Ibu Syahquita tiba seminggu setelah surat kabar bahagia itu sampai ke tangannya—jauh lebih cepat dari yang diduga siapa pun, karena wanita itu ternyata langsung berkemas begitu selesai membaca suratnya dan menyewa kereta pertama yang tersedia. Ia datang dengan dua koper besar, sebuah keranjang berisi ramuan-ramuan buatan sendiri, dan air mata yang sudah menggenang sejak keretanya masuk ke gerbang kastil.
“Anakku!” serunya saat melihat Syahquita di tangga depan, dan pelukan mereka langsung terjadi di sana, di depan semua orang, tanpa sopan santun, tanpa protokol. Syahquita membenamkan wajahnya di bahu ibunya dan untuk beberapa detik, ia bukan lagi istri penguasa perbatasan, bukan ibu yang sedang diintai ordo misterius—ia hanya seorang anak yang dirangkul ibunya.
“Biar ibu lihat,” ucap ibunya, melepaskan pelukan itu untuk memegangi wajah Syahquita dengan kedua tangan. “Kau pucat. Kau kurus. Apa kau makan dengan benar? Apa kau tidur cukup?”
“Aku baik, Bu. Aku benar-benar baik,” jawab Syahquita sambil tertawa kecil, menghapus air matanya.
“Dan kau,” ibunya menoleh ke Albert, yang berdiri di samping dengan postur yang sedikit lebih kaku dari biasanya. “Jaga anakku baik-baik.”
“Selalu, Ibu,” jawab Albert, dan ia mengucapkannya dengan kesungguhan yang membuat wanita itu menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk puas.
Pertemuan dua ibu mertua itu terjadi di ruang keluarga sore harinya, dan semua orang di kastil—tanpa diminta—mengosongkan ruangan itu dengan sopan. Nyonya Agatha dan ibu Syahquita duduk berhadapan seperti dua jenderal dari dua kerajaan yang berbeda: yang satu dengan tehnya yang diseduh dengan aturan, yang satu dengan ramuannya yang diseduh dengan kepercayaan.
“Jadi Anda mertua saya yang satu lagi,” ucap ibu Syahquita dengan ramah.
“Rupanya begitu,” jawab Nyonya Agatha.
Ada jeda yang menegangkan, lalu ibu Syahquita membuka keranjangnya dan menawarkan ramuan jahe buatannya, dan Nyonya Agatha—setelah menciumnya dengan sangat curiga—meminumnya dan mengakui bahwa itu “tidak buruk”. Dan dari titik itu, percakapan mereka mengalir tentang kehamilan, tentang makanan, tentang bagaimana membesarkan anak-anak yang keras kepala, dan tentang betapa Albert dan Syahquita sama-sama tidak bisa diatur dengan cara mereka masing-masing.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak jejak di utara ditemukan, Syahquita tidur tanpa mimpi buruk. Ada sesuatu yang sangat menenangkan dari kehadiran ibunya di dalam kastil—seolah-olah doa-doa lama yang dulu dilantunkan ibunya di masa kecilnya ikut datang dan berjaga di sudut-sudut kamarnya.
Sebelum tidur, mereka berbicara lama di kamar. Ibunya duduk di tepi ranjang seperti dulu ketika Syahquita masih kecil, menyisir rambut putrinya dengan sisir kayu yang selalu ia bawa ke mana-mana.
“Kau sudah menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari yang ibu doakan,” ucap ibunya pelan, sementara sisir itu bergerak lembut dari helai ke helai. “Ibu dulu hanya berdoa supaya kau selamat. Sekarang kau yang menjaga keselamatan orang lain.”
“Aku belajar dari ibu,” jawab Syahquita, matanya terpejam menikmati sisiran itu. “Ibu yang dulu bekerja sendirian, membesarkanku sendirian, dan tidak pernah mengeluh. Kalau aku kuat, itu karena aku meniru ibu.”
Tangan ibunya berhenti sejenak di rambutnya, dan Syahquita tahu tanpa menoleh bahwa ibunya sedang menahan tangis. Mereka tidak membicarakan masa-masa sulit itu sering-sering, tapi masa-masa itu selalu ada di antara mereka—bukan sebagai luka, melainkan sebagai fondasi.
“Bayi ini akan lahir ke keluarga yang penuh cinta,” ucap ibunya akhirnya. “Itu saja yang penting. Sisanya biar ibu-ibu yang urus.”
Namun ketenangan itu retak pada pagi berikutnya. Ibu Syahquita, yang sedang berjalan-jalan pagi di kebun sayur dapur—kebiasaan lamanya yang tidak bisa dilepaskan—menemukan sesuatu di sana. Ia tidak berteriak. Ia hanya masuk ke dalam, mencari putrinya, dan berkata dengan suara yang sangat pelan:
“Syahquita, ada simbol aneh di tiang penyangga tanaman kacang di kebun. Ibu tidak suka bentuknya.”
Kebun sayur dapur berada di dalam tembok kedua—area yang dianggap aman, tempat para pelayan dan keluarga berkebun. Syahquita dan Albert bergegas ke sana, dan di tiang kayu penyangga tanaman itu, setinggi pinggang orang dewasa, tergores simbol yang sudah mereka kenal terlalu baik: lingkaran, tiga garis, satu titik.
“Ini di dalam,” bisik Albert, dan wajahnya menggelap menjadi sesuatu yang berbahaya. “Ini sudah di dalam.”
Nyonya Agatha yang menyusul ke kebun memperhatikan simbol itu dengan mata menyipit. “Digores dengan pisau kecil, cepat, tanpa keraguan. Siapa pun yang melakukannya sudah pernah melakukannya puluhan kali.” Ia menoleh ke Albert. “Kau punya tamu atau pekerja baru dalam dua minggu terakhir?”
“Tidak ada,” jawab kepala penjaga yang dipanggil. “Semua orang di dalam tembok ini adalah orang lama.”
“Maka orang lama kalian punya teman baru di luar,” ucap Nyonya Agatha datar. “Atau seseorang masuk dan keluar tanpa menjadi tamu sama sekali.”
“Ini bukan tanda ketiga,” ucap Syahquita cepat, memaksa dirinya berpikir jernih meski jantungnya berdegup keras. “Kebun bukan rumah. Tanda ketiga ada di dalam rumah—di dalam ruangan tempat target tinggal. Mereka sedang menguji seberapa jauh mereka bisa masuk. Mereka sedang mengukur pertahanan kita dari dalam.”
“Atau mereka mengukur reaksi kita,” tambah Albert. “Melihat apa yang kita lakukan setiap kali tanda baru muncul.” Ia menoleh ke kepala penjaga yang sudah berdatangan. “Mulai sekarang, kebun ini dijaga siang dan malam. Semua yang masuk ke area dalam diperiksa—barang, orang, hewan. Tidak ada pengecualian.”
Syahquita menatap simbol itu sekali lagi, lalu menatap ibunya yang berdiri beberapa langkah di belakang dengan wajah khawatir, lalu menatap kastil yang menjulang di hadapannya. Rumah mereka sedang diukur, jengkal demi jengkal. Dan entah kenapa, ia merasa waktu mereka tidak banyak lagi.
Siang itu, Albert mengumpulkan semua orang yang tinggal di dalam tembok kedua—pelayan, juru masak, tukang kebun, semuanya—di aula kecil. Ia tidak menuduh siapa-siapa; ia hanya mengumumkan aturan baru dengan suara yang tidak bisa diganggu gugat: tidak ada yang masuk atau keluar area dalam tanpa didampingi, tidak ada paket yang dibuka tanpa dua pasang mata, dan semua orang wajib melaporkan apa pun yang janggal, sekecil apa pun.
Syahquita memperhatikan wajah-wajah mereka dari samping. Wajah-wajah orang yang sudah ia kenal bertahun-tahun, yang sudah memasak, membersihkan, dan merawat rumah ini dengan setia. Ia tidak menemukan wajah pengkhianat di sana—tapi itu justru yang paling menakutkannya. Kalau musuh mereka memang salah satu dari wajah-wajah ini, maka musuh itu sangat pandai menyembunyikan dirinya.
Sepulangnya dari aula, ibunya menggenggam tangannya erat-erat. “Ibu tidak takut pada simbol itu,” ucap wanita tua itu. “Ibu takut pada orang yang menggoreskannya. Simbol hanya kayu dan goresan. Orang bisa lebih buruk dari itu.”
Syahquita menggenggam balik tangan ibunya. “Kita akan menemukannya, Bu. Sebelum dia menemukan kami.”