Pagi berikutnya, sebelum Drake sempat pamit, kepala penjaga datang dengan wajah yang membuat semua rencana kepulangan tertunda. Tanda baru ditemukan—dan kali ini tidak di hutan pinus, tidak di luar tembok, melainkan di tembok kastil sendiri. Simbol lingkaran bergaris tiga dengan titik di tengah, tergores dangkal di batu tembok sisi barat, di bagian yang menghadap kebun sayur dapur.
“Di tembok kita,” ulang Albert dengan suara yang datar karena marah yang ditahan. “Mereka menyentuh tembok kita.”
“Itu belum tanda ketiga,” ucap Drake cepat, yang ikut dihadirkan untuk melihatnya. “Tembok masih di luar rumah. Tapi mereka sudah berani mendekat. Itu berarti fase pengamatan mereka hampir selesai.”
Syahquita memperhatikan goresan itu dari dekat. Goresannya baru—tepinya masih tajam, belum ada lumut atau debu yang menempel. Siapa pun yang menggoreskannya, dia datang dalam dua malam terakhir, melewati penjagaan, dan pergi tanpa terlihat siapa pun.
“Bagaimana mereka melewati patroli?” tanya Keenan frustrasi. “Kita sudah mengganti jadwal. Kita sudah memasang alarm.”
“Karena mereka tidak masuk lewat tanah,” jawab Drake. Ia menunjuk ke atas—ke dahan-dahan pohon besar di luar tembok yang menjulur mendekati batu kastil. “Mereka turun dari atas. Dan mereka hanya menyentuh tembok cukup lama untuk menggores ini.”
Albert langsung memerintahkan dahan-dahan itu ditebang hari itu juga, dan dua kali lipat penjaga diturunkan untuk mengawasi tembok barat. Tapi Syahquita tahu, dan semua orang tahu, bahwa langkah-langkah itu hanya memperlambat—bukan menghentikan. Ordo itu sudah mengukur mereka. Ordo itu sudah tahu kekuatan mereka. Dan ordo itu sedang menunggu sesuatu.
“Menunggu apa?” tanya Dawin saat mereka semua kembali ke dalam.
“Perintah terakhir dari majikan mereka,” jawab Drake. “Atau…” ia menatap Syahquita dengan tatapan yang tidak enak, “…momen yang tepat.”
Syahquita mengerti maksud tatapan itu. Kehamilannya akan semakin terlihat dalam beberapa minggu. Tubuhnya akan semakin lambat. Dan kalau ordo itu mengetahui hal itu—kalau mereka memang sudah mengetahuinya sejak awal—maka mereka sedang menunggu saat ketika target mereka berada pada kondisi paling lemah.
“Tidak,” ucap Albert tegas, membaca pikiran istrinya. “Kita tidak akan membiarkan mereka memilih waktunya. Kita yang memilih. Kita bergerak lebih dulu.”
“Bagaimana caranya? Kita bahkan tidak tahu di mana mereka,” tantang Keenan.
“Kita tahu di mana perantara mereka,” jawab Albert. “Morrigan, di utara. Kalau kita menemukan Morrigan, kita menemukan kontraknya. Dan kalau kita menemukan kontraknya, kita menemukan majikannya.”
Rencana itu disusun sepanjang siang. Albert akan mengirim kontak lamanya ke utara untuk mencari jejak Morrigan—diam-diam, tanpa seragam, tanpa nama kastil. Sementara itu, kehidupan di dalam tembok akan berjalan senormal mungkin, karena ordo itu sedang mengamati, dan kepanikan adalah informasi.
Syahquita duduk di ruang kerja saat rencana itu dibentangkan, mencatat setiap langkahnya. “Satu hal,” ucapnya di tengah pembicaraan. “Kalau Morrigan adalah perantara kontrak darah, dia pasti dilindungi. Bukan oleh pedang—oleh sihir. Kontakmu harus tahu itu sebelum dia pergi. Jangan kirim orang ke dalam sarang penyihir tanpa memberitahunya apa yang sedang dia hadapi.”
Albert menatapnya, lalu mengangguk. “Dia akan tahu. Aku akan menulis sendiri peringatannya.”
“Dan aku mau dia membawa bekal dari Alger,” tambah Syahquita. “Penawar umum untuk ramuan-ramuan yang paling sering dipakai penyihir upahan. Kalau sesuatu terjadi padanya di utara, dia setidaknya punya waktu untuk bertahan sampai bantuan datang.”
“Itu ide bagus,” akui Albert, dan ia menuliskannya juga.
Drake yang mengikuti pembicaraan itu dari sudut ruangan mengangkat tangannya sedikit. “Satu hal lagi. Ordo Sayap Malam selalu punya titik kumpul untuk menerima pembayaran—biasanya di kedai-kedai tua di jalur perdagangan. Kalau kontakmu ke utara, suruh dia bertanya tentang kedai yang akhir-akhir ini ramai oleh orang-orang berjubah. Penyihir upahan tidak pernah jauh dari emas mereka.”
Albert mencatat itu juga. “Kedai tua di jalur perdagangan. Baik.”
Sore harinya, Syahquita duduk di teras bersama Nyonya Agatha, yang memandang kegiatan penebangan dahan di luar tembok dengan tatapan menilai.
Dari teras itu juga mereka bisa melihat Oliver bermain di halaman dalam bersama Arla, di bawah pengawasan dua penjaga yang tidak melepas mata dari anak itu sejak tanda di tembok ditemukan. Anak itu berlari-lari kecil mengejar kupu-kupu, tertawa setiap kali kupu-kupu itu berbalik arah, dan suaranya yang ceria terdengar sampai ke teras—pengingat kecil tentang apa yang sedang mereka pertahankan.
“Dahan-dahan itu sudah ada di sana sejak sebelum kau lahir,” komentar Nyonya Agatha sambil menatap para pekerja. “Aku dulu bermain di bawahnya.”
“Sekarang dahan-dahan itu jadi tangga untuk musuh,” jawab Syahquita. “Semua yang indah selalu bisa dipakai untuk hal yang buruk, rupanya.”
“Semua yang indah selalu bisa,” setuju wanita tua itu. “Itulah gunanya kita—memastikan yang indah tetap dipakai untuk hal yang baik.” Ia menyesap tehnya perlahan, lalu menambahkan dengan nada yang lebih ringan, “Dan kau, Syahquita, adalah hal baik yang paling keras kepala yang pernah kutemui.”
“Putraku menjadi panglima yang lebih baik sejak menikahimu,” ucap wanita tua itu tiba-tiba. “Dulu dia hanya tahu cara menyerang. Sekarang dia tahu cara menunggu.”
Syahquita tersenyum kecil. “Dia belajar dengan susah payah, Nyonya. Sama seperti saya.”
“Semua yang berharga memang dipelajari dengan susah payah,” jawab Nyonya Agatha, lalu menyesap tehnya. “Aku tidak akan pulang minggu depan seperti rencana semula. Aku akan tinggal sampai urusan ini selesai.”
Syahquita menoleh, kaget. “Nyonya tidak perlu—”
“Aku tidak bertanya pendapatmu, Syahquita,” potong wanita itu, tapi tidak dengan nada galak—dengan nada seseorang yang sudah memutuskan dan sudah selesai membicarakannya. “Keluarga ini sedang ditandai oleh ordo penyihir upahan, dan kau sedang mengandung cucuku. Aku akan tinggal. Titik.”
Dan Syahquita, untuk pertama kalinya sejak mengenal wanita ini, merasa benar-benar lega memiliki Nyonya Agatha di dalam tembok kastil.
Malam itu, Drake pamit. Ia berdiri di halaman dengan keretanya yang sudah menunggu, dan sebelum naik, ia menoleh ke Syahquita untuk terakhir kalinya.
“Daftar itu akan membawa kalian ke utara,” ucapnya. “Kalau kalian menemukan Morrigan, jangan mencoba menangkapnya sendiri. Penyihir kontrak darah tidak bisa dipaksa bicara—tapi mereka bisa dibujuk, kalau kalian menemukan apa yang mereka inginkan. Semua orang seperti dia selalu menginginkan sesuatu.”
“Kau terdengar seperti tahu banyak tentang orang seperti dia,” komentar Albert.
“Aku pernah hampir menjadi salah satunya,” jawab Drake, dan tidak ada yang menambahkan apa-apa setelah itu. Keretanya bergerak meninggalkan halaman kastil, dan Syahquita memperhatikannya sampai menghilang di balik gerbang, berpikir betapa anehnya hidup—bahwa pria yang dulu menjadi sumber segala ketakutannya kini menjadi salah satu sumber informasinya yang paling berharga.
“Kita percaya padanya?” tanya Albert pelan, saat gerbang tertutup.
“Kita percaya pada informasinya,” jawab Syahquita. “Selebihnya, kita lihat.”