Tiga hari setelah Martha masuk daftar pengawasan, burung utusan dari utara akhirnya kembali. Kontak lama Albert—seorang pria bernama Goran yang dulu bekerja di pelabuhan-pelabuhan kelabu—mengirimkan surat yang ditulis dengan tangan gemetar, dan isinya membuat Albert membacanya dua kali sebelum menyerahkannya kepada Syahquita.
“Morrigan ditemukan,” baca Syahquita dengan suara keras di ruang kerja, dengan Dawin, Keenan, dan Robert hadir. “Dia masih aktif. Dia tinggal di kota pelabuhan utara, di gedung tua yang dijaga dengan sihir, bukan dengan pedang. Dan—” Syahquita berhenti, menaikkan alisnya, “—dia sudah tahu kita mencarinya. Dia menyuruh Goran pulang dengan pesan: dia bersedia bicara, tapi hanya dengan satu orang.”
“Dengan siapa?” tanya Albert, meski wajahnya sudah menunjukkan bahwa ia sudah tahu jawabannya.
Syahquita meletakkan surat itu di meja. “Denganku.”
“Tidak.” Jawaban Albert keluar bahkan sebelum kata terakhir Syahquita selesai. “Tidak akan. Tidak dalam keadaan hamil. Tidak ke kota yang dijaga sihir. Tidak akan.”
“Albert—”
“Tidak, Syahquita.” Albert berdiri, dan kali ini ada sesuatu di suaranya yang bukan ego—melainkan ketakutan yang begitu besar hingga tidak bisa disembunyikan lagi. “Kita sedang diincar oleh ordo yang ingin mengambil kau dan anak kita. Dan sekarang seorang penyihir kontrak darah meminta kau datang ke sarangnya? Itu bukan undangan bicara. Itu pintu jebakan yang dicat cantik.”
Dawin dan Keenan saling berpandangan, dan keduanya—untuk sekali ini—berada di pihak Albert. “Dia benar, Syah,” ucap Dawin pelan. “Kau satu-satunya orang yang tidak boleh keluar dari tembok ini sekarang.”
“Aku tahu,” jawab Syahquita dengan tenang yang mengejutkan semua orang di ruangan itu. “Aku tidak bodoh, Albert. Aku tidak akan pergi ke utara.” Ia berdiri, menghampiri suaminya, dan meletakkan kedua tangannya di dada pria itu. “Tapi kita butuh isi kepalanya. Jadi kita bawa dia ke sini. Atau kita bicara dengan cara lain—surat bersumpah, cermin bicara, apa pun yang dipakai para penyihir. Kalau dia menolak, berarti undangannya memang jebakan, dan kita sudah punya jawaban kita.”
Robert mengangguk pelan. “Penyihir yang bersedia bicara biasanya bersedia bicara di mana saja—asalkan dibayar. Kalau dia bersikeras pada tempatnya, itu bukan negosiasi. Itu pengalihan.”
Dawin menulis surat balasan sore itu juga, dengan kalimat yang dirundingkan bersama: kastil perbatasan menawarkan bayaran dua kali lipat dari tarif yang berlaku untuk informasi tentang kontrak yang sedang aktif, dengan syarat pembicaraan dilakukan lewat cermin bicara atau di wilayah yang disepakati bersama. Surat itu dikirim dengan burung tercepat yang mereka miliki.
Setelah burung itu terbang, Syahquita kembali ke kamarnya dan menemukan ibunya sedang merapikan pakaian Oliver dengan wajah yang berusaha terlihat sibuk. Ibunya selalu seperti itu—kalau sedang khawatir, tangannya mencari pekerjaan.
“Ibu dengar ada surat dari utara,” ucap ibunya tanpa berbalik.
“Ibu dengar dari siapa?”
“Dari dapur. Dapur selalu tahu segalanya lebih dulu,” jawab ibunya, dan Syahquita tersenyum kecil. Beberapa hal di kastil ini memang tidak pernah berubah.
Ibunya menoleh, dan untuk sesaat mereka hanya saling menatap—dua wanita yang sudah terlalu pandai membaca wajah satu sama lain. “Kau akan pergi ke suatu tempat,” ucap ibunya akhirnya. Itu bukan pertanyaan.
“Belum pasti, Bu. Dan kalau pun iya, aku tidak akan pergi sendirian.”
Ibunya mengangguk pelan, melipat baju terakhir dengan lebih hati-hati dari yang diperlukan. “Ibu tidak akan melarang. Ibu hanya akan berdoa lebih lama malam ini.”
Sementara menunggu, kehidupan di kastil berjalan dalam ritme barunya yang tegang. Martha tetap bekerja seperti biasa—menuang sup, mengangkat linen, menjawab pertanyaan dengan sopan—tanpa tahu bahwa dua pasang mata tidak pernah lepas darinya. Syahquita memaksa dirinya tersenyum saat melewati gadis itu di koridor, dan setiap senyuman itu terasa seperti luka kecil.
Di pagi-pagi itu, Syahquita mulai menghabiskan lebih banyak waktu dengan Oliver di taman, dengan dua penjaga yang tidak pernah jauh. Anak itu sedang senang-senangnya belajar berlari, dan setiap kali ia terjatuh di rumput, ia tertawa lebih keras daripada sebelumnya. Syahquita menontonnya dari bangku taman dengan tangan di perutnya, dan berpikir bahwa ketegaran anak kecil adalah salah satu hal yang paling menakjubkan di dunia—mereka jatuh, tertawa, dan bangkit lagi, seolah dunia tidak punya alasan untuk ditakuti.
“Aku ingin anak ini juga tumbuh seperti itu,” ucapnya kepada Nyonya Agatha yang menemaninya di taman pada suatu pagi. “Tanpa takut.”
“Anak yang tidak takut dibesarkan oleh orang tua yang tidak menunjukkan takutnya,” jawab Nyonya Agatha, sambil mengawasi Oliver dengan matanya yang tajam tapi lembut. “Kau sedang melakukannya dengan baik sejauh ini.”
Pujian dari Nyonya Agatha masih terasa aneh di telinga Syahquita, tapi sudah tidak sesakit dulu.
Ibunya melihat ketegangan itu, tentu saja. Ibu selalu melihat. “Kau menyembunyikan sesuatu yang besar dariku,” ucap ibunya suatu sore, sambil mereka duduk di taman mengawasi Oliver bermain. “Ibu tidak akan bertanya apa. Ibu hanya mau bilang: jangan menanggung semuanya sendirian. Kau punya suami. Kau punya keluarga. Dan sekarang kau punya dua ibu mertua yang galak di kastil yang sama—itu kekuatan yang tidak bisa diremehkan.”
Syahquita tertawa, dan untuk sesaat beban di pundaknya terasa lebih ringan. “Ibu benar. Aku tidak sendirian.”
Setelah ibunya kembali ke kamarnya, Syahquita tetap duduk di taman sampai senja turun. Ia memikirkan kata-kata ibunya, tentang dua ibu mertua yang galak di satu kastil, dan menyadari betapa beruntungnya ia di tengah semua ketidakberuntungan ini. Ada keluarga yang retak oleh perang seperti ini; keluarganya justru mengeras karenanya. Nyonya Agatha yang galak, ibunya yang lembut, Albert yang keras kepala, para pangeran yang setia, Arla yang cermat, Alger yang teliti—semuanya berdiri mengelilinginya dan anak-anaknya seperti lapis-lapis dinding.
Musuh mereka menghadapi satu wanita hamil, kata mereka dalam rencana-rencana gelapnya. Mereka salah hitung. Mereka menghadapi satu keluarga.
Malam itu, ketika kastil sudah tertidur, Syahquita berdiri di kamar bayi dan memeriksa setiap sudut ruangan Oliver untuk ketiga kalinya—jendela, kolong boks, celah pintu. Tidak ada apa-apa. Tapi sekarang ia tahu bahwa ketiadaan tanda bukan berarti ketiadaan bahaya. Bahaya yang paling pintar justru tidak meninggalkan tanda sama sekali sampai saatnya tiba.
Ia duduk di kursi goyang di samping boks Oliver dan membiarkan dirinya berpikir dengan jernih di tengah keheningan malam. Morrigan ingin bicara hanya dengannya. Ordo itu memetakan kamar bayi. Martha ada di dalam. Semua benang itu terpasang pada satu titik yang sama: dirinya. Ia adalah pusat dari semua rencana itu, dan untuk pertama kalinya, posisi itu tidak membuatnya takut—posisi itu membuatnya menjadi satu-satunya orang yang tahu persis di mana semua benang bertemu.
“Aku bukan mangsa,” bisiknya kepada kegelapan kamar bayi itu. “Aku peta mereka. Dan peta bisa dibaca dua arah.”
Oliver bergerak dalam tidurnya, menggumam sesuatu yang tidak jelas, lalu kembali tenang. Syahquita tersenyum kecil, mengatur selimut anak itu, dan kembali ke kamarnya dengan rencana yang sudah lebih jelas dari sebelumnya.