Drake menepati janjinya. Sebelum makan malam, secarik kertas penuh dengan tulisan tangan yang rapi sudah tergeletak di meja kerja Albert. Dua belas nama, masing-masing dengan catatan kecil di sampingnya: pekerjaan, wilayah, dan kebiasaan. Syahquita membacanya satu per satu, sambil Albert berdiri di belakang kursinya dengan tangan di bahunya.
“Beberapa nama ini sudah kudengar,” ucap Syahquita. “Pedagang senjata dari pelabuhan selatan, penyelundup dari lembah timur…” Ia berhenti di satu nama. “Morrigan. Siapa dia?”
Albert membaca catatan kecil di samping nama itu: penyihir, wilayah utara, spesialis kontrak darah. “Itu yang paling menggangguku juga. Sisanya hanya pedagang dan penyelundup. Tapi Morrigan—dia penyihir. Kalau ada yang bisa menjadi perantara antara majikan dan Ordo Sayap Malam, itu orang seperti dia.”
Makan malam itu berlangsung dalam suasana yang ganjil. Drake duduk di ujung meja dengan dua penjaga berdiri di belakang kursinya, makan dengan sopan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan hati-hati. Nyonya Agatha bergabung di meja itu, dan kehadirannya membuat Drake dua kali lebih berhati-hati—pria itu jelas tahu dengan siapa ia sedang berhadapan.
“Kau Drake,” ucap Nyonya Agatha di tengah makan malam, dengan nada seseorang yang sedang memastikan nama di label barang. “Aku pernah mendengar tentangmu. Tidak ada satu pun yang baik.”
“Semuanya benar, Nyonya,” jawab Drake tanpa tersinggung. “Tidak ada satu pun yang baik. Tapi aku sedang mencoba mengubah itu, selagi umur masih mengizinkan.”
“Umur tidak mengubah orang,” ucap wanita tua itu sambil menatapnya tajam. “Orang mengubah diri sendiri. Umur hanya menghitung berapa lama mereka berpura-pura.”
Syahquita hampir tersedak supnya mendengar itu, dan di ujung meja, Keenan menyembunyikan tawanya di balik serbet. Bahkan Albert pun terlihat menahan sesuatu di sudut bibirnya.
Oliver yang duduk di baby chair di samping Syahquita sesekali melirik ke arah Drake dengan rasa penasaran khas anak kecil. Anak itu tidak tahu siapa pria asing itu, tapi ia memperhatikannya dengan mata besarnya yang tidak berkedip, sampai Drake tersenyum kecil kepadanya—senyum yang canggung dari seseorang yang sudah lama tidak berlatih tersenyum.
“Dia suka padamu,” ucap Syahquita pelan. “Oliver selalu memperhatikan orang yang merasa tidak nyaman.”
“Anak yang peka,” jawab Drake, dan ada sesuatu yang tercekat di suaranya yang ia sembunyikan dengan menyesap airnya.
Setelah makan malam, Drake dibawa ke kamar tamu di sayap timur—kamar yang jendelanya menghadap ke halaman dalam, dengan dua penjaga di luar pintu. Sebelum masuk, pria itu berhenti dan menoleh kepada Syahquita.
“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” ucapnya pelan. “Tentang Oliver.”
Syahquita mengangguk.
“Bagaimana kabarnya? Anak itu.”
“Dia sehat. Dia tertawa banyak. Dia sudah bisa berjalan lebih cepat dari yang bisa dikejar Arla,” jawab Syahquita, dan ia melihat sesuatu yang lembut melintas di wajah Drake—pria yang dulu menjadi dalang dari begitu banyak penderitaannya. “Kau boleh melihatnya besok. Sebentar. Dengan pengawalan.”
“Terima kasih,” ucap Drake, dan dua kata itu terdengar sangat jujur hingga Syahquita harus menunduk untuk menata wajahnya sendiri.
Syahquita berjalan kembali ke kamar dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya. Di sepanjang koridor, ia melewati potret-potret lama keluarga Albert yang tergantung di dinding—wajah-wajah bangsawan yang kaku, semuanya melihat ke depan tanpa senyum. Ia selalu merasa potret-potret itu sedang menilainya. Malam ini, entah kenapa, penilaian itu tidak terasa seberat biasanya.
Albert sudah menunggunya di kamar, duduk di tepi ranjang dengan daftar dua belas nama di tangannya. “Kau lama di sayap timur.”
“Aku bicara sebentar dengan Drake. Tentang Oliver,” jawab Syahquita, melepas selendangnya. “Dia bertanya bagaimana kabar anak itu. Itu saja.”
Albert diam sejenak. “Dan?”
“Dan aku memberitahunya. Dan besok dia boleh melihat Oliver sebentar, dengan pengawalan.” Syahquita menatap suaminya, siap untuk berdebat. Tapi Albert hanya mengangguk pelan.
“Baik. Dengan pengawalan,” ulang Albert, dan hanya itu. Tidak ada ledakan ego, tidak ada penolakan. Syahquita hampir tidak mengenali suaminya sendiri—atau lebih tepatnya, ia sedang menyaksikan suaminya menjadi orang yang selalu ia tahu bisa ada.
Malam itu, di kamar mereka, Albert dan Syahquita mempelajari kembali daftar dua belas nama itu di bawah cahaya lilin. Mereka mencoret nama-nama yang sudah pasti tidak mungkin, memberi tanda tanya pada beberapa, dan mengembalikan nama Morrigan ke bagian atas setiap kali.
“Kita harus menemukan cara untuk memastikan apakah Morrigan masih aktif,” ucap Syahquita. “Kalau dia yang menjadi perantara, maka dialah pintu kita menuju majikannya.”
“Aku akan mengirim orang ke utara,” jawab Albert. “Bukan penjaga kastil—mereka terlalu dikenali. Aku punya beberapa kontak lama di wilayah itu.”
Syahquita menatap suaminya dengan alis terangkat. “Kontak lama?”
“Masa laluku tidak seluruhnya terhormat, Syah. Kau tahu itu,” jawab Albert tanpa menyesal, tapi juga tanpa bangga. “Ada orang-orang yang berutang padaku dari masa itu. Utang yang tidak pernah kutagih. Sekarang mungkin saatnya.”
Syahquita menimbang kata-kata itu. Ia tidak suka suaminya membuka kembali pintu-pintu lama, tapi ia juga tahu bahwa perang yang sedang datang tidak akan dimenangkan hanya dengan cara-cara yang bersih. “Lakukan. Tapi tidak ada yang bergerak tanpa kita berdua tahu. Sepakat?”
“Sepakat,” jawab Albert, dan kali ini tidak ada perdebatan, tidak ada ego yang menghalang. Hanya dua orang tua yang sedang melindungi keluarganya dengan cara yang mereka bisa.
Mereka meniup lilin itu bersama-sama, tapi Syahquita tidak langsung tidur. Ia berbaring dengan mata terbuka, menatap bayangan lilin yang memudar di langit-langit. Dua belas nama. Satu ordo yang bangkit dari kubur. Satu bayi yang tumbuh di dalam perutnya. Dan satu suami yang sedang belajar menjadi orang yang lebih baik di tengah semua itu.
“Aku tidak bisa tidur,” bisiknya akhirnya ke dalam kegelapan.
“Aku tahu,” jawab Albert dari sisinya, juga dengan mata terbuka. “Aku juga.”
“Bagaimana kita bisa berperang melawan sesuatu yang bahkan belum pernah kita lihat?”
Albert berbalik menghadapnya. Wajahnya di kegelapan hanya terlihat samar, tapi suaranya jelas. “Kita tidak perlu melihat mereka untuk menang. Kita hanya perlu membuat mereka tidak pernah mendapatkan apa yang mereka incar. Selama kau, Oliver, dan anak ini tetap di dalam tembok ini, mereka sudah kalah.”
Syahquita memikirkan kata-kata itu. Ada kebenaran sederhana di dalamnya yang menenangkan. Perang ini bukan tentang menghancurkan musuh—perang ini tentang menjaga apa yang mereka miliki sampai musuh itu sendiri yang lelah.
“Tidur sekarang,” ucap Albert, menarik selimut ke bahu istrinya. “Aku yang berjaga.”
“Kau juga butuh tidur.”
“Aku tidur tadi sore saat kau membaca. Sekarang giliranmu.”
Itu bohong, dan mereka berdua tahu itu bohong, tapi Syahquita terlalu lelah untuk menangkapnya. Ia memejamkan matanya, dan untuk beberapa jam malam itu, kastil perbatasan tertidur dalam damai yang rapuh.
Di luar, angin malam berhembus dari utara, membawa bau hutan pinus dan janji-janji yang belum terlihat bentuknya.