Drake datang tiga hari setelah surat undangan itu dikirim, dan kedatangannya langsung memicu keributan yang sudah bisa diduga. Penjaga di gerbang kastil perbatasan mengabarkan lebih dulu lewat peluit panjang, dan pada saat kereta Drake berhenti di halaman, hampir semua penghuni kastil sudah berdiri di posisi masing-masing—para pangeran di tangga depan, para penjaga di dinding, dan Albert di barisan paling depan dengan wajah yang sengaja dibuat tidak ramah.
Syahquita berdiri di samping suaminya, mengenakan mantel panjang yang menyamarkan tubuhnya. Mual paginya hari itu cukup jinak, dan ia bersyukur untuk itu—ia butuh semua ketajamannya untuk pertemuan ini.
Ia telah memikirkan pertemuan ini sepanjang malam. Apa yang akan ia tanyakan lebih dulu. Ekspresi apa yang harus ia pasang. Apakah ia harus terlihat tegas atau terlihat terbuka. Pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak memasang ekspresi apa pun—Drake sudah pernah berhadapan dengan semua topengnya, dan pria itu akan mengenali topeng apa pun. Satu-satunya cara untuk membaca orang seperti Drake adalah dengan datang tanpa topeng sama sekali.
Di sisi lain tangga, Syahquita melihat ibu mertuanya berdiri di jendela lantai dua, memperhatikan kedatangan kereta itu dengan mata yang tidak melewatkan satu pun detail. Kehadiran Nyonya Agatha di kastil ini tiba-tiba terasa seperti keberuntungan yang tidak direncanakan: tidak ada orang yang lebih ahli membaca kebohongan daripada wanita yang telah menghabiskan enam puluh tahun di tengah para bangsawan pembohong.
Drake turun dari kereta sendirian. Tidak ada pengawal, tidak ada pengiring. Hanya seorang pria setengah baya dengan mantel sederhana dan dua tangan yang terlihat kosong. Ia berhenti beberapa langkah dari tangga dan menundukkan kepalanya—bukan menunduk dalam, hanya cukup untuk menunjukkan bahwa ia datang tanpa niat buruk.
Syahquita memperhatikan cara pria itu berdiri. Tidak ada ketegangan seorang penyusup di bahunya. Tidak ada mata yang menghitung penjaga di dinding. Drake berdiri seperti orang yang sudah memperkirakan akan disambut dengan kecurigaan dan sudah berdamai dengan kenyataan itu jauh-jauh hari.
“Albert. Syahquita,” sapa Drake dengan suara yang pelan dan hati-hati. “Terima kasih atas undangannya. Aku tahu undangan ini bukan undangan biasa.”
“Maka kau menghemat waktu kita semua,” jawab Albert dingin. “Masuk. Kita bicara di dalam.”
Mereka berkumpul di ruang pertemuan—Albert, Syahquita, Drake, Dawin, Keenan, dan Robert. Nyonya Agatha tidak ikut, tapi Syahquita tahu wanita tua itu sedang duduk di kamar sebelah dengan telinga yang tidak pernah berhenti bekerja. Arla menyajikan minuman lalu keluar dengan cepat, menutup pintu di belakangnya.
Sebelum ada yang mulai bicara, Drake mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya dan meletakkannya di meja: sebuah pisau kecil dengan sarung kulit yang sudah usang. “Sebelum kalian bertanya apa pun,” ucapnya, “ini satu-satunya senjata yang kubawa. Kalian boleh menyimpannya selama aku di sini.”
Albert mengambil pisau itu, memeriksanya sekilas, lalu meletakkannya jauh dari jangkauan. “Kau datang dengan lebih siap dari dugaanku.”
“Aku datang dengan lebih jujur dari dugaanmu,” jawab Drake. “Aku sudah membaca undangan kalian dua puluh kali dalam perjalanan ke sini. Jamuan dan pertemuan resmi yang tidak bisa ditolak. Kalian tidak mengundangku untuk makan malam. Kalian mengundangku untuk diperiksa.” Ia menatap mereka satu per satu. “Jadi periksalah. Aku tidak keberatan.”
“Katakan padaku apa yang kau ketahui tentang Ordo Sayap Malam,” ucap Syahquita langsung, tanpa basa-basi. Matanya tidak lepas dari wajah Drake, mencari celah, keraguan, atau kebohongan yang terselip di antara kata-katanya.
Drake menelan ludah. “Mereka masih ada, kalau begitu.” Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, dan untuk sesaat ia terlihat lebih tua dari usianya. “Ordo Sayap Malam. Penyihir upahan dengan sumpah darah. Aku pernah… mendekati mereka, dulu, di masa perang. Aku pernah mempertimbangkan untuk menyewa mereka.”
Ruangan itu langsung menegang. Albert mencondongkan tubuhnya ke depan, dan Syahquita meletakkan tangannya di lengan suaminya sebelum pria itu meledak.
“Lanjutkan,” ucap Syahquita tenang.
“Aku tidak jadi menyewa mereka. Bukan karena aku berubah pikiran, tapi karena mereka terlalu mahal bahkan untukku,” lanjut Drake. “Harga mereka bukan cuma emas. Mereka minta sesuatu yang lain—sesuatu yang pribadi dari majikannya. Sehelai rambut, setetes darah, barang kesayangan. Kontrak mereka diikat dengan itu. Aku tidak mau memberikannya.” Ia menatap Syahquita. “Tapi aku belajar cara mereka bekerja. Mereka mengamati dulu, berminggu-minggu kalau perlu. Tanda pertama selalu jauh dari target. Tanda kedua lebih dekat. Dan kalau tanda ketiga muncul—”
“Kalau tanda ketiga muncul, apa?” desak Keenan.
Drake menatapnya. “Tanda ketiga muncul di dalam rumah target. Dan setelah itu, mereka bergerak.”
Keheningan yang jatuh di ruangan itu berat sekali. Syahquita merasakan tangan Albert menegang di bawah tangannya. Dua tanda sudah muncul: jejak di utara, simbol di pohon. Yang ketiga akan ada di dalam kastil.
“Siapa yang bisa menyewa mereka, menurutmu?” tanya Robert, yang sejak tadi diam mendengarkan.
“Siapa pun dengan emas dan dendam,” jawab Drake. “Tapi untuk mengaktifkan kontrak terhadap penguasa perbatasan seperti Albert? Itu bukan pekerjaan orang biasa. Itu butuh majikan dengan pengaruh—dan dengan keberanian untuk mengikat kontrak dengan darahnya sendiri.” Ia berhenti. “Aku punya daftar nama-nama lama. Orang-orang yang dulu bergerak di jaringan yang sama denganku. Aku akan menuliskannya untuk kalian malam ini juga. Jika salah satu dari mereka masih bergerak, aku akan mengenalinya dari cara mereka bekerja.”
Syahquita memperhatikan setiap kata, setiap jeda, setiap gerakan mata Drake. Ia sudah berhadapan dengan pembohong-pembohong terbaik di masa lalunya, dan semua indra-nya mengatakan hal yang sama kali ini: Drake tidak sedang berbohong. Pria itu takut—bukan takut pada mereka, tapi takut pada apa yang sedang datang.
“Kau akan menuliskan daftar itu sebelum makan malam,” ucap Albert akhirnya. “Dan kau akan bermalam di sini. Bukan sebagai tamu—sebagai tamu yang diawasi.”
“Adil,” jawab Drake tanpa protes. “Aku akan melakukan hal yang sama di posisimu.”
Pertemuan itu bubar dengan suasana yang lebih ringan dari awalnya, meski tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang sepenuhnya tenang. Saat mereka keluar dari ruang pertemuan, Dawin berjalan di samping Syahquita dan berbisik pelan, “Bagaimana menurutmu? Jujur.”
“Aku rasa dia jujur,” jawab Syahquita. “Tapi jujur hari ini tidak menjamin jujur besok. Kita tetap mengawasinya.”
“Kau benar-benar sudah menjadi ratu perbatasan,” ucap Dawin sambil tersenyum bangga. “Dulu kau akan langsung percaya, atau langsung tidak percaya. Sekarang kau percaya sambil mengawasi.”
“Dulu aku belum pernah hampir kehilangan segalanya,” jawab Syahquita, dan Dawin tidak berkata apa-apa lagi setelah itu.
Di koridor, mereka berpapasan dengan Oliver yang sedang berjalan tertatih-tatih di antara Arla dan dinding. Anak itu mengangkat kedua tangannya begitu melihat Syahquita, dan Syahquita menggendongnya sebentar—sambil duduk di bangku koridor, sesuai kesepakatan—membiarkan anak itu meremas hidungnya dengan tangan mungilnya yang gemuk. Untuk sesaat, semua pembicaraan tentang ordo dan kontrak terasa jauh sekali dari koridor itu.