Lima hari menunggu jawaban dari ibu kota adalah lima hari yang terasa seperti lima bulan. Syahquita mengisi waktunya dengan membaca, menemani Oliver, dan menahan diri untuk tidak ikut berpatroli—prestasi tersendiri mengingat betapa tidak betahannya ia dikurung di dalam tembok. Nyonya Agatha memperpanjang kunjungannya tanpa diminta, dan anehnya, kehadiran wanita tua itu justru menjadi penenang. Tidak ada yang lebih menakutkan bagi penyusup daripada seorang bangsawan vampir tua yang telah selamat dari tiga perang.
Di hari-hari menunggu itu, Keenan dan Dawin menghibur diri dengan cara mereka masing-masing. Keenan mengajar Oliver menirukan suara binatang—sebuah pelajaran yang membuat seluruh dapur tertawa—sementara Dawin membantu kepala penjaga menyusun ulang jadwal patroli. Albert sibuk di menara surat, memeriksa langit setiap sore untuk burung utusan. Dan Syahquita, di sela-sela mual paginya yang mulai berkurang, menyusun daftar nama semua orang yang pernah menjadi musuh mereka, lalu mencoret satu per satu yang sudah berdamai.
Daftar itu pendek di akhir. Terlalu pendek. Dan nama yang tersisa tidak dicoretnya—bukan karena ia curiga, melainkan karena ia tidak boleh tidak curiga. Itulah harga dari kepercayaan yang pernah dikhianati: kau belajar memeriksa ulang bahkan orang yang sudah kau maafkan.
Jawaban dari ibu kota akhirnya datang pada petang kelima, dibawa burung utusan yang terlihat kelelahan. Albert membukanya di hadapan Syahquita, Dawin, Keenan, dan Robert di ruang kerja. Surat itu ditulis tangan oleh penasihat lama bernama Master Elias, dengan huruf-huruf kecil yang rapat.
Albert membacanya dengan suara keras:
“Simbol yang kalian kirimkan dikenali. Lingkaran bergaris tiga dengan titik di tengah adalah tanda dari Ordo Sayap Malam—perkumpulan penyihir upahan yang sudah lama dianggap bubar. Mereka bekerja untuk majikan yang identitasnya dirahasiakan dengan sumpah darah. Mereka tidak pernah menyerang langsung. Mereka mengamati, menandai, lalu menunggu perintah. Kalau kalian menemukan tanda ini di wilayah kalian, berarti kontrak sudah diaktifkan. Waspadalah. Tanda berikutnya biasanya muncul lebih dekat ke target. —Master Elias.”
Keheningan mengisi ruangan itu seperti asap tebal. Dawin yang pertama memecahkannya. “Ordo Sayap Malam. Kupikir mereka sudah punah.”
“Dianggap bubar,” koreksi Robert. “Tidak sama dengan punah.”
Syahquita duduk dengan sangat diam. Tangannya memegang tepi meja. “Kontrak sudah diaktifkan,” ulangnya pelan. “Seseorang membayar mereka. Seseorang dengan cukup emas untuk mengaktifkan ordo yang sudah bubar, dan cukup dendam untuk menandai kastil kita.”
“Siapa pun yang punya motif terhadap kita sudah berdamai atau sudah mati,” ucap Keenan, menghitung dengan jarinya. “Yashita dan Devian sudah kalah. Drake sudah berdamai. Para raja tetangga sudah menandatangani gencatan.”
“Kecuali ada yang berpura-pura,” ucap Albert dengan suara sedingin es.
Nama itu tidak diucapkan oleh siapa pun, tapi semua orang di ruangan itu memikirkannya. Drake. Syahquita merasakan sesak di dadanya. Ia yang paling keras membela kesempatan kedua untuk pria itu. Ia yang bersikeras di depan para pangeran bahwa Drake sudah berubah. Kalau ternyata semua itu sandiwara, maka kesalahannya ada di tangannya—dan kali ini yang dipertaruhkan bukan hanya hidupnya sendiri.
“Aku akan menemui Drake,” ucap Syahquita akhirnya, suaranya mantap. “Besok. Dengan pengawal, kalau kalian mau. Tapi aku yang akan berbicara dengannya. Aku bisa membaca orang, kalian tahu itu. Kalau dia berbohong, aku akan tahu.”
“Tidak,” jawab Albert langsung. “Tidak dalam keadaan hamil.”
“Justru karena aku hamil aku harus pergi, Albert. Kalau ada kontrak aktif di kepala kita, kita tidak punya waktu untuk menunggu jawaban dari surat-menyurat.”
Pertengkaran itu bisa saja meledak seperti biasa, tapi Robert tiba-tiba berdiri. “Ada jalan tengah,” ucapnya tenang. “Undang Drake ke sini. Ke wilayah kita, dengan penjagaan kita, di waktu yang kita tentukan. Kalau dia datang dengan damai, dia tidak akan keberatan. Kalau dia menolak atau menunda-nunda—kita punya jawaban kita.”
Albert dan Syahquita saling menatap, lalu keduanya mengangguk pada waktu yang hampir bersamaan. “Kirim undangan malam ini,” ucap Albert kepada Keenan. “Undangan resmi. Ramah, tapi tidak bisa ditolak tanpa alasan yang jelas.”
Keenan menulis surat undangan itu di meja sudut dengan gaya resmi yang berlebihan, sesekali membacakannya keras-keras dengan suara berwibawa yang membuat Dawin menyembunyikan tawanya di balik tangan. “Dengan hormat, Tuan Drake diundang menghadiri jamuan—”
“Bukan jamuan, Keenan. Pertemuan,” koreksi Albert.
“Pertemuan yang disertai jamuan,” tawar Keenan. “Orang lebih sulit menolak kalau ada makanannya. Itu aturan dasar diplomasi.”
Tidak ada yang membantah logika aneh itu, jadi begitulah suratnya ditulis: pertemuan resmi dengan jamuan. Burung utusan membawanya pergi keesokan paginya, dan sekarang yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu—lagi. Menunggu jawaban dari ibu kota, lalu menunggu jawaban dari Drake. Kastil perbatasan menjadi ahli dalam seni menunggu, dan tidak ada yang menikmatinya.
Malam itu, Syahquita duduk di kamar Oliver setelah menidurkan anak itu. Ia memperhatikan wajah mungil yang damai dalam tidur, tidak tahu apa-apa tentang kontrak, ordo, atau simbol-simbol di pohon pinus. Anak itu hanya tahu bahwa dunia adalah tempat yang aman, bahwa ibu dan ayahnya ada di sana setiap pagi, bahwa besok adalah hari bermain yang baru.
“Duniamu akan tetap seperti itu,” bisik Syahquita kepada anak yang tertidur itu. “Ibu janji. Duniamu akan tetap aman.”
Ia berdiri di sana lebih lama dari yang ia rencanakan, mengatur selimut kecil Oliver sampai benar-benar rapi, mengecup keningnya dua kali, lalu berdiri di ambang pintu sambil menatapnya sekali lagi. Ada kekuatan aneh yang datang dari melihat anaknya tidur—kekuatan yang membuat semua ketakutan di luar sana terasa lebih kecil, lebih bisa dihadapi, lebih layak dilawan.
Di meja kecil di samping boks tidur Oliver, tergeletak gambar jangkar yang dibuat Keenan dengan arang untuk menghibur anak itu tempo hari. Gambar yang jelek, sebenarnya. Tapi Oliver menyukainya, jadi Syahquita membiarkannya di sana. Detail-detail kecil seperti itulah yang membuat kastil ini terasa seperti rumah, dan rumah inilah yang sedang ia pertahankan sekarang.
Ia keluar dari kamar bayi dan menemukan Albert sudah menunggu di koridor, bersandar di dinding dengan tatapan yang sudah menunggunya sejak lama. Mereka berjalan bersama ke kamar tanpa berkata-kata, bergandengan tangan, dan di keheningan itu ada satu kesepakatan yang tidak perlu diucapkan: apa pun yang sedang bergerak di luar tembok sana, mereka akan menghadapinya berdiri berdampingan—bukan berhadap-hadapan seperti dulu.
Dan jauh di seberang hutan pinus, di sebuah rumah kayu tua yang tersembunyi di balik kabut, seseorang sedang menulis surat balasan dengan tangan yang stabil dan mata yang dingin, sementara di atas mejanya tergeletak sebuah lingkaran bergaris tiga dengan titik di tengah—digambar dengan tinta yang terlihat terlalu gelap untuk menjadi tinta biasa.