Kereta kuda hitam dengan lambang keluarga berhenti di halaman kastil perbatasan tepat tengah hari. Syahquita berdiri di tangga depan bersama Albert, mengenakan gaun terbaiknya yang longgar—pilihan yang disengaja untuk menyembunyikan perutnya yang belum terlihat, meski semua orang tahu kabar itu sudah sampai lebih dulu lewat surat.
Nyonya Agatha turun dari kereta dengan keanggunan yang tidak pernah memudar. Rambut peraknya digelung rapi, matanya yang tajam menyapu halaman kastil, para penjaga, lalu berhenti pada Syahquita. Penilaian itu berlangsung hanya dua detik, tapi Syahquita sudah terbiasa membacanya.
“Anakku,” ucap Nyonya Agatha kepada Albert, menerima ciuman tangan putranya. Lalu ia menoleh ke Syahquita. “Syahquita. Kau terlihat… sehat.”
“Selamat datang, Nyonya. Perjalanan Anda melelahkan, silakan masuk,” jawab Syahquita dengan sopan, tanpa menunduk terlalu dalam. Ia sudah belajar bahwa menunduk terlalu rendah di depan wanita ini sama saja dengan mengaku kalah sebelum bertanding.
Di dalam, Oliver sedang bermain dengan Dawin di ruang keluarga, dan begitu Nyonya Agatha melihat anak itu, wajahnya berubah sedikit—sudut bibirnya yang biasanya datar terangkat sedikit. Ia menggendong Oliver, yang dengan polosnya langsung menarik-narik bros perak di kerah wanita tua itu.
“Anak yang kuat,” komentar Nyonya Agatha, dan Syahquita tahu itu adalah pujian tertinggi yang bisa keluar dari mulut wanita itu untuk seorang anak adopsi tanpa darah bangsawan.
Makan siang berjalan dengan lebih lancar dari dugaan Syahquita. Nyonya Agatha bertanya banyak hal tentang kehamilan—sudah berapa minggu, apa keluhannya, siapa dokter yang memeriksanya—dengan nada interogasi yang dibungkus sopan santun. Syahquita menjawab semuanya dengan tenang, sementara Albert sesekali menyela untuk melindungi istrinya dari pertanyaan yang terlalu tajam.
“Dan nama?” tanya Nyonya Agatha di akhir makan siang. “Apa kalian sudah memikirkan nama? Keluarga ini punya tradisi nama. Setiap generasi—”
“Kami akan memilih nama sendiri, Bu,” potong Albert dengan halus tapi tegas. “Ketika waktunya tiba.”
Nyonya Agatha menatap putranya lama, lalu mengangguk kecil. Ada sesuatu yang berubah di matanya—kejutan yang disembunyikan dengan baik. Putranya tidak lagi sama. Dan Syahquita tahu wanita tua itu sedang menghitung ulang segala hal yang ia kira ia ketahui.
Setelah makan siang, ketika Albert dipanggil oleh kepala penjaga untuk urusan laporan harian, Syahquita mendapati dirinya duduk berdua saja dengan Nyonya Agatha di ruang keluarga. Oliver sedang tidur siang, dan keheningan di antara mereka terasa seperti medan pertandingan yang netral.
“Kau terlihat lebih baik dari dugaanku,” ucap Nyonya Agatha akhirnya, membuka percakapan tanpa basa-basi. “Kehamilan pertama selalu membuat wanita terlihat seperti burung ketakutan. Kau tidak.”
“Terima kasih, Nyonya,” jawab Syahquita. “Walaupun saya tidak yakin itu pujian.”
“Itu pujian,” kata wanita tua itu dengan tegas. Ia menyesap tehnya perlahan. “Aku datang ke sini bukan untuk memeriksamu, Syahquita. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau pikir aku datang untuk menilai apakah kau pantas membawa pewaris keluarga ini.”
Syahquita tidak menjawab, karena memang itulah yang ia pikirkan.
“Aku datang,” lanjut Nyonya Agatha, “karena putraku menulis surat dengan tangan yang bergetar. Aku mengenal tulisan tangannya sejak dia belajar menulis. Tangan Albert tidak pernah bergetar. Tidak pernah.” Ia menatap Syahquita dengan mata tajamnya yang tua itu. “Apa pun yang bisa membuat tangan putraku bergetar karena bahagia, pantas aku datangi dan aku hormati. Ingat itu.”
Syahquita merasakan tenggorokannya tercekat. Ia tidak menyangka kalimat seperti itu akan keluar dari mulut Nyonya Agatha—setidaknya tidak ditujukan kepadanya. “Saya… akan mengingatnya, Nyonya.”
“Bagus.” Wanita tua itu meletakkan cangkirnya. “Sekarang, ceritakan padaku apa yang benar-benar terjadi di wilayah ini. Aku bisa menciumnya sejak turun dari kereta. Kalian sedang diintai seseorang.”
Sore harinya, ketika Albert menemani ibunya berkeliling kastil, Syahquita duduk di kamarnya bersama Arla yang sedang merapikan pakaian Oliver.
“Tuan Putri tidak suka Nyonya Agatha?” tanya Arla hati-hati sambil melipat baju-baju kecil.
“Aku tidak tidak suka padanya, Arla. Aku hanya… selalu merasa sedang dinilai,” jawab Syahquita sambil memijat pelipisnya. “Dan sekarang, dengan kehamilan ini, nilai itu naik dua kali lipat. Aku sedang membawa pewaris keluarga mereka. Kalau sesuatu terjadi padaku atau bayi ini, aku tidak akan pernah dimaafkan.”
Arla meletakkan baju yang sedang ia lipat dan menghampiri Syahquita. “Tuan Putri, saya sudah bekerja di keluarga ini sejak Tuan Albert masih muda. Saya pernah melihat Nyonya Agatha memandikan raja-raja dengan pandangan dinginnya itu. Tapi tadi siang, waktu dia menggendong Tuan Kecil Oliver—saya melihat matanya. Dia bahagia, Tuan Putri. Dia hanya tidak tahu cara menunjukkannya.”
Syahquita tersenyum mendengar kata-kata Arla. Gadis pelayan itu selalu punya cara sederhana untuk meluruskan pikirannya yang berbelit-belit. “Terima kasih, Arla. Kau selalu tahu apa yang harus dikatakan.”
Senja itu, dari jendela kamarnya, Syahquita melihat Albert mengantar ibunya berkeliling halaman kastil. Nyonya Agatha berjalan dengan tongkatnya yang berhulu perak, menunjuk ke sana kemari, dan Albert mendengarkan dengan kesabaran yang membuat Syahquita terheran-heran. Dulu, putra dan ibu itu bisa bertengkar hanya karena cara menata kursi. Sekarang mereka berjalan berdampingan, dan sesekali wanita tua itu tertawa—tawa yang kaku seperti engsel yang lama tidak dipakai, tapi tawa sungguhan.
Oliver merangkak ke arah Syahquita dan menarik-narik roknya minta perhatian. Syahquita mengangkatnya—dengan hati-hati, sambil duduk di tepi ranjang, sesuai kesepakatan dengan Albert—dan memangkunya menghadap jendela. “Lihat, Oliver. Itu ayahmu sedang mengantar nenekmu berjalan-jalan.”
Oliver menempelkan wajah mungilnya ke kaca jendela dan menepuk-nepuknya dengan antusias, meninggalkan bekas-bekas tangan kecil yang berminyak di kaca yang bersih. Syahquita tertawa dan membiarkannya. Bekas tangan kecil itu bisa dibersihkan nanti. Momen seperti ini tidak bisa diulang.
Malam harinya, makan malam berjalan hangat. Bahkan Keenan berhasil membuat Nyonya Agatha tersenyum dua kali—sebuah rekor yang langsung ia banggakan kepada Dawin dengan bisikan yang tidak terlalu pelan. Oliver duduk di pangkuan Syahquita, sesekali meraih makanan di piring ibunya dengan tangan mungilnya, dan Nyonya Agatha memperhatikan semua itu dengan mata yang semakin lembut seiring berjalannya malam.
Namun ketika makan malam hampir selesai, seorang penjaga masuk dengan tergesa dan berbisik kepada Albert. Wajah Albert langsung berubah. Ia berdiri, meminta maaf kepada ibunya, lalu menoleh ke Syahquita.
“Jebakan alarm di hutan pinus,” ucap Albert pelan, hanya cukup keras untuk didengar meja mereka. “Satu terpicu. Sepuluh menit yang lalu.”
Syahquita berdiri, lupa pada mualnya, lupa pada sopan santun makan malam, lupa pada segalanya. “Ada yang tertangkap?”
Albert menggeleng. “Tidak ada. Tapi alarm itu tidak berbunyi sendiri.”
Nyonya Agatha yang mendengar potongan percakapan itu menaikkan alisnya dengan elegan. “Sepertinya kunjungan nenek ini datang pada saat yang menarik,” ucapnya datar, menyesap anggurnya. “Ceritakan padaku semuanya, Albert. Semuanya.”