Pagi setelah insiden sup itu, Syahquita bangun dengan sebuah rencana yang sudah matang di kepalanya. Ia menemui Albert di ruang kerja sebelum sarapan, dengan peta kastil yang sudah tergulung di bawah lengannya.
“Mereka menunggu tanda ketiga,” ucap Syahquita tanpa basa-basi, membentangkan peta itu di atas meja. “Tanda ketiga harus muncul di dalam rumah. Di dalam ruangan. Mereka sedang menguji kita, mengukur reaksi kita, memetakan kebiasaan kita. Jadi—kita berikan mereka ruangan itu.”
Albert menatap istrinya, lalu menatap peta itu. Ia mulai mengerti arah pikiran Syahquita, dan ia tidak yakin ia menyukainya. “Kau ingin membuka celah dengan sengaja.”
“Celah yang terkontrol,” koreksi Syahquita. “Kita pilih satu kamar di lantai dasar yang mudah diakses—kamar yang tidak dipakai siapa pun. Kita biarkan pengamanannya terlihat longgar. Kita biarkan mereka masuk dan menggoreskan tanda ketiga mereka di sana. Dan ketika mereka masuk—” ia mengetuk satu titik di peta, “—kita menangkap mereka.”
Albert diam sejenak, mempelajari peta itu dengan mata panglimanya. “Kamar kerja cadangan di sayap selatan,” ucapnya akhirnya. “Pintunya menghadap lorong pendek dengan dua arah pandang. Kalau kita menempatkan orang di kedua ujung lorong, siapa pun yang masuk tidak akan bisa keluar tanpa terlihat.”
“Dan kau setuju?” tanya Syahquita, sedikit terkejut karena tidak ada perdebatan.
“Aku setuju karena kau benar—mereka akan datang pada akhirnya, dengan atau tanpa izin kita. Lebih baik mereka datang ke tempat yang kita pilih.” Albert menatap istrinya dengan serius. “Tapi kau tidak ada di dekat kamar itu saat malam jebakan. Tidak ada tawar-menawar untuk yang satu itu.”
“Sepakat,” jawab Syahquita tanpa berdebat. Ia tahu batasnya sendiri, dan kali ini tubuhnya—dengan bayi yang sedang tumbuh di dalamnya—memang tidak punya tempat di lorong jebakan itu.
Rencana itu dijalankan hari itu juga dengan kehati-hatian seorang penjahit. Kamar kerja cadangan di sayap selatan “dilonggarkan” pengamanannya—satu penjaga yang biasanya berdiri di lorong itu dialihkan dengan alasan yang wajar, dan jendela kamarnya dibiarkan tidak dipasangi palang tambahan seperti kamar-kamar lain. Dari luar, kamar itu terlihat seperti kelemahan kecil yang wajar di antara dinding pertahanan yang kuat. Dari dalam, kamar itu adalah mulut jebakan.
Dawin dan Keenan ditugaskan di dua ujung lorong, menyamar sebagai staf dapur yang membawa keranjang-keranjang linen. Robert mengambil posisi di atap sayap selatan, di tempat yang gelap dan tidak terlihat dari bawah. Albert sendiri memilih berada di kamar sebelah, di balik dinding, dengan dua penjaga terbaiknya.
Malam pertama tidak ada apa-apa. Malam kedua juga tidak. Syahquita, yang menunggu di kamar utama bersama ibunya dan Nyonya Agatha, belajar bahwa menunggu jebakan bekerja adalah salah satu bentuk siksaan yang paling halus di dunia.
“Mereka tidak akan terburu-buru,” ucap Nyonya Agatha pada malam kedua, sambil merajut—ya, merajut—dengan ketenangan yang mengagumkan. “Ordo itu dibayar untuk kesabaran. Tapi mereka juga dibayar untuk hasil. Mereka akan datang.”
Ibu Syahquita duduk di sisi lain perapian, dengan ramuan malamnya yang mengepul pelan di cangkir. Ia tidak merajut; ia berdoa, dengan bibir yang bergerak nyaris tanpa suara, dan sesekali matanya melirik putrinya dengan tatapan yang berusaha terlihat tenang. Dua ibu yang sangat berbeda, duduk di ruangan yang sama, menjaga ketegangan yang sama dengan cara mereka masing-masing.
“Kalian berdua boleh tidur, tahu,” ucap Syahquita pada malam kedua itu, merasa bersalah karena kedua wanita itu terjaga karena menemaninya.
“Perempuan di keluarga ini tidak tidur saat perang sedang berjalan,” jawab Nyonya Agatha tanpa mengangkat matanya dari rajutannya.
“Dan ibu tidak tidur saat anaknya tidak tidur,” tambah ibu Syahquita.
Maka begitulah mereka menghabiskan malam-malam itu: bertiga, di kamar utama, dengan rajutan, doa, dan ramuan—sebuah benteng kecil di dalam benteng yang lebih besar. Oliver tidur di kamar bayi yang dijaga dua penjaga terbaik, dan di ruang kerja, peta-peta dan daftar nama menumpuk seperti benteng kertas yang rapuh.
Dan pada malam ketiga, mereka datang.
Syahquita mengetahuinya bukan dari suara—tidak ada suara sama sekali—melainkan dari derap langkah Albert di koridor menjelang subuh, langkah yang terburu-buru tapi terkendali. Ia sudah duduk di tepi ranjang ketika pintu terbuka.
“Ada yang masuk,” ucap Albert. “Lewat jendela kamar kerja cadangan. Tapi—” ia berhenti, dan ada sesuatu di wajahnya yang membuat jantung Syahquita berdebar lebih cepat, “—mereka melarikan diri sebelum kami menutup lorong. Mereka tahu jebakannya. Mereka selalu tahu.”
“Bagaimana mereka bisa tahu?” tanya Syahquita, turun dari ranjang.
Albert mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan meletakkannya di telapak tangan: selembar kain kecil berwarna gelap, robek, dengan bau yang asing—bau tanah dan sesuatu yang pahit seperti tinta. “Mereka meninggalkan ini di ambang jendela. Dan ini.” Ia mengeluarkan benda kedua: secarik kertas kecil, dilipat empat, dengan tulisan yang terlalu rapi untuk ditulis dengan tergesa-gesa:
“Jebakan yang bagus. Lain kali pilih kamar yang lebih jauh dari kamar bayi.”
Syahquita merasakan darahnya turun dari wajahnya. Mereka tahu di mana kamar Oliver. Mereka selalu tahu.
Albert membaringkan kedua benda bukti itu di atas meja seperti seorang panglima menandai posisi musuh. “Kain ini,” ucapnya, “akan kuberikan pada Alger. Baunya asing—mungkin dia bisa mengenalinya. Dan kertas ini…” Ia meremasnya di tangannya sebelum menyadarkan diri dan meluruskan kembali lipatannya. “Kertas ini bukan ancaman. Ini pesan. Mereka ingin kita tahu bahwa mereka tahu.”
“Untuk membuat kita panik dan melakukan kesalahan,” ucap Syahquita, memaksa suaranya bekerja. “Mereka gagal menangkap siapa pun di jebakan, jadi mereka mengubah kerugian menjadi serangan. Mereka ingin kita merasa jebakan kita sia-sia.”
“Dan apakah sia-sia?” tanya Albert, setengah pada dirinya sendiri. “Mereka masuk dan keluar dari kamar yang kami jaga. Mereka lolos dari lorong yang dijaga di dua ujungnya.”
“Mereka tidak lolos tanpa harga,” jawab Syahquita. Ia mengambil robekan kain itu dan menciumnya lagi, perlahan, mencoba menangkap bau asingnya. Tanah. Tinta pahit. Dan sesuatu yang lain—samar, tapi ada. “Mereka meninggalkan sesuatu setiap kali mereka datang, Albert. Jejak, dahan patah, simbol, sekarang kain ini. Musuh yang rapi tidak pernah berniat meninggalkan apa pun—jadi setiap yang mereka tinggalkan adalah kelemahan mereka. Kita kumpulkan semuanya. Kita pelajari semuanya.”
Albert menatap istrinya, dan sedikit demi sedikit, kepanikan di matanya berganti menjadi fokus. “Kau benar. Mereka meninggalkan jejak setiap kali.” Ia mengambil kertas itu lagi dan membacanya sekali lagi, kali ini dengan mata analis, bukan mata ayah yang ketakutan. “Tulisan ini rapi. Orang yang terburu-buru tidak menulis serapi ini. Mereka menulisnya sebelum masuk—artinya mereka sudah tahu jebakan kita sebelum mereka datang.”
“Mereka tahu kamar itu bukan kamar bayi sejak awal,” lanjut Syahquita, dan potongan itu jatuh ke tempatnya dengan bunyi yang tidak enak. “Mereka tidak tertipu jebakan kita. Mereka sengaja masuk ke dalamnya untuk mengirim pesan ini.”