Syahquita menghabiskan pagi itu di ruang baca dengan tumpukan laporan dari semua pos penjagaan kastil perbatasan. Sesuai kesepakatan mereka, Albert menyerahkan setiap laporan kepadanya untuk dibaca dan dianalisis bersama. Awalnya Syahquita mengira suaminya hanya akan memberinya laporan yang sudah disaring, tapi ternyata Albert menepati janjinya—semua laporan mentah ada di atas mejanya, tanpa ada yang disembunyikan.
Laporan-laporan itu sebagian besar berisi hal-hal biasa: pedagang yang lewat di jalan utama, petani dari desa sebelah yang mencari kayu bakar, pengembara yang menginap semalam di kedai perbatasan. Tidak ada yang mencurigakan. Tapi Syahquita sudah belajar dari pengalamannya bertahun-tahun bahwa yang paling berbahaya justru sering datang dengan wajah yang paling biasa.
Ia membaca laporan dari pos timur, lalu pos selatan, lalu pos barat. Semuanya bersih. Sebuah kereta barang lewat dua hari lalu dengan izin yang sah. Keluarga peternak memindahkan kawanan kambing mereka ke padang yang lebih dekat ke sungai. Seorang tukang sepatu keliling menawarkan jasanya di desa perbatasan dan pergi sebelum gelap. Semua tercatat rapi dengan nama, waktu, dan tanda tangan penjaga yang bertugas.
Syahquita memutar lehernya yang kaku. Membaca laporan seperti ini adalah pekerjaan yang membosankan bagi kebanyakan orang, tapi tidak baginya. Ia selalu percaya bahwa kebenaran kecil sering bersembunyi di antara baris-baris yang membosankan. Dan kesabarannya hampir selalu terbayar.
Ia membaca ulang laporan tentang jejak kaki di utara. Jejak itu ditemukan tiga hari lalu, menghilang di tepi hutan pinus. Regu penyisir tidak menemukan apa-apa lagi. Tapi ada satu detail kecil yang membuat Syahquita berhenti membaca: di dekat jejak terakhir, penjaga menemukan dahan pinus yang patah di ketinggian sekitar dua meter dari tanah.
“Dahan patah di ketinggian dua meter,” gumam Syahquita. Jejak berhenti tiba-tiba, dahan patah di atas. Orang yang menghilang ke atas, bukan ke depan. Keenan benar—mereka berhadapan dengan sesuatu yang bisa terbang, atau melompat sangat tinggi, atau berpindah tempat.
Syahquita menuliskan catatannya di selembar kertas, lalu mengambil peta daerah perbatasan yang tergulung rapi di laci meja. Ia membentangkannya dan mempelajari sisi utara kastil. Hutan pinus itu membentang cukup jauh, sampai ke wilayah yang dulu dikenal sebagai jalur penyelundupan sebelum masa damai. Ia menandai titik-titik yang menurutnya paling mungkin dijadikan jalur masuk, lalu menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia ajukan pada para penjaga malam nanti.
Tepat dua jam sejak ia mulai bekerja, pintu ruang baca terbuka. Albert muncul dengan segelas jus buah dan wajah yang mencoba terlihat santai tapi gagal total.
“Aku baik-baik saja,” ucap Syahquita sebelum suaminya sempat bertanya, sudah hafal ritual ini. “Dan terima kasih untuk jusnya.”
Albert meletakkan gelas itu di meja, lalu matanya jatuh ke peta yang terbentang. “Kau menemukan sesuatu.” Itu bukan pertanyaan. Albert sudah belajar membaca istrinya—Syahquita hanya membentangkan peta kalau ia menemukan pola.
“Dahan pinus yang patah di ketinggian dua meter,” jawab Syahquita, menunjuk catatannya. “Jejak berhenti, dahan patah di atas. Siapa pun itu, dia naik ke pohon, lalu menghilang. Itu bukan pemburu yang tersesat, Albert.”
Albert mempelajari peta itu dengan mata menyipit. “Kalau dia naik ke pohon dan menghilang, dia bukan manusia.”
“Atau bukan manusia sepenuhnya,” tambah Syahquita pelan. Mereka berdua memikirkan hal yang sama: hybrid. Makhluk setengah serigala, setengah vampir. Albert sendiri adalah salah satunya, dan Syahquita tahu betul kemampuan mereka—kecepatan, lompatan, indra yang tajam. Tapi tidak semua hybrid adalah kawan.
“Siapa pun dia, dia sudah mengamati kastil ini,” ucap Albert, suaranya menjadi dingin dengan cara yang Syahquita kenali sebagai tanda bahaya. “Pertanyaannya, sejak kapan, dan untuk apa.”
“Dan untuk siapa,” tambah Syahquita. Tidak ada yang bekerja sendirian dalam urusan seperti ini. Selalu ada yang membayar, yang memerintah, yang menunggu laporan.
Albert mengambil peta itu dan menggulungnya. “Malam ini kita bicara lagi dengan kepala penjaga. Aku mau kau ada di sana, tapi setelah itu kau langsung istirahat. Tidak ada tawar-menawar.”
“Sepakat,” jawab Syahquita. Ia tidak punya tenaga untuk berdebat, dan lagi pula, tubuhnya memang sudah mengirimkan sinyal kelelahan sejak tadi siang. Mualnya masih datang dan pergi, terutama setiap kali ia mencium bau makanan yang terlalu kuat.
Siangnya, Alger datang untuk pemeriksaan rutin yang kini dijadwalkan dua hari sekali—aturan baru yang dibuat Albert tanpa berkonsultasi terlebih dahulu, yang oleh Syahquita dibiarkan saja karena berdebat soal itu tidak ada gunanya. Alger mengukur denyutnya, menanyakan makanannya, dan menulis semuanya di buku catatan kecilnya yang semakin tebal.
“Semuanya baik, Tuan Putri. Tapi saya dengar Tuan Putri masih bekerja sampai sore kemarin,” ucap Alger sambil menatapnya dari balik kacamatanya.
“Dua jam, Alger. Sesuai kesepakatan. Bukan sampai sore.”
“Dua jam yang dihabiskan dengan penuh ketegangan tidak sama dengan dua jam membaca buku cerita, Tuan Putri,” jawab Alger diplomatis. “Pikiran yang tegang juga melelahkan tubuh. Cobalah sisipkan tidur siang, setengah jam saja.”
Syahquita menghela napas, tapi mengangguk. Ketika semua orang di kastil ini kompak menyuruhnya beristirahat, melawan hanya akan membuang tenaga yang seharusnya ia simpan.
Sebelum pergi, Alger berhenti di depan pintu dan menoleh. “Tuan Putri, kalau boleh saya menambahkan satu hal lagi—sebagai dokter, bukan sebagai bawahan Tuan Albert.” Ia menimbang kata-katanya. “Kehamilan di tengah ketegangan seperti ini bukan hal yang mudah. Tapi bayi yang tumbuh di dalam ibu yang tenang akan jauh lebih kuat daripada bayi yang tumbuh di dalam ibu yang terus waspada. Jadi, biarkan para pangeran itu berjaga-jaga. Tugas Tuan Putri sekarang hanya satu: tenang.”
Syahquita tersenyum kecil. “Kau mulai terdengar seperti tabib istana yang bijaksana, Alger.”
“Saya memang dibayar untuk itu,” jawab Alger dengan senyum lebar, lalu pamit dengan tas hitamnya yang setia.
Sore itu, Syahquita berbaring di kamar dengan Oliver tiduran di sampingnya, anak itu asyik dengan mainan kayunya sementara ibunya menatap langit-langit dan berpikir. Siapa yang mengintai kastil perbatasan? Apa hubungannya dengan masa damai yang baru saja mereka bangun? Dan yang paling mengganggunya: apakah kehamilannya sudah diketahui orang luar? Karena kalau sudah, maka targetnya bukan lagi hanya dia atau Albert—tapi anak yang bahkan belum lahir ini.
Ia membelai perutnya yang masih rata dan berbisik sangat pelan, “Tenang saja di sana. Ibu tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu.”
Oliver yang mendengar bisikan itu menoleh dengan wajah bingung, lalu ikut menempelkan tangannya yang mungil di perut Syahquita, meniru ibunya. Syahquita tertawa pelan dan mencium ubun-ubun anak itu. “Kau juga harus menjaga adikmu nanti, ya. Kalian berdua adalah hartaku yang paling berharga.”
Oliver menjawab dengan tawa kecilnya, tidak mengerti, tapi ikut bahagia seperti biasa. Dan untuk sesaat, kekhawatiran Syahquita terasa sedikit lebih ringan dibagi dengan anak kecil yang bahkan belum bisa berbicara itu.
Di luar jendela, matahari mulai turun ke barat, dan bayangan-bayangan pohon pinus di kejauhan memanjang seperti jari-jari yang menunjuk ke arah kastil.