syahquita yang masih rata. Di luar, angin utara bertiup pelan melewati hutan pinus, menyimpan rahasia jejak-jejak misterius yang belum terjawab. Tapi malam itu, di kamar utama kastil perbatasan, tidak ada ruang untuk ketakutan. Hanya ada dua orang yang saling mencintai, dan satu kehidupan kecil yang sedang tumbuh di antara mereka, diam-diam mengubah segalanya.