Ketegangan di kastil perbatasan berubah bentuk setelah tanda di kebun itu ditemukan. Semua orang berjalan lebih cepat, berbicara lebih pelan, dan melihat ke belakang lebih sering. Albert tidak lagi tidur lebih dari beberapa jam semalam; Syahquita tahu karena setiap kali ia terjaga di malam hari, suaminya selalu sudah terjaga lebih dulu, duduk di kursi dekat jendela dengan mata terbuka.
Di tengah suasana seperti itu, Arla menemukan hal yang ganjil pada sore hari yang dingin. Ia sedang menyiapkan makan malam di dapur ketika ia mencium sesuatu yang salah dari sup yang sedang ia masak untuk keluarga—bau yang tidak seharusnya ada di sup ayam: bau pahit, tajam, seperti tanaman obat yang terlalu pekat.
Arla bukan juru masak kemarin. Ia mengenal bau setiap bahan di dapur itu. Dan bau ini bukan salah satunya.
Selama beberapa detik, gadis itu hanya berdiri mematung dengan sendok sayur di tangannya. Ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang masuk akal: rempah yang basi, air yang tidak bersih, potongan akar yang salah. Tapi semakin ia menciumnya, semakin ia yakin bahwa bau ini bukan bau kesalahan. Bau ini bau kesengajaan.
Ia tidak menyajikan sup itu. Ia membawanya langsung kepada Alger, yang sedang memeriksa persediaan obatnya di kamar kecilnya, dan Alger hanya perlu menciumnya sekali sebelum wajahnya berubah.
“Jangan ada yang menyentuh panci ini,” ucap Alger tegas. “Dan jangan bilang siapa-siapa dulu sebelum aku memastikannya.”
Alger membawa panci itu ke mejanya, mencicipinya dengan ujung jari yang langsung ia ludahkan ke kain, lalu mengujinya dengan dua botol kecil dari tasnya. Cairan di botol pertama berubah warna menjadi ungu gelap. Wajah Alger menjadi semakin muram.
Setengah jam kemudian, Alger menemui Albert dan Syahquita di ruang kerja dengan wajah yang sangat serius. “Ada sesuatu di dalam sup itu. Semacam ramuan—saya belum bisa memastikan jenisnya, tapi dosis seperti itu cukup untuk membuat orang dewasa tidur sangat dalam sampai pagi. Tidak berbahaya, tapi melumpuhkan.”
“Melumpuhkan,” ulang Albert, dan tangannya perlahan mengepal di atas meja.
“Dan siapa yang paling mungkin jadi sasaran sup malam ini?” ucap Syahquita, suaranya bergetar bukan karena takut, melainkan karena marah. “Aku. Sup ayam itu untukku. Arla selalu membuatkan sup ayam untukku setiap malam sejak aku hamil. Mereka tahu itu. Mereka sudah mengamati sampai sedetail itu.”
Ruangan itu hening. Fakta itu melayang di udara seperti pisau: seseorang di luar sana bukan hanya mengetahui letak kebun dan jadwal patroli—mereka mengetahui kebiasaan makan seorang wanita hamil. Pengamatan ordo itu sudah masuk jauh ke dalam kehidupan sehari-hari mereka, lebih dalam dari yang mereka kira.
“Bagaimana sesuatu bisa masuk ke dapur kita?” tanya Albert kepada kepala penjaga yang dipanggil dengan cepat. “Semua barang sudah diperiksa. Semua orang sudah diperiksa.”
“Kecuali tidak masuk lewat pintu,” jawab Syahquita sebelum kepala penjaga sempat menjawab. Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir, otaknya bekerja cepat. “Ramuan itu bisa dimasukkan ke bahan sebelum bahan itu sampai ke kita. Ayamnya. Sayurnya. Airnya. Kita memeriksa orang dan barang di gerbang, tapi kita tidak memeriksa isi setiap barang.”
Albert langsung memerintahkan perubahan total pada rantai dapur: semua bahan mulai besok disuplai dari sumber yang berbeda, dicicipi oleh dua orang berbeda sebelum dimasak, dan dapur dijaga setiap saat. Arla—yang menemukan bahaya itu—dipuji di depan semua orang, dan gadis pelayan itu hanya bisa mengangguk dengan wajah pucat, masih gemetar memikirkan apa yang hampir terjadi.
Malam itu, Syahquita tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi ranjang dengan lilin kecil menyala, menatap kegelapan di luar jendela. Albert duduk di sampingnya, sama terjaganya.
Di dapur, jauh di bawah sana, Arla masih terjaga juga—gadis itu menolak tidur sebelum semua panci dan perkakas dibersihkan dan dikunci di lemari besi yang hari itu juga dipasang atas perintah Albert. Dapur kini bukan lagi sekadar dapur; dapur kini adalah garis pertahanan, dan Arla yang bukan prajurit tiba-tiba menemukan dirinya berdiri di garis terdepannya.
“Mereka tidak ingin membunuhku,” ucap Syahquita pelan. “Ramuan tidur, bukan racun. Mereka ingin aku tertidur. Mereka ingin aku… diambil.”
Kata itu menggantung di udara. Diambil. Bukan dibunuh—diambil. Target kontrak ini bukan kematian, melainkan penculikan. Dan kalau targetnya adalah wanita hamil, maka majikannya tidak menginginkan nyawa—mereka menginginkan sesuatu yang sedang tumbuh di dalam dirinya.
Albert menarik istrinya ke dalam pelukannya, dan untuk waktu yang lama mereka hanya duduk seperti itu, berdua, saling menguatkan dalam diam. Karena di malam seperti ini, kata-kata sudah tidak cukup. Yang tersisa hanyalah janji yang tidak diucapkan: tidak akan. Tidak akan pernah. Selama mereka masih bernapas, tidak akan ada yang menyentuh keluarga mereka.
Sebelum tidur, Syahquita memanggil Dawin dan Keenan ke kamar kerja untuk satu pembicaraan terakhir. “Mulai besok, aku mau kalian berdua bergantian menemani Arla di dapur saat jam memasak. Bukan untuk mengawasinya—untuk melindunginya. Orang yang menaruh ramuan itu tahu dia yang menemukannya. Dia saksi sekarang, dan saksi selalu dalam bahaya.”
Keenan mengangguk serius, tanpa canda untuk pertama kalinya malam itu. “Aku ambil giliran pagi. Dawin malam.”
“Dan satu lagi,” lanjut Syahquita. “Jangan beritahu ibuku dan Nyonya Agatha tentang sup itu. Biarkan mereka tidur tenang malam ini. Besok baru kita bicarakan.”
Albert memperhatikan istrinya mengatur semuanya dengan kepala dingin, dan ia merasakan kebanggaan yang menyesakkan dada. Inilah wanita yang dinikahinya—wanita yang bahkan di malam paling gelap pun masih sempat memikirkan keselamatan semua orang di sekelilingnya sebelum memikirkan dirinya sendiri.
Setelah Dawin dan Keenan pergi, Albert membantu istrinya berbaring. Ia meletakkan tangannya di perut Syahquita yang masih rata, seperti yang mulai sering ia lakukan tanpa sadar, dan berbicara pelan—sangat pelan, hampir tidak terdengar—ke arah perut itu.
“Dengar, kau,” bisiknya kepada bayi yang belum lahir itu. “Jangan merepotkan ibumu. Dia sedang sibuk menyelamatkan kami semua.”
Syahquita tertawa kecil, dan tawa itu melepaskan sesuatu yang tegang di dadanya. “Dia bahkan belum bisa mendengar, Albert.”
“Tidak apa-apa. Aku ingin dia terbiasa mendengar suaraku,” jawab Albert, masih dengan wajah serius, dan Syahquita tertawa lagi sampai matanya basah.
Tawa itu mereda perlahan menjadi senyum yang lembut, dan senyum itu menjadi keheningan yang nyaman. Lilin kecil di meja berkedip pelan. Di luar jendela, para penjaga berganti giliran dengan langkah-langkah yang teratur, dan kastil perbatasan—untuk sisa malam itu—tertidur dalam penjagaan yang berlapis-lapis.
Dan di suatu tempat di luar tembok, di kegelapan yang sama, seseorang sedang menulis catatan kecil dengan tinta yang terlalu gelap: “Target tidak menyentuh ramuan. Rantai dapur akan diperketat. Lanjut ke pendekatan berikutnya.”