Albert menceritakan semuanya kepada ibunya malam itu, di ruang kerja tertutup dengan Syahquita di sisinya. Jejak kaki misterius, rusa yang kering darahnya, alarm yang terpicu tanpa hasil. Nyonya Agatha mendengarkan dengan wajah yang semakin serius, jarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi dengan irama yang teratur—kebiasaan lamanya saat berpikir keras.
“Kalian yakin bukan orang dari wilayahmu sendiri?” tanya Nyonya Agatha tajam.
“Semua orang di wilayah perbatasan tercatat, Bu. Tidak ada yang hilang, tidak ada yang berperilaku aneh,” jawab Albert.
“Maka kalian sedang berhadapan dengan orang luar yang sangat rapi.” Nyonya Agatha berdiri dan berjalan ke jendela. “Aku sudah hidup cukup lama untuk mengenali pola seperti ini. Pengintaian panjang, tanda-tanda kecil, gangguan-gangguan halus. Ini bukan pekerjaan tentara. Ini pekerjaan mata-mata. Atau—” ia berhenti sejenak, “—penyihir.”
Syahquita merasakan dingin merayap di tengkuknya. Penyihir. Dalam sejarah panjang konflik mereka, penyihir selalu berada di persimpangan antara sekutu dan ancaman. Ada penyihir yang membantu mereka dulu, tapi ada juga yang menjual jasanya kepada siapa pun yang membayar.
“Penyihir macam apa yang mengeringkan rusa tanpa luka?” tanya Albert, lebih kepada dirinya sendiri.
“Macam yang sedang mengukur wilayah,” jawab ibunya. “Rusa itu bukan makanan, Albert. Rusa itu adalah percobaan. Mereka sedang menguji apakah wilayah ini diawasi atau tidak. Dan karena kalian menemukan bangkainya dan memasang alarm, mereka sekarang tahu jawabannya.” Ia berbalik menghadap putra dan menantunya. “Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka ada di luar sana. Pertanyaannya adalah apa yang akan mereka lakukan dengan informasi itu.”
Percakapan itu berlangsung sampai larut. Syahquita mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, mencatat setiap istilah yang keluar dari mulut ibu mertuanya—istilah-istilah lama yang tidak ditemukannya di buku mana pun di perpustakaan kastil. Ada keuntungan tak terduga dari kedatangan Nyonya Agatha: wanita itu membawa serta gudang pengetahuan tentang dunia lama yang tidak dimiliki siapa pun lagi.
Pagi harinya, Albert memimpin sendiri regu ke hutan pinus. Syahquita ingin ikut, tapi kali ini ia tidak memaksakan diri—mual paginya sedang parah-parahnya, dan ia tahu tubuhnya sedang tidak bisa diajak berkompromi. Ia menunggu di menara pengawas bersama Arla, matanya tidak lepas dari garis hutan di kejauhan.
Penantian di menara itu terasa lama. Arla mencoba mengalihkan perhatiannya dengan cerita-cerita dapur—tentang koki baru yang selalu salah takaran garam, tentang kucing liar yang mencuri ikan dari dinding pengeringan—tapi Syahquita hanya menanggapinya dengan senyum singkat. Matanya terus ke utara. Ia menghitung menit, lalu menghitung napas, lalu berhenti menghitung sama sekali karena semua itu tidak membuat regu itu pulang lebih cepat.
“Tuan akan kembali dengan selamat, Tuan Putri,” ucap Arla akhirnya, pelan. “Dia selalu kembali.”
“Aku tahu,” jawab Syahquita. “Tapi menunggu adalah bagian yang tidak pernah kukuasai.”
Regu itu kembali menjelang siang. Albert masuk ke kamar mereka dengan lumpur di sepatunya dan sesuatu yang terbungkus kain di tangannya. Ia meletakkannya di meja dan membuka kain itu: sepotong kulit kayu pinus dengan goresan di atasnya.
“Digores di batang pohon, tepat di atas dahan yang patah tempo hari,” ucap Albert. “Kami hampir melewatkannya. Goresannya sudah lama, tertutup lumut, tapi penjaga yang paling muda memperhatikannya.”
Syahquita menunduk memperhatikan goresan itu. Sebuah lingkaran dengan tiga garis melintanginya, dan satu titik di tengah. Bukan tulisan yang ia kenali, tapi jelas bukan goresan sembarangan. Terlalu simetris. Terlalu sengaja.
“Simbol,” bisik Syahquita. “Ini simbol. Seperti… tanda kepemilikan. Atau penanda wilayah.”
“Atau target,” tambah Albert dengan suara datar. “Seseorang menandai kastil ini, Syah. Atau menandai seseorang di dalamnya.”
Mereka berpandangan. Keduanya memikirkan hal yang sama: siapa yang ditandai? Albert, sang penguasa perbatasan? Atau Syahquita—wanita yang dulu diburu oleh begitu banyak musuh, yang kini sedang mengandung pewaris?
Siang itu Syahquita tidak bisa duduk diam. Dengan seizin Albert—yang diberikan dengan enggan dan syarat didampingi Arla—ia turun ke perpustakaan kastil dan menarik keluar buku-buku lama tentang tanda dan simbol. Ia membolak-balik halaman-halaman yang rapuh, mencari bentuk lingkaran bergaris tiga dengan titik di tengah. Ia tidak menemukannya, tapi ia menemukan hal lain: halaman-halaman tentang ordo-ordo lama, perkumpulan-perkumpulan yang bekerja dalam bayangan, yang namanya ditulis dengan huruf yang sudah pudar.
Ada pola yang mulai terbentuk di kepalanya. Ordo-ordo semacam itu tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya tidur, menunggu zaman baru dengan majikan baru. Dan kalau ada ordo yang bangun di dekat wilayah mereka sekarang, seseorang telah membangunkannya dengan sengaja.
“Aku harus memberitahu Albert tentang ini,” gumamnya sambil menandai halaman-halaman penting dengan pita.
Arla yang menemaninya menatap buku-buku itu dengan ngeri. “Tuan Putri, buku-buku itu membuat saya merinding.”
“Bagus,” jawab Syahquita tanpa mengalihkan matanya dari halaman yang sedang ia baca. “Berarti kau membaca suasana dengan benar.”
“Aku mau simbol ini dikirim ke penasihat lama di ibu kota,” ucap Syahquita, memaksa suaranya tetap stabil. “Mereka punya perpustakaan simbol-simbol kuno. Kalau ini simbol penyihir, mereka akan mengenalinya.”
“Sudah kupikirkan. Burung utusan berangkat sore ini,” jawab Albert. Ia menutup kembali kulit kayu itu dengan kain, hati-hati seperti menutup luka. “Dan sampai ada jawaban, tidak ada yang keluar dari tembok kastil tanpa pengawalan. Termasuk kau.”
Kali ini Syahquita tidak berdebat. Ada saat-saat ketika ego Albert justru menjadi benteng, dan ini salah satunya. Ia hanya mengangguk, lalu tanpa sadar kembali menyentuh perutnya—gerakan yang sudah menjadi kebiasaan barunya setiap kali rasa takut datang.
Malam itu Syahquita bermimpi buruk. Ia bermimpi berlari di hutan pinus yang gelap, dengan simbol lingkaran bergaris tiga terukir di setiap batang pohon yang ia lewati, dan suara langkah kaki yang selalu berada tepat di belakangnya tidak peduli seberapa cepat ia berlari. Dalam mimpi itu, perutnya membesar dan berat, dan di kejauhan ia bisa mendengar tangis Oliver yang tidak bisa ia datangi. Ia terbangun dengan napas memburu dan keringat dingin di keningnya, dan Albert langsung terjaga, memeluknya tanpa bertanya apa pun.
“Hanya mimpi,” bisik Syahquita pada dirinya sendiri lebih daripada pada suaminya. “Hanya mimpi.”
Albert mengelus punggungnya dengan gerakan lambat yang menenangkan, sampai napas Syahquita kembali teratur. “Ceritakan padaku mimpinya kalau kau mau. Atau tidak usah. Aku tetap di sini.”
Syahquita menggeleng pelan dalam pelukan suaminya. Ada mimpi yang sebaiknya dibiarkan memudar tanpa diceritakan, dan mimpi barusan adalah salah satunya. Ia menyandarkan telinganya ke dada Albert, mendengarkan detak jantung pria itu yang stabil seperti tambur, dan perlahan-lahan rasa takutnya larut ke dalamnya.
Tapi di luar jendela, jauh di dalam hutan pinus yang hitam, seekor burung malam terbang dari dahan ke dahan dengan mata yang terlalu besar dan terlalu terang untuk ukuran burung biasa—mengawasi kastil perbatasan sepanjang malam, tanpa berkedip sama sekali.